SIKAP AHLUSSUNNAH TERHADAP FITNAH YANG TERJADI DI ANTARA SAHABAT

Kita harus diam dalam pertikaian yang terjadi di antara mereka. Kita pasrahkan semua urusan mereka kepada Allah. Kita harus mencari udzur untuk mereka. Memang tidak diragukan perselisihan terjadi di antara mereka. Tetapi perselisihan itu adalah hasil ijtihad. Dan siapa pun yang berjihad tidak dikatakan berdosa. Sebagaimana disebutkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kalau ijtihadnya benar, dia mendapat dua pahala. Tapi jika ijtihadnya salah maka mendapat satu pahala.

Sesungguhnya orang-orang yang memberontak Utsman, mereka bukan dari sahabat. Mereka adalah orang-orang Arab pedalaman tidak berakhlak yang sukanya hanya mengeritik. Dalam pandangan mereka Utsman telah berbuat salah. Sehingga mereka pun memberontak padanya hingga membunuhnya. Allah-lah yang bakal membalas kejahatan mereka. Jadi urusan mereka kembali kepada Allah.

Buruknya, pada sebagian selebaran yang dibagi orang-orang Rafidhah modern, mereka dengan bangga menyebutkan bahwa kelompok merekalah yang memberontak Utsman hingga membunuhnya. Mereka menjadikan orang-orang Arab pedalaman yang tidak berakhlaq itu sebagai kelompok mereka. Itulah yang mereka dakwakan.

Pembunuhan Utsman ini terjadi pada musim haji. Sehingga kebanyakan sahabat sedang di Makkah mengerjakan ibadah haji. Di antara mereka adalah Zubair bin Al-Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, anak-anak Zubair dan lainnya. Ketika mendengar berita kematian Utsman, mereka berkata: “Kita harus berangkat untuk memerangi orang-orang Arab pedalaman tidak berakhlaq yang berada di perbatasan Iraq.”

Akhirnya mereka pergi hendak menuntut balas atas kematian Utsman terhadap orang-orang Arab pedalaman itu. Aisyah Ummul Mukminin ada bersama mereka, dan bersama mereka ada banyak orang. Ketika Ali mendengar kabar ini, ia berusaha menghalangi Zubair dan kawan-kawannya. Sebab ia menginginkan agar seluruh kaum muslimin bersatu dan membaiatnya sebelum terjadi aksi tuntut balas itu.

Karenanya, ketika mendengar berita bahwa Zubair dan kawan-kawan hendak menyerang para pemberontak yang membunuh Utsman, Ali segera pergi mengikuti mereka ke Iraq untuk menghalangi agar tidak terjadi pertikaian. Ketika dua kelompok bertemu, ternyata kelompok pemberontak yang membunuh Utsman langsung bergabung dengan pasukan Ali.

Setelah itu pihak Ali dan Zubair berkumpul. Mereka sepakat pada sore hari itu untuk membunuh para pelaku pembunuhan Utsman. Kebanyakan mereka adalah para kepala kabilah.

Ketika para kepala kabilah mendengar hal itu –bahwa mereka hendak dibunuh-, mereka langsung berkata: “Pada akhir malam kita harus menimbulkan peperangan antara kita dengan tentara Zubair agar kita tidak dibunuh.” Akhirnya mereka melancarkan tipu daya ini pada akhir malam. Peperangan pun terjadi hingga berlangsung satu atau dua hari. [1]

Saat itu Aisyah yang mengendarai onta sedang berada di tengah-tengah peperangan. Karenanya perang itu disebut perang Jamal (onta).

Pada perang ini Thalhah, Zubair, dan banyak orang telah terbunuh. Inilah peperangan yang termasuk fitnah seperti disebutkan pada Hadis Hudzaifah di atas. Setelah semua yang sudah terjadi ini mereka pun membubarkan diri.

Orang-orang yang turut berperang ini semuanya mendapat udzur. Ali misalnya, dalam peperangan ini dia sama sekali tidak sengaja berperang. Ia tidak menghendaki selain agar kalimat kaum Muslimin bersatu dan semua orang membaiatnya.

Orang-orang yang menuntut balas atas kematian Utsman, mereka juga tidak berniat perang. Mereka habis pulang haji dan hanya menginginkan agar para pembunuh itu diqishash. Tapi para pemberontaklah yang merencanakan semua itu. Jadi mereka semua berijtihad dalam masalah ini. Karena itu kita harus memberi udzur kepada mereka. Kita mengatakan: Orang yang membunuh dan yang terbunuh dari mereka adalah berijtihad. Kita tidak boleh mencela siapa pun. Dan kita pasrahkan urusan mereka kepada Allah.

Setelah pemerintahan Ali sudah stabil di Iraq, penduduk Iraq juga sudah membaiatnya, Ali pun mendengar berita bahwa penduduk Syam bersemangat membalas dendam atas kematian Utsman. Mereka datang dengan persenjataan mereka hendak memerangi para pembunuh Utsman. Ali menemui mereka. Mereka berjumpa di suatu tempat yang bernama “Shiffin”. Orang-orang itu berkata kepada Ali: “Serahkan kepada kami para pembunuh Utsman.” Ali menjawab: “Berbaiatlah kepada saya dulu. Ketika kalimat sudah bersatu, pada saat itu kita dan kalian bisa menangkap para pembunuh itu dan membunuh mereka satu persatu.” Tapi mereka menolak membaiat. Maka terjadilah perang di antara dua kelompok. Kelompok penduduk Iraq dan kelompok penduduk Syam.

Ini juga peperangan yang sangat besar. Pada peperangan ini terjadi banyak pembunuhan. Dalam perang ini kita juga memberi udzur pada mereka. Ahlussunnah mengatakan: Muawiyah dan orang-orang bersamanya juga berijtihad ketika meminta balas atas kematian Utsman. Ali dan orang-orang bersamanya juga berijtihad ketika meminta mereka membaiatnya terlebih dahulu. Yang jelas kita memasrahkan urusan mereka kepada Allah.

Kita harus diam dalam perkara yang diperselisihkan di antara mereka. Tentu tidak diragukan perkara ini termasuk fitnah yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberitahukannya. Bahkan dengan jelas beliau menyatakan bahwa fitnah ini pasti terjadi. Beliau menganjurkan siapa pun yang menjumpainya agar menghindari fitnah ini. Karena itu banyak pula para sahabat yang tidak ikut serta dalam fitnah ini. Di antara sahabat yang tidak ikut serta dalam fitnah adalah Sa’ad bin Abi Waqqash. Ia menghindarkan diri dari peperangan dan pergi melarikan diri ke pedalaman hingga merasa kesepian karena jauh dari manusia. Hingga menyatakan bait syairnya:

عَوَى الذِّئْبُ فَاسْتَأْنَسْتُ بِالذِّئْبِ إِذْ عَوَى…. وَصَوْتَ إِنْسَانٍ فَكِدْتُ أَطِيْرُ

“Ketika serigala mengaum, saya merasa terhibur dengan suaranya saat mengaum. Adapun suara manusia maka seakan-akan saya hampir terbang (yakni dari suara mereka).”

Maksudnya: Saya sangat kesepian dengan suara manusia, sehingga hanya terhibur dengan suara serigala. Saya memang menghindari manusia karena kawatir mereka memasukkan saya dalam fitnah-fitnah ini.

Banyak dari mereka datang kepada Abdullah bin Umar, mereka memprovokasi Abdullah bin Umar dan berkata: Tidakkah anda berperang bersama kami?! Bukankah Allah Ta’ala berfirman:

{وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ } [البقرة: 193]

“Perangilah mereka hingga tidak ada fitnah lagi.” (QS. Al-Baqarah: 193)

Maka Abdullah bin Umar menjawab: “Kami memerangi mereka dahulu agar tidak ada fitnah. Sementara kalian memerangi agar timbul fitnah.”

Jadi orang-orang yang menghindari fitnah, merekalah yang berada dalam pihak yang benar. Tapi bagaimana pun juga, kita harus berhusnudzan kepada mereka atas segala yang terjadi. Kemudian memasrahkan urusan ini kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala.[2]

Menyikapi polemik yang terjadi di antara sahabat, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah berkata:

Sikap mereka (Ahlus Sunnah) dalam menyikapi hal itu ialah; sesungguhnya polemik yang terjadi di antara mereka merupakan (perbedaan yang muncul dari) hasil ijtihad dari kedua belah pihak (antara pihak ‘Ali dengan pihak Mu’awiyah). Bukan bersumber dari niat yang buruk. Sedangkan bagi seorang mujtahid apabila ia benar maka berhak mendapatkan dua pahala, sedangkan apabila ternyata dia tersalah maka berhak mendapatkan satu pahala.

Dan polemik yang mencuat di tengah mereka bukanlah berasal dari keinginan untuk meraih posisi yang tinggi atau bermaksud membuat kerusakan di muka bumi; karena kondisi para sahabat radhiyallahu’anhum tidak memungkinkan untuk itu. Mereka adalah orang paling tajam akalnya, paling kuat keimanannya, serta paling gigih dalam mencari kebenaran. Hal ini selaras dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:

((خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ))

“Sebaik-baik umat manusia adalah orang di jamanku (sahabat).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian maka jalan yang aman ialah kita memilih untuk diam dan tidak perlu sibuk memperbincangkan polemik yang terjadi di antara mereka dan kita kembalikan perkara mereka kepada Allah; sebab itulah sikap yang paling aman supaya tidak memunculkan rasa permusuhan atau kedengkian kepada salah seorang di antara mereka.

Kabar-kabar yang diriwayatkan tentang para sahabat Radhiyallahu ‘anhum dan bagaimana Ahlussunnah menyikapinya:

Ahlussunnah ketika menerima kabar-kabar tidak baik mengenai sebagian sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,  mereka membagi kabar-kabar itu menjadi dua bagian:

Pertama: Kabar-kabar itu ada yang benar. Tetapi kita harus tahu bahwa mereka semua dimaklumi dan mendapat udzur. Karena hal itu muncul dari hasil ijtihad. Sementara orang yang berijtihad jika salah maka mendapat satu pahala dan jika benar maka mendapat dua pahala.

Kedua: Kabar-kabar itu tidak benar. Bisa jadi karena kebohongan sejak asalnya atau mungkin karena ditambahi atau dikurangi. Kabar seperti ini jelas ditolak karena sama sekali tidak benar.

Para sahabat bukan orang-orang yang ma’shum:

(lndividu) Para sahabat bukanlah orang-orang yang ma’shum dan terbebas dari dosa-dosa. Karena mereka bisa saja terjatuh dalam maksiat, sebagaimana hal itu mungkin terjadi pada orang selain mereka. Akan tetapi mereka adalah orang-orang yang paling layak untuk meraih ampunan karena sebab-sebab berikut:

(1) Mereka telah berhasil merealisasikan iman dan amal shalih. Berbeda dengan siapa pun dari kita yang belum bisa menjamin sudah merealisasikan keduanya. Adapun mereka maka sudah ada jaminan itu dari Allah dalam Al-Qur’an, maupun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Hadisnya.

(2)  Mereka lebih dahulu memeluk Islam dan lebih utama. Apalagi terdapat Hadis shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyatakan mereka adalah sebaik-baik generasi (sebaik-baik umat manusia).

(3) Mereka telah mengerjakan berbagai amal sangat agung yang tidak mungkin dilakukan orang-orang selain mereka, seperti terlibat dalam perang Badar, Bai’atur Ridhwan, dan lain sebagainya.

(4) Mereka telah bertaubat dari dosa-dosa, sedangkan taubat dapat menghapus apa yang dilakukan sebelumnya. Dan Allah sudah menyatakan Dia telah menerima taubat mereka.

{لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ} [التوبة: 117]

“Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha pengasih lagi Maha penyayang kepada mereka.” (QS. At-Taubah: 117)

(5) Berbagai kebaikan yang telah mereka lakukan. Tentu kebaikan-kebaikan itu akan menghapuskan berbagai amal kejelekan.

(6) Banyaknya ujian yang menimpa mereka bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan itu adalah banyak hal tidak disenangi yang menimpa seseorang; sedangkan keberadaan musibah bisa menghapuskan dan menutup pengaruh-pengaruh dosa.

(7) Kaum mukminin senantiasa mendo’akan mereka dan memintakan ampun untuk mereka. Seperti doa dalam ayat berikut:

{وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ} [الحشر: 10]

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: ‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami! Sesungguhnya Engkau Maha penyantun lagi Maha penyayang’.” (QS. Al-Hasyr: 10)

(8) Syafa’at dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan mereka adalah umat manusia yang paling berhak mendapatkannya.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan itulah maka perbuatan sebagian mereka yang diingkari (karena salah), menjadi sangat sedikit dan tenggelam dalam (lautan) kebaikan mereka. Itu dikarenakan mereka adalah sebaik-baik manusia setelah para Nabi dan juga orang-orang terpilih di antara umat ini, yang menjadi umat paling baik. Belum pernah ada dan tidak akan pernah ada suatu kaum yang serupa dengan mereka.[3]

Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi dalam matan Aqidah Thahawiyah berkata tentang aqidah Ahlussunnah wal Jamaah terhadap para sahabat:

“وَنُحِبُّ أَصْحَابَ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ. وَلاَ نُفْرِطُ فِيْ حُبِّ أَحَدٍ مِنْهُمْ. وَلَا نَتَبَرَّأُ مِنْ أَحَدٍ مِنْهُمْ. وَنُبْغِضُ مَنْ يُبْغِضُهُمْ، وَبِغَيْرِ الْخَيْرِ يَذْكُرُهُمْ، وَلاَ نَذْكُرُهُمْ إِلَّا بِخَيْرٍ، وَحُبُّهُمْ دِيْنٌ وَإِيْمَانٌ وَإِحْسَانٌ، وَبُغْضُهُمْ كُفْرٌ وَنِفَاقٌ وَطُغْيَانٌ”.

“Kita mencintai para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Tanpa berlebihan dalam mencintai mereka dan tanpa berlepas diri dari seorang pun dari mereka. Kita membenci siapa pun yang membenci mereka, (dan membenci) siapa pun yang menyebut mereka dengan selain kebaikan. Dan kita tidak menyebut mereka kecuali dengan yang terbaik. Mencintai mereka adalah bagian dari agama, keimanan, dan ihsan. Sementara membenci mereka adalah kekufuran, sifat munafik, dan kedzaliman.”[4]

“وَنُثْبِتُ الْخِلَافَةَ بَعْدَ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ: أَوَّلاً لِأَبِيْ بَكْرٍ اَلصِّدِّيْقِ رَضَيِ اللَّهُ عَنْهُ، تَفْضِيْلاً لَهُ وَتَقْدِيْماً عَلَى جَمِيْعِ الْأُمَّةِ، ثُمَّ لِعُمَرِ بْنِ الْخَطاَّبِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، ثُمَّ لِعُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، ثُمَّ لِعَلِيِّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَهُمُ الْخُلَفَاءُ الرَّاشِدُوْنَ وَالْأَئِمَّةُ الْمُهْتَدُوْنَ”.

“Kita menetapkan kekhalifahan setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pertama kali untuk Abu Bakr Radhiyallaahu ‘anhu. Karena keutamaan dan kepatutannya atas seluruh umat. Setelah itu untuk Umar bin Al-Khattab Radhiyallaahu ‘anhu. Setelah itu untuk Utsman bin Affan Radhiyallaahu ‘anhu. Setelah itu untuk Ali bin Abi Thalib Radhiyallaahu ‘anhu. Mereka adalah para Khalifah yang rasyid (lurus), dan para imam yang mendapat petunjuk.” [5]

“وَأَنَّ الْعَشَرَةَ الَّذِيْنَ سَمَّاهُمْ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ وَبَشَّرَهُمْ بِالْجَنَّةِ، عَلَى مَا شَهِدَ لَهُمْ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ، وَقَوْلُهُ الْحَقُّ، وَهُمْ: أَبُوْ بَكْرٍ، وَعُمَرُ، وَعُثْمَانُ، وَعَلِيٌّ، وَطَلْحَةُ، وَالزُّبَيْرُ، وَسَعْدٌ، وَسَعِيْدٌ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ، وَأَبُوْ عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ وَهُوَ أَمِيْنُ هَذِهِ الْأُمَّةِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِيْنَ”.

“(Kita juga menetapkan bahwa) sepuluh orang yang disebutkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang mendapat kabar gembira dengan Surga, adalah sesuai dengan persaksian dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mereka. Sabda beliau adalah benar. Mereka adalah: Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Sa’ad (bin Abi Waqqash), Sa’id (bin Zaid), Abdurrahman bin Auf, dan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, dia adalah orang terpercaya umat ini. Semoga Allah meridhai mereka semuanya.” [6]

“وَمَنْ أَحْسَنَ الْقَوْلَ فِيْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ، وَأَزْوَاجِهِ الطَّاهِرَاتِ مِنْ كُلِّ دَنَسٍ، وَذُرِّيَّاتِهِ الْمُقَدَّسِيْنَ مِنْ كُلِّ رِجْسٍ؛ فَقَدْ بَرِئَ مِنَ النِّفَاقِ. وَعُلَمَاءُ السَّلَفِ مِنَ السَّابِقِيْنَ، وَمَنْ بَعْدَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ -أَهْلِ الْخَيْرِ وَالْأَثَرِ، وَأَهْلِ الْفِقْهِ وَالنَّظَرِ- لاَ يَذْكُرُوْنَ إِلَّا بِالْجَمِيْلِ، وَمَنْ ذَكَرَهُمْ بِسُوْءٍ فَهُوَ عَلَى غَيْرِ السَّبِيْلِ”.

“Barangsiapa mengucapkan kata-kata yang baik pada para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, pada isteri-isteri beliau yang suci dari segala kotoran, serta keluarga beliau yang suci dari segala najis maka dia sungguh telah bebas dari sifat munafik. Sementara para ulama’ salaf terdahulu, juga siapa pun yang datang setelah mereka dari para tabiin, mereka adalah orang-orang ahli kebaikan, ahli Hadis, ahli fiqih, dan ahli ilmu, semuanya tidak menyebut para sahabat kecuali dengan sebutan yang baik. Sedangkan siapa pun yang menyebut mereka dengan keburukan maka berada pada selain jalan (kaum muslimin).” [7]

Larangan menghina para sahabat Nabi:

Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman menjelaskan keutamaan sahabat-sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:

{مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا} [الفتح: 29]

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang terhadap sesama mereka; kamu melihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaanNya, tanda-tanda mereka tampak pada mereka dari bekas sujud. Demikian sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah ia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang shalih di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Fath: 29)

Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

((لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِي، لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَوَالَّذِي نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ))

“Janganlah mencaci sahabatku, sekiranya kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud niscaya tidak akan menyamai infak satu mudd (setara dua genggam laki-laki) dari mereka maupuan setengahnya.” (HR Bukhari, no. dan Muslim, no. 2541)

Dari Abdullah bin Abbas Radhiyallaahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

((مَنْ سَبَّ أَصْحَابِيْ، فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ))

“Barangsiapa mencaci sahabatku maka atasnya laknat Allah, Malaikat dan seluruh manusia.” (Shahih al-Jam’i Ash-Shaghir, no.6285)

Dari Abdullah bin Umar Radhiyallaahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

((لَعَنَ اللَّهُ مَنْ سَبَّ أَصْحَابِيْ))

“Allah melaknat siapa saja yang mencaci sahabatku.” (Shahih Al-Jam’i Ash-Shaghir, no. 5111)


[1] Bagian dari muhadharah Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin dengan judul: Mauqif Ahlissunnah min Al-Fitan Al-Lati waqa’at bain Ash-Shahaabah. Bisa dilihat pada website berikut: http://audio.islamweb.net/audio/index.php?page=FullContent&audioid=147902

[2] Bagian dari muhadharah Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin dengan judul: Mauqif Ahlissunnah min Al-Fitan Al-Lati waqa’at bain Ash-Shahaabah. Bisa dilihat pada website berikut: http://audio.islamweb.net/audio/index.php?page=FullContent&audioid=147902

[3] Majmu’ Fatawa wa Rasail Syaikh Ibnu Utsaimin, 4/308-309

[4] Syarah Al-Aqidah Ath-Thahawiyah, Abu Ja’far Ath-Thahawi, 1/203-209

[5] Syarah Al-Aqidah Ath-Thahawiyah, Abu Ja’far Ath-Thahawi, 1/212-213

[6] Syarah Al-Aqidah Ath-Thahawiyah, Abu Ja’far Ath-Thahawi, 1/211-212

[7] Syarah Al-Aqidah Ath-Thahawiyah, Abu Ja’far Ath-Thahawi, 1/213

Share This: