KHADIJAH BINTI KHUWAILID

Khadijah binti Khuwailid dilahirkan enam puluh delapan tahun sebelum nabi Muhammad hijrah ke kota Madinah. Tepatnya lima belas tahun sebelum tahun gajah, yaitu tahun yang orang-orang Quraisy memulai penanggalan segala peristiwa dan kejadian mereka di tahun itu.

Ayahnya bernama “Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza”, ia termasuk orang Quraisy yang paling mulia nasabnya, tetangga mereka yang paling berwibawa, dan termasuk para pemuka Quraisy yang paling tersohor.

Ia berani menentang “Tubba`”[1] sendirian, ketika Tubba` hendak mengambil hajar aswad dan membawanya ke negeri Yaman. Ia sama sekali tak gentar terhadap kekuatan Tubba` itu, dan tidak pula takut terhadap siksaannya. Ia lakukan itu demi membela kesucian baitul haram ini.

Ibunya bernama Fatimah binti Zaidah bin Al-Ashamm bin Rawahah.[2] Nasab ayah dan ibunya, bertemu pada moyangnya yang bernama Lu`ay bin Ghalib bin Fihr.

Jadi, Ayahnya termasuk keluarga paling mulia di jazirah Arab, yang paling mulia dan berwibawa, juga paling tinggi nilai keagamaannya.[3]

 

o       Pertumbuhan dan Keutamaannya

Khadijah Ummul Mukminin tumbuh dalam rumah yang penuh dengan kemuliaan dan wibawa. Ia wanita yang bersih biografinya, suci kemasyhuran namanya, mulia akhlaq, dan cerdas akal. Sehingga orang-orang Quraisy menyebutnya dengan “Ath-Thaahirah” (sang wanita suci), karena kesucian biografi dan kejujuran hatinya.[4]

Harta yang cukup, kecantikan yang tinggi, dan kesempurnaan akhlaq, telah membawa Khadijah menuju martabat sangat mulia dan derajat tinggi. Sehingga ia menjadi incaran para pemuda di kota Makkah. Setiap pemuda Makkah, merenung seandainya ia menjadi suami Khadijah. Semuanya berusaha keras mendekati dan mendapat kecintaan darinya, serta menggapai keridhoan hatinya.

Kekayaan yang dimiliki Ayah Khadijah, menjadikannya tumbuh dewasa dengan kesehatan yang sempurna dan memakai baju-baju yang mewah. Sehingga kedua hal itu menambah fitrahnya yang sudah cantik, menjadi semakin besar, menjadi semakin indah dan bertambah molek.

o       Lingkungan Keagamaan

Khadijah Ummul Mukminin, sebelum diangkatnya nabi Muhammad menjadi Nabi, tumbuh dewasa  di kota Makkah Al-Mukarramah, yang saat itu orang-orang Quraisy mengikut berbagai macam keyakinan dan ajaran yang berbeda-beda.

Mereka hanya mengambil ibadah haji dari ajaran lurus yang hanif ini, yaitu agama nabi Ibrahim alaihissalam. Tapi mereka memasukkan dalam haji itu banyak penyimpangan dan penyelewengan sesuai dengan hawa nafsu mereka.

Di sisi lain, mereka juga mengambil dari tetangganya –yaitu orang-orang Romawi-, praktek menyembah berhala dan patung. Tapi masih ada sekelomok orang dari mereka yang tetap mengikuti ajaran bapak mereka, yaitu Ibrahim Alaihis salam. Orang-orang itu disebut dengan Hunafa` (orang-orang yang lurus).

Semua orang Quraisy ini bersatu dibawah satu hal, yaitu mengagungkan Al-Baitul Haram (Ka`bah). Sehingga mereka senantiasa mengerjakan thawaf di sekitar Ka`bah, bersaing dalam melayani dan berkhidmat padanya, memberi minum para pengunjungnya dan menyajikan makanan kepada mereka.

Dan adalah keluarga Khadijah, merupakan keluarga yang ditaqdirkan memiliki tradisi keagamaan yang tinggi, ditambah lagi dengan tarbiyah yang kuat, sehingga keluarga itu menjadi semakin tegar dan mantap. Kedua hal inilah yang membuat ayahnya berani menentang Tubba`, ketika hendak mengambil hajar aswad. Ia mempertaruhkan nyawanya demi membela kesucian Ka`bah ini.

Sedangkan anak paman Khadijah, yaitu Waraqah bin Naufal, ia senantiasa memelihara kelurusan beragamanya. Ia membaca kitab taurat dan injil, serta menelaah ajaran-ajaran yahudi dan nasrani. Ia mengerti betul rahasia-rahasia kedua agama tersebut, karena rasa ragunya yang tinggi akan menyembah berhala.

Sehingga tatkala Khadijah mendengar kisah yang diceritakan suaminya di gua Hira`, ia segera mengatakan kepadanya bahwa sang suami akan menjadi nabi bagi umat ini. Ia mengatakan hal itu, karena sudah mengetahui sedikit banyak tentang kabar tersebut dari anak pamannya ini.

Jadi, kita bisa mengatakan bahwa Khadijah telah tumbuh dalam lingkungan keluarga yang agamis, hanya saja lingkungan yang agamis ini ternodai dengan banyak kotoran, dan diliputi banyak penyimpangan. Sehingga dibutuhkan seseorang yang membersihkan semua kekotoran itu dan menunjukkannya kepada jalan yang lurus. Sekarang telah tiba saat kehadiran sang penyelamat dari kesesatan itu, dan telah tiba pula singsingan pelitanya.

o       Kehidupan sosialnya sebelum Muhammad menjadi Nabi

Ketika Ath-Thaahirah sudah saatnya menikah, semua pemuda Quraisy segera bersaing untuk menikahihnya, itu semua karena kesempurnaan akhlaq, kemolekan rupa, dan kemuliaan keturunannya.

Tapi yang berhasil menikahinya dari sekian banyak pemuda itu, hanya lelaki yang bernama “`Atiq bin A`idz Al-Makhzumi”. Setelah pernikahan mereka berdua, mereka dikarunia seorang puteri. Hanya saja beberapa saat kemudian, Atiq meninggal dunia meninggalkan harta dan puterinya itu.

Kemudian Khadijah dinikahi oleh Abu Halah bin Zurarah. Lalu ia melahirkan darinya seorang anak perempuan yang bernama Hindun, tetapi Abu Halah juga meninggal dunia saat sang puteri masih berumur beberapa tahun.[5]

Sekarang Khadijah merawat putera-puterinya yang yatim. Ia sangat melimpahkan kasih sayang dan kecintaannya kepada mereka, karena itu ia tidak ingin menikah lagi, ia selalu menolak permintaan lelaki yang menghadap untuk menikahihnya, meski mereka adalah pemuka Quraisy atau orang ternama dari mereka.

Ia berpikir untuk mengembangkan hartanya dengan berdagang, akhirnya ia mempekerjakan seorang lelaki yang bisa dipercaya dari kaum Quraiys agar berjual beli untuknya dengan harta itu, yang hasil dari perdagangan itu akan dibagi diantara mereka berdua.

Dan pada saat itu Abu Thalib ingin mengajarkan kepada anak saudaranya yang bernama Muhammad, berbagai seni dalam berdagang setelah ia berumur dua puluh lima tahun. Ia juga ingin membiasakan pada dirinya, kerasnya perjalanan dari satu negeri ke negeri yang lain saat berdagang.

Maka, ia pun menghadap kepada wanita Ath-Thahirah ini. Abu Thalib berkata padanya, “Wahai Khadijah! Maukah anda mempekerjakan Muhammad? Karena saya mendengar anda mempekerjakan banyak lelaki.” Khadijah menjawab, “Seandainya anda memintakan hal itu untuk lelaki yang jauh denganku, saya tetap menerimanya.  Maka bagaimanakah jika lelaki itu seseorang yang sangat dekat dan disukai, tentunya saya lebih menerimanya lagi.”

Tak lama kemudian Khadijah menyuruh seseorang memanggil Muhammad untuk keluar berdagang. Ketika Muhammad menghadap, Khadijah berkata, “Ketahuilah! Yang menyebabkanku memilihmu adalah kejujuran bicaramu, ketinggian amanahmu dan kemuliaan akhlaqmu. Karena itu saya akan memberimu gaji yang berlipat ganda dibanding lelaki lainnya dari kaummu.” Muhammad senang akan hal itu, ia lalu memberitahukannya kepada Abu Thalib, pamannya, mengenai perkataan Khadijah tersebut. Abu Thalib sangat gembira mendengarnya, ia pun berkata, “Wahai Muhammad! Ini adalah rizqi yang didatangkan Allah kepadamu.”

o       Perjalanan yang penuh berkah dan penuh keuntungan

Setelah kaum Quraisy menyempurnakan segala persiapan mereka, dan Khadijah juga sudah mempersiapkan perbekalannya, bergeraklah kafilah musafir itu dari kota Makkah. Keluar pula bersama mereka Muhammad alaihish sholatu wassalam beserta Maisarah, pelayan lelaki Khadijah. Paman-paman Rasul pun mengiringi keberangkatan beliau, mereka semua berpesan kepada para musafirin untuk menjaga dan melindungi Muhammad sebaik mungkin.

Kafilah terus berjalan, sampai akhirnya tiba di kota Bushra. Maka para pedagang itu menjual barang dagangan mereka. Dan dagangan Khadijah sangat laris tak kepalang, Khadijah mendapat keuntungan yang sangat berlipat ganda, sehingga Maisarah membeli banyak dagangan disana buat majikannya, agar saat kembali kepadanya, keuntungannya semakin bertambah banyak.

Ketika Muhammad shallallahu `alaihi wasallam sudah menghabiskan dagangan Khadijah, ia berteduh di bawah pohon rindang yang letaknya tak jauh dari sauma`ah[6] seorang rahib. Rahib itu bernama “Nashtura”. Sang Rahib terus memandangi Maisarah, karena ia sudah mengenalnya sebelum itu. Sang Rahib bertanya kepada Maisarah, “Siapakah lelaki yang berteduh di bawah pohon itu?” Maisarah menjawab, “Ia seorang pemuda Quraisy dari penduduk tanah haram.” Sang Rahib kembali berkata, “Wahai Maisarah! Tak ada seorang pun yang duduk di bawah pohon itu, kecuali ia adalah seorang nabi.” Perkataan Rahib ini menambah keagungan dan kemuliaan Ash-Sodiqul Amin di mata Maisarah.

Kafilah kembali pulang. Ketika sudah sampai di Marru Adz-Dzahran, Maisarah meminta ijin kepada nabi untuk lebih dulu ke Makkah, agar memberitakan kepada majikannya keuntungan besar yang telah mereka dapatkan dari hasil perdagangan ini, nabi pun mengijinkannya.

Maisarah telah sampai di Makkah, ia menceritakan kepada Ath-Thahirah segala kejadian dan peristiwa yang ia alami bersama Muhammad. Juga hal-hal yang diperhatikannya terjadi padanya, seperti naungan awan, akhlaq mulia Muhammad, dan apa yang telah ia dengar dari rahib nastura saat berkata, “Demi Dzat yang meninggikan langit-langit tanpa tiang! Sesungguhnya yang berteduh di bawah pohon ini adalah rasul Rabb semesta alam, ia diutus Allah dengan pedang yang terhunus, juga dengan keuntungan paling besar. Dialah penutup para nabi, barangsiapa mentaatinya, pasti ia selamat. Dan barangsiapa menentangnya, pasti ia binasa.”[7]

Khadijah sangat bergembira mendengar berita dari Maisarah ini.

Beberapa saat kemudian, sampailah kafilah itu di depan rumah Khadijah. Khadijah segera keluar menyambut kedatangan Muhammad, ia memberinya ucapan selamat dan keberkahan atas segala jerih payahnya. Ia juga berterima kasih kepadanya mengenai keuntungan yang didapatnya, juga barang dagangan baru yang berhasil dibawanya.

Setelah Muhammad menceritakan kisah perdagangan yang penuh berkah itu kepada Khadijah, ia segera berpamitan dan pulang menuju rumah pamannya, Abu Thalib. Abu Thalib menunggu-nunggu kedatangannya dan sangat rindu untuk bertemu kemenakannya yang satu ini, ia sangat gembira dengan kepulangannya yang selamat dan ingin sekali mendengar kisah-kisah petualangannya.

o       Pernikahannya dengan rasulullah

Setelah Khadijah mengantar kepergian Muhammad, ia mulai memikirkan perkataan yang baru saja diucapkan lelaki yang penuh kejujuran dan amanah ini. Ia kembali memikirkan cerita yang didengarnya dari Maisarah, terutama perkataan sang Rahib yang berkata, “Demi Tuhan yang meninggikan langit-langit tanpa tiang, sesungguhnya dia adalah Rasul Rabb alam semesta…”

Pikiran ini terus melukiskan gambaran Muhammad shallallahu `alaihi wasallam di mata Khadijah. Ia seorang pemuda yang tampan rupanya, indah riwayat hidup, kepribadiannya sangat sempurna, perkataannya enak didengar, sangat jujur dan penuh sifat amanah.

Tak lama kemudian, pikiran seperti ini berubah menjadi sebuah pertanyaan, “Maukah Muhammad menjadi suaminya? Karena Muhammad selama ini, telah berpaling dari wanita-wanita Quraisy dan gadis-gadis Makkah. Maukah ia menikah dengan janda sepertinya. Apa cara terbaik untuk menyampaikan perasaan itu kepadanya. Sebab rasa malu, adat, dan kebiasaan-kebiasaan yang ada, sangat menghalanginya untuk mengungkapkan perasaan itu. Bagaimana ia menghadapi para pemuka Quraisy dan tokoh-tokoh Makkah nantinya, yang telah ia tolak ajakan mereka untuk menikah dengannya?”

Pikiran semacam ini, juga kebingungannya, menambah ketakutan Khadijah. Jangan-jangan kalau Muhammad menolak permintaan menikah dengannya, ia malah meninggalkan Khadijah dan tak lagi bekerja untuknya serta menghindar darinya.

Namun, saat pikirannya kalut seperti itu, tiba-tiba Nafisah bin Munayyah mengunjunginya. Khadijah langsung mengutarakan perasaan yang ada dalam benaknya, ia mengeluarkan semua rahasia yang selama ini disimpannya dalam hati. Nafisah memahami maksud dari pembicaraan Khadijah ini. Ia menenangkan hati Khadijah dan mengatakan bahwa ia pasti mewujudkan keinginannya itu, karena Khadijah mengungguli para wanita Quraisy dari sisi nasab, kemuliaan, kekayaan, dan kecantikan. Akhirnya Nafisah berpamitan, sementara dalam hatinya ada keinginan kuat untuk melaksanakan keinginan kawannya itu.

Nafisah segera pergi menemui Muhammad, ia mencari-carinya di rumah-rumah Bani Hasyim. Ketika Nafisah berhasil bertemu Muhammad, dan ia merasa gembira dengan kedatangan Nafisah, Nafisah langsung bertanya kepada Muhammad, “Apa yang menghalangimu untuk menikah? Apa rahasia dari kejauhanmu dari para wanita?” Muhammad menjawab, “Saya tak memiliki harta untuk menikah.” Nafisah meneruskan, “Jika ada seseorang yang mencukupimu, kemudian kamu diajak menikah oleh seorang wanita cantik, yang kaya, yang mulia dan sepadan denganmu, apakah kau tidak menerimanya?” Muhammad bertanya, “Siapakah wanita itu?” Nafisah menjawab, “Wanita itu adalah Khadijah binti Khuwailid.” Muhammad kembali bertanya, “Mana mungkin ia mau melakukannya?!” Nafisah menjawab, “Sudahlah! Itu urusan saya.”[8]

Nafisah langsung beranjak meninggalkan Muhammad, ia pergi menuju rumah Khadijah untuk memberitahukannya sebuah kabar gembira, yaitu persetujuan Muhammad untuk menikah dengannya.

Tak lama setelah kejadian itu, Khadijah langsung mengundang Muhammad beserta pamannya untuk datang ke rumahnya. Muhammad menerima undangan itu, ia datang bersama dengan dua orang pamannya, yaitu Hamzah dan Abu Thalib. Ketika sampai disana, mereka bertiga ditemui oleh Khadijah, pamannya yang bernama “Amru bin Asad bin Abdul Uzza” dan para kaum Khadijah. Pertemuan itu dipersiapkan sedemikian rupa, kaum Khadijah menyambut kedatangan Muhammad dengan penuh kehangatan. Lalu Abu Thalib berbicara, diantara kalimat yang diucapkannya adalah,

“Amma ba`du, sesungguhnya Muhammad –putera saudaraku- adalah seorang pemuda yang tak bisa disamakan dengan pemuda Quraisy manapun, ia mengungguli mereka dari sisi kemuliaan, martabat, keutamaan dan kecerdasan. Meski sedikit hartanya, tapi harta itu hanyalah sebuah bayang-bayang yang sejenak lagi menghilang, atau sebuah kekurangan yang bisa dicari. Ia mempunyai keinginan terhadap Khadijah binti Khuwailid, dan sebaliknya Khadijah pun memiliki keinginan padanya.”

Paman Khadijah setuju dengan perkataan Abu Thalib itu, ia kemudian memuji Muhammad shallallahu `alaihi wasallam dan berkata, “Lelaki ini sangat terhormat dan tak bisa diungguli.” Kemudian ia menikahkan Khadijah dengan Muhammad, dengan mahar sebanyak dua puluh ekor unta. Ia berkata, “Saksikanlah wahai orang-orang Quraisy! Saya telah menikahkan Khadijah dengan Muhammad bin Abdillah.”

Lalu disembelihlah unta-unta itu, dan Khadijah memilih seekor unta dari mahar tersebut, kemudian unta itu disembelih dan dihidangkan kepada semua yang hadir. Ini adalah walimah pertama nabi Muhammad shallallahu `alaihi wasallam.

Dalam penikahan yang penuh berkah itu, telah hadir seorang wanita yang dulu pernah menyusui nabi, yaitu Halimah As-Sa`diyah. Khadijah sangat memuliakan dan menghormatinya, kemudian menghadiahinya empat puluh ekor kambing, sebagai bentuk penghormatannya kepada lelaki yang dulu pernah disusuinya, yaitu suaminya tercinta Muhammad shallallahu `alaihi wasallam.[9]

o       Isteri teladan

Khadijah terhadap nabi bagaikan ibu terhadap seorang anak yatim, bak pelindung dari segala musuh, sebuah ketenangan bagi jiwanya, dan yang selalu memberikan makanan bagi alam fikirnya.

 Seperti yang dikatakan DR. Aisyah Abdurrahman,

“Adalah kehidupan suami isteri mereka dipenuhi tali kasih dan kebahagiaan, kejernihan rumah tangga mereka tak pernah dinodai dengan kekotoran sedikit pun. Karena hati Khadijah penuh dengan kecintaan dan kasih sayang terhadap sang suami, dirinya ia limpahi dengan penghormatan dan pemuliaan terhadap suami. Ia berusaha keras agar hubungan mereka selalu harmonis. Ia memelihara seluruh hak-hak nabi, agar kehidupan rumah tangga mereka senantiasa penuh kenikmatan yang tak ada petakanya, penuh kasih sayang yang tak ada celaannya sedikit pun, dan penuh dengan kejernihan yang tak tercampuri kekeruhan.”

Khadijah yakin, bahwa seorang suami berhak mendapatkan kecintaan yang tulus, penghormatan yang sempurna dari sang isteri, dan pertolongan atas segala beban, serta musibah hidup.

Sebaliknya, Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wasallam juga meletakkan sang isteri di lubuk hatinya yang paling dalam, dan meletakkannya di atas kedudukan yang paling tinggi dan mulia.

Kemudian Allah menyempurnakan keutamaan-Nya kepada mereka berdua dengan mengkaruniai dua anak lelaki, yaitu Qasim dan Abdullah, serta empat orang puteri, yaitu Ruqayyah, Zainab, Ummu Kultsum dan Fatimah.

Tapi Allah Berkehendak untuk merasakan kepada mereka pedihnya rasa kehilangan putera dan puteri, sehingga Qasim dan Abdullah meninggal dunia saat mereka masih kecil. Allah telah mengambil kembali amanat yang dititipkan kepada dua suami isteri itu.[10]

Dan benarlah ucapan seorang penyair saat berkata,

وَماَ الْماَلُ وَاْلأَهْلُوْنَ إِلاَّ وَدَائِعُ ….      وَلاَ بُدَّ يَوْماً تُسْتَرَدُّ الْوَدَائِعُ

Harta dan anak-anak tidak lain hanyalah sebuah titipan…

Pasti pada suatu hari titipan-titipan itu akan diminta kembali.

Jadi, Khadijah adalah sebaik-baik penolong bagi sang suami, ia banyak meringankan kesedihannya, dan banyak membantunya agar selalu bersabar sebaik mungkin.

Siapakah wanita selain Khadijah yang saat kematian menjemput kedua puteranya, kemudian memanggil puterinya satu demi satu, tapi ia menghadapi segala musibah dan bencana itu dengan penuh kesabaran, ia menerima apa adanya segala taqdir dan qadha` Allah. Serta senantiasa menghibur suami dan meneguhkan kekuatan dirinya?! Tentu tak ada wanita seperti itu selain Khadijah.

Maka benarlah ucapan Aisyah Ummul Mukminin saat mengatakan,

((كَأَنْ لَمْ تَكُنْ فِي الدُّنْياَ اِمْرَأَةٌ سِوَاهاَ))

“Seakan-akan tak ada wanita di dunia ini selain hanya Khadijah.”[11]

Inilah Khadijah, Ath-Thaahirah, sang isteri teladan. Apakah ada dalam sejarah wanita sepertinya?!

أُولَئِكَ آباَئِيْ فَجِئْنِيْ بِمِثْلِهِمْ……إِذاَ جَمَعْتَنَا يَا جَرِيْرَ الْمَجَامِعِ

Mereka itulah para pendahuluku, maka datangkanlah padaku orang-orang seperti mereka…

Jika anda bisa mengumpulkan kita semua[12] wahai orang yang suka mengumpulkan!

 

·         Kehidupannya setelah Kenabian Muhammad shallallahu `alaihi wasallam

Ketika Nabi Muhammad sudah genap berumur empat puluh tahun, beliau banyak menjauhi dunia dan menyendiri dari manusia. Beliau memilih gua Hira` untuk beribadah di dalamnya, beliau menyendiri disana untuk beribadah dan merenungkan keajaiban alam ini. Beliau memikirkan tentang pencipta alam semesta itu. Beliau menetap disana selama beberapa malam.

Ketika kembali ke rumah, beliau langsung disambut Khadijah dengan penyambutan yang sebaik-baiknya, tanpa keluar dari sang isteri itu sedikit pun hal yang mengkeruhkan suasana, tapi sang isteri malah melimpahkan kasih sayang dan kerinduannya kepada sang suami tercinta.

Ketika sang isteri merasa suaminya ingin kembali ke gua Hira`, yang menjadi tempat ketenangan hati dan kesejahteraan ruhnya, ia segera memberinya semangat untuk itu. Ia tak lupa mempersiapkan baginya makan dan minum yang bakal dibutuhkan suaminya disana.

Bahkan kadang-kadang Khadijah mengirim beberapa orang untuk menjaga sang suami tercinta, tanpa mengganggu ibadah dan kesendiriannya.

Demi Allah! Betapa ajaib sifat Khadijah itu. Sifat mulia seperti ini hampir saja tidak dibenarkan oleh akal, seandainya ia tidak diriwayatkan dari siti Khadijah dengan sanad sahih yang jauh dari keraguan.

Benarlah Ibnu Ishaq saat ia mengatakan, “Adalah Khadijah bagi sang suami dalam islam, seperti seorang perdana menteri yang penuh ketulusan. Yang selalu membantunya dalam berkhalwat dan membuat tenang diri sang suami. Seakan-akan ia sudah beriman dengan risalah sang suami, sejak pelayan laki-lakinya yang bernama Maisarah memperdengarkan padanya perkataan sang rahib di kota Bushra. Karena itu ia mempersiapkan diri sebaik mungkin, agar menjadi orang yang paling pantas dalam menanggung segala bebannya dan mampu melaksanakan tugas itu sebaik-baiknya.”

Ketika Allah sudah memilih sang suami, menjadikannya sebagai utusan bagi seluruh manusia, dan menjadikannya sebagai penutup para nabi, Allah pun menurunkan kepadanya ruh al-qudus, yaitu Jibril Alaihissalam dalam bentuk malaikatnya yang asli di gua Hira`. Jibril berkata kepadanya, “Bacalah!” Maka nabi Muhammad menjawab, “Saya tak bisa membaca” sebanyak dua kali.

Maka Jibril berkata kepada nabi untuk yang ketiga kalinya, “Bacalah!” ia mendekap nabi sangat kuat sampai nabi kelelahan. Dalam riwayat lain rasulullah mengatakan, “Sampai saya menduga bahwa itu adalah sebuah kematian.” Kemudian Jibril melepaskanku dan berkata,

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-Alaq: 1-5) Maka saya pun membacanya.

Ketika malaikat Jibril sudah pergi, rasulullah yang mulia ini segera pulang ke rumahnya dengan tubuh gemetaran dan panas dingin. Saat sampai di rumah ia berkata, “Selimuti saya, selimuti saya.”

Disinilah terlihat dengan jelas keagungan sang isteri teladan itu, bagaimana cara ia bertindak dan bagaimana kekokohannya. Ia sama sekali tidak menjerit, tidak kehilangan akal, dan tidak menganggap sang suami telah gila atau kesurupan. Ia tidak meminta pertolongan kepada para tetangga untuk membongkar perkara sang suami, tapi ia malah menyelimuti layaknya seorang ibu yang penuh kasih kepada anak tunggalnya.[13]

Ketika rasa takut itu sudah hilang dari Nabi Muhammad dan jiwanya sudah tenang, ia menceritakan kejadian sebenarnya kepada Khadijah dan berkata, “Saya takut akan diriku.”

Tapi Khadijah malah menjawab dengan penuh percaya diri dan penuh kasih sayang, “Allah pasti melindungi kita wahai Abul Qasim! Gembira dan tegarlah wahai putera pamanku, demi Tuhan yang jiwa Khadijah ada dalam genggaman-Nya, saya sangat mengharap bahwa engkau akan menjadi nabi umat ini. Demi Allah! Allah tak akan menghinakanmu, karena engkau seorang yang pasti menyambung tali silaturrahim, yang selalu berkata jujur, yang bersabar atas segala musibah, menolong orang yang lemah, dan membantu di jalan kebenaran.”[14]

Khadijah segera bangkit menemui anak pamannya yang bernama Waraqah bin Naufal, ia mempunyai ilmu tentang kitab-kitab samawi, tapi kedua matanya telah buta karena umurnya yang sudah sangat tua itu. Ketika sampai di rumahnya, Khadijah langsung menceritakan kejadian yang dialami nabi Muhammad kepada Waraqah. Mendengar cerita itu, Waraqah langsung bersemangat padahal jiwanya sakit-sakitan, ia berkata dengan keras, “Quddus, Quddus, Demi Tuhan yang jiwa Waraqah ada dalam genggaman-Nya, jika yang kau omongkan padaku adalah benar wahai Khadijah, maka ini adalah An-Namus (wahyu) Al-Akbar yang dulu pernah datang kepada nabi Musa dan Isa, sesungguhnya Muhammad adalah nabi umat ini, katakan padanya agar tetap tegar.”

Khadijah segera kembali ke rumahnya, ia ingin memberitahukan kabar gembira dari Waraqah bin Naufal ini kepada suaminya. Saat pulang itu jiwanya sangat gembira dan dadanya terasa sangat lapang. Ketika sampai di rumah, ia langsung memandang suaminya dengan pandangan penuh rasa hormat dan penuh pemuliaan, lalu memberitahunya kabar gembira yang baru saja diucapkan Waraqah bin Naufal.

Kerut-kerut wajah nabi Muhammad menjadi ceria, beliau bersyukur kepada Khadijah atas perhatian dan kepeduliannya yang begitu besar terhadap dirinya, kemudian beliau berkata, “Waktu tidur telah lenyap wahai Khadijah! Jibril telah menyuruh saya memperingatkan manusia dan mengajak mereka hanya beribadah kepada Allah.”

Khadijah menjawab perkataan itu, “Saya telah masuk islam, membenarkan risalahmu, dan beriman kepada Rabbmu.” Maka Khadijah adalah wanita pertama kali yang beriman kepada beliau, tak ada seorang lelaki atau wanita pun yang mendahuluinya.

Rasulullah mulai mendakwahkan islam dan memulai perjuangannya dalam mengemban risalah ini. Maka bangkitlah hari qiyamat bagi orang-orang Quraisy, mereka mulai menyakiti rasulullah dan orang-orang yang beriman kepada beliau. Tapi, Khadijah senantiasa berada di sampingnya, ia menghibur dan meringankan beliau dari segala kepedihan dan pendustaan yang dihadapinya, juga menghiburnya saat beliau bersedih karena melihat para sahabatnya banyak yang disiksa. Bahkan ia memberikan hartanya kepada sang suami, agar ia menggunakannya untuk hal-hal yang diperlukan dan dikehendakinya.[15] Dan… Mestinya seperti inilah sifat para isteri itu.

Khadijah senantiasa mengokohkan keteguhan nabi Muhammad dan memberinya semangat agar tetap tegar di jalan dakwah. Setiap ia melihat nabi sedih dan gelisah atas penentangan kaum dan penghinaan mereka terhadap risalah beliau, ia segera bertindak sebaik mungkin untuk meringankan kesedihannya, menghidupkan kebahagiaan dalam hatinya, membangkitkan motifasi dalam jiwanya, dan melapangkan musibahnya. Sungguh, sebaik-baik isteri dan sebaik-baik perdana menteri adalah Khadijah.

Ketika orang-orang Quraisy mengembargo rasulullah di Syi`b[16] Abi Thalib, ia juga pergi ke sana bersama sang suami tercinta. Ia tinggal disana selama tiga tahun merasakan kepedihan bersamanya. Ia terus bersabar menghadapi semua kecemasan itu, bersabar meski sangat kelaparan dan dianiaya oleh sanak kerabat, ditambah lagi dengan rentanya masa tua, pedihnya kehilangan sanak saudara dan banyaknya kepahitan hidup serta kesedihannya disana.

Tapi, meski semua kepedihan itu, tak ada keluhan sedikitpun yang didengar darinya. Tak ada seorang pun yang melihatnya mengadu atau kesal terhadap hal itu.

Mestinya seperti inilah sifat para isteri itu. Yaitu selalu menolong suami mereka, meneguhkan kekuatan mereka saat diterpa fitnah, rela berkorban demi suami, dan mengeluarkan jiwa, juga segala yang mahal demi kebenaran yang dilalui suami.

Mampukah seorang wanita kaya yang selalu hidup mewah selain Khadijah, untuk meninggalkan semua kenikmatan dan kemewahan yang dimilikinya, demi mendampingi suami dalam masa-masa yang sangat pedih. Dan membujuknya agar senantiasa bersabar dalam menghadapi segala bentuk gangguan yang dirasakannya saat berada di jalan yang ia yakini bahwa itu adalah benar?! [17]

 

o       Wafatnya

Setelah embargo orang-orang Quraisy terhadap rasulullah dan kaum beriman dari bani Hasyim ini sudah sangat membinasakan, yang hal itu mereka hadapi dengan penuh kesabaran, keteguhan dan pengorbanan yang tiada tara, maka pulanglah rasulullah bersama isterinya yang setia itu ke kota Makkah. Namun, belum puas merasakan kenyamanan rumah yang telah mereka tinggalkan selama tiga tahun, kini Khadijah merasakan rasa sakit yang merambat di sekujur tubuhnya. Ia mendapati kecapaian sangat yang membuatnya tidak bisa bergerak, sehingga harus tetap di atas tempat tidur.

Tapi, suami yang setia ini senantiasa memelihara dan merawat sang isteri tercinta. Ia hampir tak pernah meninggalkannya kecuali saat shalat tiba. Dan setelah tiga hari berlalu, Khadijah pun menyerahkan nyawa sucinya keharibaan Sang Pencipta dengan penuh keridhaan dan diridhai. Kematiannya ini terjadi pada tanggal sepuluh ramadhan tahun kesepuluh dari kenabian, sesuai dengan riwayat sejarah yang paling rajih.[18] Tepatnya, tiga hari setelah Abu Thalib wafat.

Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam sendiri yang menguburkannya dengan kedua tangan mulianya di pekuburan Al-Hujun, saat itu beliau berumur empat puluh enam tahun. Setelah kematian sang isteri tercinta, juga kematian pamannya Abu Thalib, rasulullah bersedih tak kepalang. Karena kedua orang itu bak pelindung baginya dan tempat menaruh harapannya. Karena kesedihan yang tak terhingga ini, maka tahun ini disebut dengan “`aamul huzni”, tahun kesedihan.[19]

Wahai Ummul Mukminin! Wahai isteri penutup para nabi, Semoga Allah merahmatimu. Engkau adalah tuan bagi seluruh wanita penduduk surga.

o       Sifat-sifat dan kemuliaannya

Setelah memperhatikan sedikit tentang sisi kehidupan Ummul Mukminin Khadijah radhiyallahu `anha, kita bisa mengetahui bahwa dia memiliki beberapa sifat mulia di bawah ini,

1-Ia adalah seorang wanita cerdas, jernih pemikiran, dan mempunyai pandangan jauh ke depan. Inilah yang membuatnya memilih Muhammad sebagai suami, juga membuatnya menyuruh Nafisah memberitahukan keinginannya kepada nabi Muhammad, tanpa ada seorang pun yang mengetahui hal itu.

2-Ia adalah seorang wanita pemberani, teguh hati, dan jujur dalam berkehendak. Yang membuktikan semua sifat ini adalah saat rasulullah datang dari gua Hira` dengan wajah pucat, tubuh gemetaran, dan memberitahunya tentang apa yang telah dilihat dan didengarnya, juga apa yang diperbuat malaikat Jibril terhadapnya.

Khadijah sama sekali tidak melemah kekuatannya, tidak hancur keteguhannya, dan tidak menjerit ketakutan dari apa yang didengarnya, tapi malah menenangkan kekalutan yang sedang dihadapi sang suami, dan memberinya kabar gembira bahwa dia bakal menjadi nabi bagi umat ini.

Dia adalah wanita pertama yang beriman dengan risalah Islam, yang berjihad di jalan risalah itu dengan harta dan seluruh simpanannya. Ia telah membuka lebar rumahnya agar menjadi tempat berlindung bagi orang-orang fakir dan orang-orang tertindas, ia melimpahkan kasih sayangnya kepada mereka, melapangkan harta kepada mereka semua, sampai rela menginfakkan harta yang ia pergunakan sebagai modal perdagangannya demi suami tercinta, demi dakwah dan para sahabatnya, dengan penuh keridhaan dan hati yang tulus.

Sebagaimana ia adalah bak perdana menteri yang sangat jujur kepada rasulullah shallallahu `alaihi wasallam. Tidaklah rasulullah mendengar suatu hal yang beliau benci dari kaum Quraisy, dari pendustaan mereka, atau gangguan yang membuat beliau bersedih dan gelisah, kecuali Khadijah meringankan beban semua itu setiap rasulullah pulang kepadanya. Ia membuat beliau tegar di jalan dakwah dan membuat remeh perkara semua orang itu.

Ia adalah wanita yang paling menjauhi kemaksiatan dari wanita Quraisy, yang paling menjauhkan diri dari tempat-tempat syubhat, sehingga ia digelari Ath-Thaahirah, sang wanita suci.[20]

Barangkali akan lebih menambah faedah jika kami mengakhiri keutamaan ini dengan ucapannya kepada puterinya Ummu Kultsum, yaitu saat Khadijah hendak meninggal dunia, ia berkata,

“مَا مِنِ امْرَأَةٍ مِنْ قُرَيْشٍ ناَلَتْ مِثْلَ الَّذِيْ نِلْتُ مِنْ مَجْدٍ، حَسْبِيْ مِنْ دُنْياَيَ أَنِّيْ زَوْجَةُ الْحَبِيْبِ الْمُصْطَفَى، وَحَسْبِيْ آخِرَتِيْ أَنَّنِيْ أَوَّلُ مَنْ آَمَنَ، وَأَنِّيْ أُمُّ الْمُؤْمِنِيْنَ”

“Tiada seorang wanita quraisy pun yang memperoleh kemuliaan seperti yang kudapatkan. Cukuplah sebagai duniaku, jika aku adalah isteri Al-Mushtofa yang tercinta. Dan cukuplah sebagai akhiratku jika aku adalah orang yang pertama kali beriman, dan termasuk ibu bagi kaum mukminin.”

Ya Allah! Saya tak bisa menghitung pujian atas diri-Mu. Ya Allah! Saya tak pernah benci untuk bertemu dengan-Mu.  Tetapi saya ingin lebih banyak berkorban, agar saya pantas mendapat kenikmatan dari-Mu.[21]

o       Tiada cinta kecuali kepada kekasih pertama

Rasulullah telah mengubur isteri tercintanya Khadijah, beliau kembali ke rumahnya setelah menguburnya di pekuburan Al-hujun. Tapi tiba-tiba bayangan diri Khadijah seakan-akan berada di hadapan beliau, bayangan itu tak pernah menghilang, demikian pula nada pembicaraannya, tak pernah berhenti keluar dari lidah beliau.

Nabi telah berhijrah ke kota Madinah… beliau telah menikah dengan Siddiqah puteri siddiq. Dialah Aisyah, sang gadis yang masih perawan, semoga Allah Meridhainya. Meski sedemikian rupa kecantikan dan kemuliaan nasabnya, beliau tetap saja mengingat Khadijah dalam banyak kesempatan. Beliau seringkali memuliakan kawan-kawan Khadijah, menyambung kerabat-kerabatnya, menziarahi kuburannya dan selalu mencari-mencari tempat yang disana ia bisa mengenang Khadijah kembali. Sehingga Aisyah menjadi cemburu dan berkata kepada beliau,

((وَماَ تَذْكُرُ مِنْ عَجُوْزٍ مِنْ عَجاَئِزِ قُرَيْشٍ، حَمْرَاءَ الشَّدْقَيْنِ، هَلَكَتْ فِي الدَّهْرِ، أَبْدَلَكَ اللهُ خَيْراً مِنْهاَ؟!))

“Kenapa anda selalu menyebut-nyebut wanita quraisy tua, yang merah kedua sudut mulutnya itu, bukankah ia sudah lama meninggal dan Allah menggantikan dengan yang lebih baik darinya?!”

Maka wajah rasulullah langsung berubah, beliau langsung menjawab dengan sedikit marah,

((وَاللهِ ماَ أَبْدَلَنِيْ اللهُ خَيْراً مِنْهاَ، آمَنَتْ بِيْ حِيْنَ كَفَرَ النَّاسُ، وَصَدَّقَتْنِيْ إِذْ كَذَّبَنِي النَّاسُ، وَوَاسَتْنِيْ بِمَالِهاَ إِذْ حَرَمَنِي الناَّسُ، وَرَزَقَنِي اللهُ مِنْهاَ الْوَلَدَ دُوْنَ غَيْرِهاَ مِنَ النِّساَءِ))

“Demi Allah! Allah tidak menggantikan Khadijah dengan wanita yang lebih baik darinya. Dia beriman padaku saat para manusia menentang, membenarkanku saat manusia mendustakan, menolongku dengan hartanya saat para manusia menolak memberikannya, dan Allah hanya memberikan anak padaku darinya bukan dari wanita yang lain.”[22]

Maka Ummul Mukminin Aisyah menjawab, “Demi Allah! Setelah perkataan beliau itu saya tak pernah lagi memburuk-burukkannya.”

Sastrawan, Abbas Mahmud Al-Aqqad berkata dalam kitabnya “Fatimah Az-Zahra`”, “Sesungguhnya kesetiaan seperti ini, adalah satu-satunya cara untuk menampakkan bakti kepada sang isteri yang banyak berbuat baik dan ibu yang sangat bijaksana. Maka tak ada persaksian seorang manusia pun yang lebih tulus, ketimbang banyaknya kesetiaan kepada sang isteri dalam hati seorang insan yang agung.”[23]

Sedangkan seorang penulis prancis berkata dalam kitabnya “Rasulullah”, “Khadijah di mata rasulullah adalah seorang wanita yang sangat menarik, tegar dan lembut, yang hal semacam itu tak pernah beliau dapatkan sepanjang hidupnya dari isteri-isteri yang lain.”

Jadi! Meski sedemikian rupa kecantikan Aisyah, juga kecantikan dan kecerdasan para isteri beliau lainnya, beliau masih mengunggulkan Khadijah. Beliau memasukkannya dalam empat wanita, yang mereka adalah para wanita yang paling sempurna yang ada di atas permukaan bumi.

Maka tak diragukan lagi, Khadijah memang pantas mendapat perlakuan yang sangat setia dari rasulullah yang mulia ini. Bukankah kebaikan itu tidak dibalas kecuali dengan kebaikan pula?! Karena Khadijah terhadap rasulullah, ia bagaikan seorang ibu di saat keyatimannya, dia adalah pemberi ilham akan kepahlawannya, tempatnya berteduh, dan tempat yang aman baginya dari segala kekalutan dan kecemasan, ia adalah mata air kepercayaan, ketenangan dan keselamatan.[24]

Karena semua sifat mulia dan keutamaannya yang tak terhingga inilah, ia sangat pantas jika digelari dengan Ath-Thaahirah, sang wanita suci, dan dijadikan pemimpin wanita quraisy di saat jahiliyah sebelum diutusnya nabi. Ia juga sangat pantas jika ash-shadiq al-amin menggelarinya dengan pemimpin seluruh wanita dunia setelah beliau diutus sebagai rasul. Sangat pantas pula jika beliau memasukkannya ke golongan al-kaamilaat, wanita-wanita yang sempurna, dan termasuk wanita ahli surga yang paling utama.

o       Kedudukannya di surga dan kesempurnaannya sewaktu di dunia

1-Ucapan salam dari Allah kepadanya, juga kabar gembira dari Allah mengenai rumahnya di surga. Abu Hurairah telah meriwayatkan sebuah hadits, dia berkata,

((أَتىَ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: ياَ مُحَمَّدُ! خَدِيْجَةُ قَدْ أَتَتْكَ بِإِناَءٍ فِيْهِ إِدَامٌ أَوْ طَعَامٌ أَوْ شَرَابٌ، فَإِذَا هِيَ أَتَتْكَ فاَقْرَأْ عَلَيْهاَ السَّلاَمَ مِنْ رَبِّهاَ وَمِنِّيْ، وَبَشِّرْهاَ بِبَيْتٍ فِي الْجَنَّةِ مِنْ قَصَبٍ لاَ صَخْبَ فِيْهِ وَلاَ نَصَبَ)) (أخرجاه الشيخان)

“Jibril alaihis Salam datang kepada Nabi shallaallahu `alaihi wasallam dan berkata, Wahai Muhammad! Khadijah akan mendatangimu dengan sebuah wadah yang ada kuah, makanan atau minumannya. Jika dia mendatangimu maka sampaikan salam buatnya dari Allah dan dariku. Kabarkan padanya bahwa ia memiliki sebuah rumah di surga yang terbuat dari permata, tak ada hiruk pikuk di dalamnya dan tak ada kepenatan.” (HR. Asy-Syaikhan)

Dalam riwayat lain rasulullah bersabda,

((ياَ خَدِيْجَةَ، إِنَّ جِبْرِيْلَ يُقْرِئُكَ مِنْ رَبِّكَ السَّلاَمَ))

“Wahai Khadijah! Sesungguhnya Jibril menyampaikan salam kepadamu dari Tuhanmu.”

Kemudian Khadijah menjawab Salam itu dengan jawaban sangat indah dan ucapan yang mulia,

((اَللهُ السَّلاَمُ، وَمِنْهُ السَّلاَمُ، وَعَلَى جِبْرِيْلَ السَّلاَمُ))

“Allah lah As-Salam, dari-Nya keselamatan itu, dan kuucapkan selamat atas Jibril.”

2-Khadijah adalah sebaik-baik wanita ahli surga.

Dari Abdullah bin Ja`far ia berkata, saya mendengar Ali bin Abi Thalib berkata,

((خَيْرُ نِساَئِهَا خَدِيْجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ، وَخَيْرُ نِساَئِهَا مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ)) (أخرجه البخاري ومسلم والترمذي)

“Sebaik-baik wanita surga adalah Khadijah binti Khuwailid, dan sebaik-baik wanita surga adalah Maryam binti Imran.” (HR. Al-Bukhari, Musim dan At-Tirmidzi)

3-Khadijah adalah wanita ahli surga yang paling utama.

Dari Ikrimah dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma ia berkata,

((خَطَّ رَسُوْلُ اللهِ أَرْبَعَةَ خُطُوْطٍ، وَقَالَ: أَتَدْرُوْنَ ماَ هَذَا؟ قَالُوْا: اَللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. فَقاَلَ رَسُوْلُ اللهِ: أَفْضَلُ نِساَءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ خَدِيْجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ، وَفَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ، وَمَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ، وَآسِيَةُ بِنُتُ مُزَاحِمٍ)).

“Rasulullah menulis empat garis, kemudian beliau bertanya, tahukah kalian apakah ini? Para sahabat menjawab, Allah dan rasul-Nya yang lebih tahu. Maka beliau bersabda, sebaik-baik wanita penduduk surga adalah: Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran dan Asiyah binti Muzahim.”

o       Termasuk Al-Kaamilaat (wanita-wanita yang sempurna)

Dari Abu Musa Al-Asy`ari radhiyallahu anhu ia berkata, rasulullah bersabda,

((كَمُلَ مِنَ الرَّجاَلِ كَثِيْرٌ، وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّساَءِ إِلاَّ مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَآسِيَةُ بِنْتُ مُزَاحِمٍ اِمْرَأَةُ فِرْعَوْنَ، وَخَدِيْجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ، وَفاَطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ، وَفَضْلُ عَائِشَةَ عَلَى النِّساَءِ كَفَضْلِ الثَّرِيْدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعاَمِ))

“Yang sempurna dari kaum lelaki sangat banyak, tetapi yang sempurna dari kaum wanita hanyalah Maryam binti Imran, Asiyah binti Muzahim, Khadijah binti Khuwailid dan Fatimah binti Muhammad. Sedangkan keutamaan Aisyah atas seluruh wanita, seperti keutamaan Tsarid[25] atas segala makanan yang ada.”[26]

Fatimah Az-Zahra` berkata,

((وَاللهِ ياَ رَسُوْلَ اللهِ، لاَ يَنْفَعُنِيْ عَيْشِيْ حَتىَّ تَسْأَلَ جِبْرِيْلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ عَنْ أُمِّيْ. فَسَأَلَهُ، فَقَالَ: هِيَ بَيْنَ مَرْيَمَ وَسَارَةَ فِي الْجَنَّةِ)) (أخرجه ابن السدي)

“Demi Allah wahai Rasulullah, hidupku tidak bermanfaat sampai engkau bertanya kepada Jibril tentang ibuku. Lalu nabi menanyakannya kepada Jibril. Jibril menjawab, dia ada diantara Maryam dan Sarah di dalam surga.” (HR. Ibnu As-Suddi)

o       Nasehat dan pelajaran dari kehidupannya yang penuh berkah

Dari berbagai kisah yang baru saja kami sajikan mengenai kehidupan Ummul Mukminin Khadijah, sang perdana menteri rasulullah, kita bisa mengambil beberapa pelajaran dan nasehat di bawah ini,

1-Pandai dalam memilih suami.

Suami adalah kawan yang seumur hidup akan menyertai, dan teman yang sangat sulit untuk ditinggalkan. Karena itu, merupakan sebuah kewajiban bagi sepasang suami isteri untuk pandai-pandai dalam memilih pasangan hidupnya. Yaitu pasangan yang jika hari terus berlalu, pertalian mereka semakin kokoh, dan jika datang musibah-musibah mereka semakin tegar dalam menghadapi kehidupan ini.

Inilah yang telah dilakukan Ummul Mukminin Khadijah. Padahal banyak sekali para pelamar kaya dan terkemuka dari Makkah, juga para pembesar quraisy yang bersaing untuk menikahinya, tapi Khadijah menutup erat pintu yang menuju kesana itu, sehingga mereka pulang tanpa hasil yang berarti. Hal itu dilakukan Khadijah, karena tak seorang pun dari mereka yang terdapat padanya sifat seorang pangeran yang diidam-idamkannya, sifat seorang pendamping hidup, dan sifat seorang teman dalam sebuah perjalanan. Yaitu sifat-sifat mulia dan terpuji, meski semua pelamar itu berlimpah dalam kenikmatan dan kekayaan.

Khadijah tahu bahwa harta itu hanya sebuah bayang-bayang yang pasti akan menghilang, sebuah kekurangan yang kapan pun bisa didatangkan, dan sebuah kemuliaan yang tak pernah langgeng. Tetapi semua itu akan berpindah kepada orang lain.

“Masa kejayaan dan kehancuran itu, Kami pergilirkan di antara manusia agar mereka mendapat pelajaran, dan supaya Allah membedakan antara orang-orang yang beriman dengan orang-orang kafir, juga agar sebagian kamu dijadikan-Nya gugur sebagai syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Ali `Imran: 140)

Sedangkan yang mewujudkan kebahagian bersuami isteri hanyalah, cinta yang tulus, saling memuliakan, budi pekerti luhur dan rasa percaya tinggi terhadap masa depan.

Semua sifat ini, tak ia dapatkan kecuali pada Muhammad shallallahu `alaihi wasallam, sang pemuda ash-shadiq al-amin, yang jujur dan bisa dipercaya. Yang sebelumnya sudah dikabari oleh Rahib Nastura bahwa ia akan menjadi seorang nabi. Karena itu setiap pelayannya yang bernama Maisarah bercerita tentang Muhammad, tentang perjalanan mereka yang penuh berkah, tentang keajaiban-keajaiban yang telah dilihatnya, dan tentang segala keanehan yang didengarnya, Khadijah langsung tersibukkan pikirannya oleh Muhammad. Muhammad telah membangunkan dalam dirinya angan-angan yang sudah lama tertidur dan membangkitkan pikirannya yang sudah lama terbuang.

Khadijah telah menemukan dalam diri Muhammad seorang penghibur rohani, pelindung kehormatan, penjaga harta, penyimpan rahasia-rahasianya, pewujud angan-angan juga cita-citanya, dan seseorang yang bakal memenuhi kehidupan serta jiwanya dengan kebahagiaan dan ketenteraman. Karena itu, Khadijah memilihnya sebagai kawan sepanjang umurnya… itulah pilihan yang terbaik.

Pada peristiwa Khadijah ini, ada sebuah pelajaran penting bagi para gadis kita, hendaklah mereka pandai dalam memilih suami mereka. Hendaklah mereka memilihnya berdasarkan pada pokok yang bakal menambah hari-hari mereka semakin kokoh, dan menambah teguh ketegaran mereka dalam menghadapi musibah serta goncangan kehidupan yang ada. Bukan berdasar pada cinta semu yang berasal dari kecantikan, yang berdasar pada harta yang diidamkan, atau berdasar pada keinginan untuk memperoleh kedudukan tinggi dan pangkat. Semua faktor di atas cepat atau lambat, akan sirna dan bakal meninggalkan kepedihan pada jiwa, penyesalan dalam hati, tangisan pada mata, dan anak-anak yang tak terkendali.

2-Berbuat baik kepada keluarga suami.

Berbuat kebajikan membuat hati para manusia menjadi budak kita, ia membuat jinak segala yang buas, dan membuat musuh berubah menjadi kawan. Sesuai dengan firman Allah yang berbunyi,

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fushshilat: 34)

Sedangkan seorang isteri, ia adalah individu baru yang masuk dalam sebuah keluarga. Karena itu wajib baginya berupaya sekuat tenaga untuk memperoleh kasih sayang mereka dengan kebijaksanaan dan kelembutannya. Dan cara terbaik untuk menggapainya adalah dengan memberikan perhatian penuh kepada anak kecil, memuliakan yang tua-tua, menolong yang membutuhkan, dan mengasihi yang miskin. Juga dengan memberikan nasehat yang baik kepada mereka tanpa menggurui, karena hal itu membuat mereka menghindar atau malah memusuhinya.

Karena itulah, kita menyaksikan bagaimana Khadijah bisa membuat semua hati tertarik padanya, yaitu dengan memuliakan Halimah As-Sa`diyah misalnya, memberi hadiah kepada kerabat-kerabat sang suami, dan memuliakan paman-pamannya. Sehingga ia ditempatkan dalam lubuk hati mereka yang paling dalam, mendapat kedudukan tertinggi, dan ia dijadikan sebagai tempat bergantung juga tempat menaruh harapan.

3-Menghormati kesenangan suami dan kegigihannya dalam mewujudkan kesenangan itu.

Jika seorang isteri berada di hati sang suami seperti yang dijelaskan Allah pada ayat ini,

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Ruum: 21)

Maka adalah sebuah kewajiban bagi sang isteri untuk menghormati kesenangan suaminya dan senantiasa mewujudkan kesenangan itu. Ini harus dilakukan setiap wanita karena mengikut cara wanita sempurna yang suci, yaitu siti Khadijah. Yaitu ketika merasakan bahwa suaminya ingin menyendiri dan senang berada dalam gua Hira`, Khadijah langsung menyiapkan untuknya makanan, minuman dan segala bekal yang diperlukan. Bahkan ia mengutus beberapa orang untuk menjaga sang suami tercinta tanpa harus merasa bahwa ia telah dijaga. Ia juga memberi wasiyat kepada para penjaga itu agar tidak mendekati sang suami, sehingga sang suami tak terganggu kesendiriannya karena kehadiran mereka.

Ketika sang suami menceritakan padanya apa yang telah dilihat, didengar dan terjadi padanya, Khadijah tidak bergolak dan bergeming sedikitpun dengan kejadian itu. Ia tidak membalasnya dengan meninggalkan kehidupan suami isteri bersamanya, atau meninggalkan puteri-puterinya, atau membongkar peristiwa yang baru saja terjadi pada sang suami kepada semua orang. Tapi ia menjadi orang yang pertama kali membenarkan dan pertama kali beriman padanya, bahkan menyerahkan harta dan segala yang dimilikinya dibawah kekuasaan sang suami agar digunakan untuk menggapai tujuannya dalam menyampaikan dakwah ini.

Adakah isteri-isteri yang menyadari hal itu… Kemudian berupaya memperkuat ikatan keluarga ini, atau menyertai suami mereka dalam kesenangannya untuk mencapai tujuan itu, atau menjauhkan diri dari segala hal yang menunjukkan peremehannya terhadap ide mereka, tanpa berpaling dari pendapat mereka, tanpa menganggap mereka terkena stress atau hilang akal, tanpa memeriksa satu persatu pena dan buku-buku mereka, seakan-akan pena dan buku itu sumber petaka, dan tanpa menganggap suami sebagai musuh bebuyutan, karena semua itu membuat kehidupan berumah tangga penuh dengan masalah dan percekcokan.

Inilah beberapa faedah yang kita ambil dari sekian banyak faedah dari kehidupan Ummul Mukminin Khadijah radhiyallahu anha. Kita telah mempelajari dari sisi kehidupannya bagaimana seorang isteri berhasil menjadi perdana menteri yang sangat jujur bagi sang suami. Yang selalu menolongnya lewat pemikiran, membantunya dengan harta, menyertainya dalam setiap pahit dan manisnya kehidupan, selalu berada di sisinya di saat bencana menimpa demi meneguhkannya, meringankan kesedihannya, menghilangkan kegelisahannya, menghidupkan harapannya, dan memberinya semangat agar tetap tegar di hadapan amukan fitnah, sehingga dia berhak mendapatkan dari sang suami sebuah penghormatan besar, kesetiaan abadi, dan sanjungan yang tak pernah terputus.

Maka bagimu wahai Ibu kami, Salam dari Allah dan keridhaan-Nya hingga hari qiyamat.


[1]Nama raja Yaman.

[2]Ath-Thabaqat libni Saad, jilid 8

[3]Fatimah Az-Zahra`, hlm. 11

[4]Usudul Ghabah, 5/434

[5]Usudul Ghabah, 5/135

[6]Sauma`ah adalah tempat ibadah orang yahudi atau nasrani.

[7]Mi`at awail min an-nisa`, hlm. 29

[8]Ath-Thabaqat Al-kubra, 1/131

[9]Ath-Thabaqat Al-Kubra, 1/132

[10]Al-Ishabah, jilid 2. As-Sirah An-Nabawiyah, 1/202 dan Tarikh Ath-Thabari, 3/175.

[11] Mausu`ah Alu An-Nabi, hlm. 232

[12]Maksud “Kita semua” adalah para manusia.

[13]Al-Ishabah, jilid 8 dan sirah ibnu Hisyam, 1/253

[14]Sastrawan Abbas Mahmud Al-Aqqad berkata mengenai kejadian wahyu ini, “Nabi Muhammad tidak menemukan di sampingnya seorang wanita yang mudah putus asa dan tidak tahu apa yang diperbuatnya, tapi ia menemukan di sisinya sebuah hati mulia, jiwa yang agung, dan tempat berteduh yang hatinya menjadi tenang dan tenteram.”

[15]Usudul Ghaabah, 5/435. Nisa` lahunna fit tarikh al-islami nashib hlm. 22 dan Mi`at awaail an-nisa` hlm. 76

[16]Lembah.

[17]Mausu`ah Aali An-Nabi hlm. 232

[18]Ath-Thabaqat Al-Kubra, 8/18

[19]Usudul Ghabah, 5/436

[20]Ahsanul Qashash.

[21]Fatimah Az-Zahra` hlm. 18

[22] Al-Isti`ab, 4/1824

[23]Fatimah Az-Zahra` wal fatimiyyun hlm. 19

[24]Nisa` an-nabi.

[25]Tsarid adalah nama sebuah makanan yang paling enak. Dan ada yang mengatakan bahwa tsarid adalah roti yang diremukkan kemudian direndam dalam kuah.

[26]Diriwayatkan Imam Al-Bukhari dalam fadhlu al-anbiya`, 6/340, Imam Muslim dalam fadhlu Khadijah Ummul mukminin no, 2431 dan Imam At-Tirmidzi dalam fadhlu Ats-Tsarid no, 1835. Dinukil dari Jami` al-ushul, 9/123.

sumber: 4 wanita terbaik dunia akhirat, pustaka eLBa Surabaya

0 comments on “KHADIJAH BINTI KHUWAILID

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *