Cara Mengeluh Dalam Islam

Cara Mengeluh Dalam Islam

oleh; Wafi Marzuqi Ammar, MA.

Saudara… kadang kita tidak merasa bahwa kita sudah meng-ghibahi (bahasa jawa: ngrasani) Allah. Iya benar, meng-ghibahi Allah. Karena kita menyampaikan tindakan-tindakan Allah yang ditimpakanNya atas kita kepada makhlukNya. Jadi kita mengeluh kepada teman kita atas masalah-masalah kita yang tidak berkesudahan. Padahal kita hanya mengeluh kepada makhluk lemah, yang juga mendapat masalah sama seperti kita, dan sama sekali tidak bisa memberi solusi apa pun kepada kita.

Saya jadi teringat perkataan Syuraih Al-Qaadhi, ketika mendengar seorang sahabat mengadukan permasalahannya kepada manusia. Dia menunjuk salah satu matanya dan mengatakan:

Wahai putra saudaraku! Mataku ini tidak bisa melihat manusia atau pun jalan sejak lima belas tahun lamanya. Tapi saya tidak pernah mengadukannya kepada seorang pun. Ingatlah perkataan hamba Allah yang shalih –yakni Nabi Ya’qub-:

“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Yusuf: 86)

Syuraih melanjutkan:

“Wahai putra saudaraku! Engkau jangan mengadu kepada selain Allah. Karena orang yang kamu curhati, tidak lepas dari sahabat atau musuh. Jika ia sahabat maka sangat bersedih dan tidak bisa memberimu manfaat. Dan jika musuh maka akan girang dengan yang menimpamu.” (At-Tadzkirah Al-Hamduuniyyah, 2/24)

Intinya: Jika anda mendapati masalah, segeralah menghadap kepada Allah. Ambil air wudhu, kemudian shalatlah dua rakaat, dan keluhkan semua masalah anda kepadaNya. Sungguh tidak akan menyesal orang yang mengadukan segala perkaranya kepada Rabb alam semesta.

Ingatlah Nabi Ya’qub. Ketika hanya mengadukan kepada Allah, maka Allah mengembalikan kebutaannya dan mengembalikan putranya “Yusuf” kepadanya.

Sedangkan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam setiap mendapat perkara pelik dan rumit, langsung menghadap Allah dengan shalat. (HR. Ahmad, no. 23299)

Beliau juga bersabda:

“Hendaknya setiap orang dari kalian memintahkan hajatnya kepada Allah. Hingga garam sekali pun. Dan hingga jepit sandalnya ketika terputus.” (HR. At-Tirmidzi, no. 3604)

Hanya saja, kita sangat jarang mempraktekkan syariat ini. Bisanya curhat dan mengeluh saja kepada hamba lemah yang tidak bisa berbuat apa-apa. Sekiranya mengeluhkan segala perkaranya kepada Rabb pencipta alam semesta, ia tidak akan dikecewakan. Allahu a’lam.

Rep: samsul bahri

Editor: samsul bahri

Topik:

Share This: