KAIDAH DALAM BERDAKWAH

      الدعوة بالحكمة

       Ikhwah sekalian yang senantiasa dirahmati Allah…
Ini sebuah kaidah dalam berdakwah. Ketika anda mendakwahi siapa pun, apakah itu pelaku bid’ah, orang Nashrani, orang Yahudi, orang Atheis, atau bahkan orang Syiah, anda jangan pernah menyatakan perkataan sesat terhadapnya.
Jangan pernah mengatakan kepada pelaku bid’ah: “Anda adalah pelaku bid’ah.”
Jangan pernah mengatakan kepada orang Nashrani: “Anda adalah kafir.” Meski anda meyakini dirinya berada dalam kekufuran. Termasuk jangan mengatakan kepada orang Syiah: “Anda adalah sesat.” Meski anda meyakini dirinya dalam kesesatan.
Karena kalau sejak awal anda sudah memberi label “sesat”, “bid’ah”, atau “kafir” kepada mereka, mereka tidak akan menerima hal itu, dan malah mencari pembenaran dalam keburukan yang dilakukannya. Ingatlah! Orang-orang yang berbuat keburukan itu, dan itu sangat jelas buruknya, mereka mengatakan: “Kami ini sedang melakukan perbaikan.” Padahal itu sudah sangat jelas keburukannya.
Silakan anda menyimak firman Allah berikut:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ. البقرة: 11

“Apabila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (QS. Al-Baqarah: 11)

     Terus bagaimana kita mendakwahi mereka? Silakan anda membaca firman Rabbuna yang Maha agung berikut:

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ.  الأنعام: 108

“Janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.” (QS. Al-An’am: 108)
Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah ketika menafsirkan ayat ini berkata:

ينهى الله المؤمنين عن أمر كان جائزا، بل مشروعا في الأصل، وهو سب آلهة المشركين، التي اتخذت أوثانا وآلهة مع الله، التي يتقرب إلى الله بإهانتها وسبها

“Allah melarang kaum mukminin untuk melakukan perkara yang asalnya dibolehkan. Bahkan disyariatkan pada dasarnya. Yaitu mencaci tuhan-tuhan kaum musyrikin, yang dijadikan sebagai tandingan-tandingan bersama Allah. Pada dasarnya kita bisa bertaqarrub kepada Allah dengan mencaci dan merendahkan sesembahan-sesembahan itu.”

ولكن لما كان هذا السب طريقا إلى سب المشركين لرب العالمين، الذي يجب تنزيه جنابه العظيم عن كل عيب، وآفة، وسب، وقدح -نهى الله عن سب آلهة المشركين، لأنهم يحمون لدينهم، ويتعصبون له. لأن كل أمة، زين الله لهم عملهم، فرأوه حسنا، وذبوا عنه، ودافعوا بكل طريق

“Tetapi ketika cacian ini menyebabkan orang-orang musyrik mencaci Rabbul alamin, yang wajib kita agungkan dari segala kekurangan, aib, keburukan, dan cacian, maka Allah melarang kita mencaci sembahan orang-orang musyrik itu. Karena mereka sangat fanatik terhadap agamanya. Setiap umat merasa amal perbuatannya adalah baik. Jadi mereka melihatnya sebagai suatu keindahan (padahal buruk pada dasarnya). Mereka membela mati-matian agamanya dan berjuang menegakkannya dengan segala sarana.”
Jadi ini adalah sebuah kaidah. Kalau dengan mencaci, mereka semakin memusuhi Islam dan malah sulit menerima Islam maka kita menggunakan cara yang lain. Yaitu jangan pernah mencaci dan menggunakan kata “sesat” kepada mereka. bukannya kita tidak meyakini mereka “sesat”. Bukan! Kita mengetahui bersama hal itu. Tapi karena kebanyakan mereka adalah orang yang juga tidak mengerti, sehingga ikut-ikutan dan berjalan mengikuti arus, maka kita harus pelan dan bijak dalam mendakwahi mereka. Allahu a’lam.
Ayat ini sekaligus menjadi dalil bahwa jika suatu perkara kelihatan baik, tapi mendatangkan madharat yang besar, maka harus kita tinggalkan. Inilah yang dikenal dalam kaidah ushul fiqih.

“دَرْءُ الْمَفَاسِدِ، مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ”

“Menghalangi datangnya keburukan, lebih diutamakan ketimbang mendatangkan kebaikan.”
Itulah alasannya mengapa Nabi shallallahu alaihi wasallam melerai sahabat ketika mereka hendak bersikap kasar terhadap orang badui yang kencing dalam masjid.
Juga itulah alasan yang sama mengapa Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak jadi membangun Ka’bah sesuai bangunan Nabi Ibrahim shallallahu alaihi wasallam, dan menetapkannya atas bangunan yang sekaran ini. Allahu a’lam.
Ya Allah, jadikan tulisan ini bermanfaat buat kami dan seluruh kaum muslimin. Jadikan ia sebagai pemberat amal kami, baik kami masih hidup dan ketika kami sudah meninggal dunia lama di dalam tanah. Meski sudah hancur tubuh ini, tapi jadikan ia tetap berjalan sebagai amal shalih yang jariyah.” Amin.

Ditulis oleh: Wafi Marzuqi Ammar
Surabaya, 29 Maret 2014, 9:18:32 AM

Share This: