Kiat Memaksimalkan Ibadah Ramadhan

Untuk mendapatkan pahala bulan Ramadhan bukanlah perkara yang mudah, terutama bagi kita kaum wanita. Perlu strategi dan niat yang kuat agar kita bisa selalu bersemangat dalam beribadah di sela-sela kelelahan bekerja dan kesibukan kita di dapur. Bagaimanakah strategi kita untuk mengisi bulan Ramadhan ? Di sini kita berbagi beberapa tips untuk memaksimalkan ibadah di sela-sela kesibukan kita bekerja.

Sebelum Ramadhan tiba , pelajari hal-hal yang berkaitan de ngan Ramadhan, baik itu dari segi ilmunya maupun trik-trik menghadapi Ramadhan itu sendiri. Kita bisa dapatkan de- ngan cara membaca, bertanya, mendatangi majelis taklim, maupun belajar dari para ulama bagaimana mereka mengisi bulan Ramadhan. Selain bekal ilmu, hal ini juga bisa meningkatkan semangat ibadah kita .
Menulis target yang ingin kita capai dan menyusun jadwal kegiatan kita sebulan penuh. Hal ini perlu melibatkan semua anggota keluarga agar bisa saling mendukung. Tempelkan jadwal kegiatan di ruang keluarga agar mudah dilihat, dan yakinkan semua orang disiplin dalam menjalankannya.
Mengantisipasi kendala-kendala yang bisa merusak program kita, di antaranya:

a. Kesibukan kita di luar rumah, misalnya belanja.
Untuk hal ini bisa kita siasati de-ngan cara berbelanja 2 atau 3 hari sebelum ramadhan untuk kebutuhan 2 minggu. Usahakan untuk menghindari belanja di malam hari, karena banyak ibadah di malam hari, seperti tarawih, qiyamullail. Dan bagi anda yang berencana membeli baju baru buat lebaran, lakukanlah sebelum ramadhan tiba.

b. Lamanya waktu untuk memasak persiapan berbuka puasa
Sering dari kita ibu rumah tangga khususnya ingin menghidangkan menu yang istimewa di bulan ramadhan, hal ini boleh-boleh saja sekedar untuk penyemangat kita apalagi dengan mengingat beratnya puasa di musim panas, tapi ingat jangan sampai kesibukan itu menghabiskan waktu ibadah kita.

Ada beberapa tips yang bisa dicoba:

Menyusun menu selama ramadhan, sebaiknya memilih menu yang persiapannya praktis tapi tetap menarik,
Usahakan batasi waktu memasak , misalnya 2 jam.
Untuk beberapa jenis masakan yang bisa kita simpan di kulkas, kita siapkan sebelum ramadhan tiba. Jadi saat ramadhan tinggal menggoreng atau merebusnya.
Bagi yang punya planning untuk mengundang berbuka bersama di rumah, perlu diatur dengan suami misalnya, di saat kita sedang tidak berpuasa/halangan bulanan, selain tidak mengganggu waktu ibadah kita pahala pun tetap me- ngalir saat kita tidak berpuasa.

c. Bersantai-santai sambil menunggu waktu berbuka puasa.
Sebaiknya kita manfaatkan waktu menunggu berbuka puasa ini de-ngan kajian bersama keluarga, dan berdoa atau tilawat Qur’an.

Berbuka bersama adalah acara yang bagus, karena bisa mendatangkan pahala bagi yang menjamunya dan bisa meningkatkan semangat kita. Tapi hal ini jangan sampai menghabiskan waktu ibadah kita , dan memberi makan orang yang berbuka puasa bukan berarti kita harus mengundang mereka, hal ini bisa kita kemas dalam bentuk lain, seperti menghantarkan makanan ke tetangga, saudara maupun teman-teman kita. Persiapan yang kita butuhkan tentu lebih ringan dan tidak menganggu ibadah orang yang kita undang, karena sering terjadi saat menunggu waktu buka bersama kita mengobrol dan saking asyiknya mengobrol sambil berbuka puasa kita tidak sadar kita melambatkan sholat kita.

d. Bekerjasama dengan orang-orang di sekeliling kita dalam beribadah
Misalnya anggota keluarga termasuk pembantu kita dan teman-teman bagi yang tinggal di asrama. Kita jadikan mereka sebagai patner dan saingan kita dalam beribadah. Misalnya bersama menyusun target dan program selama ramadhan, saling mengevaluasi amalan harian, saling menyemangati. Ini sangat bermanfaat terutama bagi kita para pekerja, misalnya untuk sholat malam sementara kita lelah bekerja, kita bisa siasati dengan bergantian untuk saling menjaga waktu. Contohnya kita yang kerja jam 7-12 malam, sementara suami atau teman kita dinas pagi, maka sebaiknya yang dinas pagi istirahat atau tidur di awal malam, sehingga di saat kita pulang jam 12 malam, kita istirahat sebentar sementara teman atau suami kita berjaga sambil menghidupkan malam dengan ibadahnya. Setelah 1-1.5 jam, dia bisa membangunkan kita untuk beribadah, dan dia bisa beristirahat sebantar sebelum melanjutkan ibadah, sahur dan sholat subuh tentunya.

Kemudian di sepuluh malam terakhir, bagi kita yang belum mampu beritikaf, sebaiknya kita dorong suami kita untuk beritikaf, dan kalau hal yang belum memungkinkan mereka beritikaf penuh, semangati mereka untuk memperbanyak waktunya di masjid, karena biasanya waktu istirahat dan beribadah lebih terjaga,dan kita pun akan lebih berkonsentrasi dan lebih bersemangat beribadah, tentunya sebagai pendorong, kita juga akan mendapat pahala atas ibadah yang mereka lakukan, insya Allah.

e. Mengevaluasi Ramadhan kita yang telah lalu.
Selain untuk me-ngetahui kekurangan kita, juga untuk meningkatkan target dan strategi kita dalam memaksimalkan ibadah kita. Termasuk di dalamnya mungkin masih ada puasa yang belum kita qodho.

f. Melatih diri membiasakan beramal di bulan-bulan sebelumnya.
Misalnya membiasakan diri kita untuk membaca Al Qur’an, berpuasa sunnah di bulan Syaban, bersedekah. Dzikir, maupun sholat malam. Dan anugerah bagi kita karena Allah menjadikan Syaban sebagai bulan sebelum Ramadhan, karena dalam bulan Syaban juga banyak pahala yang dijanjikan.
Semua itu bisa kita coba, tetapi jangan pernah lupa untuk selalu berdoa kepada Allah kita dipertemukan dengan Ramadhan dalam keadaan sehat dan dimudahkan dalam beribadah.

sumber: http://alhusnakuwait.blogspot.com/2012/07/memaksimalkan-ibadah-ramadhan.html

Share This: