membiasakan latah Bismilla

membiasakan latah Bismilla

Oleh: Wafi Marzuqi Ammar, Lc., M.Pd.I., MA

Di suatu malam, ketika pulang dari radio suara muslim Surabaya, 93,8 FM, perut rasanya keroncongan. Motor pun saya alihkan ke sebuah warung ikan bakar di daerah Sukodono. Seperti biasa saya pesan satu bungkus nasi dengan lauk untuk dimakan di rumah.

Sembari mencari tempat duduk yang agak kosong, saya melewati kabel yang melintang di antara tempat para duduk pelanggan. Subhaanallah, tanpa sengaja kaki saya nyangkut dan menyeret kabel tersebut, hingga saya hendak jatuh terjerembab. Tapi Al-Hamdulillah tidak ada kecelakaan apa pun.

Sebetulnya bukan pada peristiwa itu yang perlu diambil pelajaran. Tapi ucapan mulia istri pemilik warung ikan bakar yang spontan mengucapkan “Bismillah” dengan berkali-kali, saat melihat saya hendak jatuh.

Ya Allah! wanita ini yang pakaiannya belum seperti kebanyakan wanita muslimah, juga tidak berjilbab. Mungkin sekilas, setiap orang yang melihatnya langsung menilai, dia hanya wanita biasa yang tidak pernah ikut ngaji, atau kurang ilmu agamanya. Termasuk saya sendiri. Ketika melihatnya, saya menganggap ia hanya wanita biasa yang pengetahuan agamanya tidaklah mendalam.

Silakan anda bayangkan saudara, kalau seseorang tidak senantiasa berdzikir dan membiasakan lisannya mengucapkan kalimat thayibah, tidak mungkin secara reflek bisa keluar dari mulutnya ucapan “Bismillah”.

Karena yang sering kita dengar dari perkataan orang, ketika terjadi perkara-perkara yang mengejutkan adalah: Ee copot, Ee pentol, Ee dodol, atau perkataan lainnya yang tidak syar’i, atau bahkan malah termasuk omong kotor.

Karena itu saya yakin, wanita ini meski seperti itu penampilannya -semoga Allah memberi hidayah kepadanya- adalah wanita yang terus berdzikir kepada Allah. Karena saking seringnya, hingga menjadi watak dan kebiasaan dalam hidupnya. Adapun dia tidak berjilbab, mungkin karena ia tidak mengetahui kewajibannya atau ada hal lain yang masih menghalanginya berjilbab. Semoga Allah memberikan hidayah padanya.

Mari kita lihat diri kita masing-masing. Jika kita senantiasa mengucapkan istighfar dan kalimat thayibah lainnya, pasti dalam kondisi mengejutkan, kalimat itulah yang akan muncul pada lisan kita. Tapi jika tidak maka tidak akan pernah.

Ketahuilah saudara… “bismillah” adalah perkataan yang disyariatkan Nabi shallallahu alaihi wasallam untuk diucapkan pada saat-saat terpeleset, tergelincir, atau lainnya. Mari kita menyimak Hadis berikut:

Dari Abul Malih dari seorang lelaki ia berkata:

“Saya pernah dibonceng di belakang Nabi SAW, kemudian kendaraan beliau tergelincir. Saya pun berkata: ‘Kurang ajar Setan itu’.” Maka Nabi SAW bersabda: “Jangan ucapkan: ‘Kurang ajar Setan’. Sebab jika engkau mengucapkan hal itu ia menjadi besar hingga seperti rumah, dan mengatakan: ‘Demi kekuatanku’. Tapi katakan: ‘Bismillah’. Jika engkau mengucapkannya dia menjadi kecil hingga seperti lalat.” (Sahih Abi Dawud, no. 4982)

Pada Hadis ini, Nabi shallallahu alaihi wasallam mengajarkan kepada kita untuk senantiasa mengucapkan perkataan yang baik terutama menyebut Asma Allah, agar Setan tidak berani menggangu kita. Mungkin pula karena ucapan “bismillah” dari wanita tersebut, Setan menjadi kecil sehingga tidak terjadi kecelakaan pada diri saya. Allahu a’lam.

Saudara… ketika kita membiasakan diri ini untuk selalu mengucapkan perkataan baik dan mengerjakan perbuatan terpuji, nanti ketika pikun pun, itulah yang akan senantiasa kita kerjakan. Adz-Dzahabi dalam As-Siyar, 6/183, menyebutkan bahwa Laits bin Abi Sulaim, saat sudah pikun, ia naik ke atas menara saat matahari sudah meninggi dan kemudian mengumandangkan adzan.

Demikian itu karena ia seorang yang tukang adzan, tukang shalat, dan tukang puasa. Hingga pada saat-saat terakhir yang umurnya kembali seperti anak kecil, ia hanya melanjutkan kebiasaan hariannya.

Sebaliknya, jika seseorang tidak pernah berbuat amal shalih, atau yang dipikirkannya hanya masalah dunia, perkataannya juga tidak baik, saat sakaratul maut yang semua organ tubuh menjadi lemah, termasuk akal fikiran, saat pelaku ditalqin ia hanya marah dan berkata-kata kotor, atau menghitung-hitung penghasilannya saat jual beli dan berniaga.

Semoga Allah subhaanahu wa ta’ala menjadikan kita semua,  orang-orang yang husnul khatimah. Aamiin.

http://qolam.net/membiasakan-latah-basmalah/

Share This: