Perkataan para ulama’ tentang buruknya Hajrul Quran:

baca quran1

Umar bin Khattab radhiyallahu anhu berkata:

قَدْ أَتَى عَلَيْنَا حِيْنٌ وَمَا نَرَى أَنَّ أَحَدًا يَتَعَلَّمُ الْقُرْآنَ يُرِيْدُ بِهِ إِلَّا اللّهَ، فَلَمَّا كَانَ هَاهُنَا بِأَخَرَةٍ. خَشِيْتُ أَنَّ رِجَالًا يَتَعَلَّمُوْنَهُ يُرِيْدُوْنَ بِهِ النَّاسَ وَمَا عِنْدَهُمْ، فَأَرِيْدُوا اللّهَ بِقِرَاءَتِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

 “Telah datang kepada kami suatu masa, kami tidak melihat seorang pun mempelajari Al-Qur’an kecuali untuk mencari wajah Allah. Ketika datang masa akhir-akhir, saya khawatir banyak orang belajar Al-Qur’an tapi untuk mengharap manusia dan apa yang mereka miliki. Wahai kaum muslimin! Berkehendaklah kepada Allah dalam setiap bacaan Al-Quran dan amal kalian.”

                Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu berkata:

وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ إِنَّ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أَنْ يُحِلَّ حَلَالَهُ وَيُحَرِّمَ حَرَامَهُ وَيَقْرَأَهُ كَمَا أَنْزَلَهُ اللّهُ وَلاَ يُحَرِّفَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ، وَلَا يَتَأَوَّلَ مِنْهُ شَيْئًا عَلَى غَيْرِ تَأْوِيْلِهِ

“Demi Rabb! Yang jiwaku dalam genggaman tanganNya. Sesungguhnya membaca Al-Qur’an dengan sebenarnya adalah menghalalkan halalnya dan mengharamkan haramnya. Juga membacanya sebagaimana diturunkan Allah, tidak menyimpangkan kalam Allah dari tempatnya, dan tidak menafsirkannya dari selain tafsirannya.”

Abu Said Al-Khudri radhiyallahu anhu berkata:

يَكُوْنُ خَلْفٌ بَعْدَ سِنِيْنَ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوْا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا، ثُمَّ يَكُوْنُ خَلْفٌ يَقْرَأُوْنَ الْقُرْآنَ لَا يَعْدُو تَرَاقِيَهُمْ، وَيَقْرَأُ الْقُرْآنَ ثَلَاثَةٌ:مُؤْمِنٌ وَمُنَافِقٌ وَفَاجِرٌ: اَلْمُنَافِقُ كَافِرٌ بِهِ، وَالْفَاجِرُ يَتَأَكَّلُ بِهِ، وَالْمُؤْمِنُ يَعْمَلُ بِهِ

“Setelah beberapa tahun ini akan datang generasi yang menyiakan shalat, mengikuti hawa nafsu dan akan menemui kebinasaan. Setelah itu ada generasi yang membaca Al-Qur’an tapi tidak mencapai tenggorokan mereka. Ingatlah! Yang membaca Al-Qur’an itu tiga orang: Orang mukmin, orang munafik, dan orang fajir. Untuk orang munafik maka kafir kepada Al-Quran. Orang fajir maka mencari makan dengan Al-Qur’an. Dan orang mukmin maka dialah yang mengamalkan Al-Quran.”

                Dari Abdullah bin Masud radhiyallahu anhu dia berkata:

إِنَّ أَصْغَرَ الْبُيُوْتِ بَيْتٌ لَيْسَ فِيْهِ مِنْ كِتَابِ اللّهِ شَيْءٌ، فَاقْرَؤُوْا الْقُرْآنَ فَإِنَّكُمْ تُؤْجَرُوْنَ عَلَيْهِ. بِكُلِّ حَرْفٍ عَشْرُ حَسَنَاتٍ، أَمَا إِنِّيْ لاَ أَقُوْلُ الم، وَلَكِنِّيْ أَقُوْلُ أَلِفٌ، وَلاَمٌ، وَمِيْمٌ

“Rumah paling hina adalah rumah yang di dalamnya tidak terdapat Al-Qur’an sedikit pun. Bacalah Al-Qur’an sungguh kalian akan mendapat pahala darinya. Pada setiap hurufnya ada sepuluh kebaikan. Saya tidak mengatakan: Alif lam mim adalah satu huruf. Tapi Alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.

Share This: