dzikir dalam shalat harus dengan lisan, tidak boleh hanya dengan hati.

Assalamu’alaikum ya syeikh,
Persoalaan saya adalah: Bagaimana cara berdoa tersebut? Adakah perlu dilisankan, atau hanya baca di dalam hati?

Jawab:
Pertanyaan ini sambungan dari pertanyaan sebelumnya. Yang ditanyakan adalah membaca dalam sujud doa dari Al-Quran, bolehkah?  Jawabannya boleh selama tidak diyakini sebagai al quran tapi sebagai doa, sebagaimana sudah dijelaskan sebelumnya.  silakan lihat di sini

Kemudian pertanyaan berikutnya: Apakah dibaca dengan lisan atau sekedar di hati.
Kami katakan: Allahu a’lam dan semoga Allah memberi taufiq kepada kami, hukum asal dzikir secara umum adalah dengan lisan. Dan doa bagian dari dzikir. Hal itu karena Nabi shallallahu alaihi wasallam menyatakan bahwa lisan kita harus senantiasa basah dengan dzikrullah.

Hadisnya sebagai berikut:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ بُسْرٍ ، أَنَّ رَجُلاً قَالَ : يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ شَرَائِعَ الإِسْلاَمِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ ، فَأَخْبِرْنِي بِشَيْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ ، قَالَ : لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ.

Dari Abdullah bin Busr, bahwa seorang lelaki bertanya: “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya syariat Islam sudah banyak atas saya. Mohon beritahukan kepada saya satu amalan yang bisa selalu saya kerjakan.” Beliau menjawab: “Hendaknya lisanmu senantiasa basah dengan dzikrullah.” (HR. At-Tirmidzi, no. 3375 dengan sanad sahih)
Dari Hadis ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa yang asal, kita diperintahkan untuk banyak berdzikir kapan pun dan di mana pun agar lisan menjadi basah. Termasuk dalam shalat dan sujud dalam shalat ketika kita berdoa.
Jadi dalam shalat lisan harus bergerak. Sekarang pertanyaannya: Kapankah kita tidak boleh berdzikir dengan menggerakkan lisan? Jawabannya: Ketika sedang berada di dalam wc/kamar mandi, atau ketika dalam shalat dan kita belum sikat gigi, sehingga dikhawatirkan bau busuk mulut mengganggu kaum muslimin dan Malaikat. Berdasarkan Hadis berikut:

((مَنْ أَكَلَ الْبَصَلَ وَالثُّومَ وَالْكُرَّاثَ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا فَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ بَنُو آدَمَ))

“Barangsiapa memakan bawang merah, bawang putih, dan petai maka jangan mendekati masjid kami, karena para Malaikat merasa terganggu sebagaimana terganggunya bani Adam.” (HR. Muslim, no. 1282)
Dari Hadis ini kita bisa menganalogikan busuknya bau mulut karena tidak sikat gigi dengan busuknya ketika makan petai, bawang merah, dan bawang putih.
Adapun larangan berdzikir dengan lisan dalam kamar mandi, karena kamar mandi adalah tempat kotoran, sementara dzikrullah dan lafdzul jalalah harus disucikan dari tempat-tempat yang kotor.
Syaikh bin Baz rahimahullah berkata:

اَلذِّكْرُ بِالْقَلْبِ مَشْرُوْعٌ فِيْ كُلِّ زَمَانٍ وَمَكَانٍ، فِي الْحَمَّامِ وَغَيْرِهِ، وَإِنَّمَا الْمَكْرُوْهُ فِيْ الْحَمَّامِ وَنَحْوِهِ: ذِكْرُ اللَّهِ بِاللِّسانِ تَعْظِيْماً لِلَّهِ سُبْحَانَهُ. انتهى.

Dzikir dengan kalbu disyariatkan kapan pun dan dimana pun. Baik dalam kamar mandi maupun lainnya. Tetapi sangat dibenci (makruh) jika kita berdzikir di dalam kamar mandi atau semisalnya dengan lisan. Demi mensucikan Allah ta’ala. (Majmu’ Fatawa, 10/32)
Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya: Apakah kita wajib menggerakkan lisan ketika membaca dalam shalat? Beliau menjawab:

اَلْقِرَاءَةُ لاَ بُدَّ أَنْ تَكُوْنَ بِاللِّسَانِ ، فَإِذَا قَرَأَ الْإِنْسَانُ بِقَلْبِهِ فِي الصَّلَاةِ فَإِنَّ ذَلِكَ لَا يُجْزِئُهُ ، وَكَذَلِكَ أَيْضًاً سَاِئرُ الْأَذْكَارِ ، لَا تُجْزِئُ بِاْلقَلْبِ ، َبلْ لَا بُدَّ أَنْ يُحَرِّكَ اْلإِنْسَانُ بِهَا لِسَانَهُ وَشَفَتَيْهِ ؛ لِأَنَّهَا أَقْوَالٌ ، وَلَا تَتَحَقَّقُ إِلَّا بِتَحْرِيْكِ اللِّسَانِ وَالشَّفَتَيْنِ “ [مجموع فتاوى ابن عثيمين، 13/156]

“Membaca dalam shalat harus dengan lisan. Jika seseorang membaca dalam shalatnya dengan kalbunya maka shalat tidak sah. Seperti itu pula dzikir secara keseluruhan, tidak sah dengan hati saja. Tapi seseorang harus menggerakkan lisan dan kedua bibirnya. Karena dzikir adalah perkataan, tentunya perkataan tidak terwujud kecuali dengan menggerakkan lisan dan kedua bibir.” (Majmu’ fatawa ibni Utsaimin, 13/156)

Allahu a’lam.

Share This:

  • Alhamdulillah.
    Syukran kepada saudara di atas maklumbalas yang penuh ilmiah.
    Semoga Allah merahmati saudara. 🙂