HUKUM MEMAKAN BURUNG GAGAK

Burung gagak hukumnya haram. Tapi khusus gagak yang memakan bangkai. Adapun gagak yang memakan jagung, dan warnanya tidak semua hitam, yakni ada warna putih pada perutnya maka tidak haram. Ini dalam bahasa arab disebut “ghuraab az-Zar’i”

Alasannya haramnya burung gagak pemakan bangkai yang warnanya hitam total:

Pertama: Karena termasuk binatang buas dan berkuku tajam. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ كُلِّ ذِى نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ وَعَنْ كُلِّ ذِى مِخْلَبٍ مِنَ الطَّيْرِ.

Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang setiap binatang buas yang bersiung dan setiap burung yang berkuku tajam. (Sahih Muslim, no. 5103)

            Kedua: Kita disuruh membunuhnya. Sementara setiap binatang yang kita diperintahkan membunuh, atau dilarang membunuh maka haram dimakan. Dalilnya:

((خَمْسٌ كُلُّهُنَّ فَاسِقَةٌ يَقْتُلُهُنَّ الْمُحْرِمُ، وَيُقْتَلْنَ فِي الْحَرَمِ: الْفَأْرَةُ، وَالْعَقْرَبُ، وَالْحَيَّةُ، وَالْكَلْبُ الْعَقُورُ، وَالْغُرَابُ))

“Lima binatang semuanya adalah fasiq dan harus dibunuh oleh seorang yang muhrim (sedang ihram) juga dibunuh meski ditanah haram (Makkah dan Madinah). Yaitu: Tikus, kalajengking, ular, anjing gila, dan burung gagak.”

            Ibnu Qarqul rahimahullah berkata: Disebut fasiq karena keluar dari sesuatu. Lima binatang tersebut disebut fawasiq karena keluar dari keselamatan gangguan mereka. Yakni kita semua tidak lepas dari gangguannya.

Dikatakan: Burung gagak disebut fasiq karena keluar dari ketaatan kepada Nabi Nuh alaihissalam dan tidak menurut kepada beliau. Dan tikus juga disebut fasik karena keluar dari lobangnya untuk mengganggu manusia.

Dikatakan: Disebut fawasiq karena haram untuk dimakan.  (Mathaali’ Al-Anwaar, karya ibnu Qarqul, 5/267)

Ketiga: Karena memakan bangkai. Sementara bangkai adalah najis. Jika binatang suci yang memakan najis saja disebut “jallalah” dan haram diminum susunya, juga ditunggangi hingga hanya memakan makanan yang suci maka bagaimana dengan binatang yang hanya memakan bangkai. Tentu lebih haram lagi dimakan. Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhuma dia berkata:

((نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَكْلِ الْجَلاَّلَةِ وَأَلْبَانِهَا))

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallamm melarang kita memakang jallalah dan meminum susunya.” (Sunan Abi Dawud, no. 3787 dengan sanad sahih)

            Dalam “Ad-Durar As-Saniyah fi Al-Ajwibah An-Najdiyah, 7/473 dikatakan:

تحرم الجلالة، وهي: التي أكثر علفها النجاسة، ولبنها وبيضها، حتى تحبس ثلاثاً، وتعلف من الطاهرات، وتمنع من النجاسة. فإن كان أكثر علفها الطاهر، لم يحرم أكلها

“Jallalah hukumnya haram. Yaitu binatang yang kebanyakan makanannya adalah barang najis. Susu dan telurnya juga najis hingga ditahan selama tiga kali dan hanya diberi makanan yang suci dan tidak boleh memakan yang najis. Jika kebanyakan makanannya adalah suci maka tidak haram memakannya.”

            Ibnu Qudamah rahimahullah dalam “Al-Mughni” (9/413) berkata:

قَالَ أَحْمَدُ: أَكْرَهْ لُحُومَ الْجَلَّالَةِ وَأَلْبَانَهَا. قَالَ الْقَاضِي، فِي ” الْمُجَرَّدِ “: هِيَ الَّتِي تَأْكُلُ الْقَذَرَ، فَإِذَا كَانَ أَكْثَرُ عَلَفِهَا النَّجَاسَةَ، حُرُمَ لَحْمُهَا وَلَبَنُهَا. وَفِي بَيْضِهَا رِوَايَتَانِ. وَإِنْ كَانَ أَكْثَرُ عَلَفِهَا الطَّاهِرَ، لَمْ يَحْرُمْ أَكْلُهَا وَلَا لَبَنُهَا.

Ahmad berkata: Saya membenci (memakruhkan) daging dan susu jallalah. Al-Qadhi dalam “Al-Mujarrad” berkata: Jallalah adalah setiap binatang yang memakan kotoran. Jika kebanyakan makanannya adlaah barang najis maka haram memakan daging dan susunya. Sementara pada telurnya terdapat dua riwayat. (ada yang membolehkan ada yang mengharamkan). Tapi jika kebanyakan makanannya adalah barang suci maka tidak haram memakan daging maupun meminum susunya.

            Perlu diketahui: Istilah ulama’ salaf tentang makruh, maksudnya bukan makruh yang jika dilakukan maka tidak apa dan jika ditinggalkan maka berpahala, tapi maksudnya adalah “karaahiyatut tahriim.” Yakni makruh yang artinya mengharamkan.

Dengan demikian jika ada ikan di sungai kemudian biasa memakan kotoran dan kebanyakannya adalah makan kotoran manusia yang BAB di sana maka hukumnya haram. Wallaahu a’lam.

            Namun semua perkara yang haram, jika seseorang dalam kondisi darurat semisal kelaparan, jika tidak makan pasti meninggal maka boleh memakannya tetapi sekadarnya. Dalam arti sekadar bisa mengganjal perutnya.

 

Share This: