Setelah menikah, isteri harus ikut suami atau bapak ibunya?

(704) Pada sebagian daerah, ketika seorang pemuda melamar puteri sebuah keluarga untuk dinikahi, ayahnya memberikan maskawin yang sangat tinggi. Ketika kesepakatan untuk menikah sudah terjadi dan sang pemuda sudah menikah dengan sang puteri, ayah puteri itu menolak jika puterinya harus ikut ke rumah suami. Demikian itu agar sang puteri tetap tinggal dalam rumah untuk membantu sang ayah. Sehingga sang isteri merasa sangat tidak enak kepada suami. Apakah dia harus memaksa pergi ke rumah suami atau menetap di rumah ayahnya? Apalagi hal itu menyebabkan banyak permasalahan. Saya harap anda memberikan nasihat kepada kaum muslimin untuk mengerjakan yang benar pada hal-hal seperti ini?
Jawab:

Allah  telah mensyariatkan kepada hambaNya agar meringankan maskawin. Demikian halnya saat melangsungkan pesta pernikahan. Agar setiap muslim bisa menikah dengan mudah dan gampang. Di samping itu agar terjadi kerjasama dalam kebaikan, serta mengorbankan apapun yang dimampui untuk menghindarkan muda mudi dari perbuatan maksiat.
Kami telah menulis nasihat seputar masalah ini berkali-kali. Demikian itu untuk menunaikan kewajiban nasihat-menasihati dan memberikan wasiat yang benar. Bahkan Haiah kibar al-ulama` juga mengeluarkan keputusan dan nasihat-nasihat khusus tentang masalah ini. Isinya adalah menganjurkan seluruh kaum muslimin agar meringankan maskawin, tidak berfoya-foya saat melaksanakan pesta pernikahan, serta mendorong seluruh lapisan masyarakat untuk melakukan apapun yang mempermudah pernikahan para pemuda.
Pada kesempatan ini, saya berwasiat kepada seluruh saudaraku dari kaum muslimin agar bekerjasama dalam perkara ini dan saling menasihatkannya, sehingga yang banyak terjadi adalah pernikahan dan semakin sedikit terjadi perzinahan. Juga sangat mudah bagi para muda mudi untuk menjaga kemaluan dan pandangan mereka. Tentunya tidak diragukan bahwa pernikahan merupakan sebab terbesar untuk penjagaan tersebut. Sebagaimana disabdakan Rasulullah :

((يَا مَعْشَرَ الشَّباَبِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ))

“Wahai para pemuda! Barangsiapa di antara kalian mampu al-ba`ah hendaknya segera menikah. Karena menikah lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa tidak mampu untuk itu hendaknya ia berpuasa, karena puasa menjadi perisai baginya.”
Bahkan ada Hadis sahih dari Rasulullah  bahwa beliau bersabda:

((مَنْ كَانَ فِيْ حَاجَةِ أَخِيْهِ كَانَ اللهُ فِيْ حَاجَتِهِ)) [متفق عليه]

“Barangsiapa selalu menolong saudaranya, maka Allah  senantiasa memenuhi kebutuhannya.” (Muttafaq alaih)
Beliau juga bersabda:

((وَاللهُ فِيْ عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِيْ عَوْنِ أَخِيْهِ)) [أخرجه مسلم في صحيحه]

“Allah  senantiasa menolong hambaNya selama sang hamba selalu menolong saudaranya.” (HR. Muslim dalam kitab sahihnya)
Allah  juga menolong kita untuk bekerjasama dalam kebaikan dan ketaqwaan. Serta menyanjung hamba-hambaNya yang selalu memberikan wasiat yang benar dan selalu bersabar dalam menyampaikannya. Dia berfirman:

”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, serta nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 1-3)
Tentunya tidak diragukan, bahwa saling tolong-menolong dan bekerjasama untuk meringankan maskawin, biaya pesta penikahan (walimah), serta saling mewasiatkan hal itu, termasuk dalam perkara di atas.
Di antara faidah yang sangat diharapkan ketika orang-orang meringankan maskawin dan pesta pernikahan adalah: Banyaknya pernikahan, berkurangnya para pemuda dan pemudi yang belum menikah, kemaluan menjadi terjaga, pandangan mata tidak jelalatan, perbuatan keji menjadi berkurang, dan umat Islam semakin banyak jumlahnya. Sebagaimana sabda Rasulullah :

((تَزَوَّجُوْا اْلوَدُوْدَ اْلوَلُوْدَ فَإِنِّيْ مُكَاثِرٌ بِكُمُ اْلأُمَمَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ))

“Nikahilah wanita yang sangat mencintai dan sangat banyak anaknya. Karena saya berbangga-bangga dengan jumlah kalian pada Hari Kiamat dengan umat-umat yang lain.”
Sedangkan pelarangan yang dilakukan ayah atau saudara lelaki terhadap sang wanita ketika hendak pergi bersama suaminya, agar sang wanita membantunya, atau menggembalakan kambing dan ontanya, maka ini perbuatan sangat mungkar dan tidak boleh dilakukan. Justru yang wajib atas wali, membantu kedua pasangan suami isteri agar selalu bersatu dan berkumpul satu sama lain. Sebagaiman ia wajib menghindarkan apapun tidak syar`i yang menyebabkan perpisahan keduanya.
Yang saya wasiatkan kepada wali para wanita: Hendaknya mereka segera menikahkan puterinya dengan pemuda-pemuda yang sekufu` meski pemuda-pemuda itu kondisinya tidak punya. Hendaknya sang wali membantu para pemuda tersebut menikah dengan puterinya. Karena mengamalkan firman Allah  yang berbunyi:

“Kawinkanlah orang-orang yang sedirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan kurniaNya. Dan Allah Maha luas (pemberianNya) lagi Maha mengetahui.” (QS. An-Nuur: 32)
Pada ayat di atas, Allah  memerintah kita semua, menikahkan orang-orang yang sendirian dan hamba-hamba yang shalih. Dia memberitahukan –dan Dia Maha benar serta jujur dalam beritaNya- bahwa demikian itu menjadi sebab kekayaan bagi orang-orang yang tidak punya. Agar para suami dan wali para wanita menjadi yakin bahwa kemiskinan tidak patut menghalangi pernikahan. Justru pernikahan menjadi sebab datangnya rizqi dan kekayaan. (Syaikh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah)

Share This: