takbiran pada hari tasyrik, setiap selesai shalat lima waktu

العيد

Mengingat keistimewaan hari tasyrik, sebagai orang yang beriman, hendaknya kita maksimalkan upaya untuk mendapatkan limpahan rahmat dan pahala dari Allah di hari itu. Berusaha untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Memperbanyak amal soleh dan berbagai bentuk ibadah kepada Allah. Hanya saja, ada beberapa amal yang disyariatkan untuk dilakukan di hari tasyrik:
Pertama, anjuran memperbanyak berdzikir. Allah berfirman,

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ

“Ingatlah Allah di hari-hari yang terbilang.” (QS. Al-Baqarah: 203). Yaitu di hari tasyrik.
Dari Nubaisyah al-Hudzali radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ لِلَّهِ

“Hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan banyak mengingat Allah.” (HR. Muslim, Ahmad, Abu Daud, Nasa’i).

Menyemarakkan dzikir pada hari tasyrik, bisa dilakukan dalam beberapa bentuk, diantaranya:

Takbiran. Takbiran ini disyariatkan bagi jamaah haji setiap selesai shalat wajib mulai shalat dzuhur pada hari idul adha hingga shalat ashar pada akhir hari tasyrik.
Juga disyariatkan atas selain jamaah haji. Mulai shalat subuh hari arafah hingga bada ashar pada hari tasyrik.
Takbiran ini disebut para fuqaha dengan takbir muqayyad. Yaitu takbir yang khusus pada waktu tertentu, yaitu setiap habis shalat fardhu lima waktu. Adapun takbir mutlak, yaitu takbir yang tidak terbatas dengan waktu tertentu. Ia disunnahkan diucapkan setiap pagi, petang, ketika shalat, dan pada setiap waktu. Takbir mutlak ini dimulai sejak masuknya bulan dzul hijjah hingga shalat idul adha.
Jika jamaah haji selesai mengerjakan shalat dzuhur pada hari idul adha, dan non jamaah haji selesai shalat subuh pada hari Arafah, maka disyariatkan melakukan takbir muqayyad.
Inilah madzhab imam Ahmad rahimahullah. Sebagian ulama’ berkata: “Hari idul adha dan hari-hari tasyrik, padanya berkumpul takbir mutlak dan takbir muqayyad. Maka kita disyariatkan bertakbir setiap selesai shalat, juga kapan pun pada setiap waktu.”
Mereka berdalil dengan firman Allah:

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ. البقرة:203

“Ingatlah Allah pada hari-hari yang ditentukan.” (QS. Al-Baqarah: 203)
Maksud hari-hari yang ditentukan adalah hari-hari tasyriq.
Al-Bukhari meriwayatkan dalam sahihnya dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma:

أَنَّهُ كَانَ يُكَبِّرُ بِمِنَى تِلْكَ اْلأَيَّامِ وَخَلْفَ الصَّلَوَاتِ. وَعَلَى فِرَاشِهِ وَفِيْ فُسْطَاطِهِ وَمَجْلِسِهِ وَمَمْشَاهُ، وَكَانَتِ النِّسَاءُ يُكَبِّرْنَ لَيَالِيَ التَّشْرِيْقِ خَلْفَ عُمَرِ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيْزِ

“Bahwa dia bertakbir di Mina pada hari-hari tasyriq, juga setiap selesai shalat. Dia bertakbir di atas tempat tidurnya, ketika dalam kemah, saat duduk, dan ketika berjalan. Sementara kaum wanita bertakbir pada malam-malam hari tasyrik di belakang Umar bin Abdul Aziz.”

Demikian juga dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau bertakbir setelah shalat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai ashar tanggal 13 Dzulhijjah. Beliau juga bertakbir setelah ashar. (HR. Ibn Abi Syaibah dan al-Baihaqi. Al-Albani mengatakan: “Shahih dari Ali”).

Mengingat Allah dan berdzikir ketika menyembelih. Karena penyembelihan qurban, bisa dilaksanakan sampai hari tasyrik berakhir.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ ذَبْحٌ

“Di setiap hari tasyrik, boleh menyembelih.” (HR. Ahmad, ibn Hibban, Ad-Daruquthni, dan yang lainnya).
Mengingat Allah dengan membaca basmalah sebelum makan dan hamdalah setelah makan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّه عَزَّ وَجَلَّ يَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الْأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا، وَيَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا

“Sesungguhnya Allah ridha terhadap hamba yang makan sesuap makanan kemudian memuji Allah, atau minum seteguk air dan memuji Allah karenanya.” (HR. Muslim 2734)

Mengingat Allah dengan melantunkan takbir ketika melempar jumrah di hari tasyrik. Yang hanya dilakukan jamaah haji.
Mengingat Allah dengan memperbanyak takbiran secara mutlak, di manapun dan kapanpun. Sebagaimana yang dilakukan oleh Umar radhiyallahu ‘anhu. Beliau melakukan takbiran di kemahnya di Mina, kemudian diikuti oleh banyak orang, sehingga Mina bergetar karena gema takbir. (HR. Bukhari sebelum hadis no.970)
Kedua, memperbanyak berdoa kepada Allah:

Sebagian ulama menganjurkan untuk memperbanyak berdoa di hari ini.
Ikrimah (murid Ibn Abbas) mengatakan:

كَانَ يُسْتَحَبُ أَنْ يَقُالَ فِيْ أَيَّامِ التَّشْرِيْقِ: رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Doa berikut dianjurkan untuk dibaca pada hari tasyrik: RABBANAA AATINAA FID-DUN-YAA HASANAH WA FIL AA-KHIRATI HASANAH, WA QINAA ADZAABAN-NAAR. (Lathaiful Ma’arif, Hal. 505).

Doa ini kita kenal dengan doa sapu jagad. Dan memang demikian, doa ini dianggap sebagai doa yang isinya mengumpulkan semua bentuk kebaikan dan menolak semua bentuk keburukan. Karena itulah, doa ini menjadi pilihan yang sangat sering dilantunkan oleh manusia terbaik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Anas bin Malik mengatakan:

كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Doa yang paling banyak dilantunkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah RABBANAA AATINAA FID-DUN-YAA HASANAH dst.. (HR. Bukhari 6389 dan Muslim 2690).
Disamping itu, doa merupakan bentuk mengingat Allah yang sangat agung. Berisi pujian dan harapan manusia kepada Tuhannya. Sehingga, hari ini menjadi hari yang istimewa untuk memperbanyak doa.
Ziyad Al-Jasshas meriwayatkan dari Abu Kinanah al-Qurasyi, bahwa beliau mendengar Abu Musa al-Asy’ari berceramah dalam khutbahnya ketika Idul Adha:

بَعْدَ يَوْمِ النَّحْرِ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ اَلَّتِيْ ذَكَرَ اللَّهُ اَلْأَيَّامَ الْمَعْدُوْدَاتِ، لاَ يُرَدُّ فِيْهِنَّ الدُّعَاءُ فَارْفَعُوْا رَغْبَتَكُمْ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Setelah hari raya qurban ada tiga hari, dimana Allah menyebutnya sebagai al-Ayyam al-Ma’dudat (hari-hari yang terbilang), doa pada hari-hari ini, tidak akan ditolak. Karena itu, perbesarlah harapan kalian. (Lathaiful Ma’arif, Hal. 506).

Demikian, semoga Allah memudahkan kita untuk senantiasa istiqamah dalam menggapai ampunan-Nya.
Allahu a’lam

Sumber:
1. http://www.konsultasisyariah.com/amalan-di-hari-tasyrik/
2. http://www.islamtoday.net/bohooth/artshow-86-8426.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *