TIDAK BISA MEMBACA AL FATIHAH DENGAN SEMPURNA DALAM SHALAT BERJAMAAH

jamaah

Ustad, saya sering menjadi makmum, tapi saat membaca Al-fatihah belum lengkap imam sudah ruku’, maka bagaimana hukum shalat saya?

 

Jawab:

Perlu diketahui, membaca surat Al-Fatihah merupakan rukun bagi setiap orang shalat. Imam maupun makmum. Baik shalat sirriyah maupun  jahriyah. Dalilnya adalah Hadis Ubadah bin Ash-Shamit bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

لا صَلاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca surat Al-Fatihah.” (Sahih Al-Bukhari, no. 756)

Dan perlu diketahui, surat Al-Fatihah tidak pernah gugur dalam shalat kecuali pada dua kondisi.

Pertama: Jika makmum mendapati imam sedang ruku’. Hendaknya langsung ruku’ bersamanya tanpa membaca Al-Fatihah. Dan itu sudah dianggap satu rakaat. Jadi tidak perlu mengqadha’.

Dalilnya adalah Hadis Abu Bakrah radhiyallahu anhu bahwa dia sampai kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika beliau sedang ruku’. Maka Abu Bakrah langsung ruku’ sebelum sampai ke shaf. Selesai shalat, dia menceritakan hal itu kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam. Nabi pun bersabda:

 

 ((زَادَكَ اللهُ حِرْصًا وَلَا تَعُدْ))

“Semoga Allah menambahkan kepadamu kesungguhan tapi jangan diulang.” (HR. AL-Bukhari, no. 783)

Sesuai Hadis ini, sekiranya Abu Bakrah terhitung kurang satu rakaat, niscaya Nabi shallallahu alaihi wasallam memerintahkannya  untuk menambah satu rakaat. Tapi faktanya Nabi tidak memerintahkannya untuk itu. Ini menunjukkan siapa pun yang mendapati imam sedang ruku’ kemudian ruku’ bersamanya, maka dianggap satu rakaat dan tidak perlu mengqadha’.

Tapi perlu diketahui, jangan lupa takbiratul ihram sebelum ruku’. Karena takbiratul ihram hukumnya rukun dalam shalat.

Kedua: Jika makmum masuk kepada imam sebelum ruku’. Yakni dia sempat mengejar imam berdiri, tapi tidak sempat membaca Al-Fatihah. Maka dalam hal ini ia terhitung satu rakaat meski tidak sempat membaca Al-Fatihah.

Asy-Syirazi rahimahullah berkata:

وَإِنْ أَدْرَكَهُ فِي الْقِيَامِ وَخَشِيَ أَنْ تَفُوْتَهُ الْقِرَاءَةُ تَرَكَ دُعَاءَ الْاِسْتِفْتَاحِ وَاشْتَغَلَ باِلْقِرَاءَةِ ; لِأَنَّهَا فَرْضٌ فَلَا يَشْتَغِلُ عَنْهُ بِالنَّفْلِ، فَإِنْ قَرَأَ بَعْضَ الْفَاتِحَةِ فَرَكَعَ الْإِمَامُ فَيَرْكَعُ وَيَتْرُكُ الْقِرَاءَةَ ; لِأَنَّ مُتَابَعَةَ الْإِمَامِ آكَدُ ; وَلِهَذَا لَوْ أَدْرَكَهُ رَاكِعًا سَقَطَ عَنْهُ فَرْضُ الْقِرَاءَةِ  [المجموع: 4/109]

“Jika makmum mendapati imam sedang berdiri, lalu khawatir tidak sempat membaca Al-Fatihah, maka hendaknya meninggalkan doa istiftah dan langsung menyibukkan diri membaca Al-Fatihah. Karena membaca Al-Fatihah adalah fardhu, jadi jangan sibuk dengan yang sunnah. Jika makmum membaca sebagian Al-Fatihah kemudian imam ruku’, maka makmum hendaknya ruku’ bersama imam dan meninggalkan membaca Al-Fatihah, karena mengikuti imam lebih ditekankan. Karena itu jika makmum mendapati imam sedang ruku’ maka kewajiban membaca Al-Fatihah menjadi gugur atasnya.” (Al-Majumu’: 4/109)

Ketiga: Karena membaca al-Fatihah adalah rukun maka jika imam terlalu cepat membacanya, sekiranya makmum baru sampai “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’in” kemudian imam sudah ruku’, dan ini terjadi pada setiap shalat maka shalatnya imam maupun makmum adalah tidak sah. Dengan demikian makmum wajiba mengulang lagi shalatnya, dan sekiranya mendapati imam yang sama pada kesempatan yang lain maka wajib meninggalkan masjid dan mencari masjid lain yang shalatnya bisa lebih tumakninah dan khusyu’.

Keempat: Sepatutnya setiap imam berhati-hati dan tidak sembarangan sewaktu menjadi imam. Hendaknya imam mengerjakan shalat yang menjadikan semua makmum bisa tumakninah dan khusyu’ dalam shalatnya. Terutama bacaan Al-Fatihah. Jangan sampai terlalu cepat karena ia merupkan rukun dalam shalat.

Jika makmum tidak bisa tumakninah karena imam yang terlalu cepat dalam bacaan shalatnya maka dosanya ditanggung oleh imam. Dalam Hal Ini Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam Bersabda:

((يُصَلُّونَ بِكُمْ، فَإِنْ أَصَابُوا فَلَكُمْ وَلَهُمْ، وَإِنْ أَخْطَئُوا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ))

“Mereka akan shalat sebagai imam kalian. Jika mereka berbuat benar maka pahalanya bagi kalian dan mereka. tapi jika mereka berbuat salah (dalam shalat) maka pahalanya bagi kalian dan dosanya bagi mereka.” (Musnad Ahmad, no. 8663)

Allahu a’lam.

Share This: