(Bid’ah Hasanah)

 

MENDATANGKAN PERKARA BARU DALAM AGAMA

(Bid’ah Hasanah)

 

Perlu diperhatikan sebelumnya:

Tulisan ini dibuat dengan tujuan memberikan nasihat kepada seluruh kaum muslimin, mudah-mudahan Allah ta’ala membuka seluruh hati kita dan menunjukkan kita semua pada jalan yang benar.

Kita semua mencintai Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan mencintai ajarannya. Namun karena banyak hal, mungkin terdapat kendala yang menghalangi agama ini sampai kepada kita secara kaffah. Karena itu melalui tulisan ini, kami dari hati yang paling dalam, tidak ingin menyakiti hati siapa pun dan tidak ingin menyinggung siapa pun. Maksud kami hanya menasihati.

Jika tulisan ini benar adanya, silakan diterima dan itu kewajiban kita. Tapi jika salah, silakan dilewati dan mohon kami ditunjukkan yang benar. Semoga bermanfaat. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

 

Dari Aisyah ra dia berkata: Rasulullah saw bersabda:

 ((مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَاهَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ))

“Barangsiapa membuat perkara baru dalam urusan (agama) kami, yang perkara itu bukan darinya maka perkara itu ditolak.”[1]

                Sedangkan dalam riwayat Muslim:

((مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَعَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ))

“Barangsiapa mengerjakan perkara yang tidak berdasar perintah kami maka itu ditolak.”[2]

 

Faidah dan pelajaran dari Hadis:

 

Hadis ini merupakan salah satu dasar agung dalam Islam. Ia ibarat neraca bagi setiap amalan lahir. Sebagaimana Hadis: “Innamal a’maalu bin niyyat,” neraca bagi setiap amalan batin (tersembunyi). Pada Hadis ini juga terdapat pengertian bid’ah, dampak buruk dari bid’ah, dan larangan mengerjakan perkara bid’ah. Karena itu Hadis ini mempunyai banyak pembahasan:

Pertama: Sabda Nabi: “Man Ahdatsa.” Al-Ihdaats dari  Ahdatsa yuhditsu artinya Al-Ibtida’, yaitu perkara bid’ah sebagaimana ditafsirkan Nabi saw: 

((وَإِيَّاكُمْ وَمُحـْدَثَاتِ اْلأُمـُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ))

“Sekali-kali jangan mengerjakan perkara-perkara baru. Karena setiap perkara baru adalah bid’ah.”[3]

Bid’ah adalah setiap perkataan atau perbuatan baru yang disandarkan kepada agama tanpa ada dasarnya, baik dari Al-Qur’an, sunnah, atau ijma’.

Ibnu Rajab berkata:

“وَالْـمُرَادُ بِالْبِدْعَةِ مَا أُحْدِثَ مِمَّا لَا أَصْلَ لَهُ فِي الشَّرِيْعَةِ يَدُلُّعَلَيْهِ”

“Bid’ah adalah perkara baru yang dikerjakan tanpa ada dasarnya dalam syariat.”

Ibnu Taimiyah berkata:

“اَلْبِدْعَةُ مَا خَالَفَتِ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ أَوْ إِجْماَعَ سَلَفِ الْأُمَّةِ مِنَالْاِعْتِقَادَاتِ وَالْعِبَادَاتِ”

“Bid’ah adalah setiap keyakinan atau ibadah yang menyalahi Al-Qur’an, Sunnah, atau ijma’ (kesepakatan) pendahulu umat ini.”

Ibnu Rajab berkata lagi:

“فَكُلُّ مَنْ أَحْدَثَ شَيْئًا وَنَسَبَهُ إِلى الدِّيْنِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ أَصْلٌ مِنَ الدِّيْنِ يُرْجَعُ إِلَيْهِ فَهُوَ ضَلاَلَةٌ وَالدِّيْنُ مِنْهُ بَرِيْءٌ”

“Siapa pun yang mendatangkan perkara baru kemudian menyandarkannya kepada agama, sementara tidak ada dalil dalam agama yang bisa dijadikannya rujukan, maka perkara itu sesat dan agama berlepas diri darinya.”

Intinya: Suatu perkara bisa disebut bid’ah bila terpenuhi padanya tiga syarat. Yaitu: (1) Hendaknya perbuatan itu baru. (2) Perkara itu disandarkan kepada agama dan disebut agama. (3) Ia tidak ada dasarnya dalam syariat.

Kedua: Hadis ini sesuai mantuqnya (pemahaman tersurat) menunjukkan setiap amal yang tidak berdasar pada syariat maka ditolak. Sedangan sesuai mafhumnya (pemahaman tersirat) menunjukkan, setiap amal yang dikerjakan sesuai syariat maka diterima.

Kemudian maksud: “Bi amrina,” adalah agama dan syariat Nabi Muhammad saw. Sehingga makna kedua Hadis di atas: Barangsiapa mengadakan perkara baru dalam syariat kami, maka perkara itu ditolak dan tidak diterima dari pelaku.

Jadi tolak ukur diterimanya amal dzahir adalah jika sesuai syariat. Sebagaimana tolak ukur diterimanya amal batin adalah keikhlasan niat. Adapun hanya bergantung pada niat yang baik, tanpa memperhatikan apakah amalan itu sesuai syariat atau tidak maka itu perbuatan yang jelas menyalahi Al-Kitab, As-Sunnah, dan jalan salaf salih.

Pada suatu ketika Ibnu Mas’ud melihat orang-orang duduk di masjid sambil membawa kerikil. Mereka bertakbir seratus kali, bertahlil seratus kali, dan bertasbih seratus kali. Maka Ibnu Mas’ud berdiri di hadapan mereka sambil berkata:

((مَا هَذَا الَّذِيْ أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَ؟))، قَالُوْا: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَصًى نَعـُدُّ بِهِ التَّكْبِيرَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّسْبِيحَ، قَالَ: ((فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ، فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لَا يَضِيْعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَيْءٌ، وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ، مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ، هَؤُلَاءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَافِرُونَ، وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ، وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ، وَالَّذِي نَفْسِيْ بِيَدِهِ، إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أوْ مُفْتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ)). قَالُوْا: وَاللهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، مَا أَرَدْنَا إِلَّا الْخَيْرَ. قَالَ: ((وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ)).

“Apa yang sedang kalian kerjakan ini?” mereka menjawab: “Wahai Abu Abdirrahman, ini kerikil yang kami gunakan untuk bertakbir, bertahlil, dan bertasbih.” Ibnu Mas’ud berkata:”Lebih baik kalian menghitung kesalahan-kesalahan kalian. Sungguh saya menjamin kebaikan kalian tidak akan hilang. Celaka kalian wahai umat Muhammad! Cepat sekali kalian binasa. Lihatlah para sahabat Nabi kalian, mereka masih banyak. Pakaian Nabi juga belum rusak. Dan bejana-bejana beliau belum pecah. Sungguh demi Rabb yang jiwaku dalam genggaman tanganNya! Kalian ini berada dalam agama yang lebih baik dari agama Muhammad saw, atau kalian telah membuka pintu kesesatan.” Mereka menjawab: “Demi Allah wahai Abu Abdirrahman, kami tidak menghendaki kecuali kebaikan.” Ibnu Mas’ud menjawab: “Betapa banyak orang menghendaki kebaikan tapi tidak pernah benar perbuatannya.”[4]

Ketiga: Semua bid’ah adalah sesat. Berdasarkan sabda Nabi saw:   

((وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌوَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ))

“Setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap yang sesat berada dalam Neraka.”[5]
Dalam agama tidak terdapat bid’ah hasanah sebagaimana dikatakan beberapa kaum muslimin. Karena keputusan Nabi terhadap bid’ah pada hadis di atas, merupakan kaidah umum yang tiada pengecualian padanya. Jika seseorang memberi pengecualian pada Hadis, hendaknya mendatangkan dalil kalau ada pengecualian. Sebab tidak diketahui ada satu riwayat pun tentang hal itu yang marfu’ dari Nabi saw.

Adapun perkataan Umar ra ketika melihat para sahabat berkumpul pada satu imam dalam shalat tarawih, yang sebelumnya mereka shalat sendiri-sendiri, lalu mengatakan:

((نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ))

“Sebaik-baik bid’ah adalah ini.”

                Maka bid’ah yang dimaksud di sini adalah bid’ah dengan makna lughawi (bahasa) bukan bid’ah syar’i, karena hal-hal berikut:

                (1) Umar yang memerintahkan sahabat shalat tarawih berjamaah dengan diimami Ubay bin Ka’ab tidak mungkin hendak menyalahi perintah Nabi saw. Sebab Umar seseorang yang senantiasa sungguh-sungguh mengikuti Sunnah.

(2) Shalat tarawih ini mempunyai dasar dalam syariat jadi tidak bisa disebut bid’ah. Karena disebutkan dalam Hadis sahih bahwa Nabi saw shalat malam pada bulan Ramadhan bersama kaum muslimin. Dan beliau melakukan itu selama tiga malam kemudian meninggalkannya. Beliau mengatakan:

((لَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ)).

“Tiada yang menghalangi saya keluar kepada kalian (untuk shalat tarawih) kecuali karena kawatir ia akan diwajibkan atas kalian.”[6]

                (3) Kita diperintah mengikuti ijtihad Umar selama tidak menyalahi Qur’an dan Sunnah, seperti diwasiatkan Nabi saw:

((عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْـمَهْدِيِّينَ مِنْ بَعْدِيْ، عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ))

“Tetapilah sunnahku dan sunnah para khulafa’ rasyidin yang mendapat hidayah setelahku. Gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham.”[7]

Keempat: Bid’ah hanya berjalan pada perkara-perkara yang masuk kategori ibadah. Adapun selain ibadah seperti adat istiadat yang tiada hubungan dengan ibadah, juga urusan-urusan dunia lainnya, maka tidak masuk dalam bid’ah. Karena itu kita boleh menggunakan produk-produk orang kafir yang berguna bagi agama atau dunia. Sebagaimana hal itu diketahui dari Nabi saw, baik dalam kehidupan sehari-hari beliau, ketika perang, atau ketika mengatur urusan kaum muslimin.

Ibadah pada dasarnya haram, kecuali terdapat dalil yang memerintahkannya. Sedangkan adat dan kebiasaan pada dasarnya halal dilakukan, kecuali terdapat dalil yang melarangnya.

Sayangnya, masih saja terdapat orang yang menentang dengan mengatakan: “Saya melakukan amalan ini bukan dengan niat ibadah. Berarti itu boleh karena tiada niat beribadah.”

Kami katakan: Meski anda tidak meniatkan amalan anda sebagai ibadah, padahal amalan itu berupa membaca surat tertentu dari Al-Qur’an setiap malam Jum’at misalnya seperti Yasinan, maka cukuplah hal itu sebagai perkara tidak ada tuntunannya ketika Nabi SAW dan para sahabat tidak mencontohkannya.

Sebetulnya membaca Al-Qur’an adalah diperintahkan. Tapi tanpa membatasi surat tertentu dan pada malam tertentu. Sekarang mengapa harus surat Yasin dan bukan Al-Baqarah, Ali Imran atau surat lainnya.

Mengapa harus malam Jum’at dan bukan malam lainnya. Ketika kita memberi penentuan seperti ini kita harus mendatangkan dalil. Jika dalil tidak ada maka itu termasuk perbuatan bid’ah yang dilarang, meski niat kita sangat ikhlas kepada Allah SWT.

Sebab ibadah pada dasarnya haram dilakukan hingga datang perintah dari syariat.

Kelima: Ada perbedaan yang sangat jelas antara bid’ah dengan maslahah mursalah. Bid’ah terjadi pada perkara-perkara yang berbau ibadah, ditujukan untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan tanpa dasar dari syariat pada jenisnya.

Sementara maslahah mursalah terjadi pada sarana, tujuannya bukan untuk ibadah, dan tidak menyalahi syariat. Ini seperti ketika Umar membuat kantor, departemen, dan lain sebagainya. Juga seperti tindakan Utsman yang membukukan Al-Qur’an, membangun madrasah dan lain sebagainya. Serta hal-hal lain yang sudah jelas maslahatnya dan sangat diperlukan, sementara  pada zaman Nabi SAW belum dibutuhkan.

Dengan demikian jelaslah bagi kita kesalahan orang yang menyamakan antara bid’ah dengan maslahah mursalah, kemudian menggabungkannya menjadi satu. 

Keenam: Dari sisi hukum, bid’ah terbagi menjadi dua:

(1) Bid’ah mukaffirah. Ini adalah bid’ah yang mengkafirkan pelaku. Ia mencakup setiap perkara yang membatalkan keislaman. Seperti bid’ah qadariah, bid’ah jahmiyah, bid’ah wihdatul wujud, bid’ah kaum Rafidhah yang mengatakan Al-Qur’an telah disimpangkan, para sahabat telah murtad, dan para imam Syi’ah adalah maksum.

Juga bid’ah yang menyatakan kita tidak perlu berhujjah dengan sunnah Nabi, bid’ah yang menyatakan bahwa hukum Islam tidak sesuai dengan zaman modern, juga pernyataan kita bisa mengganti hukum Al-Qur’an dan sunnah dengan undang-undang buatan manusia.

(2) Bid’ah mufassiqah. Ini bid’ah yang menjadikan pelaku fasik tapi tidak keluar dari lingkup Islam. Seperti kebanyakan bid’ah yang dilakukan kaum muslimin yang terjadi pada amal perbuatan. Selama tidak menjadikan pelaku ragu terhadap agama atau berbuat syirik maka pelaku bid’ah hanya dihukumi fasik dan tidak sampai keluar dari Islam.

Ketujuh: Bid’ah banyak sekali macamnya. Di antaranya:

(1) Bid’ah pada I’tiqad (keyakinan). Seperti meyakini ada seseorang yang mengerti ilmu ghaib. Meyakini ada seseorang yang turut serta mengatur semesta ini. Atau meyakini dunia ini diciptakan dari cahaya Nabi Muhammad SAW. Juga hal-hal lain yang berkaitan dengan ushuluddin (dasar-dasar agama) seperti nama-nama dan sifat Allah, perbuatan-perbuatan Allah, para Nabi, dan masalah ghaib.

(2) Bid’ah dalam ibadah: Seperti mengerjakan shalat, dzikir, wirid, doa-doa, dan hari raya yang caranya tidak disyariatkan. Seperti shalat raghaib, memperingati maulid Nabi, memperingati isra’ mi’raj, mengerjakan ibadah-ibadah khusus pada bulan Rajab, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan ibadah.

(3) Bid’ah dalam suluk atau tingkah laku. Seperti mendekatkan diri kepada Allah dengan menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal. Misalnya tidak mau memakai baju yang halus, tidak mau menikah, tidak mau makan daging, tidak mau menikmati perkara mubah, dan lain sebagainya. Atau mendekatkan diri kepada Allah dengan mendengar musik, melihat wanita cantik, dan perkara-perkara lain yang berkaitan dengan tingkah laku.

(4) Bid’ah dalam berdakwah kepada Allah: Seperti membuat tarekat-tarekat yang menyalahi metode para sahabat dan tabiin. Atau mengumpulkan para pengikut di bawah satu bendera tanpa melihat kepada akidahnya dengan alasan bekerja untuk Islam. Atau mengambil baiat dari pengikut dengan ketaatan penuh kepada pemimpin dan jamaah. Atau mengharuskan keluar mengadakan perjalanan di bumi dengan tujuan dakwah dan meyakini itulah cara untuk mensucikan jiwa, dan lain sebagainya.

Kedelapan: Gambaran-gambaran perbuatan bid’ah:

(1) Mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan perbuatan yang sama sekali tidak disyariatkan. Seperti mendekatkan diri kepada Allah dengan tidak menikah.

(2) Jika suatu ibadah disyariatkan dalam satu kondisi. Kemudian seseorang mendekatkan diri kepada Allah dalam kondisi yang tidak disyariatkan. Seperti lelaki yang bernadzar untuk berdiri di bawah terik matahari. Maka Nabi SAW mengingkarinya. Sebab berdiri disyariatkan dalam adzan dan shalat, bukan pada nadzar.

(3) Beribadah kepada Allah dengan ibadah yang dilarang oleh syariat. Seperti berpuasa pada hari raya Idul Fithri dan Idul Adha. Atau mengerjakan shalat pada waktu terlarang tanpa sebab.

(4) Mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah yang asalnya disyariatkan, kemudian menyisipkan ke dalamnya sesuatu yang tidak ada syariatnya. Seperti menyisipkan sifat tertentu dalam wudhu, adzan, shalat, dan dzikir-dzikir.

Seperti keharusan berjabat tangan setiap selesai shalat, mengusap wajah, berdzikir secara berjamaah setelah shalat, atau menambahi doa-doa lain sebelum mengumandangkan adzan atau setelahnya.

Kesembilan: Siapa pun yang mengerjakan amalan bid’ah kemudian mengajak manusia melakukannya, maka baginya dosa bid’ah tersebut di samping dosa orang-orang yang diajaknya hingga Hari Kiamat. Sebaliknya siapa pun yang mengajak kepada sunnah, maka baginya pahala sunnah yang dikerjakannya, juga pahala orang-orang yang mengerjakannya hingga Hari Kiamat. Rasulullah SAW bersabda:

((مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أجْرُهَا، وَأجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيرِ أنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِي اْلإسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيهِ وِزْرُهَا، وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أوْزَارِهمْ شَيءٌ)). [رواه مسلم].

“Barangsiapa melakukan satu sunnah yang baik dalam Islam maka baginya pahala itu dan pahala siapa pun yang mengerjakan sunnah tersebut setelahnya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa mengerjakan perbuatan yang buruk dalam Islam maka baginya dosa hal itu, serta dosa siapa pun yang mengerjakan sunnah buruk tersebut setelahnya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun” (HR. Muslim)

Kesepuluh: Bid’ah lebih besar dosanya daripada maksiat. Karena pelaku maksiat ketika mengerjakan dosa, ia mengerjakannya akibat syahwat, sementara dalam hatinya meyakini itu perbuatan haram dan ingin selalu bertaubat.

Sementara pelaku bid’ah, ia mengerjakan suatu amalan sambil meyakini itu adalah agama dan sangat baik, kemudian ia mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan tersebut padahal tidak ada contohnya dari syariat. Ini adalah orang yang menganggap baik perbuatan buruknya karena dihiasi oleh Setan. Allah berfirman:

{أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ فَلَا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَصْنَعُونَ } [فاطر: 8]

“Maka apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan)? Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendakiNya dan menunjuki siapa yang dikehendakiNya. Maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. Faathir: 8)

Juga firman Allah:

{ قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا (103) الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا } [الكهف: 103، 104]

“Katakanlah: ‘Maukah Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’ Yaitu orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka menyangka mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 103-104)

Sufyan Ats-Tsauri berkata:

“اَلْبِدْعَةُ أَحَبُّ إِلَى إِبْلِيْسَ مِنَ الْـمَعْصِيَةِلِأَنَّ الْـمَعْصِيَةَ يُتَابُ مِنْهَا وَالْبِدَعُ لَا يُتَابُ مِنْهَا”

“Bid’ah lebih disukai Iblis daripada maksiat. Karena maksiat pelaku ada kemungkinan bertaubat sementara bid’ah tiada kemungkinan bertaubat darinya.”

Pada sebuah atsar disebutkan bahwa Iblis berkata:

أَهْلَكْتُبَنِيْ آدَمَ بِالذُّنُوْبِ وَأَهْلَكُوْنِيْ بِالْإِسْتِغْفَارِ وَبِلَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، فَلَمَّا رَأَيْتُ ذَلِكَ بَثَثْتُفِيْهِمُ الْأَهْوَاءَ، فَهُمْ يُذْنِبُوْنَ وَلَا يَتُوْبُوْنَ، لِأَنَّهُمْ يَحْسَبُوْنَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُوْنَ صُنْعًا

“Saya membinasakan bani Adam dengan dosa. Tetapi mereka membinasakanku dengan istighfar dan laa ilaaha illallah. Ketika saya memahami hal itu, saya menebarkan hawa nafsu di antara mereka. Sehingga mereka berbuat dosa tanpa bertaubat. Sebab mereka merasa telah berbuat baik dengan sebenar-benarnya.”[8]

                Kesebelas: Imam asy-Syafi’i Rahimahullah memang membagi bid’ah menjadi dua macam: Bid’ah mustahabbah dan bid’ah dhalalah. Tetapi definisi bid’ah mustahabbah menurut beliau adalah yang sesuai dengan sunnah Nabi r. Sedangkan bid’ah dhalalah adalah yang menyalahi Sunnah Nabi r. Dengan demikian perkataan imam Syafi’i ini tidak bertentangan dengan pernyataan jumhur ulama’. Sedangkan jumhur ulama’ menyatakan bahwa segala bentuk bid’ah adalah sesat. Tanpa kecuali.

Imam As-Syafi’i Rahimahullah berkata:

“اَلْبِدْعَةُ بِدْعَتَانِ، مَحْمُوْدَةٌ وَمَذْمُوْمَةٌ، فَمَا وَافَقَ السُّنَّةَ فَهُوَ مَحْمُوْدٌ وَمَا خَالَفَهَا فَهُوَ مَذْمُوْمٌ” [فتح الباري: 13 / ص 253]

“Bid’ah ada dua: Mahmud dan madzmum. Yang sesuai sunnah maka itu mahmud (terpuji), sedangkan yang menyalahi sunnah, maka itu madzmum (tercela).” (Fathul bari, 13/253)

Sebagian orang membenarkan perbuatan bid’ah yang dilakukannya berdalil dengan perbuatan Abu Bakr ketika membukukan Al-Qur`an. Sebenarnya ini alasan yang sama sekali tidak benar. Karena Al-Qur`an sudah ditulis pada zaman Nabi r. Beliau pernah melarang orang menulis Hadis, bukan Al-Qur`an. Agar tidak terjadi percampuran dengan Al-Qur`an.

Mengapa Nabi r belum membukukan Al-Qur`an menjadi satu semasa hidupnya? Karena ketika beliau masih hidup tidak seorang pun yang bisa menjamin wahyu tidak akan turun. Karena wahyu baru berhenti turun ketika beliau sudah wafat. Karena itu Abu Bakr membukukan Al-Qur`an atas intruksi Umar karena banyaknya para qurra’ yang mati syahid dalam perang Bi’ru Ma’unah. Tujuannya agar Al-Qur`an tidak hilang dan tetap terjamin keutuhannya.

Mereka juga berdalil dengan shalat tarawih yang dilakukan Umar bin Al-Khattab. Padalah shalat tarawih adalah sunnah yang pernah dikerjakan Nabi shallallahu alaihi wasallam sebagaiman dijelaskan di atas.

 

Karakteristik bid`ah:

 

Agar bisa membedakan suatu perbuatan itu “bid`ah” atau “bukan”, kita harus mengetahui karakteristik bid`ah tersebut. Sehingga sesuatu bisa dikatakan “bid`ah” jika memenuhi karakteristik dan ciri khususnya. Yaitu:

1)        Selalu bersifat baru. Yakni tidak pernah ada pada zaman Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

2)       Selalu tidak mempunyai landasan dalam al-Quran, sunnah, maupun Ijma`.

3)       Pada bid`ah terdapat hal-hal yang tidak bisa dilogikakan. Tidak makan daging untuk meraih tingkat ke-wali-an misalnya.

4)   Selalu beriring dengan keyakinan bahwa itu adalah benar, lebih baik, merupakan bagian dari syariat islam, dan pelakunya termasuk orang yang paling dekat kepada Allah. Allah berfirman dalam surat Al-Kahfi:

{ قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا (103) الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا (104) أُولَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا (105) ذَلِكَ جَزَاؤُهُمْ جَهَنَّمُ بِمَا كَفَرُوا وَاتَّخَذُوا آيَاتِي وَرُسُلِي هُزُوًا } [الكهف: 103 – 106]

“Katakanlah: ‘Maukah kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi amal perbuatannya?’  Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia. Maka terhapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada Hari Kiamat. Demikianlah balasan mereka itu Neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayatKu dan Rasul-RasulKu sebagai olok-olok.” (QS. Al-Kahfi)

 

Bahaya bid`ah:

 

  1. Yang berbuat bid`ah berarti menciptakan syariat baru.
  2. Yang berbuat bid`ah berarti berbohong atas nama Allah dan RasulNya.
  3. Yang berbuat bid`ah berarti meyakini bahwa syariat Islam masih kurang atau belum sempurna.
  4. Yang berbuat bid`ah berarti mendustakan  Al-Quran, tepatnya surat Al-Maidah: 3
  5. Yang berbuat bid`ah berarti menuduh Rasulullah shallallahu alahihi wasallam bodoh dan tidak tahu, dan ia menganggap dirinya lebih pintar dibanding beliau.
  6. Yang berbuat bid`ah berarti tidak lagi membutuhkan Al-Qur`an dan As-sunnah, karena bisa membuat syariat sendiri.
  7. Yang berbuat bid`ah diancam dengan ancaman sangat keras dalam surat An-Nuur: 63 dan Hadis firqah najiyah.
  8. Amalan ahli bid`ah pasti tertolak, bahkan mendapat dosa. Karena ia telah beribadah kepada Setan.
  9. Yang berbuat bid`ah berarti telah kafir karena telah mengolok-olok ayat dan Rasul Allah. Sebagaimana dalam surat Al-Kahfi: 103-106.

 

Menyikapi bid`ah dan pelakunya:

 

  1. Para ulama menyatakan bahwa seseorang yang melakukan perbuatan bid`ah, tidak bisa langsung diklaim sebagai ahli bid`ah sampai terpenuhi syarat-syarat dan tidak ada faktor penghalangnya.
  2. Yaitu dia sudah diberitahu yang benar dengan dalil dan hujjah nyata, sudah mengerti, tetapi malah membangkang, setelah berkali-kali dinasehati dengan cara yang baik, dan tetap melakukan kebid`ahan, berarti pada saat itu ia memang seorang ahli bid`ah.
  3. Bagi pelaku bid`ah yang  tidak mengerti, haram bagi kita mengklaimnya sebagai tukang bid`ah. Karena ia belum mengerti dan harus diajari terlebih dahulu.

Beberapa kaidah yang mesti diperhatikan dalam masalah pembid`ahan:

  1. Sikap kehati-hatian puncak sebelum menghukumi.
  2. Yang berhak melakukannya hanyalah para ulama` yang benar-benar mendalam ilmunya. Bukan sembarang orang.
  3. Pemutusan hukum, harus berdasar pada keyakinan penuh yang tidak menyisakan keragu-raguan sedikit pun.
  4. Dalam pemutusan hukum, kita harus mengedepankan sikap dan posisi sebagai juru da`wah, bukan sebagai hakim. Lebih mengedepankan maslahat umum bukan maslahat dzatiyah (pribadi).
  5. Terhadap orang yang  jelas-jelas menghidupkan bid`ah, terutama bid`ah mukaffirah (kubra) maka kita harus bersikap jelas dan tegas. Dengan demikian kita memiliki sikap proporsional, kapan harus hati-hati dan kapan harus tegas. Allahu a’lam.

 

 


[1]HR. Al-Bukhari, no. 2550 dan Muslim, no. 4589

[2]HR. Muslim, no. 4590

[3]HR. Abu Dawud, no. 4609, At-Tirmidzi, no. 2891,  dan disahihkan Al-Albani dalam Sahih Tirmidzi, no. 2676

[4] HR. Ad-Darimi dalam As-Sunan, no. 210, dan disahihkan syaikh Al-Albani dalam Silsilah sahihah, no. 2005

[5] HR. An-Nasa’i, no. 1560, disahihkan syaikh Al-Albani dalam sahih Ibni Majah, no. 45

[6] HR. Al-Bukhari, no. 1129

[7] HR. Ahmad, no. 17142 dan Abu Dawud, no. 4609, disahihkan Syaikh Al-Albani dalam Sahih Al-Jami’, no. 2549

[8] Penjelasan ini bisa dilihat pada syarah yang diterangkan Syaikh Khalid bin Su’ud Al-Bulihed pada situs: www.saaid.com

misteri-kedahsyatan-neraka

http://wafimarzuqi.wordpress.com/misteri-kedahsyatan-neraka/

Share This: