KESAHIHAN SEBUAH DALIL

Saudara yang saya muliakan…

Kita semua tentu sepakat bahwa dasar Islam adalah Al-Quran dan Al-Hadis. Dasar dalam arti: Segala sesuatu yang dalam Islam ini sumbernya adalah kedua perkara tadi. Untuk Hadis tentu Hadis yang sahih, bukan dhaif. meski nanti ada pendapat yang membolehkan berdalil dengan hadist dhaif dalam fadhailul a’mal tapi dengan syarat-syarat yang juga sulit kalau diterapkan.

dalam tulisan ini, saya hanya ingin mengajak saya pribadi dan seluruh pembaca yang beragama Islam, agar selalu melihat kepada dalil-dalil yang digunakan kebanyakan penulis dalam memperkuat pendapatnya. terkadang seorang penulis menyebutkan ini dan itu tapi bukan bersumber dari Al-Quran maupun Hadis.

terkadang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW mengatakan seperti ini tapi tidak menyebutkan secara jelas dimana sumber tersebut didapat. jangan-jangan itu sekedar bualan atau omongan sebagian orang yang kemudian dikatakan itu adalah sabda Nabi SAW.

jika demikian, maka itu termasuk hadis maudhu’ atau hadis palsu yang bukan perkataan Rasulullah tapi disandarkan kepada beliau. dan alangkah banyaknya hal semacam ini.

karena itu pembaca semua yang saya cintai, mari kita selektif dalam mengambil dalil. jangan setiap yang dikatakan Rasulullah SAW oleh para penulis langsung kita telan mentah-mentah. tapi lihat dulu dimana sumbernya. apakah penulis sudah menyampaikan rujukan hadis tersebut?! dan jika sudah maka kita harus melihat kepada kitab-kitab Hadis apakah memang Hadis tersebut ada di sana? apakah Hadis itu sahih atau tidak??

jika tidak sahih maka jumhur mengatakan hadis sahih tidak bisa dipakai sebagai dalil dalam agama. kecuali dalam fadhailul a’mal -menurut sebagian madzhab- itupun dengan tiga syarat yang sangat sulit jika dipraktekkan.

kita harus mengetahui, mengapa para ulama’ membuat ilmu musthalah hadis? demikian itu agar kita mengerti mana hadis yang sahih dan mana yang dhaif. mengapa kita harus membedakan antara keduanya? karena yang sahih adalah dari nabi dan dhaif bukan dari nabi saw.

karena jika kita mengerjakan ibadah berdasar hadis yang sahih maka ibadah kita adalah sah, dan jika kita beribadah berdasar hadis yang dhaif berarti ibadah kita tidak sah dan tidak diterima oleh Allah. sebab para ulama’ mengatakan dalam kaidahnya: Ibadah pada dasarnya haram dilakukan hingga ada perintah.

dan kaidah ini diambil dari sabda Nabi: “MAN AMILA AMALAN LAISA ALAIHI AMRUNA FAHUWA RADDUN” (BARANGSIAPA MENGERJAKAN SUATU AMALAN YAG BUKAN DARI PERINTAH KAMI, MAKA AMALAN ITU DITOLAK).

hadis ini sahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Aisyah Ummul Mukminin radhiyallahu anha.

jadi sekali lagi, kita harus selektif dalam menerima setiap tulisan yang kita baca. terutama dalil-dalil yang digunakan para penulis dalam memperkuat pendapatnya. apakah dalil itu benar dan sesuai cara yang dipergunakan para ulama’ kaum muslimin.

sekian, semoga bermanfaat wassalamu’alaikum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *