10 Kisah Nabi Tentang Menjaga Perasaan Orang Lain

Oleh: Dr. Jasim Al-Muthawwa’ (Pakar Parenting dari Kuwait)

 

Menarik perhatian saya, kisah Nabi Sulaiman ‘alaihissalam bagaimana ia menghormati perasaan semut yang khawatir tidak dihormati keberadaannya dan tidak dihargai kerajaannya dengan diinjak Nabi Sulaiman dan para tentaranya. Semut tidak mengetahui bahwa para Nabi menghormati manusia dan binatang serta menghargai perasaan mereka. Lantas Nabi Sulaiman mengubah seluruh jalan tentaranya bahkan menjaga kerajaan semut.

 

Menghormati perasaan adalah isyarat pendidikan indah nan lembut, tidak akan timbul kecuali dari orang yang penyayang, dermawan dan rendah hati. Sedangkan orang sombong dan congkak hanya berpikir tentang dirinya sendiri.

 

Dalam artikel ini saya akan memaparkan 10 sikap dari Siroh Nabawiyah dimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kita bagaimana menghormati orang lain dan menghargai perasaannya.

 

1. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat kesalahan seseorang, beliau tidak menasehatinya dihadapan para sahabatnya, namun beliau hanya mengatakan: “Mengapa ada sekelompok orang yang melakukan ini dan itu” untuk menghormati perasaannya.

 

2. Ketika ada seorang Arab badui kencing di dalam masjid, lalu para sahabat keberatan dan menentangnya, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada mereka: “Jangan kalian putus kencingnya”.

 

Kemudian beliau mengajari si Arab badui tersebut bahwa masjid itu untuk beribadah; karena si badui tidak mengetahui dan tidak disengaja, lalu beliau memperlakukannya dengan hormat.

 

3. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak melukai perasaan peminta yang tidak memiliki harta, tetapi memperlakukannya dengan lembut. Dua orang datang kepada Nabi saat haji wada’ ketika beliau sedang membagi-bagikan harta sedekah/zakat lalu kedua orang tersebut memintanya. Kemudian beliau mengangkat pandangannya dan melihat keduanya dalam kondisi sehat, kuat dan baik. Beliau berkata: “Jika kalian mau aku akan berikan kalian zakat, namun tidak ada zakat bagi orang kaya dan mereka yang masih kuat untuk bekerja.”

 

Beliau memperlakukan dengan lembut tanpa melukai perasaan mereka, beliau tidak mengatakan kepada mereka “Kalian berdua tidak pantas menerima harta zakat karena kalian masih sehat, kuat dan mampu bekerja”. Beliau tidak berdusta atau bersikap keras kepada mereka.

 

4. Menjaga perasaan pemilik profesi dan status sosial rendah. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita ketika pembantu datang dengan membawa makanan agar kita mengajak duduk bersama kita atau memberinya makanan.

 

Beliau bersabda: “Apabila pembantu salah seorang dari kalian menyediakan makanan, ajaklah dia makan sekali. Jika tidak, maka hendaklah ia memberikan padanya satu atau dua makanan, atau sepotong atau dua potong darinya”.

 

5. Menjaga perasaan ibu ketika anaknya menangis saat shalat. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam meringankan shalatnya ketika mendengar suara tangisan anak kecil.

 

6. Menghormati perasaan keluarga mayit. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita agar tidak mencela orang-orang yang telah meninggal terutama kaum muslimin, karena celaan itu jika sampai kepada keluarganya, maka mereka akan tersakiti perasaannya. Beliau bersabda: “Janganlah kalian mencela orang-orang yang sudah mati, karena mereka itu sudah sampai kepada apa yang telah mereka lakukan”.

 

7. Menjaga perasaan orang tua-anak kecil. Kita menyayangi anak kecil dan menghormati orang tua berdasarkan sabda Nabi “Bukan termasuk dari golongan kami orang yang tidak menyayangi anak kecil kami & tidak menghormati orang tua (orang dewasa) kami”.

 

8. Menjaga perasaan orang lain dalam kisah (Kamu sudah didahului ‘Ukkasyah). Ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berbicara tentang 70.000 orang yang akan masuk surga tanpa hisab dan menyebut karakteristiknya, ‘Ukkasyah bertanya: “Apakah aku termasuk dari mereka wahai Rasulullah?Beliau menjawab: “Ya”. Lantas laki-laki lainnya berdiri dan bertanya juga: “Apakah aku juga termasuk?” Nabi menjawab: “Kamu sudah didahului ‘Ukkasyah”.

 

Rasulullah tidak mempermalukan dengan mengatakan kamu tidak termasuk dari mereka hingga tidak membuka pintu bagi setiap penanya. Rasulullah menjawab dengan cara yang indah, penuh hormat dan apresiasi tanpa melukai perasaannya.

 

9. Seorang laki-laki meminta izin kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan disampingya ada Aisyah radhiyallahu ‘anha. Rasulullah bersabda: “Alangkah buruknya saudara kabilah, alangkah buruknya anak lelaki kabilah”. Ketika orang itu duduk, Rasulullah memperlakukannya dengan hormat dan melonggarkan baginya, Sayyidah Aisyah merasa heran dengan sikap beliau dan bertanya tentang hal itu. Rasulullah menjawab: “Ya Aisyah, kapan kamu melihatku berkata kotor? Sesungguhnya manusia paling buruk kedudukannya di sisi Allah adalah orang yang ditinggalkan manusia lain karena takut keburukannya.”

 

10. Menjaga perasaan orang dalam shalat. Seorang mengeluh kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam perihal sahabat Mu’adz radhiyallahu ‘anhu yang membuka shalat isya’ dengan surat Al-Baqarah dan memperpanjangnya. Lantas Rasulullah menegur Mu’adz dan berkata: “Apakah kamu ingin membuat fitnah”.

 

Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan siapa saja yang menjadi imam shalat agar meringankan shalatnya; karena ada orang tua, orang sakit, orang lemah dan yang memiliki kebutuhan (hajat).

 

Setelah memaparkan kisah-kisah ini, maka saya ingin mengajukan pertanyaan pendidikan:

 

“Apakah kita mendidik anak-anak kita diatas panduan nabawi ini dengan menjaga perasaan orang lain dan menghormati emosional mereka dan tidak menyakiti perasaan mereka?

 

Apakah akhlak ini ada di rumah kita antara pasangan suami istri atau diantara saudara-saudara dan kerabat?

 

Menghormati, menghibur dan menghargai perasaan adalah akhlak insani yang tinggi dan mulia. Karena itu, syariat Islam dalam hal perceraian antara pasangan memerintahkan untuk memberi istri yang dicerai nafkah mut’ah sebagai hiburan baginya dan juga untuk menjaga perasaannya, sebagaimana firman Allah:

 

“Kepada wanita-wanita yang diceraikan berilah mut’ah (harta) menurut yang makruf, sebagai suatu hak atas orang-orang yang bertakwa”.(QS. Al-Baqarah : 241).

 

Menjaga perasaan adalah kecerdasan emosional yang kita butuhkan hari ini.

 

Ust. Ahmad Fadhail, Lc
PJ. Syar’i Kuttab Al-Fatih Surabaya

Share This: