Hakikat iman

سَمِعْتُ الْفُضَيْلَ، يَقُولُ: «لَا يَبْلُغُ الْعَبْدُ حَقِيقَةَ الْإِيمَانِ حَتَّى يَعُدَ الْبَلَاءَ نِعْمَةً وَالرَّخَاءَ مُصِيبَةً، وَحَتَّى لَا يُبَالِي مِنْ أَكْلِ الدُّنْيَا وَحَتَّى لَا يُحِبُّ أَنْ يُحْمَدَ عَلَى عِبَادَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ» [حلية الأولياء وطبقات الأصفياء، 8/94]

Saya mendengar Fudhail berkata: “Hamba belum mencapai hakikat iman hingga meyakini bahwa musibah adalah nikmat dan kelapangan hidup adalah musibah. Juga (belum mencapai hakikat iman) hingga tidak peduli apa yang dimakannya di dunia. Juga (belum mencapai hakikat iman) hingga tidak suka dipuji orang atas ibadahnya kepada Allah yang Maha agung dan Maha tinggi.” (Abu Nu’aim, Hilyatul Auliya, 8/94)

 

Share This: