Inilah alasan; mengapa kaum muslimin banyak mendapat musibah

مصيبة

MENGAPA ALLAH MENIMPAKAN BANYAK MUSIBAH KEPADA KITA

Saudara… anda mendapat banyak musibah, itu pertanda Allah mencintai anda. Anda mendapat banyak musibah, itu pertanda Allah hendak meninggikan derajat anda di sisiNya. Anda mendapat banyak musibah, itu berarti Allah hendak menjadikan anda seorang pemimpin yang terhormat. Ingatlah! Nabi Ibrahim AS tidak mendapat predikat Abul Anbiya’ (bapak para Nabi) kecuali setelah melewati banyak rintangan dan ujian.
Dari Abu Hurairah  dia berkata: Rasulullah  bersabda:

((إِنَّ الرَّجُلَ تَكُونُ لَهُ الْمَنْزِلَةُ عِنْدَ اللهِ فَمَا يَبْلُغُهَا بِعَمَلٍ فَلاَ يَزَالُ يَبْتَلِيهِ بِمَا يَكْرَهُ حَتَّى يُبْلِغَهُ ذَلِكَ))

“Ada seseorang yang memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah. tapi amalnya belum bisa menyampaikannya pada kedudukan tersebut. Sehingga Allah senantiasa mengujinya dengan perkara yang tidak disukainya agar dia bisa mencapai kedudukan itu.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, no. 1274 dan disahihkan Ibnu Hibban, no. 2908, Syuaib Al-Arnauth berkata: Sanadnya hasan)
Saudara… sering kita mendengar seseorang mengeluh: “Mengapa Allah menimpakan musibah ini kepada saya?”, atau mengatakan: “Allah berbuat tidak adil kepada saya. Masak, saya yang senantiasa shalat lima waktu, mendapat musibah seperti ini. Tapi tetangga saya yang kafir, keadaannya nyaman-nyaman saja.”

Saudara… dari Hadis ini kita bisa mendapat pelajaran bahwa musibah yang menimpa Anda, pastilah mendatangkan kebaikan. Sebab dengannya anda mendapat kedudukan tinggi di sisi Allah. jadi kesimpulannya: Jika seseorang tidak pernah mendapat musibah berarti kedudukannya sangatlah rendah di sisi Allah.
Karena itu ridhalah dengan setiap yang terjadi pada anda. Karena itu semua bagian dari takdir Allah. Dan kita, dalam rukun iman, diwajibkan beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.
Justru dengan mendapat musibah, itu berarti Allah mencintai Anda. Nabi Muhammad  bersabda:

((إِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ صَبَرَ فَلَهُ الصَّبْرُ، وَمَنْ جَزِعَ فَلَهُ الْجَزَعُ))

“Jika Allah mencintai suatu kaum maka dia menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya pahala sabar. Sementara barangsiapa merasa dongkol maka baginya kedongkolan (dari Allah).” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad, no. 23623 dengan sanad yang bagus)

Bahkan dengan musibah yang menimpa anda, bisa-bisa para penghuni Surga menjadi iri (iri yang positif) kepada anda, mengapa mereka dahulu tidak mendapat musibah seperti yang menimpa anda. Nabi Muhammad  bersabda:

((يَوَدُّ أَهْلُ الْعَافِيَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَّ لُحُومَهُمْ قَدْ قُرِضَتْ بِالْمَقَارِيضِ لِمَا يَرَوْنَهُ لأَهْلِ الْبَلاءِ مِنْ جَزِيلِ الثَّوَابِ))

“Orang-orang yang tidak pernah mendapat musibah sangat berharap pada Hari Kiamat, jika daging mereka dipotongi dengan gunting, ketika melihat betapa besar pahala yang diberikan Allah kepada orang-orang yang mendapat musibah.” (HR. Ath-Thabrani dalam Ash-Shaghir, no. 241 dan At-Tirmidzi dalam As-Sunan, no. 2402 dengan sanad hasan)

Imam Malik rahimahullah berkata: Seseorang tidak akan mendapat derajat imaamah (kepemimpinan) kecuali melewati banyak ujian dan musibah kemudian bersabar atasnya. Sebab Allah ta’ala berfirman:

{وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ}

“Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As-Sajdah: 24)

Allahu a’lam.

Share This: