25 TAHUN RENUNGAN PERNIKAHAN

Biarkan Aku dan Kamu
Jadi Sepasang Doa yang Saling Mengamini

RENUNGAN ULANG TAHUN PERNIKAHAN PERAK

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بلله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ
جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ

Hadirin, para sahabat dan kerabat yang saya hormati.

Suatu ketika Profesor Achmad Mubarok ditanya: apa indikatornya bahwa suatu keluarga disebut sakinah atau keluarga bahagia? Pakar psikologi keluarga itu menjawab, “Mencapai keluarga sakinah itu tidaklah mudah. Banyak tahapan dan ujian yang mesti dilewati, seperti pertengkaran suami dan istri serta susahnya mengasuh anak. Maka, salah satu tandanya adalah, usia perkawinan yang lebih dari 25 tahun tanpa pernah bercerai. Kemudian, berhasil mendidik anak-anak menjadi orang baik dan sukses.”

Alhamdulilllahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah Sang Pengatur semesta alam. Hanya kalimat itulah yang paling tepat untuk menghiasi suasana dan perasaan kami malam ini. Ya, dua puluh lima tahun lalu, hari ini kami mengikat janji suci pernikahan. Dan Alhamdulillah, sampai sekarang ikatan itu masih dan insya-Allah akan terus terajut kuat dalam genggaman rahmat dan inayat-Nya. Tanpa bermaksud berbangga secara berlebihan, izinkan saya mengekspresikan rasa syukur dan bahagia tak terkira pada malam ulang tahun pernikahan perak ini. “Cinta awalnya merupakan berkah, bahkan sebuah kebetulan, tetapi setelah teruji dalam pergulatan rumah tangga ia kemudian menjadi prestasi,” tutur Steve dan Shaaron Biddulph, dua ahli parenting dari Australia. Semoga demikian. Amin ya Rabbal Alamin.

Masih segar dalam ingatan saya sebuah ayat yang dibacakan secara fasih oleh penutur Khutbah Nikah pada seperempat abad silam pernikahan kami itu:

وَمِنْ آياتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْواجاً لِتَسْكُنُوا إِلَيْها وَ جَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَ رَحْمَةً إِنَّ فِي ذلِكَ لَآياتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang yang mau berpikir (QS ar-Rûm, 30: 21)

Belakangan saya baru mengerti bahwa ayat ini ternyata ditempatkan Allah pada rangkaian ayat tentang tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta—tentang tegaknya langit, terhamparnya bumi, tercurahnya air hujan, gemuruhnya halilintar, dan keajaiban penciptaan manusia. Dengan ayat ini, Allah ingin mengajarkan kepada kita betapa Dia dengan sengaja menciptakan kekasih yang menjadi pasangan hidup kita.

Allah ciptakan bumi dengan segala isinya—samudra luas, bukit tinggi, hutan belantara—semua untuk kebahagiaan kita sebagai manusia. Diedarkan Allah mentari, rembulan, dan gemintang; diturunkan-Nya hujan, ditumbuhkan pepohonan, dan disirami tetanaman—semua untuk kebahagiaan kita sebagai manusia.

Namun, Allah Yang Mahatahu memberikan lebih dari itu. Dia tahu getar kerinduan di dada kita. Dia tahu betapa sering kita memerlukan seseorang yang mau mendengar bukan saja kata-kata yang terucapkan, melainkan juga jerit hati yang tak terungkapkan; yang mau menerima segala perasaan—tanpa pura-pura, prasangka, dan pamrih. Karena itu, Allah ciptakan seorang kekasih.

Allah tahu, saat kita diempas masalah, diguncang badai, dan dilanda duka, kita memerlukan seseorang yang mampu meniupkan kedamaian, mengobati luka, menopang tubuh yang lemah, dan memperkuat hati—tanpa pura-pura, prasangka, dan pamrih. Karena itu, Allah ciptakan seorang kekasih.

Allah tahu, kadang-kadang kita berdiri sendirian lantaran keyakinan atau mengejar impian. Kita memerlukan seseorang yang berdiri di samping kita—tanpa pura-pura, prasangka, dan pamrih. Karena itu, Allah ciptakan seorang kekasih.

Supaya hubungan antar kekasih ini menyuburkan ketenteraman (sakinah), cinta (mawaddah), dan kasih sayang (rahmah), Allah menetapkan suatu ikatan suci, yaitu akad nikah. Maka, terima kasih setulus-tulusnya kepada seluruh keluarga dan kerabatku, kepada istriku beserta keluarga besarnya. Berkat kalian semua, kami bisa “merasakan” keagungan ayat ini dalam kehidupan nyata sehari-hari. Dalam batas-batas kemampuan dan kelemahan kami, firman-Tuhan yang selalu ditorehkan di kartu undangan setiap pernikahan itu mengejawantah dalam perjuangan kami membangun rumah tangga selama ini. Namun, kami tetap sadar: It’s Easy to Build a House, but not Home. Membangun rumah itu mudah. Yang sulit adalah membangun rumah tangga. Because, a House Built by Hand and a Home Built by Heart.

Keluarga Sakinah Dibangun Sejak Pra Nikah
Suatu malam, khalifah Umar bin Khattab r.a. berkeliling keluar masuk lorong kampung mengontrol keadaan rakyatnya. Tiba-tiba beliau mendengar sebuah percakapan menarik dari rumah seorang wanita penjual susu.
“Ayo, bangunlah! Campurkan susu itu dengan air!”
“Apa ibu belum mendengar larangan dari Amirul Mukminin?”
“Apa larangannya, Nak?”
“Beliau melarang umat Islam menjual susu yang dicampur air.”
“Ah, ayo bangun. Cepatlah kau campur susu ini dengan air. Janganlah takut kepada Umar, mana ada dia di sini!”
“Memang Umar tidak melihat kita, Bu. Tapi Tuhan Umar melihat kita. Maafkan Bu, aku tidak dapat memenuhi permintaanmu. Aku tidak ingin jadi orang munafik, mematuhi perintahnya di depan umum, tapi melanggar di belakangnya.”
Dialog ibu dan anak ini sungguh menyentuh Umar. Khalifah yang terkenal keras itu luluh dan terharu. Beliau sangat kagum dengan ketakwaan gadis miskin anak penjual susu itu.
Paginya, beliau memerintahkan salah seorang putranya (Ashim) untuk meminang gadis tersebut, “Pergilah kau ke sebuah tempat, terletak di daerah itu. Di sana ada seorang gadis penjual susu, kalau ia masih sendiri, pinanglah dia. Mudah-mudahan Allah akan mengaruniamu seorang anak saleh yang penuh berkah.”
Firasat Umar benar. Ashim menikahi gadis mulia itu, dan dikaruniai putri bernama Ummu Ashim. Wanita ini lalu dinikahi Abdul Aziz bin Marwan, dan mereka mendapatkan seorang anak laki-laki. Anak itu kelak menjadi seorang khalifah yang terkenal adil dan bijaksana, yaitu Khalifah Umar bin Abdul Aziz.
Tentu saja bukan karena namanya sama-sama Abdul Aziz saya kutip cerita ini di sini. Namun, ada pesan penting layak kita simak, terutama di tengah masyarakat kita yang masih lebih mementingkan kecantikan, kekayaan, atau keturunan dalam memilih jodoh. Padahal Nabi sudah memberikan peringatan:

لاَ تَزَوَّجُوْا النِّسَاءَ لِحُسْنِهِنَّ فَعَسَى حُسْنُهُنَّ اَنْ يَرْدِيَهُنَّ وَلاَ تَزَوَّجُوْهُنَّ لأَمْوَالِهِنَّ فَعَسَى اَمْوَالُهُنَّ اَنْ تَطْغِيَهُنَّ وَلَكِنْ تَزَوَّجُوْهُنَّ عَلَى الدِّيْنِ وَلأَمَةٌ سَوْدَاءُ ذَاتُ دِيْنٍ اَفْضَلُ . البيهاقى

“Janganlah kalian menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin kecantikannya itu bisa mencelakakan. Dan jangan kamu kawini wanita karena hartanya, mungkin hartanya itu bisa membuatnya sombong. Tetapi, kawinilah mereka karena agamanya, sesungguhnya seorang hamba sahaya yang hitam warna kulitnya tetapi taat beragama, itu jauh lebih utama.” (HR Ibnu Majah, Al-Bazar, dan Al-Baihaqi dari Abdullah bin Umar).

Dalam sebuah hadis juga ditegaskan, “Orang yang menikahi wanita karena kedudukannya, Allah hanya akan menambah baginya kehinaan; yang menikahinya karena kekayaannya, Allah akan memberinya kefakiran; yang menikahinya karena nama besar keturunannya, Allah akan menambahkan kepadanya kerendahan. Akan tetapi, pria yang menikahi wanita karena menjaga pandangan mata dan memelihara nafsunya atau untuk mempererat kasih sayang, niscaya Allah akan memberkahi pria itu dan memberi keberkahan yang sama pada wanita (istrinya) sepanjang ikatan perkawinan.” (H.R. al-Thabarânî).

Hadirin, para sahabat dan kerabat yang saya hormati

Sekali lagi, kami sudah sepatutnya bersyukur. Kami telah membuktikan kebenaran inspirasi dari Umar dan petunjuk dari Nabi tersebut. Masalahnya bukanlah menikah dengan anak siapa, yang hartanya berapa, bukanlah rangkaian bunga mawar yang berlimpah. Menikah bukan sekadar upacara yang diramaikan gending cinta, bukan rancangan gaun pengantin ala cinderella, apalagi rentetan mobil undangan yang memacetkan jalan. Semua itu ternyata bukan jaminan segalanya akan lancar dan langgeng. Lalu apa?

Menikah adalah proses pendewasaan. Dan untuk memasukinya diperlukan pelaku yang kuat dan berani. Berani menghadapi masalah yang akan terjadi dan punya kekuatan untuk menemukan jalan keluarnya. Menikah adalah berani memutuskan untuk berlabuh. Kedengarannya indah, tapi kenyataannya susah. Harus ada komunikasi dua arah, ada kerelaan mendengar kritik, ada keikhlasan meminta maaf, ada ketulusan melupakan kesalahan, dan keberanian untuk mengemukakan pendapat. Menikah sangat membutuhkan keberanian tingkat tinggi, toleransi sedalam samudra, serta jiwa besar untuk ‘Menerima’ dan ‘Memaafkan’.

Pertanyaannya, untuk mewujudkan semua itu, adakah yang lebih baik daripada tuntunan agama? Bukankah semua itu sebutan lain dari tuntunan Islam untuk musyawarah, muasayarah bil makruf, ta‘awun, tawashaw bil haqq, dan tawashaw bis shabr? Bukannya keberanian itu lahir dari pribadi yang tawakal kepada Allah? Bukannya toleransi dan saling menerima dan memaafkan itu tumbuh pada pribadi yang tawaduk dan dipandu oleh ajaran Allah dan teladan Rasulnya? Pantas bila Nabi berpesan, “Tetapi, kawinilah mereka karena agamanya, niscaya Allah akan memberkahi sepanjang ikatan perkawinan.”

Rasanya pilihan saya sungguh tepat. Mitra hidup yang saya pilih bukan “jamaah” atau “syarifah”. Bukan hartawan dan artis kawakan. Tapi muslimah yang menyejukkan. Dialah orang yang percaya bahwa kesuksesan tak semata hasil jerih upaya manusia tapi juga karena pertolongan Tuhan. Saat saya berangkat kerja mencari nafkah, ia tak saja menyemangati dengan kata-kata dan senyuman, tapi juga mengiringi dengan shalat Duha dan panjatan doa kepada Tuhan. Dialah orang yang selalu wanti-wanti agar jangan sampai ada uang tak halal mengotori keberkahan hidup kami.

Wah, hadirin sekalian! Saya tiba-tiba teringat sebuah riwayat: Suatu hari seorang sahabat menghadap Nabi dan berkata, “Ya Rasulullah, aku mempunyai seorang istri yang selalu menyambutku ketika aku datang dan menghantarkanku saat aku keluar rumah. Jika ia melihatku termenung, ia sering menyapaku dengan mengatakan, “Ada apa denganmu? Apa yang kau risaukan? Jika rezekimu yang kau risaukan, ketahuilah rezekimu ada di Tangan Allah. Tapi jika yang kau risaukan adalah urusan akhirat maka semoga Allah menambah rasa risaumu.”

Setelah mendengar cerita sahabat itu, Nabi bersabda, “Sampaikan kabar gembira pada istrimu tentang surga yang sedang menunggunya. Katakan padanya, ia termasuk salah satu pekerja Allah. Allah mencatat setiap hari baginya pahala tujuh puluh syuhada.” (Makarimul Akhlaq: hal. 200).
Malam ini, saya juga ingin menyampaikan kabar gembira kepada istriku: “Ada surga menunggumu, Sayang. Semoga tiap hari Allah mencatatkan pahala tujuh puluh syuhada kepadamu.”
Rasul juga bersabda:

خَيْرُ النِّسَاءِ اِمْرَأَةٌ اِذَا نَظَرْتَ اِلَيْهَا سَرَّتْكَ, وَاِذَا أَمَرْتَهَا اَطَاعَتْكَ وَاِذَا اَقْسَمْتَ عَلَيْهَا اَبَرَّتْكَ وَاِذَا غِبْتَ عَنْهَا حَفِضَتْكَ فِي نَفْسِهَا وَمَالِكَ

“Istri yang paling baik adalah yang membahagiakanmu bila kamu memandangnya, yang mematuhimu bila kamu menyuruhnya, dan memelihara kehormatan dirinya dan hartamu bila kamu tidak ada,” (H.R. Thabrani).
Sekolah Peradaban di Rumah Kami

Untuk anak-anak saya, Abi punya cerita untuk kalian. Beratus tahun lalu, Abul Aswad Ad-Duali—seorang pujangga dan pencetus ilmu nahwu [tata-bahasa Arab]—pernah berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, aku telah berbuat baik kepadamu sejak kalian kecil hingga dewasa, bahkan sejak kalian belum lahir.”
“Sejak kami belum lahir?”
“Iya,” jawab Abul Aswad.
“Bagaimana caranya, Ayahanda?”
“Hmm… Ayah telah memilihkan untuk kalian seorang wanita terbaik di antara sekian banyak wanita. Ayah pilihkan untuk kalian seorang ibu yang pengasih dan pendidik yang baik untuk anak-anaknya.”

Mengomentari cerita ini, Abul Hasan Al-Mawardi—pakar fikih dan etika—berpendapat bahwa memilih istri merupakan hak anak atas ayahnya. Beliau mengutip perkataan Umar bin Khattab bahwa, ”Hak seorang anak yang pertama-tama adalah mendapatkan seorang ibu yang sesuai dengan pilihannya, memilih wanita yang akan melahirkannya. Yaitu, seorang wanita yang cantik, mulia, taat beragama, menjaga kesuciannya, pandai mengatur urusan rumah tangga, berakhlak mulia, bermental baik, serta setia pada suaminya di segala keadaan.”

Anak-anakku, malam ini Abi ingin menegaskan, “Abi telah memenuhi hak kalian itu.” Kelak, bila kalian hendak memilih pasangan hidup, ingatlah pesan Abi: “Pastikan dia bukan saja layak jadi istrimu tapi juga pantas menjadi calon pendidik bagi putra-putrimu!” Ya, seorang ibu itu adalah sekolah pertama kita semua. Al-Umm Hiyal-Madrasatul Ula. Dalam kata-kata penyair Nail,

Seorang ibu
adalah atap waktu
di bawahnya anak-anak menuntut ilmu
Peduli padanya
berarti mempersiapkan suatu bangsa
yang keringatnya mengalir penuh aroma

Satu lagi yang perlu kalian ingat selalu. Terbukti secara medis, pemberian ASI secara eksklusif dan optimal akan membuat bayi tumbuh sehat, kuat, dan cerdas. Bagaimana tidak? ASI mengandung 200 zat gizi dan memberikan kekebalan buat bayi 20 kali lipat. Zat-zat itu antara lain putih telur, lemak, protein, karbohidrat, vitamin, mineral, hormon pertumbuhan, berbagai enzim, zat kekebalan, dan lain-lain. Saking pentingnya ASI, WHO menganjurkan agar selama usia 0 sampai enam bulan bayi hanya diberi ASI sebagai menu utama dan satu-satunya. Empat abad silam Al-Quran juga memerintahkan: Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan…” (QS, Al Baqarah, 2:233)

Dan, efektivitas pemanfaatan ASI akan terasa sekali bila yang menyusui bayi itu adalah ibunya sendiri. Anak-anakku—sesuai anjuran Al-Quran, kalian bertiga diberi ASI secara eksklusif oleh Ibu sendiri. Maka ingat pula pesan Al-Quran untuk kalian:
Dan Kami perintahkan kepada manusia [berbuat baik] kepada dua orangnya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kamu kembali (QS Luqman [31]: 14)
Suatu ketika seseorang datang kepada Rasulullah dan bertanya:

يَا رَسُوْلَ اللهِ مَنْ اَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِى؟ قَالَ:أُمُّكَ. قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟, قَالَ:أُمُّكَ. قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟, قَالَ:أُمُّكَ. قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟, قَالَ:اَبُوكَ. (البخارى ومسلم

“Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak kuperlakukan dengan baik?”
Nabi menjawab, “Ibumu!” Ia bertanya, “Kemudian siapa?” Nabi menjawab, “Ibumu!” Ia bertanya, “Lalu siapa lagi?” Nabi menjawab, “Ibumu!” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa lagi?” Nabi menjawab, “Kemudian bapakmu.” (HR Bukhari dan Muslim).

Bertengkar Bisa Membuat Cinta Kian Mekar

Lalu, pernahkah kami bertengkar? Tentu saja sering. Bohong bila dibilang tak pernah ada konflik dan perselisihan. Sebab, ada dua persepsi yang kerap berbeda. Perasaan kita juga fluktuatif—pasang surut atau yazid wa yanqush. Tapi kami percaya, konflik adalah bagian dari kehidupan—bahkan diperlukan untuk mempererat hubungan.
Ada sebuah cerita kegemaran saya yang berasal dari Thailand Timur Laut: Sepasang pengantin baru tengah berjalan bergandengan tangan di sebuah hutan pada suatu malam musim panas yang indah seusai makan malam. Mereka sedang menikmati kebersamaan yang menakjubkan tatkala mereka mendengar suara di kejauhan, “Kuek! Kuek!”
“Dengar,” kata si istri, “itu pasti suara ayam.”
“Bukan, bukan. Itu suara bebek,” kata si suami.
“Nggak, aku yakin itu ayam,” si istri bersikeras.
“Mustahil. Suara ayam itu ‘kukuruyuuuuuuk!’, bebek itu ‘kuek! kuek!’ Itu bebek, Sayang,” kata si suami dengan disertai gejala-gejala awal kejengkelan.
“Kuek! Kuek!” terdengar lagi.
“Nah, tuh! Itu suara bebek,” kata si suami.
“Bukan, Sayang… Itu ayam! Aku yakin betul!” tandas si istri, sembari menghentakkan kaki.
“Dengar ya! Itu a… da… lah… be… bek, B-E-B-E-K. Bebek! Tahu?!” si suami berkata dengan gusar.
“Tetapi itu ayam!” masih saja si istri berkeras.
“Itu jelas-jelas bue… bek! Kamu ini… kamu ini…!”
Terdengar lagi suara, “Kuek! Kuek!” sebelum si suami mengatakan sesuatu yang sebaiknya tak dikatakannya.
Si istri sudah hampir menangis, “Tetapi itu ayam …”
Si suami melihat air mata yang mengambang di pelupuk mata istrinya, dan akhirnya teringat, kenapa dia menikahinya. Wajahnya melembut dan katanya dengan mesra, “Maafkan aku, Sayang. Kurasa kamu benar. Itu memang suara ayam kok.”
“Terima kasih, Sayang,” kata si istri sambil menggenggam tangan suaminya.
“Kuek! Kuek!” terdengar lagi suara di hutan, mengiringi mereka berjalan bersama dalam cinta.
Maksud dari cerita bahwa si suami akhirnya sadar: siapa sih yang peduli itu ayam atau bebek? Yang penting adalah keharmonisan mereka, yang membuat mereka dapat menikmati kebersamaan pada malam yang indah itu. Berapa banyak pernikahan yang hancur hanya gara-gara persoalan sepele? Berapa banyak perceraian terjadi karena hal-hal “ayam atau bebek”?

Setiap kali mengingat cerita tersebut, kita akan ingat apa yang menjadi prioritas kita. Pernikahan jauh lebih penting ketimbang mencari siapa yang benar tentang apakah itu ayam atau bebek. Lagi pula, betapa sering kita merasa yakin, amat sangat mantap, mutlak bahwa kita benar, namun belakangan ternyata kita salah? Lho, siapa tahu? Mungkin saja itu adalah ayam yang direkayasa genetik sehingga bersuara seperti bebek? 😀

Selain itu, bertengkar di sini bukan berarti saling memukul atau menyakiti, ataupun sekadar ancaman untuk melakukannya. Pertengkaran, dalam situasi sehat, adalah luapan perasaan dan informasi tentang perbedaan pendapat yang sangat cepat dan biasanya gaduh. Pertengkaran adalah kebalikan dari diskusi tenang, karena emosi kita diungkapkan secara terang-terangan dan keras. Ini bukan pertanda pernikahan bermasalah, justru merupakan langkah penting untuk membangun lagi kedekatan yang tenggelam dalam ketidakacuhan.

Jika kita tidak peduli, tak akan ada pertengkaran. Karena kita terlibat dan peduli itulah pertengkaran menjadi suatu kebutuhan. Kombinasi perbedaan dan kedekatan menciptakan aliran energi. Aliran energi yang kecil disebut diskusi, stimulasi, memberi dan menerima; sedangkan aliran besar disebut pertengkaran. Kemarahan yang terbentuk memungkinkan Anda mengungkapkan kebenaran yang sebelumnya tak mampu Anda suarakan. Dengan kata lain, hasil dari pertengkaran adalah tingkat kejujuran lebih tinggi.

Saat terjadi pertengkaran, sering pesannya sendiri amat positif. Kalaupun isi pesan itu adalah “Kau tidak mengerti aku, kau tidak menghiraukan kebutuhanku”, alasan Anda mengatakan itu adalah karena Anda ingin ada saling pengertian dan merasa hubungan ini layak diperjuangkan

Memang, pertengkaran bisa menjadi-jadi, dan tentu saja akhirnya merusak. Konflik dan pertikaian yang berlarut-larut hanya akan membawa kita kepada kesia-siaan dan kehancuran. Cerita George W Burns, seorang ahli psikoterapi, mengilustrasikan hal ini dengan baik dalam 101 Healing Stories. Dikisahkan sepasang suami istri yang selalu bertengkar. Setelah berpuluh-puluh tahun mengasah keterampilan mereka bertengkar, mudah sekali konflik terjadi, bahkan terkadang disulut oleh masalah yang sangat sepele. Pada suatu hari sang suami yang baru pulang dari kerja melintas di sebuah kebun milik tetangga. Ia tergiur melihat buah mangga yang matang di pohon. Setelah memastikan keadaan aman, ia pun mencuri tiga buah. Setibanya di rumah, ia memberikan satu buah kepada istrinya, dan menyisakan dua buah untuk dirinya. Tahu bahwa sang suami mendapat dua buah, sang istri pun mengomel, “Kamu curang! Berikan yang satu lagi, aku kan lelah seharian mengurus rumah” Sang suami tidak kalah garang, ia menimpali, “Kamu yang tidak tahu diri, aku seharian bekerja di luar, banting tulang mencari nafkah, pantas kalau aku mendapat dua.” Begitulah, keributan terus meruncing sampai kemudian sang suami menawarkan bertaruh dengan satu buah miliknya, “Siapa saja yang paling lama diam, maka buah ini miliknya” Sang istri setuju, ia masuk ke dalam kamar dan mengunci rapat mulutnya, sang suami berbaring di sofa dan mulai menghentikan pembicaraan. Keadaan inipun berlalu hingga satu minggu.

Para tetangga tentu merasa heran, tidak biasanya rumah ini tenang, padahal setiap hari mereka selalu mendengar suara keributan bahkan tidak jarang mereka melihat piring terbang. Didesak oleh rasa penasaran, para tetangga memasuki rumah itu, mereka mendapati dua sosok suami istri itu berbaring lemah, membisu dan tiada bergerak lagi. Melihat keadaan suami istri yang tidak berdaya itu, mereka menganggap keduanya sudah mati, maka disiapkanlah upacara penguburan. Saat akan dimasukkan ke liang kubur, tiba-tiba sang suami berteriak keras ketakutan, “Kalian bodoh, aku belum mati, kenapa hendak dikubur?” Demi mendengar teriakan suaminya, sang istri pun lompat kegirangan sambil berkata, “Hore, aku menang, satu buah itu milikku” ia segera lari menuju rumahnya, sang suami mengejarnya. Mereka berlarian sekencang-kencangnya untuk mengalahkan saingannya memperebutkan buah mangga yang menjadi masalah. Setibanya di rumah, mereka mendapati tiga buah mangga itu masih tersimpan di dapur, dan semuanya sudah busuk!

Begitulah, konflik yang akut hanya membawa kita kepada kesia-siaan. Karena itu, kita perlu belajar bertengkar dengan aman dan sehat. Sebagai muslim, belakangan kami menyadari betapa Islam telah menyediakan prinsip-prinsip penting yang bisa menyelamatkan kita dari pertengkaran yang menjadi-jadi, apalagi mengarah ke perpisahan. Tanpa bermaksud menggurui, saya kira kita layak merenungkannya kembali.

Pertama, gemar bermusyawarah. Cinta saja tidak cukup untuk menyelesaikan kusut-masai persoalan rumah tangga. Persoalan hanya dapat diselesaikan dengan jalan musyawarah, saling mengemukakan pendapat untuk mencari titik persamaan yang terbaik. Dalam musyawarah tidak ada pendapat yang dimenangkan dan dikalahkan, karena hasil musyawarah adalah perpaduan terbaik dari pendapat-pendapat yang ada.
Konon, musyawarah berasal dari kata syawr, yang berarti madu. Jadi, musyawarah mula-mula berarti mengambil madu dari sarang lebah. Artinya, musyawarah itu untuk “mencari madu” atau yang terbaik dari berbagai pendapat. Hasil dari musyawarah merupakan yang terbaik dari berbagai pandangan, laksana madu lebah yang tidak hanya manis tapi sekaligus menjadi sumber energi bagi yang meminumnya.
Yang menarik, dalam Al-Quran kita hanya menemukan tiga ayat tentang musyawarah.

Pertama, diperintahkan kepada Nabi saw. untuk memusyawarahkan urusan masyarakat dengan masyarakat itu (Q.S. Âlu ‘Imrân [3]: 159). Kedua, pujian Tuhan kepada orang mukmin yang senantiasa memusyawarahkan urusan mereka (Q.S. al-Syûrâ: 38). Ketiga, musyawarah antar suami-istri (Q.S. al-Baqarah [2]: 233). Jadi, Tuhan Mahatahu betapa pentingnya musyawarah dalam keluarga.

Kedua, komitmen pada perjanjian sakral. Tentang pernikahan, Tuhan berfirman: Dan, mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat (al-Nisâ’ [4]: 21). Dengan kata lain, akad nikah itu disebut-sebut sebagai “mitsaqan ghalizha” (perjanjian yang kuat atau berat). Tuhan menggunakan bahasa yang sama ketika berbicara tentang perjanjian dengan Bani Israel (al-Nisâ’ [4]: 21) dan perjanjian dengan nabi-nabi: Nuh Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad saw. (al-Ahzâb [33]: 7).

Dengan demikian, akad pernikahan sama seriusnya dengan perjanjian para nabi dan sama dahsyatnya dengan perjanjian Bani Israil di bawah Bukit Thur yang bergantung di atas kepala mereka. Di mata Tuhan, perjanjian pernikahan ini tidak main-main. Maka ketika kita bertengkar, sesengit apa pun, cukuplah piring yang pecah. Perang urat saraf boleh berkecamuk, tapi jangan sampai meninggalkan “medan”. Komitmen kita untuk menjaga “mitsaqan ghalizha” ini bisa menyelamatkan kita dari pertengkaran berlarut-larut. Kita langsung ingat “gambaran besar” kenapa kita menikah dan berumah tangga.

Ketiga, prinsip pakaian satu sama lain. Allah berfirman, Mereka (istri-istrimu) adalah (ibarat) pakaian kalian, dan kalian adalah (ibarat) pakaian mereka (Q.S. al Baqarah: 187). Layaknya pakaian, masing-masing suami dan istri harus bisa menjalankan
fungsinya sebagai (a) penutup aurat [aib atau sesuatu yang memalukan] dari pandangan
orang lain, (b) pelindung dari panas dinginnya cuaca kehidupan, dan (c) kebanggaan dan
keindahan bagi pasangannya.
Dalam keadaan tertentu pakaian mungkin bisa diperkecil, dilonggarkan, ditambah aksesoris, dan sebagainya. Mengatasi perbedaan selera, kecenderungan, dan gaya hidup antara suami istri diperlukan pengorbanan kedua belah pihak. Masing-masing harus bertanya apa yang dapat saya berikan, bukan apa yang saya mau.

Tujuh Indikator Kita Bahagia

Sekarang, di usia yang kian beranjak ini, jika saya ditanya apakah kami bahagia? Saya buru-buru akan menjawab, “Ya, kami bahagia.” Apa indikatornya? Saya langsung teringat seorang sahabat-Nabi yang sangat telaten menjaga dan melayani Rasulullah saw. Dialah Ibnu Abbas. Ia pernah didoakan secara khusus oleh beliau untuk kecerdasannya. Pada usia 9 tahun, ia telah hafal Al-Quran dan mengimami shalat di masjid.
Suatu hari, Ibnu Abbas ditanya oleh para tabiin: apa ciri-ciri kebahagiaan itu. Ia menjawab bahwa ada tujuh tanda kebahagiaan hidup di dunia. Tujuh indikator ini pulalah yang kami rasakan selama ini.

Pertama: Qalbun syâkirun, hati yang selalu bersyukur. Artinya, selalu menerima apa adanya (qana’ah), sehingga tidak ada ambisi berlebihan dan tidak perlu ada stres. Bila pandai bersyukur niscaya kita cerdas memahami kasih sayang Allah. Apa pun yang diberikan-Nya selalu bernilai dan membuat kita dekat kepada-Nya. Kita selalu menerima segala keputusan Allah secara positif. Bila sedang dirundung kesulitan, kita segera ingat sabda Rasulullah, “Kalau kita sedang sulit, perhatikanlah orang yang lebih sulit daripada diri kita.” Bila sedang diberi kemudahan, kita sadar, itu adalah ujian dan kita semakin bersyukur.
Kami juga telah membuktikan bahwa apa pun yang kita syukuri dalam hidup ini akan bertambah terus. Itulah apa yang disebut the Law of Increase oleh para psikolog mutakhir. Cinta, sikap positif, persahabatan, sukses, dan anugerah akan selalu bertambah bila kita menghargai dan mensyukurinya. Allah berfirman: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu (QS Ibrahim [14]: 7).
Kini kita dikepung atmosfer negatif. Media memberondong kita dengan berita buruk. Iklan membuat kita selalu dihantui kekurangan. Kita pun suka mengecam diri sendiri, fokus pada aspek-aspek negatif kehidupan dan hal-hal yang tidak kita sukai dari orang lain. Maka, menghidupkan qalbun syâkirun saat ini sungguh tak bisa ditawar-tawar lagi.

Kedua: Azwâj Shâlihah, pasangan hidup yang saleh. Para peneliti membuktikan bahwa kesalehan (inner beauty) adalah 2/3 faktor penentu kebahagiaan hidup, sedangkan kecantikan atau ketampanan dan kekayaan hanyalah 1/3 darinya. Dalam konteks ini, saya sudah memaparkannya cukup panjang lebar. Inilah prinsip kami: begitu mengikat janji sebagai suami istri, kami bukan lagi berusaha mencari pasangan ideal, melainkan berusaha menjadi pasangan ideal. Kami memang bukan keluarga yang bebas dari salah dan masalah. Tapi kami akan belajar dari kesalahan dan permasalahan yang ada. Hanya dengan itulah cara Tuhan mendidik kita agar terus tumbuh dewasa. Semoga kami menjadi sepasang pakaian yang tak saja saling menutupi kekurangan, tapi juga saling memantaskan satu sama lain. Biarkan kami jadi sepasang doa yang saling mengamini.

Ketiga: al-Aulad Al-Abrâr, anak-anak yang baik. Anak-anak yang senantiasa berbakti dan mendoakan orangtua. Suatu ketika, seseorang datang menemui Nabi saw. dan berkata, “Ya Rasulullah, aku berjanji padamu untuk berhijrah dan berjihad.” Mendengar hal itu, Nabi bertanya, “Adakah di antara kedua orangtuamu yang masih hidup?” Orang itu menjawab, “Ya. Bahkan keduanya masih hidup.” Nabi berkata, “Engkau menginginkan pahala?” “Tentu, wahai Rasulullah,” jawabnya. Nabi berkata, “Pulanglah ke kedua orangtuamu dan temani mereka dengan baik.” (HR Muslim)

Bayangkan, Rasulullah lebih mengutamakan birrul walidain daripada panggilan jihad dan Hijrah. Dalam Al-Quran Allah berfirman, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak” (QS an-Nisa: 36). Di dalam ayat ini perintah berbakti kepada dua orangtua disandingkan dengan amal paling utama, yaitu tauhid. Bahkan Rasulullah menegaskan,

رِضَى اللهِ فِى رِضَى الْوَالِدَيْنِ وسُخْطُ اللهِ فِى سُخْطِ الْوَالِدَيْنِ.  الترمذى

“Keridhaan Allah terletak pada keridhaan kedua orangtua, dan kemurkaan Allah terletak pada kemurkaan kedua orangtua” (HR Tirmidzi).

Dengan segenap upaya saya sudah merasa berbakti kepada orangtua. Namun, saya insaf betapa belum apa-apa setelah membaca kisah ini: Ketika bertawaf, Rasulullah bertemu dengan anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Ketika selesai, beliau bertanya kepada anak muda itu, “Kenapa pundakmu itu?”

Anak muda itu menjawab, “Rasulullah, aku dari Yaman. Aku mempunyai ibu yang sudah uzur. Ia tidak mau jauh dariku. Aku pun sangat mencintainya dan tidak akan pernah jauh-jauh darinya, kecuali ketika aku buang hajat, mengerjakan shalat, atau ketika beristirahat. Selain itu, aku selalu menggendongnya. Aku ingin bisa berbakti selama usianya masih ada.”
Lalu anak muda itu bertanya, “Dalam keadaan demikian, apakah aku sudah termasuk orang berbakti kepada orangtua?”
Rasulullah memeluk erat anak muda itu dan mengatakan, “Sungguh! Allah meridaimu. Kau anak saleh. Anak berbakti. Tapi ketahuilah, Anakku. Cinta orangtuamu kepadamu tidak akan ditandingi oleh kebaikanmu kepadanya.”

Keempat: al-Bî‘ah al-shâlihah, lingkungan yang baik dan kondusif. Yang dimaksud baik dan kondusif ialah lingkungan yang senantiasa mengingatkan dan mendorong kita pada kebaikan. Sebab, manusia sangat dipengaruhi, baik secara sadar maupun tidak, oleh orang-orang yang bersama mereka. Penelitian yang dikutip Prof. Dr. Zakiah Darajat menyebutkan bahwa perilaku manusia 83% dipengaruhi oleh apa yang dilihat, 11% oleh apa yang didengar dan 6% sisanya oleh gabungan dari berbagai stimulus. Maka pengaruh lingkungan terhadap pembentukan kepribadian sangat besar.

Tentu saja dimulai dari lingkungan keluarga. Dari sikap tegas Ayah, anak-anak bisa belajar disiplin; dari kelembutan Ibu mereka bisa belajar sikap kasih dan ramah kepada orang lain. Selain itu, ada beberapa hadis Nabi yang menginspirasi kami dalam keluarga. Pertama, Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah mencintai seorang mukmin yang profesional.” Kedua, Rasulullah Saw. bersabda, “Orang paling baik adalah orang yang memakan makanan dari hasil usahanya sendiri. Sesungguhnya Nabi Daud selalu makan dari hasil usahanya sendiri.” Ketiga, Rasulullah Saw. bersabda, “Ya Allah, berkatilah umatku yang giat pada waktu pagi.”

Ketiga hadis itu memacu kami untuk maju, mandiri, dan giat bekerja. Dalam belasan tahun ini kami akhirnya merasakan hasilnya. Khusus untuk Anak-anak saya, baca berulang-ulang hadis di atas. Camkan dalam pikiran dan buktikan dalam tindakan. Alhamdulillah, sesuai kapasitas dan latar belakang saya, Abi telah membuktikan kedahsyatan sabda Nabi tersebut. Masalahnya, ketika Abi super sibuk dan melewati masa-masa produktif dengan beraktivitas tingkat tinggi, kalian masih kanak-kanak atau bayi. Sehingga, semangat juang tinggi yang ditandai pulang tengah malam dan berangkat pagi tidak sempat kalian amati. Belum lagi berbagai perjalanan dinas di luar kota dan luar negeri. Maka, jangan kalian melihat pola kerja Abi saat ini. Bila sekarang Abi lebih santai, jangan tiru. Karena selain usia yang kian bertambah, Abi juga merasa sudah tidak perlu ngoyo lagi. Estafet kemandirian, kedisiplinan, dan kegigihan untuk berkarya sudah saatnya kalian ambih alih.

Kekuatan lingkungan juga ditamsilkan oleh Nabi dengan indah: bergaul dengan orang baik itu seperti orang yang berdekatan dengan penjual minyak wangi, meskipun tidak membeli dirinya tetap ikut wangi; sementara bergaul dengan orang buruk ibarat berakrab-akrab dengan tukang pandai besi; kalau tidak terpercik apinya, hampir pasti abunya akan mengotori pakaiannya.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah juga menegaskan:

اَلْمَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang itu tergantung perilaku dan kebiasaan temannya, maka hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan dengan siapa ia akan berteman.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Kini, ada beragam jenis pertemanan: pertemanan dengan komunitas di dunia maya, dengan program yang kita tonton di televisi, pesan-pesan yang kita baca di dalam buku dan surat kabar, dan musik yang kita dengarkan. Setiap hari kita memilih pengaruh-pengaruh yang memasuki pikiran dan membentuk masa depan kita. Maka menjaga pergaulan dan selektif memilih bacaan dan tontonan juga bagian dari pembentukan lingkungan yang kondusif.

Kelima: al-Mâl al-Halâl, harta yang halal. Yang terpenting dalam Islam kualitas harta, bukan kuantitasnya. Ini bukan berarti Islam tidak menganggap penting umatnya menjadi kaya. Hanya saja, harta yang diperoleh secara halal akan memberi ketenangan dalam hidup.

Selain itu, manfaat harta yang bersih dan halal di tangan orang yang tepat sangat banyak. Nabi mengibaratkan seperti pohon kurma yang tidak menyisakan sedikit pun bagian melainkan seluruhnya bermanfaat untuk manusia. Dengan hidup berkecukupan, menuntut ilmu menjadi mudah, beribadah menjadi lancar, bersosialisasi menjadi gampang, bergaul semakin indah, berdakwah semakin sukses, berumah tangga semakin stabil, dan beramal saleh semakin tangguh. Singkatnya, harta yang halal bisa berfungsi sebagai sarana penyeimbang dalam beribadah dan perekat hubungan dengan sesama.
Saya juga teringat riwayat Imam Muslim: Suatu ketika, Rasulullah menjumpai seorang sahabat yang berdoa dengan mengangkat tangan. “Kau berdoa sudah bagus,” kata beliau. “Namun, sayang, makanan, minuman, dan pakaian, serta tempat tinggal yang kaumiliki didapat secara haram. Bagaimana bisa doanya dikabulkan?!” Ibnu Rajab al-Hambali menjelaskan: Hadis ini mengisyaratkan bahwa suatu amalan tidak diterima dan tidak berkembang kecuali dengan makanan halal. Dan sesungguhnya memakan makanan haram dapat merusak dan menjadikan amalan tidak diterima. (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, Syarah hadits ke-10).

Keenam: Tafaqquh fi al-dîn, semangat untuk memahami agama. Hanya dengan memahami agama hidup manusia akan terarah. Hanya dengan ilmu, amal manusia bernilai pahala. Agama itu sangat luas. Agama ibarat samudra yang dalam dan tak bertepi, ilmu kita seperti wadah untuk menampungnya. Bisa jadi wadah kita baru segelas, seember, dan sedanau, dan seterusnya. Dengan terus mengkaji, memahami, dan mengamalkan ilmu kita, kita sebenarnya terus memperluas wadah itu. “Carilah ilmu sejak dari buaian ibu hingga liang lahat. Uthlubul ‘ilma minal mahdi ilal-lahdi,“ kata Nabi. Itulah long life-learning, kata pakar pendidikan.

Bagi saya, tak perlu ada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum—antara ilmu religius dan ilmu sekuler. Keduanya bisa saling melengkapi dan menunjang. Keduanya kita butuhkan secara integral. Pembedaan itu hanyalah sebagai rumpun-rumpun yang memudahkan orang untuk mendalaminya sesuai minat dan bakat seseorang. Selama didasari niat baik, apa pun yang kita pelajari akan dicatat sebagai bekal ibadah kepada-Nya.

Dalam konteks ini, saya membentuk keluarga pembelajar. Yakni, sosok keluarga yang haus akan ilmu. Itulah keluarga yang memberi kesempatan dan mendorong setiap individu dalam keluarga kita untuk terus belajar dan memperluas kapasitas dirinya. Karena hanya keluarga seperti itulah yang siap menghadapi perubahan zaman.
Konon, Rasulullah mencintai istrinya tidak dengan berlutut dan memberikan sekuntum bunga, atau memberlakukan mereka seperti puluhan bunga yang dipetik ketika mekar dan dibuang ketika layu, tetapi dengan membimbing semua potensi kemanusiaan terbaik di dalam diri mereka, hingga potensi itu berbunga sempurna dan dicatat malaikat keabadian.
Untuk Anak-Anak saya, Abi teringat pesan Sayyidina Ali kw: “Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya. Sungguh mereka akan menghadapi masa yang berbeda dari masamu.”

Kini, globalisasi dengan segala aspeknya tidak bisa dihindari. Bahkan, sejak tahun 2000-an, kita memasuki masa baru: Globalisasi 3.0. Kalau motor penggerak Globalisasi 1.0 adalah mengglobalnya negara; dan motor penggerak Globalisasi 2.0 adalah mengglobalnya perusahaan, kini motor penggerak Globalisasi 3.0 adalah internet yang mampu menyatukan komputer pribadi di seluruh dunia tanpa menghiraukan jarak antarmereka.

Sekadar sebuah ilustrasi, dua puluh tahun lalu, kita baru mengetahui suatu kejadian di tempat lain paling cepat sehari setelah peristiwa itu terjadi. Itu pun beritanya masih sepotong-sepotong. Kini, informasi menghampiri ruang hidup kita setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik bila kita menginginkannya. Berita-berita itu bukan hanya berasal dari media mainstream, sering kali justru datang dari pelakunya sendiri, atau orang yang berada di dekat tempat kejadian. Makin maraknya kegiatan menulis di blog, media sosial (Facebook, Twitter, Kaskus) atau website milik sendiri menunjukkan bahwa citizen journalist punya tempat di hati pembacanya.

Apa artinya? Kita makin tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Teknologi informasi telah memudahkan kita menembus berbagai tempat yang dulu tak dapat kita jelajahi. Semua pusat pengetahuan di planet ini terajut menjadi jaringan tunggal. Konon, bila tidak dirusak oleh politik dan terorisme, jaringan ini mampu mengantar kita pada masa kesejahteraan, pembaharuan, dan kerja sama antar perusahaan, masyarakat, maupun pribadi yang mengagumkan.

Namun, pertarungan akan menjadi lebih keras dan kompetitif, dan hanya kelompok yang kuat yang akan mampu mempertahankan peradabannya di dunia mayantara ini. Lebih dari itu, tidaklah mustahil ke depan akan berkembang menjadi Globalisasi 0.4, 0.5., 0.6, dan seterusnya. Tak ada kata mundur. Tak ada jalan lain kecuali kalian—Anak-Anakku—menghadapinya serta turut memainkan peran dalam setiap tantangan dan peluang yang tersedia. Tentu saja dengan membekali diri dengan pengetahuan, keterampilan, dan wawasan dalam konteks global. [ditambahi cerita pendidikan Afif?]
Teruslah tangkap tanda-tanda zaman yang terus berubah. Hadapilah semua itu melalui ilmu dan iman. Dengan ilmu pengetahuan, kita pantas dan layak mewakili Tuhan dalam mengelola bumi serta bekerja untuk kesejahteraan sesama. Dengan bekal iman, kita bisa mengabdi kepada Allah secara tulus dan terus-menerus. Secara horizontal, kita berkhidmah kepada manusia secara tepat guna sesuai zaman global, secara vertikal kita beribadah kepada Allah secara benar dan istiqamah. Dengan begitu, kalian akan jadi Muslim kelas dunia—rahmatan lil alamin.
Ketujuh: umur yang berkah. Ingatkah kita pada doa para kerabat dan undangan saat kita baru menikah?

بارك الله لك وبارك عليك وجمع بينكما فى خير

[Barakallahulaka wabaraka ‘alaika, wajama’a bainakuma fi khair]

“Semoga Allah memberkahi kamu dan semoga Allah memberkahi untuk kamu, serta semoga kalian berdua disatukan dalam kebaikan.”

Secara bahasa, berkah atau barokah maknanya adalah ziyadatul khair (tambahan kebaikan), sesuatu yang multiguna, bertambah kualitas dan kuantitasnya, bertambah kegunaannya, bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat.
Jadi, umur yang berkah berarti semakin tua semakin mulia. Keberkahan adalah menetapnya kebaikan dari Allah pada sesuatu di dalam kehidupan kita. Apabila berkah terdapat pada sesuatu yang sedikit, niscaya ia akan berkembang menjadi banyak, sedangkan apabila berkah tersebut terdapat pada sesuatu yang banyak, maka niscaya ia akan semakin bermanfaat.
Salah satu kiat agar hidup kita kian berkah, kami selalu mengingat sabda Rasulullah saw:

مَنْ كَانَ يَوْمُهُ كَأَمْسِهِ فَهُوَ خَاسِرٌ, وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ خَيْرًا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ , وَ مَنْ كَانَ يَوْمُهُ شَرًّا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَهَالِكٌ

“Barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia orang yang rugi. Dan barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka ia orang yang beruntung. Dan barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin berarti ia orang yang binasa.”

Usia juga disebut berkah karena ia digunakan untuk mempersiapkan bekal bertemu Allah. Maka semakin tua akan semakin bahagia, bersikap optimis, dan bergairah. Tidak ada ketakutan untuk meninggalkan dunia fana ini. Semakin tua semakin rindu untuk bertemu dengan Sang Pencipta. Kebaikan dan karyanya melampaui usianya. Dengan muka berseri-seri mereka menanti janji Allah dalam firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّة جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ
ِ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Rabb mereka adalah surga ‘Adn yang di bawahnya sungai-sungai mengalir. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah [balasan] bagi orang yang takut kepada Rabb-nya.” (QS Al-Bayyinah: 7-8)

sumber: Kiriman via email oleh Pak Muh, sekretaris direksi Yayasan perguruan Al-Irsyad Surabaya (YPAS)

Share This: