AGAR PERBUATAN BAIK ANDA TIDAK SIA-SIA

الإحسان

Berbuat ihsan dan memberi manfaat kepada manusia, merupakan ibadah yang sangat agung. Tetapi agar seorang Muslim bisa mengerjakan perbuatan ihsan dengan baik dan benar, dia mesti memperhatikan beberapa perkara di bawah ini:

1- Ikhlas dalam beramal hanya karena Allah SWT. Dan hendaknya ia hanya bermaksud mencari wajah Allah, serta memberikan manfaat kepada saudaranya yang muslim dalam amalan tersebut. Rasulullah saw bersabda,

((إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّياَّتِ، وَإِنَّماَ لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى…)) [رواه مسلم]

“Sesungguhnya segala perbuatan, pasti ada niatnya. Dan bagi setiap orang[1] tergantung apa yang diniatkannya.” (HR. Muslim)

Intinya, seseorang tidak mengerjakannya karena mencari pujian, sanjungan, atau kedudukan di hadapan kaumnya. Juga tidak mencari bagian-bagian duniawi lainnya.

`Aun bin Abdillah rahimahullah berkata,

((إِذَا أَعْطَيْتَ الْمِسْكِيْنَ شَيْئاً، فَقَالَ: بَارَكَ اللهُ فِيْكَ، فَقُلْ أَنْتَ: بَارَكَ اللهُ فِيْكَ، حَتَّى تَخْلُصَ لَكَ صَدَقَتُكَ))[2]

“Jika anda memberikan sesuatu kepada seorang miskin. Lalu dia berkata kepada anda, ‘Baarakallahu fiik’[3], maka katakan balik kepadanya, ‘Baarakallahu fiik’, agar sadaqah itu menjadi murni milik anda.”

Ucapan seperti ini juga diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu anha.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

“فَمَنْ كاَنَ مُخْلِصاً فِيْ أَعْمَالِ الدِّيْنِ، يَعْمَلُهَا ِللهِ، كاَنَ مِنْ أَوْلِيَاءِ اللهِ الْمُتَّقِيْنَ، أَهْلِ النَّعِيْمِ الْمُقِيْمِ”[4]

“Barangsiapa yang ikhlas dalam mengerjakan seluruh perintah agama. Ia mengerjakannya hanya karena Allah, maka dia termasuk wali-wali Allah yang bertaqwa, yang menjadi penduduk kenikmatan abadi.”

2- Menghindari riya`. Menghindari cinta pamor dan jabatan. Serta tidak merasa bangga (ujub) dengan amal perbuatan itu, dan tidak memberitahukannya kepada orang lain.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

“لاَ شَيْءَ أَفْسَدُ ِللأَعْمَالِ مِنَ الْعُجْبِ وَرُؤْيَةِ النَّفْسِ، وَلاَ شَيْءَ أَصْلَحُ لَهَا مِنْ شُهُوْدِ الْعَبْدِ مِنَّةَ اللهِ وَتَوْفِيْقِهِ وَالاِسْتِعَانَةِ بِهِ وَاْلاِفْتِقَارِ إِلَيْهِ وَإِخْلاَصِ الْعَمَلِ”[5]

“Tiada sesuatu paling merusak amal perbuatan dibandingkan ujub (takjub) dan mencari pamor. Dan tiada sesuatu yang paling memperbaiki amal dibandingkan persaksian seorang hamba akan pemberian dan taufiq Allah kepadanya, di samping ia senantiasa memohon pertolongan kepada-Nya, merasa sangat membutuhkan-Nya, dan mengikhlaskan amal perbuatan.”

Karena itulah, maka keikhlasan menjadi sangat sulit dipraktekkan. Sahl bin Abdullah rahimahullah berkata,

“لَيْسَ عَلَى النَّفْسِ شَيْءٌ أَشَقُّ مِنَ اْلإِخْلاَصِ، ِلأَنَّهُ لَيْسَ لَهَا فِيْهِ نَصِيْبٌ”[6]

“Tiada sesuatu yang paling berat bagi jiwa dibandingkan keikhlasan. Karena dengan keikhlasan ini, jiwa tidak bakal mendapat bagian sedikit pun.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah telah menyebutkan hadits nabi saw tentang wanita pelacur yang memberi minum anjing kemudian Allah swt Mengampuninya. Juga seorang lelaki yang menghindarkan gangguan dari jalan kemudian Allah SWT Mengampuninya. Setelah itu beliau berkata,

“فَهَذِهِ سَقَتِ الْكَلْبَ بِإِيْمَانٍ خَالِصٍ كاَنَ فِيْ قَلْبِهَا فَغَفَرَ لَهَا، وَإِلاَّ فَلَيْسَ كُلُّ بَغِيٍّ سَقَتْ كَلْباً يُغْفَرُ لَهَا، فَاْلأَعْماَلُ تَتَفَاضَلُ بِتَفَاضُلِ ماَ فِي الْقُلُوْبِ مِنَ اْلإِيْمَانِ وَاْلإِجْلاَلِ.”[7]

“Wanita pelacur ini, ia memberi minum anjing karena keimanan murni yang menancap dalam hatinya. Oleh sebab itu Allah Mengampuninya. Karena bukan setiap pelacur yang memberi minum anjing patut diampuni. Intinya, segala amal perbuatan berbeda-beda tingkatannya, sesuai dengan perbedaan keimanan dan pengagungan yang terdapat dalam hati.”

3- Jangan sampai kebaikan yang kita persembahkan ini, kita tujukan untuk memperoleh manfaat duniawi. Misalnya kita memberikan syafaat kepada si fulan, agar dia memberi syafaat kepada kita pada situasi yang lain. Atau kita berbuat ihsan kepada orang yang kita kenal, karena menanti sebuah hajat (keperluan) yang bakal kita minta padanya di masa depan.

4- Menghindarkan diri dari mengungkit-ungkit (kebaikan) dan menyakiti. Allah telah Berfirman,

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُونَ مَا أَنْفَقُوا مَنًّا وَلَا أَذًى لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (262) قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ [البقرة/262، 263]

 

 “Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Perkataan yang baik dan pemberian maaf[8] lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (QS. Al-Baqarah: 263)

Jadi, menyebut-nyebut kebaikan sama dengan menghancurkan kebaikan itu sendiri. Dan tidak pernah ada kebaikan pada amal-amal saleh, jika ia terus diungkit dan dihitung-hitung.

5- Tidak menunggu datangnya balasan. Juga tidak mengharap datangnya manfaat dari pihak yang menerima, ketika berbuat ihsan kepadanya.

6- Perbuatan ihsan memiliki tiga sifat mulia yang terdapat pada seorang muhsin (pelaku ihsan). Ja`far bin Muhammad pernah berkata kepada Sufyan Ats-Tsauri,

“لاَ يَتِمُّ الْمَعْرُوْفُ إِلاَّ بِثَلاَثَةٍ: بِتَعْجِيْلِهِ، وَتَصْغِيْرِهِ فِيْ عَيْنَيْكَ حَتَّى إِذَا كَانَ كَبِيْرًا، وَسِتْرِهِ”[9]

“Kebaikan belum sempurna kecuali dengan tiga perkara: menyegerakannya. Menganggapnya kecil pada kedua mata kita meski sebesar apapun ia. Dan merahasiakannya.”

7- Berhati-hati dan selalu waspada. Dalam arti, jangan sampai perbuatan ihsan kita kepada seseorang bakal menyeret orang tersebut ke dalam perkara yang diharamkan.

Misalnya kita memberikan syafaat (memberikan kemudahan) kepada seseorang untuk safar ke Negara-negara kafir tanpa ada kebutuhan. Memberikan uang (kepada seseorang) padahal kita mengerti uang tersebut bakal dipergunakan untuk perkara-perkara yang diharamkan oleh syariat. Atau menjadi terampasnya hak seorang muslim gara-gara syafaat yang kita berikan. Atau memberikan syafaat untuk mendahulukan sesuatu yang semestinya diakhirkan, serta mengakhirkan sesuatu yang semestinya didahulukan.

Kita semua tahu, Islam adalah agama yang penuh keadilan. Agama ini memerintahkan segala bentuk kebaikan dan melarang segala bentuk keburukan. Karena itu, pemberian syafaat pada hudud (hukuman) merupakan kemungkaran yang sangat besar.[10]

Wahai saudaraku yang dimuliakan Allah…

Jika seseorang berbuat ihsan dan memberikan simpati kepada anda, berarti anda seorang shahibu hajah (pemilik hajat). Maka seseorang yang meminta agar kebutuhannya dipenuhi atau memohon syafaat, hendaknya ia memperhatikan perkara-perkara berikut:

Pertama: Jangan memohon hajat kecuali dari orang yang berhak. Jangan sampai membuat kikuk saudara Muslim anda dengan perkara yang tidak mampu dilakukannya. Misalnya anda mendatangi saudara anda dan meminta uang yang tidak dimilikinya. Maka hal ini bakal memberatkannya, dan membuat hatinya resah. Padahal anda tahu dia tidak mampu memberikan harta tersebut kecuali dengan kepayahan yang sangat.

Kedua: Jangan sampai kita memohon hajat pada selain waktunya.

Ketiga: Janganlah kita memohon hal-hal yang bukan menjadi hak kita. Karena siapa saja yang memohon hal-hal yang bukan haknya, otomatis permohonan itu pasti tertolak.

Keempat: Hendaklah saat memohon dan meminta hajat ini, kita memilih kata-kata yang paling indah dan paling lembut.

Dan ketahuilah…

Tak pernah ada celaan atas seseorang yang ditolak syafaatnya, meski setinggi apa pun kedudukan sang pemberi syafaat tersebut. Karena seorang wanita telah menolak syafaat manusia yang paling mulia, rasulullah SAW. Yaitu ketika beliau berkata kepadanya,

((لَوْ رَاجَعْتِ زَوْجَكِ فَإِنَّهُ أَبُوْ وَلَدِكِ))، قَالَتْ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَتَأْمُرُنِيْ؟ قَالَ: ((لاَ، إِنَّماَ أَنَا شَافِعٌ))، قَالَتْ: فَلاَ حَاجَةَ لِيْ فِيْهِ [متفق عليه]

“Alangkah baiknya jika kamu merujuk suami kamu. Karena ia adalah ayah dari anak kamu.” Wanita itu berkata, “Wahai rasulullah! Apakah anda menyuruh saya?” rasulullah SAW menjawab, “Tidak! Saya hanya sekedar memberikan syafaat.” Maka sang wanita berkata, “Kalau begitu maka saya tidak membutuhkan suami saya lagi.” (Muttafaq alaih)

Jika kebutuhan seseorang telah terpenuhi, maka ia berkewajiban berterima kasih kepada Asy-Syaafi` (sang pemberi syafaat), juga kepada Al-Masyfu` (orang yang dimintai Asy-Syaafi` untuk memenuhi kebutuhannya). Karena rasulullah SAW bersabda,

((لاَ يَشْكُرُ اللهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ الناَّسَ)) [رواه أحمد]

“Tidak mensyukuri Allah SWT, seseorang yang tidak mensyukuri (kebaikan) manusia.” (HR. Ahmad)

Beliau juga bersabda,

((مَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوْفاً فَكَافِئُوْهُ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوْا مَا تُكَافِئُوْنَهُ فَادْعُوْا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوْهُ)) [رواه النسائي]

“Barangsiapa berbuat baik kepada kalian, maka balaslah ia. Jika kalian tidak mendapatkan sesuatu untuk dibalaskan kepadanya, maka berdoalah untuknya sampai kalian melihat bahwa doa kalian benar-benar telah membalas kebaikannya.” (HR. An-Nasai)

Rasulullah SAW juga bersabda,

((مَنْ صَنَعَ إِلَيْهِ مَعْرُوْفاً فَقَالَ لِفَاعِلِهِ: جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا، أَبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ)) [رواه الطبراني]

“Barangsiapa berbuat baik kepada seseorang, lalu orang itu berkata, ‘Jazaakallahu khairan’[11] kepada sang pelaku kebaikan, maka dia benar-benar telah berterima kasih kepadanya.” (HR. Ath-Thabrani)

Saudaraku…

Jika tangan anda tidak mampu membalas, hendaknya lidah anda terus-menerus mensyukurinya (dengan mendoakan). Karena sebaik-baik kema`rufan, ketika anda menggabungkan antara balasan dan rasa syukur.

Jika seorang muhsin mempunyai hak atas anda, maka bersegeralah membalasnya. Karena hal itu juga termasuk perbuatan ihsan. Jadi, berbuat ihsanlah kepadanya sebagaimana dia berbuat ihsan kepada anda pada kali yang pertama.

Dan barangsiapa meminta maaf kepada anda karena tidak bisa memberikan bantuannya, maka janganlah anda mencela dan menjadikannya sebagai sasaran ghibah atau pun gunjingan. Karena Allah SWT telah Berfirman,

مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِنْ سَبِيلٍ  [التوبة/91]

“Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At-Taubah: 91)

Bisa jadi ada seseorang yang telah mendatanginya sebelum anda, kemudian dia menanggung beban orang tersebut tanpa anda ketahui. Dan bukanlah termasuk sikap muru`ah (perwira) jika dia memberitahukan anda tentang hal itu.

Mudah-mudahan Allah Menjadikan kita dan anda sekalian, termasuk orang-orang yang saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan.

 


[1] Maksudnya: Pahala dan dosa itu bisa didapatkan, tergantung kepada niatnya dalam melakukan perbuatan tersebut.

[2] Hilyatul Auliya`: 3/140

[3] Artinya: mudah-mudahan Allah I memberikan keberkahan kepada anda.

[4] Majmu` al-fatawa, 1/8

[5] Al-Fawaid, hlm. 64

[6] Jami` al-ulum wa al-hikam, Ibnu Rajab Al-Hambali, 1/21

[7] Minhaj As-sunnah an-nabawiyyah, 6/218

[8] Perkataan yang baik, maksudnya menolak dengan cara yang baik. Dan maksud pemberian ma’af ialah mema’afkan tingkah laku yang kurang sopan dari si penerima.

[9] Shifat Ash-Shafwah, 2/169

[10] Seperti kisah seorang wanita makhzumiyah yang mencuri. Ketika rasulullah SAW hendak menghukumnya dengan potong tangan, beberapa orang meminta Usamah bin Zaid agar memberikan syafaatnya –karena ia orang yang sangat dekat dengan nabi SAW – agar pemotongan tangan sang wanita dibatalkan. Tapi hal itu membuat nabi SAW menjadi marah besar.

[11] Artinya: Mudah-mudahan Allah SWT memberikan balasan kepada anda dengan yang lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *