istri tidak shalat dan tidak berjilbab

(779) Jika wanita tidak menetapi shalat dan jilbab syar`inya, apakah hal itu menjadi penyebab utama suami untuk mentalaknya?

Jawab: Berdasarkan Hadis yang menyatakan bahwa orang meninggalkan shalat adalah kafir, maka seorang suami tidak boleh tinggal bersama isterinya setelah ia memerintahkan isteri untuk mengerjakan shalat, menasihati, dan memperingatkannya dengan siksaan Allah swt, tetapi sang isteri tetap tidak mau menurut.

Sedangkan orang-orang yang berdalil dengan firman Allah swt:

{وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا} [طه : 132]

“Perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (QS. Thaaha: 132)

Sesungguhnya dhamir (kata ganti) pada ayat ini kembali kepada perkataan yang paling dekat, yaitu shalat. Maksudnya: Perintahkan keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakan shalat. Allah I berfirman:

{لَا تُكَلَّفُ إِلَّا نَفْسَكَ وَحَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ} [النساء : 84]

“Tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri.[1] Kobarkanlah semangat para mukmin (untuk berperang).” (QS. An-Nisa`: 84)

Juga disebutkan dalam As-Sunnah, Hadis yang mengkafirkan secara wajib orang yang meninggalkan shalat, meski ia meninggalkannya karena malas. Hadis itu sangat terkenal, ia diriwayatkan Imam Muslim dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu anhuma bahwa Nabi saw bersabda:

((بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ))

“Seseorang menjadi musyrik atau kufur karena meninggalkan shalat.”

Al-Khamsah selain Abu Dawud juga meriwayatkan dari Buraidah Al-Aslami Radhiyallahu anhu bahwa Nabi saw bersabda:

((الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ))

“Perjanjian antara kita dengan mereka (orang-orang kafir) adalah shalat, karena itu barangsiapa meninggalkan shalat berarti telah kafir.”

 Karena itu tidak benar jika dikatakan, makna Hadis di atas adalah seseorang yang meninggalkan shalat karena menentang. Karena para ulama` bersepakat, orang yang menentang terhadap kewajiban shalat adalah kafir. Di sisi lain Abdullah bin Syaqiq Al-Uqaili Radhiyallahu anhu, salah seorang sahabat Rasulullah saw mengatakan:

((أَنَّهُمْ مَا كَانُوْا يَرَوْنَ شَيْئاً مِنَ اْلأَعْمَالِ تَرْكُهُ كُفْرٌ إِلاَّ الصَّلاَةُ))

“Para sahabat tidak melihat ada perkara apapun yang ketika meninggalkannya seseorang menjadi kafir kecuali shalat.”

Hadis ini sanadnya sahih. Di sisi lain ada kesepakatan (ijma`) bahwa siapapun yang menentang salah satu perkara syariat, berarti telah kafir. Maka, apakah Hadis di atas masih bisa diartikan dengan makna yang lain?! Tentu tidak bisa. Karena sudah disepakati bahwa meninggalkan shalat adalah perkara kufur di bawah kufur. Dan cukuplah bagi kita perkataan Abdullah bin Abbas Radhiyallahu anhuma ketika menafsirkan firman Allah swt:

{وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ} [المائدة : 44]

“Barangsiapa tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Maidah: 44)

Abdullah bin Abbas Radhiyallahu anhu berkata: “Itu adalah kufur di bawah kekufuran.” (Syaikh Muhammad bin Abdul Maqshud)


[1] Perintah berperang itu harus dilakukan oleh Nabi Muhammad saw, karena yang dibebani adalah diri beliau sendiri. Ayat ini berhubungan dengan keengganan sebagian besar orang Madinah untuk ikut berperang bersama Nabi ke Badar Shughra. Maka turunlah ayat ini yang memerintahkan supaya nabi Muhammad saw pergi berperang walaupun sendirian saja. (pen.)

Share This:

  • ali hasan

    saya setuju,,, namun betapa banyaknya orang yang rajin melaksanakan shalat tapi istri dan anak anaknya berjalan dan menjalani hidup bak pelacur ( tanpa hijab).apa untungnya bagi allah jika manusia shalat? Tidak ada! Keuntungannya cuma buat manusia semata,,itulah baiknya allah. Namun para kafir dan munafik kebanyakan salah tafsir tentang sifat allah MAHA PENYAYANG. Mereka menyangka walau mereka kafir allah akan sayang kepadanya,,padahal sifat allah ini hanya berlaku buat mukmin yang ta’at kepada perintah.bukan kepada kafir.