Kasih Sayang Rasulullah Terhadap Anak-Anak

Oleh Fir’adi Nasrudin

» عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنِّي لأَدْخُلُ فِي الصَّلاةِ وَأَنَا أُرِيدُ إِطَالَتَهَا، فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ فَأَتَجَوَّزُ فِي صَلاتِي مِمَّا أَعْلَمُ مِنْ شِدَّةِ وَجْدِ أُمِّهِ بِبُكَائِهِ «

Anas meriwayatkan, Rasulullah s.a.w bersabda, “Saat aku shalat dan ingin memanjangkan bacaanku, tiba-tiba aku mendengar tangian bayi sehingga aku pun memendekkan shalatku, sebab aku tahu ibunya akan susah dengan adanya tangisan tersebut.” (HR. Bukhari).

Saudaraku,
Kita selaku orang tua sering bertindak kasar terhadap anak-anak kita. Emosi dan amarah tak dapat kita bendung saat melihat mereka tidak menghiraukan pesan dan arahan kita. Saat menumpahkan air dan sayuran di lantai yang sudah dibersihkan. Saat terlambat bangun pagi. Saat lupa mengerjakan PR. Saat membuat gaduh di masjid dan yang senada dengan itu.

Kita sebagai pendidik, juga sering tidak sabar melihat perilaku peserta didik kita. Luapan amarah dan jeweran di telinga, menjemur mereka di bawah sengatan matahari yang membakar kulit dan seterusnya, saat pesan dan nasihat kita kurang diindahkan. Kata-kata pedas meluncur dari lisan kita saat hafalan al-Qur’an peserta didik jauh dari kata ‘memuaskan’.

Saudaraku,
Mari kita memperhatikan dengan kaca mata iman bagaimana Rasulullah s.a.w berinteraksi dengan anak-anak atau peserta didik beliau, seperti termaktub dalam kitab “mawaqif Nabi ma’a al-athfal” karya syekh Hasan Ahmad Humam.

Harapannya agar kita mengetahui bagaimana Nabi membentuk karakter anak, menjadikan mereka sebagai manusia yang memiliki kepribadian kuat, mengantarkan mereka pada kebahagiaan hidup; dunia dan akhirat.

Menjadi aksiomatik bahwa anak kecil, sesungguhnya sedang menjalani proses membentuk jati dirinya. Kesucian hati dan jiwanya, membuat ia menerima apa saja yang dia terima dari orang tuanya, guru, dan juga dari lingkungannya. Dengan Bahasa yang sederhana kita katakan bahwa orang tua adalah pewarna pertama yang akan memberikan corak pada kertas putih hati anak-anaknya.

Nabi s.a.w menegaskan, “Setiap anak itu terlahir dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanya-lah yang memberikan warna keyahudian, corak nasrani, atau bermental majusi.” (HR. Bukhari dalam kitab al-adab al-mufrad).

Kedekatan Nabi s.a.w dan kasih sayangnya terhadap anak-anak kecil tergambar jelas dalam fakta sejarah berikut ini.

• Nasa’i dan Hakim meriwayatkan, “Ketika Rasulullah s.a.w sujud dalam shalat, tiba-tiba beliau sujud begitu lama hingga sahabat khawatir dengan keadaan beliau. Husein menaiki punggung Rasul saat beliau sujud. Usai shalat, para sahabat pun bertanya, “Mengapa sujud engkau begitu lama?.” Mereka khawatir Nabi meninggal saat itu, atau terjadi musibah lainnya. Beliau pun menjawab, “Sesungguhnya puteraku (cucuku) ini naik di atas punggungku, aku pun membiarkannya hingga ia puas dengan apa yang ia inginkan.”

• Pada suatu hari Rasul sedang naik ke atas mimbar dan memberikan khutbah di hadapan manusia. Beliau melihat Hasan dan Husein datang, berlari dan tersandung. Seketika itu Rasul menghentikan khutbahnya dan turun dari mimbar lalu menghampiri cucu-cucunya, menggendongnya, kemudian naik ke mimbar lagi, seraya berkata, “Sesungguhnya harta dan anak-anakmu hanyalah fitnah (ujian), aku melihat anak cucuku berlari dan tersandung, maka aku tidak dapat menahan diri untuk turun dan menggendong mereka.” (HR. Tirmidzi).

Dan ini sangat berbeda dengan kita saudaraku, terkadang ketika kita melihat anak-anak kecil berlarian di masjid, maka kita ‘mengusir’ anak kecil tersebut agar tak menganggu ibadah kita. Mengapa tidak kita biarkan anak kecil itu mendekati kita saat beribadah, biarkan ia mengenal dan mempelajari apa yang kita lakukan. Biarkan ia belajar untuk mencintai ibadah, agar kelak ia pun mudah beribadah kepada-Nya.

• Abu Daud meriwayatkan dalam kitab sunan-nya dari Anas bin Malik r.a, bahwa Nabi s.a.w pernah melewati sejumlah anak-anak yang sedang bermain, lalu beliau mengucapkan salam kepada mereka.”

Mari kita bayangkan, saat anak-anak itu tahu bahwa orang tua mereka semua sangat menghormati Nabi, jika di depan beliau mereka semua diam mendengar dan taat secara total.

Maka ketika anak-anak tersebut mendapati Nabi selalu tersenyum saat bersua dan menyapa mereka dengan salam yang tulus. Ketika anak-anak kecil itu mendapat perlakuan istimewa dari Nabi s.a.w, sudah barang tentu hal itu menjadikan cinta mereka terhadap Nabi s.a.w semakin besar dan agung.

• Dari Anas bin Malik r.a berkata, Rasulullah s.a.w pernah bersabda, “Aku mulai shalat dan ingin memanjang shalatku. Tiba-tiba aku mendengar tangis bayi, sehingga aku pendekkan shalatku, karena aku tahu bahwa ibunya sedih mendengar tangis bayinya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Saudaraku,
Rasulullah s.a.w lebih memilih untuk memendekkan shalatnya. Bukan melarang ibu tersebut membawa anaknya ke masjid di waktu-waktu berikutnya. Sungguh, ribut dan berisiknya anak-anak saat kita sedang shalat jauh lebih baik daripada jauhnya hati mereka dari masjid dan ajaran agama Allah yang lurus ini.

• Abu Qatadah berkata, “Kami keluar bersama Rasulullah s.a.w, sedangkan Umamah binti Abi Al-Ash berada di atas bahu Rasulullah (digendong). Lalu beliau shalat. Ketika beliau ruku’, maka Umamah diletakkan, dan ketika beliau bangun dari ruku’, maka Umamah diangkat (digendong kembali).” (HR. Bukhari).

Allahu Akbar!, luar biasa saudaraku,
Sebuah pelajaran penting tentang betapa besar nilai kasih sayang bagi proses pendidikan (tarbiyah) dan pembentukan karakter anak-anak (ta’dib). Begitu pentingnya, sehingga saat shalat pun diizinkan untuk menggendong anak yang masih kecil agar hilang rasa susahnya dan gembira hatinya serta semakin ia mencintai orang tua dan merekam ibadah yang paling esensial, yakni shalat.

• Abu Hurairah r.a pernah berkata, “Nabi s.a.w suatu ketika mencium Hasan bin Ali, dan di sisi Nabi ada Al-Aqra’ bin Habis At-Tamimi yang sedang duduk. Maka Al-Aqra’ berkata, “Aku punya 10 orang anak, tapi tidak ada seorangpun dari mereka yang pernah kucium”. Maka Rasulullah s.a.w melihat kepada Al-‘Aqra’ lalu beliau berkata, “Barangsiapa yang tidak merahmati/menyayangi (anak-anaknya), maka ia tidak akan dirahmati.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Saudaraku,
Ibnu Bathal rahimahullah memberikan komentar terhadap hadis di atas, “Menyayangi anak kecil, memeluknya, menciumnya, dan lemah lembut kepadanya termasuk dari amalan-amalan yang diridhai Allah dan akan diberi ganjaran oleh Allah. Tidakkah engkau perhatikan Al-Aqra’ bin Habis menyebutkan kepada Nabi bahwa ia memiliki 10 orang anak laki-laki, tapi tidak ada seorangpun yang pernah ia cium, maka Nabipun berkata kepada Al-Aqra’ “Barangsiapa yang tidak menyayangi (anak-anaknya), maka tidak akan disayangi.”

Maka hal ini menunjukan bahwa mencium anak kecil, menggendongnya, ramah kepadanya merupakan perkara yang mendatangkan rahmat Allah. Sebaliknya, berlaku kasar terhadap anak-anak, akan mengalirkan murka-Nya dan anak-anak pun akan menjauh dari kehidupan kita.

• Anas bin Malik r.a meriwayatkan, “Seorang wanita mendatangi ‘Aisyah lalu ‘Aisyah memberinya tiga butir kurma. Wanita itu memberi tiap-tiap anaknya satu butir kurma dan menyisakan satu butir untuk dirinya. Lalu kedua anak memakan kurma tersebut kemudian melihat kurma yang ada pada ibunya. Kemudian wanita itu membelah dua kurma itu lalu memberi masing-masing setengahnya kepada dua anaknya tersebut. Kemudian Rasulullah s.a.w datang, lalu ‘Aisyah menceritakan hal tersebut kepada beliau. Maka Rasulullah s.a.w bersabda, “Apakah kamu takjub melihatnya?, Sungguh Allah telah merahmatinya karena kasih sayangnya kepada dua anaknya.” (HR. Bukhari).

Saudaraku,
Itu hanya sebagian kecil dari keteladanan Nabi s.a.w dalam mendidik generasi terbaik. Bukan dinar, bukan dirham, bukan rupiah, bukan dolar dan bukan pula hadiah-hadiah mahal, yang membuat anak-anak bersemangat membentuk kepribadian yang kuat dan tangguh.

Tetapi kedekatan hati. Cinta yang tulus dan suci. Dan yang tak kalah pentingnya adalah keteladanan yang real dari kita. Selaku orang tua dan Murabbi (pendidik) bagi mereka. Wallahu a’lam bishawab.

Metro, 18 September 2014
Abu Ja’far Fir’adi

Share This: