Kata Dr Anis Malik Toha Tentang Wahabi

Lontaran Cap Wahabi demi Kafirun Barat dan Syi’ah

dr-anas-malik-toha

Kafirin dan syi’ah punya kepentingan dalam menghadapi Islam. Serangan fisik dilakukan di berbagai belahan dunia dengan mengerahkan tentara, senjata, dan sarana yang tidak sedikit nilai nominalnya.

Di samping itu dilancarkan pula serangan non fisik di antaranya melalui agen-agennya atau orang-orang yang dapat disewa untuk menyerang Isam dengan aneka cara. Salah satu cara adalah memberi cap buruk atau stigma yang akan menjatuhkan nama baik pihak yang dianggapnya sebagai musuh.

Cap buruk itu ketika digencarkan dengan sasaran pihak tertentu, maka dimaksudkan untuk jadi musuh bersama. Setelah itu, diharapkan pihak perekayasa akan mengunduh keuntungan. Keuntungan pun diharapkan bukan hanya dipanen oleh perekayasa, tapi juga antek-anteknya dan bahkan pemboncengnya.

(Dalam hal ini, cap buruk berupa stigma Wahabi, ketika dilancarkan maka yang mengeruk keuntungan adalah Barat dan pemboncengnya yakni Syi’ah, sedang anteknya adalah yang dapat mereka sewa pentolan-pentolannya; kalau muqallidnya mah, belum tentu kecipratan, hee hee… kapusan alias ketipu belaka. Jadi di dunia sudah ketipu, sedang di akherat harus bertanggung jawab. Betapa ruginya!).

Ketika cap buruk dilontarkan kepada Ummat Islam yang istiqamah dengan Islam, maka keistiqamahannya yang sebenarnya terpuji itu telah diganti warna dengan warna negative, misalnya sangar dan semacamnya. Maka simpati pun hilang dari mereka. Cap buruk Wahabi misalnya, jelas dimaksudkan untuk semacam itu.

Di situlah pembunuhan karakter secara besar-besaran, yang akan membalikkan sosok-sosok di kelompok yang telah dibunuhi karakternya itu dari sifat baik, shaleh dan sebagainya, menjadi cap-cap negative dan agar dihindari masyarakat.

Musuh-musuh Islam sangat lihai dan licik dalam hal ini. Di Indonesia, zaman jaya-jayanya PKI (Partai Komunis Indonesia) yang fahamnya ateis alias kufur, dengan lontaran-lontarannya telah mengakibatkan Ummat Islam terpojok. Bahkan sampai Ummat Islam –yang istiqamah memperjuangkan Islam– dijuluki kepala batu, dan bukan sekadar lontaran, tetapi jadi lagu wajib yang diajarkan untuk dinyanyikan di seluruh sekolah di Indonesia: Nasakom Bersatu, singkirkan kepala batu!

PKI yang jelas-jelas anti Islam telah merangkul sesama yang kurang senang terhadap orang Islam –yang konsekuen dengan Islamnya–, hingga yang Islami itu diberi cap buruk: Singkirkan kepala batu! Dan kejahatan PKI itu tidak akan sukses kecuali kalau ada unsur orang Islam di dalamnya.

Kenyataannya memang PKI terhimpun dalam apa yang disebut Nasakom (Nasional – pengikut Soekarno–, Agama –NU–, dan Komunis –PKI). Sadar atau tidak, orang-orang yang tergabung dalam Nasakom itu telah menguntungkan PKI, sekaligus memojokkan Ummat Islam yang istiqamah memperjuangkan Islam.

Untuk kepentingan musuh Islam semacam itu pula, cap buruk Wahabi belakangan ini digemakan kembali setelah setengah abad di Indonesia sudah tidak dilontarkan. Namun belakangan kembali digencarkan.

Kenapa?

Karena Amerika yang tadinya punya dua musuh: Komunis (Uni soviet) dan Islam, tinggal satu musuh yakni Islam. Karena Komunis dengan kekuatan raksasa dunia yaitu Uni Soviet bubar pada bulan Desember 1991.  Sehingga musuh Amerika tinggal satu: Islam.

Untuk memusuhi Islam, dengan aneka cara, yang secara fisik adalah memerangi dan menerjunkan tentara ke negeri-negeri Islam. Alhamdulillah, tentara Amerika banyak yang mati, dan banyak pula yang gila, depresi, dan aneka sakit jiwa lainnya. Kerugian Amerika pun sangat besar, baik secara materi maupun non materi. Demikian pula kebencian Ummat Islam sedunia pun semakin nyata.

Cara non fisik, di antaranya menyekolahkan dosen-dosen perguruan tinggi Islam ke Amerika dan negeri-negeri kafir, agar diajari Islam yang sudah ala kafirin untuk nantinya diajarkan ke perguruan tinggi Islam asal mereka. Maka tidak mengherankan, begitu Uni Soviet runtuh, betapa gencarnya pengiriman dosen-dosen IAIN (perguruan tinggi Islam) se-Indonesia untuk belajar Islam (?) ke Barat, negeri-negeri kafir. Di Indonesia, demi pengiriman dosen-dosen IAIN se-Indonesia itu, sampai-sampai seorang menteri agamanya diangkat dua periode, 10 tahun (Masa jabatan 19 Maret 1983 – 17 Maret 1993). Yaitu seorang yang berkeinginan mengganti hukum waris Islam yang dianggapnya tidak adil. Dialah Munawir Sjadzali, jadi Menteri Agama zaman Presiden Soeharto.

Barat gencar mendidik dosen-dosen perguruan tinggi Islam itu tidak mungkin untuk memajukan Islam. Karena Allah Ta’ala telah berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ} [آل عمران: 118]

118. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. (QS Ali ‘Imran/ 3: 118).

Hasil dari pendidikan Islam di negeri-negeri kafir Barat itu yang mencuat ke permuakaan dan diketahui umum pun sangat jauh dari Islam. Misalnya, Nurcholish Madjid alumni Chicago Amerika, melontarkan bahwa Iblis akan masuk surga dan surganya tertinggi karena tauhidnya murni, tidak mau sujud kepada Adam. Lontaran itu sangat menentang Islam, karena Iblis jelas-jelas abaa wastakbaro… sebagaimana telah Allah firmankan :

{وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ } [البقرة: 34]

34. dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: “Sujudlahkamu kepada Adam,” Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS Al-Baqarah : 34).

{وَأَنَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابَ النَّارِ} [الأنفال: 14]

Sesungguhnya bagi orang-orang yang kafir itu ada (lagi) azab neraka. (Al-Anfal : 14).

{وَجَعَلْنَا جَهَنَّمَ لِلْكَافِرِينَ حَصِيرًا } [الإسراء: 8]

dan Kami jadikan neraka Jahannam penjara bagi orang-orang kafir (QS Al-Israa’/ 17: 8).

Alumni-alumni Barat yang lain pun banyak yang pendapatnya merusak Islam atau membela yang merusak Islam. Seperti Harun Nasution lulusan Mc Gill University di Canada, dia tidak memasukkan taqdir dalam rukun Iman, dan menganggap agama monoteisme itu Yahudi, Kristen, Islam, dan Hindu. Sedang Bunda Teresia yang bukan Islam pun akan masuk surga, menurut Harun Nasution. (lihat Harun Nasution dan Nurcholish Madjid http://nahimunkar.com/harun-nasution-dan-nurcholish-madjid/ )

Harun Nasution lah yang mengubah kurikulum IAIN se-Indonesia, dari Ahlus Sunnah ke (aliran sesat) Mu’tazilah, yang dia sebut rasionalis.

Yang tampaknya malu-malu, seperti Azyumardi Azra alumni Columbia Amerika membela Ahmadiyah dan miring-miring terhadap fatwa MUI yang menyatakan sesatnya Ahmadiyah dan haramnya faham liberal, pluralisme agama, dan sekulerisme. Masih pula Azra membela perayaan valetin’s day.

Dengan kenyataan-kenyataan seperti itu dan aneka rangkaiannya, maka alhamdulillah, telah ada yang mengingatkan, yaitu Hartono Ahmad Jaiz dengan bukunya berjudul  Ada Pemurtadan di IAIN, Jakarta 2005, maksudnya perguruan tinggi Islam di Indonesia pada umumnya.

Di samping membawa pendapat-pendapat yang merusak Islam, ada juga yang alumni Barat seperti Syafii Maarif yang tega pula melontarkan stigma dengan ucapan »preman berjubah » dialamatkan kepada pihak tertentu dalam Islam.

Stigma atau cap buruk yang di zaman lampau disponsori PKI, ternyata belakangan dikais-kais pula oleh antek-antek Barat anti Islam. Bahkan dilontarkan oleh orang yang bertitel tinggi, Profesor Doktor. Itu tentu saja menunjukkan pentingnya menurut mereka, senjata berupa cap buruk atau stigma itu.

Di kala yang jadi bos anti Islam itu kafirin lain (tadinya PKI, kini kafirin Barat) maka pihak yang tadinya telah hafal pelajaran dari PKI waktu gabung dalam Nasakom itu, belakangan bangkit pula. Tinggal memindah saklar, tadinya gandeng renteng dengan kafirin PKI, kini ke kafirin Barat dan syi’ah aliran super sesat yang memusuhi Islam. Senjata stigmanya masih sama. Di Zaman Belanda dan awal-awal merdeka, senjatanya itu adalah lontaran cap buruk dengan menempelkan laqab: Wahabi. Di masa PKI, dengan lontaran: Kepala Batu. Di saat kafirin Barat memusuhi Islam setelah Komunis Uni Soviet runtuh, kembali mengambil senjata lama zaman Belanda yakni cap buruk: Wahabi.

Kasihan, hidup satu kali saja kok mengantek kepada kepentingan kafirin, baik Timur maupun Barat, kini plus aliran super sesat, Syi’ah. Apakah mereka tidak ingat ayat ini?

{وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا} [الأحزاب: 58]

58. dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. (QS Al-Ahzab/ 33: 58).

***

Berikut ini wawancara tentang cap buruk Wahabi yang belakangan dilontarkan, ternyata menguntungkan Barat. Inilah wawancara hidayatullah.com tentang stigma Wahabi.

***

Dr. Anis Malik Thoha: Barat Paling Diuntungkan Stigma Wahabi

SEJAK peristiwa bom Kuningan Juli 2009, istilah Wahabi dan trans-nasional tiba tiba dibicarakan banyak orang.  Berbagai stasiun televisi nasional dan media massa sibuk mengutip ucapan beberapa tokoh tentang hubungan teror bom dengan Wahabi.
Entah sengaja atau tidak, yang jelas dengan bantuan media (khususnya TV) istilah Wahabi tiba-tiba muncul menjadi stigma baru untuk meneror banyak organisasi Islam. Boleh jadi, penyebar stigma ini berharap kaum Muslim Indonesia terpecah belah.

Apa dan mengapa stigma Wahabi ini dimunculkan? Dan siapa yang untung dengan kasus ini? Kali ini, hidayatullah.com mewawancarai Dr Anis Malik ThohaKhatib ‘Aam Syuriah NU Cabang Istimewa Malaysia.

Pria yang masih punya ikatan kekerabatan dengan KH Sahal Mahfudz, Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini  menyelesaikan S1 di Universitas Islam Madinah. Menyelesaikan gelar masternya di University of the Punjab dan PhD (bidang Comparative Religion) di International Islamic University Islamabad, Pakistan.

Kini, selain menjadi dosen tetap di International Islamic University Malaysia (IIUM),  pria yang juga dikenal sebagai pakar pluralisme agama ini sering diundang di berbagai forum internasional guna membicarakan masalah Islam.

Ketika ramai istilah “terorisme”, Anis  bersikap tegas di hadapan banyak pakar asal Barat. Dalam seminar internasional bertema “Islam: Religion of Peace, Progress and Harmony” di Bangladesh ia mengatakan, Barat (Amerika Serikat) menggunakan kata “terrorism” sebagai senjata politik untuk menguasai dunia Islam. Berikut petikan wawancaranya.

Istilah Wahabi, akhir-akhir ini menjadi polemik oleh sejumlah golongan. Bisakah Anda menjelaskan latar belakang istilah itu?

Saya kurang tertarik membicarakan istilah Wahabi. Sebab, selama ini polemik yang ada cenderung tendensius, emosional, “liar” dan tidak didasarkan pada dasar-dasar berpolemik yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Misalnya, mencoba memahami gerakan ini secara utuh dan benar.

Yang ada lebih cenderung stigmatisasi oleh pihak-pihak yang tidak senang atau merasa eksistensi dan interestnya “terancam”, atau dengan bahasa sekarang: “terteror”, dengan mazhab pemikiran ini. Itu sudah mulai dari sejak zaman Turki Usmaniah, kita lihat bagaimana kebencian pemerintahan Turki pada Wahhabiyyah.

Sayangnya, sebagian besar di antara kalangan Islam di negara kita -saya tidak perlu menunjuk siapa mereka- juga termakan oleh propaganda dan emosi kolektif Usmania pada masa itu. Dan sampai sekarang, sikap emosional itu masih terus menguasai diri kita dengan intensitas dan volume yang semakin besar, akibat propaganda Barat yang luar biasa canggihnya yang dikemas dalam bahasa “war on terrorism” atau “perang melawan terorisme”.

Jadi, bagaimana sesungguhnya pengertian istilah itu?

Pengertian istilah yang diberikan untuk gerakan dan pemikiran Islam yang dikembangkan dan dipopulerkan oleh seorang ulama besar dari Saudi Arabia, Syeikh Muhammad ibn Abdul Wahhab, pada abad ke-18 tersebut sebetulnya bernuansa negative dan pejorative. Karena sejak semula istilah itu memang dimaksudkan sebagai semacam stigmatisasi terhadap  gerakan ini.

Umumnya, penyebutan wahhabi lebih banyak dipakai atau datang dari pihak luar yang bukan pengagum dan pengikut Syeikh Muhammad ibn Abdul Wahhab. Adapun Syeikh Muhammad ibn Abdul Wahhab sendiri dan para pengikutnya lebih sreg menamakan diri pengikut salaf seperti tokoh ulama idaman mereka, yaitu al-Imam Ibn Taymiyyah.

Anda pernah sekolah di Madinah, adakah hubungan antara pemikiran Syeikh Muhammad Abdullah bin Wahhab  dengan tindakan keras atau teror sebagaimana dituduhkan?

Geli sekali rasanya, setiap kali saya membaca atau mengikuti wacana tentang kekerasan (violence), teror, terorisme yang sudah seperti bola liar semenjak Barat melemparkannya ke publik. Karena terlalu gencarnya stigma,  kebanyakan kita nyaris tak sempat lagi berpikir dengan nalar yang cerdas dan jernih. Daya nalar kita seakan-akan lumpuh  dan nurut saja. Atau bahasa kerennya, semuanya “taken for granted”. Sama dengan kasus terorisme yang dimunculkan Amerika pada dunia Islam. Ini aneh, tapi nyata!

Siapa pun, yang mau membaca sejarah munculnya Wahhabi atau Wahhabisme, akan menemukan bahwa ia sebuah gerakan dakwah yang sesungguhnya mendapat sambutan positif dari seorang raja dan kemudian disebarluaskan. Terlepas setuju atau tidak dengan gerakan ini, hal semacam itu tak  ada bedanya dengan apa yang juga dilakukan oleh ideologi-ideologi besar sepanjang zaman. Bahkan termasuk komunisme, sekularisme, dan demokrasi yang sekarang sedang dipropagandakan (dipaksakan) oleh kekuatan global itu.

Tapi mengapa ada sebagian pihak menggiring, adanya bom Kuningan dan Wahabi sebagai  bentuk keinginan berdirinya daulah Islamiyah?

Saya rasa wajar orang/masyarakat Islam menginginkan tatanan yang islami. Sama dengan  masyarakat sekuler yang mati-matian juga menginginkan tatanan dunia yang sekuler.

Kasus ini sama dengan pihak-pihak di belakang lahirnya buku “Ilusi Negara Islam”. Saya melihat, mereka seperti orang yang sudah kehilangan akal dalam merespon atau menyikapi perkembangan di sekelilingnya yang dianggap akan mengancam dirinya. Sangat tendensius dan naif. Bisanya cuma men-stigma, black campaign, membunuh karakter kelompok yang dianggap musuh atau mengganggu eksistensinya. Kalau saya PKS atau HTI (yang dituduh dalam buku itu, red), akan saya sue (tuntut).

Saya tidak habis pikir, LibForAll (yang mendanai dan menerbitkan proyek ini) mengklaim diri liberal dan mendakwahkan liberalisme, kok ternyata sangat konservatif, sektarian dan eksklusif, tidak siap menerima perbedaan.

Fakta ini juga sekaligus semakin membuka mata kita, bahwa buku yang mewanti-wanti atau memberi warning tentang bahaya ideologi atau gerakan trans-nasional ini ternyata telah terperangkap oleh “kepura-pura tidak tahuannya” sendiri, yaitu mengusung dan menyebarkan ideologi liberalism yang impor itu.

Maksud Anda?

Apa logikanya, membiarkan atau membenarkan gerakan trans-nasional yang non-Islam (Barat) leluasa merangsek ke masyarakat kita yang Islam, sementara gerakan-gerakan trans-nasional yang Islam malah tidak boleh?

Siapa paling beruntung soal stigma Wahabi ini?

Ya, Barat.

Benarkah isu Wahabi ini muncul untuk mengadu domba umat Islam?

Memang, berdirinya NU adalah counter terhadap gerakan Wahhabisme dalam level dunia Islam.  Namun saya melihatnya, waktu itu, mungkin tokoh-tokoh NU banyak yang secara emosional terbawa oleh warisan sikap resmi Turki Usmania terhadap gerakan pemurnian Islam abad 18 di jazirah Arabia itu. Wallahu a’lam.

Betul, sekarang ada saling melempar “bid’ah” dan “kufr” antara yang satu dengan yang lain. Tapi itu sebetulnya, disebabkan kegagalan masing-masing untuk saling memahami satu sama lain. Kalau masalahnya adalah apa yang sering dituduhkan kepada gerakan ini sebagai tajsim dan tasybih terkait dengan ayat-ayat mutasyabihat, menurut saya perlu ditinjau lagi. Sebab, sikap ini sebetulnya bukan pertama kali ditunjukkan oleh pendiri gerakan ini. Sebagaimana diakuinya sendiri, bahwa pendirian ini didasarkan pada pendapat para ulama salaf, yang di antaranya adalah Imam Ahmad ibn Hanbal.

Jadi?

Perlu sikap yang arif dari umat Islam melihat persoalan ini.*

Rep: Cholis Akbar
Red: Thoriq / hidayatullah.com, Ahad, 05 September 2010

http://www.nahimunkar.com/kata-dr-anis-malik-toha-tentang-wahabi/

Share This: