MEMBENTENGI RUMAH TANGGA DENGAN RUQYAH SYAR`IYYAH

MERUQYAH AKIBAT SERANGAN AIN DAN SIHIR[1]

Pertama: Hakikat ain dan cara penyembuhannya:

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

“وَالْعَيْن نَظَرٌ بِاسْتِحْسَانٍ مَشُوبٍ بِحَسَدٍ مِنْ خَبِيث الطَّبْعِ يَحْصُل لِلْمَنْظُورِ مِنْهُ ضَرَرٌ”

“Ain adalah pandangan dengan menganggap indah sesuatu, ia diiringi rasa dengki oleh sifat yang buruk, yang mendatangkan madharat bagi orang yang dipandang.”[2]

Sedangkan dalam hadits sahih, rasulullah saw bersabda,

((الْعَيْنُ حَقٌّ، وَلَوْ كَانَ شَيْءٌ سَابَقَ الْقَدَرَ، سَبَقَتْهُ الْعَيْنُ، وَإِذَا اسْتُغْسِلْتُمْ فَاغْسِلُوا))

“Ain adalah hakiki. Seandainya ada sesuatu yang mendahului takdir, pastilah ain itu yang mendahuluinya. Dan jika kalian diminta untuk mandi, maka segeralah mandi.”[3]

Beliau juga bersabda,

((أَكْثَر مَنْ يَمُوتُ مِنْ أُمَّتِي بَعْد قَضَاء اللَّه وَقَدَرهِ بِالْأَنْفُسِ)) قَالَ الرَّاوِي: يَعْنِي بِالْعَيْنِ.

“Kebanyakan yang meninggal dari umatku setelah qadha` dan qadar Allah swt, adalah karena anfus.” Sang perawi berkata: Al-Anfus adalah ain.[4]

Inilah ain itu. Dan sesungguhnya yang terserang ain, mempunyai dua keadaan. Masing-masing keadaan ini mempunyai cara penyembuhan tersendiri:

Keadaan pertama: Jika sang `aain (pelaku penyebab ain) diketahui. Maka dia harus memberkahi orang yang terserang ain. Misalnya dengan mendoakan keberkahan baginya atau mengucapkan kepada yang terserang, Maa syaa Allah, laa quwwata illa billaah. Setelah itu sang `aain disuruh membasuh wajah, kedua tangan, kedua siku, kedua lutut, jari-jemari kedua kaki, dan bagian dalam sarungnya[5] di atas sebuah ember. Kemudian air itu disiramkan ke bagian belakang orang yang terserang ain. Disiramkan satu kali pada kepala dan punggungnya. Setelah itu air dalam ember ditumpahkan di belakangnya.[6]

Keadaan kedua: Jika sang pelaku ain (aain) tidak diketahui siapa orangnya. Maka orang yang terserang ain tetap didoakan dengan keberkahan, kemudian dibacakan dengan bacaan-bacaan ruqyah yang syar`i.

Kedua: Hakikat sihir dan cara penyembuhannya:

Sihir mempunyai beberapa makna:

Pertama: sesuatu yang halus dan tersembunyi. Dikatakan, “sahartu ash-shabiyya” (saya menyihir seorang anak kecil), “Idzaa khaada`tuhu wastamaltuhu” (Jika saya menipu dan membuatnya condong kepada saya). Maka, setiap orang yang membuat orang lain cenderung padanya, maka ia telah menyihir orang tersebut.

Kedua: Yang terjadi akibat tipuan dan imajinasi yang tidak hakiki. Seperti yang biasa dilakukan tukang sulap ketika menipu penglihatan manusia lewat gerakan tangannya yang cepat.

Ketiga: Yang terjadi karena bantuan syetan, dan ini dilakukan lewat mendekatkan diri kepada syetan-syetan itu dengan pemberian sesajen-sesajen.

Keempat: Yang terjadi akibat berbicara dengan bintang dan menurunkan spiritualismenya, menurut keyakinan mereka.[7]

Disebutkan dalam sunnah, bahwa nabi saw pernah terkena disihir. Hingga beliau terbayang seakan-akan melakukan sesuatu hal, tetapi beliau tidak melakukannya. Juga terbayang seakan-akan menggauli isteri-isterinya, padahal beliau tidak menggauli mereka. (Dan bentuk seperti ini, adalah sihir yang paling berat).[8]

Sedangkan untuk mengobati sihir, maka untuk itu ada dua kondisi juga: Jika kita bisa menemukan sumber sihir, lalu kita mengeluarkannya, maka sihir itu tidak bakalan berpengaruh lagi. Tetapi, jika kita tidak bisa menemukannya, maka kita beralih pada ruqyah syar`iyyah.

Pengertian ruqyah dan penjelasan macam-macamnya:

Ruqyah, dengan huruf ra` didhammah, adalah sesuatu yang digunakan sebagai perlindungan.[9] Kemudian dibacakan kepada orang yang terkena penyakit. Seperti demam, kesurupan, dan penyakit-penyakit lainnya.[10]

Ruqyah ada empat macam:[11]

Pertama: Ruqyah yang berasal dari firman Allah swt, atau dengan menyebut nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya yang mulia. Ini adalah ruqyah yang dibolehkan. Bahkan dianjurkan (mustahab).  

Kedua: Yang disamakan dengan bagian pertama. Yaitu yang berasal dari dzikir dan doa-doa ma`tsur. Ini hukumnya sama seperti bagian pertama.

Ketiga: Ruqyah yang berasal dari dzikir dan doa-doa tidak ma`tsur, tetapi tidak menyalahi yang ma`tsur. Ini hukumnya juga diperbolehkan.

Keempat: Ruqyah dengan perkataan-perkataan yang tidak diketahui maknanya. Ini seperti mantera-mantera yang biasa dibaca orang-orang jahiliyah. Ruqyah seperti ini kita wajib menghindarinya. Agar tidak terdapat syirik di dalamnya, atau hal-hal yang menjurus kepada syirik.

Kaidah dalam melakukan ruqyah syar`iyyah:

Para ulama bersepakat bahwa ruqyah hukumnya boleh, jika ketiga syarat di bawah ini terpenuhi:

1.      Hendaknya ruqyah itu dengan firman Allah swt atau dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

2.      Hendaknya (bacaan) ruqyah itu dengan bahasa Arab. Atau dengan bahasa lain, yang penting difahami oleh orang yang diruqyah.

3.      Hendaknya setiap peruqyah maupun orang yang diruqyah meyakini, bahwa ruqyah tidak bisa memberikan pengaruh sedikit pun, tetapi yang memberikan pengaruh adalah Allah swt.[12]

Adapun syarat-syarat yang mesti dipenuhi oleh masing-masing peruqyah dan orang yang diruqyah, agar manfaat ruqyah menjadi sangat sempurna, adalah:

1.      Keahlian sang peruqyah. Maksudnya: hendaknya sang peruqyah termasuk orang-orang yang bertaqwa, shalih, dan senantiasa istiqamah (dalam menjalankan ajaran Islam).

2.      Mengetahui ayat-ayat Al-Quran yang cocok untuk ruqyah yang dibacakannya.

3.      Hendaknya orang sakit (yang diruqyah) termasuk orang-orang yang beriman, shalih, baik, bertaqwa, selalu istiqamah dalam menjalankan ajaran agama, serta senantiasa menghindari perbuatan haram, maksiat dan kedzaliman. Karena Allah swt berfirman,

{وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا } [الإسراء : 82]

 “Dan kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al-Isra`: 82) Oleh karena itu, ruqyah ini biasanya tidak berpengaruh pada orang-orang ahli maksiat dan suka mengerjakan kemungkaran.

4.      Mengimani secara yakin bahwa Al-Quran adalah syifa` (obat), rahmat, dan penyembuhan yang mujarab. Karena itu kita tidak boleh meruqyah dengan ayat-ayat qur`an, atas dasar coba-coba. Jika bermanfaat, kita teruskan. Jika tidak, maka kita memilih yang lainnya.

Ketika keempat syarat ini terpenuhi, maka dengan izin
Allah swt, manfaat ruqyah akan menjadi sempurna. Allahu a`lam.[13]

Ada beberapa sebab lain, jika seseorang yang tertimpa penyakit selalu menetapi sebab-sebab tersebut, maka dengan izin Allah swt sebab-sebab itu bakal membantu dalam mempercepat penyembuhannya. Di antaranya:

1-Bersungguh-sungguh dalam menunaikan segala ibadah tepat pada waktunya. Di antara ibadah-ibadah itu adalah mengerjakan shalat secara berjamaah. Terutama shalat fajar (subuh). Karena rasulullah swt bersabda,

((مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللَّهِ…))

“Barangsiapa mengerjakan shalat subuh, maka dia berada dalam perlindungan Allah swt…”[14]

            Juga bersabda pada hadits lain,

((مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ))

“Barangsiapa mengerjakan shalat subuh dengan berjamaah, maka seakan-akan ia mengerjakan shalat sepanjang malam.”[15]

2-Sebelum diruqyah orang lain, hendaknya seseorang mencoba untuk meruqyah dirinya sendiri. Sebab ruqyah seseorang terhadap dirinya sendiri, lebih utama daripada ruqyah orang lain terhadapnya. Hal itu, karena ruqyah adalah termasuk jenis doa. Sementara doa seseorang buat dirinya sendiri –dengan adanya tawakkal yang sempurna-, lebih cepat dikabulkan dibanding doa orang lain buat dirinya. Apalagi di zaman yang sekarang jarang kita temukan para peruqyah yang mukhlish (ikhlas).

3-Jika seseorang tidak mampu meruqyah dirinya karena rasa sakit yang sangat parah misalnya, atau ia sudah meruqyah dirinya, namun ingin menambahkan ruqyah orang lain pada dirinya itu, maka hendaklah ia bersungguh-sungguh dalam meminta ruqyah dari orang-orang yang ikhlas, yang baik aqidahnya, serta terkenal di kalangan manusia dengan keshalihan dan ketenarannya.

Dan hendaklah ia menghindar semampu mungkin untuk terseret di belakang para tukang sihir dan dukun-dukun. Ini adalah perbuatan yang sudah diketahui secara pasti keharamannya. Sebagaimana seorang mukmin juga harus berhati-hati dari berobat lewat barang-barang haram. Karena Allah swt, ketika mensyariatkan berobat atas hamba-hamba-Nya, Dia tidak menjadikan pengobatan mereka terletak pada hal-hal yang diharamkan-Nya. Sebagaimana disabdakan oleh nabi Muhammad saw,

((إِنَّ اللهَ لَمْ يَجْعَلْ شِفَاءَكُمْ فِيْ حَرَامٍ))

“Sesungguhnya Allah tidak menjadikan pengobatan kalian pada barang-barang yang haram.”[16]

4-Hendaknya ruqyah syar`iyyah ini dibacakan oleh seseorang yang baik batinnya, lurus ajarannya, sudah mensucikan dirinya dari barang-barang haram, serta yakin bahwasanya pengobatan datangnya hanya dari Allah swt, dan sesungguhnya hanya Allah swt semata yang Maha Mengobati dan Maha Memberikan afiat (kesembuhan).

Yang demikian itu, karena ruqyah –sebagaimana sudah dijelaskan- adalah doa. Sehingga, jika seseorang membacakan ruqyah atas dirinya atau orang lain, maka ia harus meyakini saat membacakan ruqyah tersebut, bahwa datangnya kesembuhan adalah dari Allah swt. Ini harus dipercayainya secara yakin, tidak atas dasar coba-coba. Jika seorang peruqyah membacakan ruqyahnya, karena untuk mencoba kemujarabannya, berarti ia telah menghilangkan dari dirinya suatu manfaat yang sangat besar.

5-Hendaknya ia berdoa seperti orang yang sangat membutuhkan, berulang-ulang, dan yakin bahwa Allah swt pasti mengabulkannya. Ini karena rasulullah saw berulang-ulang dalam doanya. Seperti dalam hadits riwayat Aisyah radhiyallahu anha di bawah ini,

((سَحَرَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَهُودِيٌّ مِنْ يَهُودِ بَنِي زُرَيْقٍ يُقَالُ لَهُ لَبِيدُ بْنُ الْأَعْصَمِ قَالَتْ: حَتَّى كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَفْعَلُ الشَّيْءَ وَمَا يَفْعَلُهُ حَتَّى إِذَا كَانَ ذَاتَ يَوْمٍ أَوْ ذَاتَ لَيْلَةٍ دَعَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ دَعَا ثُمَّ دَعَا…))

“Rasulullah saw disihir oleh salah seorang yahudi dari Bani Zuraiq. Ia bernama Labid bin A`sham. Hingga beliau terbayang seakan melakukan sesuatu padahal beliau tidak melakukannya. Hingga pada suatu hari atau pada suatu malam, rasulullah saw berdoa. Kemudian beliau berdoa, dan berdoa.[17]

Juga sebagaimana dijanjikan Allah I dalam firman-Nya,

{ أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ } [النمل : 62]

 “Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).” (QS. An-Naml: 62)

Sebagaimana halnya seorang peruqyah juga harus mencari-cari waktu yang doa sangat dikabulkan pada waktu-waktu itu. Di antaranya adalah sepertiga malam yang terakhir. Waktu terakhir pada hari Jumat (sebelum maghrib). Pada saat sujud. Serta waktu-waktu dan keadaan lainnya yang sangat utama.

6-Berupaya semampu mungkin agar seluruh makanannya adalah barang-barang yang halal dan suci. Karena rasulullah saw bersabda,

((أَطِبْ مَطْعَمَكَ تَكُنْ مُسْتَجاَبَ الدَّعْوَةِ))

“Per-halal-lah makananmu, niscaya kamu menjadi orang yang doanya terus terkabul (mustajab).”[18]

7-Selalu membaca surat Al-Baqarah dalam rumah. Karena tidak diragukan bahwa membaca surat Al-Baqarah dalam rumah merupakan benteng pelindung yang sangat kuat dan ruqyah yang sangat hebat bagi seluruh penghuni rumah tersebut. Sesuai dengan sabda nabi saw yang berbunyi,

((اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ، فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ، وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ، وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ))

“Bacalah surat Al-Baqarah. Mengambilnya adalah suatu berkah. Meninggalkannya adalah kerugian. Dan para tukang sihir tidak bisa mengalahkannya.”[19]

Kemudian, yang termasuk keberkahan surat al-baqarah ini, adalah penjelasan yang datang dari nabi r, beliau bersabda,

((إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنْ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ))

“Sesungguhnya syetan lari terbirit-birit dari rumah yang di dalamnya dibacakan Surat Al-Baqarah.”[20]

Surat ini bisa dibaca sendiri oleh pasien yang terkena penyakit, atau dibacakan padanya. Sebagaimana jika pembacaannya diulang-ulang secara lengkap lewat kaset dan tape recorder setiap hari atau setiap malam, maka dengan izin Allah swt itu juga menjadi sebab terlindunginya seluruh penghuni rumah dari gangguan syetan. Sebagaimana hal itu difatwakan oleh Asy-Syaikh Al-`Allaamah Ibnu Jibrin –mudah-mudahan Allah menjaganya-.[21]

8-Selalu memperbanyak dzikrullah (mengingat Allah), senantiasa membaca Al-Quran, menetapi istighfar, dan membentengi diri dengan dzikir-dzikir syar`i.

9-Selalu meminum air suci yang sudah dibacai ruqyah dan menggunakannya untuk mandi. Terutama air zamzam, ia adalah air yang penuh berkah. Sesuai sabda nabi saw yang berbunyi,

((إِنَّهَا مُبَارَكَةٌ إِنَّهَا طَعَامُ طُعْمٍ، وَشِفَاءُ سُقْمٍ))

“Sesungguhnya zamzam adalah air yang mubarak (diberkahi.) Ia adalah makanan bagi orang yang lapar, dan obat bagi segala penyakit.”[22]

Karena itu, jika air zamzam dibacai dengan ayat-ayat ruqyah, kemudian diminum atau dibuat mandi, insya Allah kesembuhan akan segera datang dan lebih mujarab.

Jika air zamzam tadi ditambahi dengan daun bidara, atau air zamzam itu ditambahkan pada air suci yang sudah dibacai, atau direndamkan dalam air zamzam itu daun-daun yang tertulisi ayat-ayat al-qur`an, yang ayat-ayat itu ditulis dengan tinta suci –dari kunyit maupun yang lain-, maka hal itu dengan izin Allah, juga menjadi sebab kesembuhan pula.[23]

10-Berusaha untuk selalu makan buah zaitun dan mengoleskan minyaknya pada tubuh. Sesuai dengan sabda nabi saw yang berbunyi,

((كُلُوا الزَّيْتَ وَادَّهِنُوا بِهِ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ))

“Makanlah buah zaitun dan oleskan minyaknya pada tubuh kalian. Karena ia berasal dari pohon yang diberkahi.”[24]

Demikian halnya dengan jintan hitam (Al-Habbah as-sauda`) dan minyaknya. Hendaknya sang pasien selalu memakan dari jintan itu dan mengoleskan minyaknya pada tubuh. Sesuai sabda rasulullah saw yang berbunyi,

((فِي الْحَبَّةِ السَّوْدَاءِ شِفَاءٌ مِنْ كُلِّ دَاءٍ إِلَّا السَّامَ))

“Dalam jintan hitam terdapat penyembuhan dari segala penyakit kecuali mati.”[25]

Kemudian jika kita membacakan ayat-ayat Al-Quran pada minyak zaitun dan minyak jintan hitam, insya Allah hal itu lebih afdhal untuk pengobatan.

11-Membiasakan diri dengan meminum madu. Karena madu merupakan obat bagi seluruh umat manusia. Sebagaimana hal itu dijelaskan oleh Allah SWT.[26] Jika madu itu dibacai dengan ayat-ayat Al-Quran, tentunya itu menjadi lebih baik. Karena tergabung dua keutamaan padanya, yaitu keutamaan berobat dengan Al-Quran dan keutamaan berobat dengan madu.

12-Membiasakan diri dengan berbekam setiap memerlukannya. Hal itu sesuai dengan sabda nabi SAW yang berbunyi,

((الشِّفَاءُ فِي ثَلَاثَةٍ: فِي شَرْطَةِ مِحْجَمٍ، أَوْ شَرْبَةِ عَسَلٍ، أَوْ كَيَّةٍ بِنَارٍ، وَأَنَا أَنْهَى أُمَّتِي عَنْ الْكَيِّ))

“Pengobatan itu dalam tiga hal: Tusukan bekam, minum madu, atau sengatan api (besi yang dipanaskan). Tetapi saya melarang umatku dari sengatan api.”[27]

13-Memakan tujuh butir kurma ajwah setiap pagi hari. Ini sesuai dengan sabda nabi SAW yang berbunyi,

((مَنْ تَصَبَّحَ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعَ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً، لَمْ يَضُرَّهُ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ سُمٌّ وَلَا سِحْرٌ))

“Barangsiapa yang setiap pagi hari memakan tujuh butir kurma ajwah, niscaya pada hari itu ia tidak akan terganggu oleh racun maupun sihir.”[28]

Pembaca yang dimuliakan Allah! Di bawah ini ada sepuluh ringkasan yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim. Dengan izin Allah kesepeluh perkara ini mampu menghalangi buruknya orang yang iri hati, ain, dan sihir.[29]

1.      Berta`awwudz (memohon perlindungan) kepada Allah dari buruknya dengki, ain, dan sihir. Juga membentengi diri dengan-Nya dan memohon pertolongan pada-Nya.

2.      Mewujudkan taqwa kepada Allah SWT. Yaitu dengan menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena siapa saja yang bertaqwa kepada Allah SWT, niscaya Allah langsung melindungi dan tidak memasrahkannya kepada siapa pun selain-Nya.

3.      Menghias diri dengan bersabar atas setiap musuh yang ber-iri hati. Karena tidak ada seorang pun yang dihasadi, yang dimenangkan atas pendengkinya, lewat sesuatu yang lebih baik daripada sabar. Dan rencana jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri.

4.      Bertawakkal kepada Allah. Karena siapa pun yang bertawakkal (berpasrah) kepada-Nya, niscaya ia selalu terlindungi. Dan tawakkal adalah sebab terkuat, yang dengannya seorang hamba mampu menolak gangguan tak tertahankan dari para makhluk.

5.      Mengosongkan hati dari sibuk memikirkan orang yang dengki kepadanya. Dan hendaknya orang yang dihasadi, berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan perasaan itu setiap terbersit dalam benaknya. Juga tidak menoleh padanya atau merasa takut terhadapnya.

6.      Senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT dan berbuat ikhlas pada-Nya. Ini merupakan benteng paling tangguh, yang siapa pun jika membentingi dirinya dengan hal itu, ia tak akan merasa takut lagi. Dan tak akan tersiakan orang-orang yang berlindung kepadanya.

7.      Bertaubat kepada Allah SWT dari segala dosa dengan sebenar-benar taubat. Karena tidaklah seorang hamba tertimpa keburukan apa pun, kecuali itu karena dosa yang diperbuatnya, baik ia merasa atau tidak.

8.      Banyak bersadaqah dan berbuat ihsan (kebajikan) kepada para makhluk sebisa mungkin. Karena perbuatan itu berdampak yang sangat baik dalam menolak bencana, ain, dan keburukan seorang pendengki. Disebutkan dalam sebuah atsar,

((دَاوُوْا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ))

“Sembuhkanlah orang-orang sakit kalian dengan sadaqah.”[30]

9.      Memadamkan api orang yang dengki, yang berbuat dzalim dan yang suka mengganggu, dengan berbuat baik kepadanya. Karena perbuatan baik kepada makhluk, menimbulkan datangnya kecintaan daripadanya. Juga meringankan dan menghilangkan rasa benci dalam dirinya. Sebagaimana dijelaskan Allah SWT dalam firman-Nya,

{وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ } [فصلت : 34]

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik. Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fushshilat: 34)

10.  Memurnikan tauhid kepada Allah SWT. Karena tauhid merupakan benteng Allah yang paling kuat. Barangsiapa masuk ke dalam benteng tauhid, ia pasti termasuk orang-orang yang aman. Juga dengan mengalihkan pemikiran. Yang asalnya memikirkan sebab (sarana/media) dialihkan untuk memikirkan pencipta sebab yaitu Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Juga merasa yakin bahwa segala sesuatu tidak mungkin memberikan madharat atau manfaat kecuali dengan izin Allah SWT.

Kemudian… di bawah ini ada beberapa perkara penting, jika seseorang yang tertimpa penderitaan meyakininya dengan sepenuh hati, niscaya musibah-musibah yang menimpa menjadi ringan baginya:

1)      Hendaknya ia beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk. Sebagaimana dijelaskan nabi SAW dalam sabdanya,

((لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ، حَتَّى يَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَهُ، وَأَنَّ مَا أَخْطَأَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَهُ))

“Seorang hamba tidak akan beriman, hingga ia percaya kepada takdir yang baik maupun yang buruk. Dia juga tidak akan beriman, hingga mengetahui bahwa apa yang sudah ditetapkan bagi dirinya, pasti akan menimpa, dan apa saja yang tidak ditetapkan baginya, tidak akan pernah menimpa selamanya.”[31]

2)      Hendaknya ia mengetahui bahwa apa saja yang menimpa seorang mukmin, itu adalah ujian dari Allah. Juga  hendaknya ia mengharap bahwa itu sebagai tanda kecintaan Allah terhadap dirinya. Karena bencana adalah pensuci bagi kesalahan-kesalahan. Sebagaimana disebutkan oleh nabi SAW dalam sabdanya,

((إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ))

“Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya bencana. Dan jika Allah SWT mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Barangsiapa ridha dengan ujian itu, maka baginya keridhoan. Dan barangsiapa marah, maka baginya kemarahan pula.”[32]

3)      Hendaknya ia bersabar. Mencari pahala penderitaan itu di sisi Allah SWT. Menjadikan ketergantungannya hanya kepada-Nya. Serta menanti datangnya kemudahan dari-Nya. Karena hal itu merupakah ibadah yang paling utama. Dan hendaknya ia juga memohon afiyah (kesembuhan/perlindungan) kepada Allah SWT. Sebagaimana sabda nabi SAW yang berbunyi,

((سَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ))

“Mohonlah kepada Allah SWT afiat (kesembuhan/perlindungan) di dunia dan akhirat.”[33]

 

Beberapa nasehat yang mesti diperhatikan saat melakukan ruqyah:

1.      Hendaknya sang peruqyah maupun pasien yang diruqyah, berada dalam kondisi suci yang sempurna dari hadats kecil maupun hadats besar.

2.      Hendaknya sang peruqyah menghadap kiblat.

3.      Hendaknya sang peruqyah dan pasien yang diruqyah, masing-masing dari mereka mentadabburi ayat-ayat ruqyah yang dibaca. Saat membaca ayat-ayat tersebut, janganlah sang peruqyah mengucapkannya tanpa memikirkan makna-maknanya. Dan ketika sang pasien mendengarnya, ia harus segera berusaha untuk mentadabburinya. Dan keduanya, masing-masing harus menghadirkan ketergantungan hati mereka terhadap besarnya keagungan Allah SWT, dan memperbagus cara memohon kepada-Nya.

4.      Meniup pada saat membaca ayat-ayat maupun setelah membacanya. Hal ini tidak mengapa jika ditinggalkan.

5.      Sebaiknya meletakkan tangan kanan di atas ubun-ubun pasien atau anggota tubuhnya yang sakit saat membaca ayat-ayat ruqyah, jika hal itu bisa dilakukan. Dan perlu diingat, jika pasiennya wanita yang bukan muhrim, kita tidak boleh (perlu) menyentuhnya.

6.      Sebaiknya pula membaca ayat-ayat itu dengan suara yang normal pada telinga kanan atau kiri sang pasien, secara silih berganti saat meruqyah.

7.      Jika anda merasa bahwa sang pasien sangat terpengaruh oleh beberapa ayat saat dibacakan, maka tidak mengapa jika anda mengulang ayat-ayat itu sebanyak tiga, lima, atau tujuh kali, sesuai kebutuhan dan tingkat respon sang pasien.

8.      Hendaklah seorang peruqyah saat meruqyah siapa pun, ia harus meniatkan ruqyahnya itu untuk memberikan manfaat kepada saudaranya. Karena ingin agar saudaranya disembuhkan Allah SWT. Agar Allah SWT meringankan bencana yang menimpanya. Dan menyampaikan jalan hidayah kepada saudaranya tersebut. Bahkan jika sang peruqyah merasakan keberadaan jin yang merasuk dalam diri saudaranya, ia juga harus bersungguh-sungguh untuk mendakwahi jin tersebut kepada jalan taqwa dan istiqamah. Ini adalah sesuatu sangat penting, yang mesti diperhatikan setiap peruqyah. Hal itu, karena risalah (tugas) seorang muslim yang paling prinsip adalah berdakwah kepada jalan Allah SWT. Sesuai dengan firman Allah SWT yang berbunyi,

{قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ} [يوسف : 108]

 “Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan Aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik’.” (QS. Yusuf: 108)

Intinya seorang muslim, posisi utamanya adalah sebagai juru dakwah kepada jalan Allah SWT. Oleh sebab itu, yang paling utama saat ia memulai ruqyahnya adalah membawa dalam dadanya dua niat tersebut. Yaitu niat menyembuhkan dan niat memberikan hidayah. Maka tidak patut, jika ia berniat untuk menyakiti jin pada permulaan ruqyahnya. Kecuali jika jalan untuk memberinya hidayah sudah sulit dan sangat terhalangi.

9.      Selalu memperhatikan lafadz ruqyah yang sesuai dengan keadaan saat membacanya. Maka sang peruqyah mengatakan, “Saya meruqyah diri saya.” “Saya meruqyah diri anda (laki-laki) dan diri anda (perempuan).” “Saya meruqyah kalian (laki-laki).” Dan lain sebagainya, yang penting sesuai dengan keadaan.

Diambil dari terjemahan Wafi Marzuqi: “Ghurfat An-Naum; Lamasaat jamaaliyyah…” Oleh: Muhammad bin Sa’ad Az-Zua’ir. Sudah dicetak dengan judul: “Jadilah suami istri romantis” pustaka eLba Surabaya


[1] Diambil dari kitab, “Irqi nafsaka wa ahlaka bi nafsik.” (Ruqyah sendiri! Diri dan keluarga anda), DR. Khalid Al-Jarisiy. Ini adalah kitab sangat bagus, yang setiap rumah harus memilikinya.

[2] Fathul Bari, Ibnu Hajar, 10/210

[3] HR. Muslim, no.2188

[4] Disebutkan oleh Al-Haitsami dalam majma` Az-Zawaid, dari hadits Jabir bin Abdillah t, 5/106. Al-Haitsami berkata: Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bazzar, dan para perawinya adalah perawi-perawi kitab sahih, selain Thalib bin Habib bin Amru, tetapi ia seorang yang tsiqah. Isnad hadits ini dihasankan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah dalam fathul bari, 10/214

[5] Yang dimaksud dengan bagian dalam sarung adalah: Jasadnya yang dekat dengan sarung. Atau jasad yang ditempati sarung. Atau maksudnya: hendaknya pelaku timbulnya ain ini, mencuci bagian atas pantatnya karena ia adalah tempat sarung yang biasa digunakan duduk. Lihat, fathul bari, 10/215

[6] Lihat pula, fathul Bari, 10/214

[7] Fathul Bari, 10/232

[8] Muttafaq alaih. HR. Al-Bukhari, no. 5765 dan HR. Muslim, no. 2189, sedangkan yang berada di antara dua kurung, adalah ucapan Imam Sufyan bin Uyainah rahimahullah.

[9] Lihat, Mu`jam maqayis al-lughah, karya Ibnu Faris, 1/480.

[10] Lihat, An-Nihayah karya Ibnul Atsir, 2/231

[11] Aqsaam Ar-Ruqaa wa ahkaamuha, dinukil dari perkataan Ibnu Hajar dalam fathul bari, 4/534-535, lihat pula yang dinukil dari Imam Al-Qurthubi dalam fathul bari juga, 10/206

[12] Dinukil dari Al-Hafidz Ibnu Hajar, lihat fathul bari, 10/206

[13] Ringkasan fatwa Syaikh Allamah Ibnu Jibrin. Mudah-mudahan Allah melindungi dan menjadikan ilmunya bermanfaat. Lihat, silsilah al-fatawa asy-syar`iyyah, fatawa ar-ruqa wa at-tamaaim, dikumpulkan oleh DR. Khalid Al-Jarisiy, hlm. 8

[14] HR. Muslim, no. 657

[15] HR. Muslim, no. 656

[16] HR. Ibnu Hibban, no. 1391

[17] HR. Muslim, no. 2189

[18] HR. Ath-Thabrani dalam al-ausath, 7/255, no. 6491, hadits ini disaksikan oleh hadits yang setelahnya. Dan hadits yang setelahnya ini terdapat dalam riwayat Muslim.

[19] HR. Muslim, no. 804, sedangkan makna Al-Bathalah adalah tukang sihir. Sebagaimana dijelaskan oleh Muawiyah bin Salam, salah seorang perawi hadits.

[20] HR. Muslim, no. 780

[21] Yang menanyakan hal ini adalah DR. Khalid Al-Jarisiy. Sedangkan naskah pertanyaan tercantum dalam kitab “Irqi nafsaka wa ahlaka binafsik”, hlm. 207

[22] HR. Muslim, no. 2473, kitab fadhail ash-shahabah, bab: fadhail Abi Dzarr RA. Adapun sabda nabi, “Syifaau suqmin” ini adalah tambahan dari riwayat imam Abu Dawud Ath-Thayalisi dari jalur yang diriwayatkan Imam Muslim. Sebagaimana disebutkan oleh al-Hafidz ibnu Hajar dalam fathul Bari, 3/493

[23] Lihat, al-muntaqa min fatawa al-fauzan, 2/145

[24] HR. At-Tirmidzi, no. 1851 dan 1852. Al-Albani berkata tentang kedua hadits ini: sahih. Lihat, sahih sunan At-Tirmidzi, karya Al-Albani, 2/318

[25] HR. Al-Bukhari, no. 5688, dan HR. Muslim, no. 2215

[26] Yaitu firman-Nya yang berbunyi,

{ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ} [النحل : 69]

“Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.” (QS. An-Nahl: 69)

[27] HR. Al-Bukhari, no. 5681 dan HR. Muslim, no. 2205, dan ini adalah lafadz Imam Al-Bukhari.

[28] HR. Al-Bukhari, no. 5445, ini adalah lafadz Al-Bukhari. Dan HR. Muslim, no. 2047

[29] Lihat, bada`iul fawaid, karya Ibnul Qayyim, 2/238-246

[30] Satu petikan dari hadits mursal. Disebutkan oleh abu Daud dalam kitab “Al-Maraasil” hlm. 127-128 dari Hasan Al-Bashr. Nashnya,

((حَصِّنُوْا أَمْوَالَكُمْ بِالزَّكَاةِ، وَدَاوُوْا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ، وَاسْتَقْبِلُوْا أَمْوَاجَ اْلبَلاَءِ بِالدُّعَاءِ))

“Lindungilah harta kalian dengan zakat. Sembuhkan orang-orang sakit kalian dengan sadaqah, dan sambutlah hantaman malapetaka dengan berdoa.”

Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra, 3/382, setelah menyebutkan jalur yang marfu` miliknya pada hadits ini, dari Abdullah bin Mas`ud RA berkata, “Matan hadits ini diketahui hanya dari Hasan Al-Bashri secara mursal. Ia juga diriwayatkan secara marfu` dari Abdullah bin Umar, Abu Umamah, Samurah bin Jundub, dan Ubadah bin Shamit. Tetapi seluruh jalur yang marfu` ini tidak sahih. Itu disebabkan adanya seorang perawi matruk dalam sanad. Atau karena terdapat inqitha` (perputusan). Atau karena adanya jahalah pada salah satu perawinya. Dan sebaik-baik jalur yang diriwayatkan pada hadits ini, sebagaimana sudah dijelaskan, adalah mursal dari Hasan Al-Bashri.”

[31] HR. At-Tirmidzi, no. 2396. at-tirmidzi menghasankannya. Al-Albani berkata, “ini adalah hadits hasan.” Lihat, sahih At-Tirmidzi, 2/564

[32] HR. At-Tirmidzi, no. 2396, dia menghasankannya. Al-Albani berkata, “Hadits hasan.” Lihat, sahih sunan at-tirmidzi, 2/564

[33] HR. At-Tirmidzi, no. 3594, dia menghasankan hadits ini.

Share This: