Pernikahan Dini

Kebutuhan para pemuda untuk menikah adalah kebutuhan yang sangat mendesak. Karena memuaskan naluri seksual sama seperti keharusan diri untuk menghilangkan rasa lapar dan dahaga. Pernikahan dini adalah solusi terbaik untuk menghilangkan problematika seksual yang menimpa para pemuda. Tapi dengan syarat mereka sudah siap Al-Baa’ah, yakni menikah. Seperti dalam Hadis berikut:

((مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ اَلْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ))

“Barangsiapa dari kalian sudah mampu untuk Al-Baa’ah (menikah) maka hendaknya ia menikah.”[1]

Intinya pernikahan adalah penyebab datangnya ketenteraman batin dan kepuasan terhadap naluri seksual. Remaja yang sudah menikah akan merasa memiliki rumpun (spesis). Merasa sudah sempurna kehidupannya. Serta merasa sudah dewasa dan matang.

Karena pemuda yang masih remaja, biasanya selalu sibuk memikirkan seks. Juga mempunyai perasaan yang kacau seputar masalah pernikahan. Kekacauan ini biasanya terlihat pada kejiwaan sang pemuda. Yang kemudian berlanjut kepada aspek-aspek aktifitasnya baik dalam memilih hobi maupun program-program untuk menghabiskan waktu luang.

Ketenteraman, kasih sayang, dan rahmat merupakan ciri-ciri khusus pernikahan yang berhasil. Allah Ta’ala berfirman:

وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ  [الروم/21]

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Ruum: 21)

Penelitian tentang kejiwaan membuktikan bahwa orang-orang yang sudah bersuami cenderung lebih tenang. Kemudian mereka memfokuskan diri kepada kegiatan-kegiatan pengetahuan. Sementara orang-orang yang belum menikah, cenderung lebih banyak emosi dan perasaannya. Bahkan terkadang cenderung melakukan tindak kejahatan. Di antaranya: Sikap kontradiksi yang ada pada kaum wanita, serta suka melihat film-film porno dan terus-terusan dalam kebatilan.[2]

Karena itu Islam sangat menganjurkan pernikahan dini. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

((يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ))

“Wahai para pemuda! Barangsiapa dari kalian mampu untuk menikah maka hendaknya ia menikah. Karena pernikahan lebih menundukkan pandangan dan lebih menyucikan kemaluan. Barangsiapa tidak mampu menikah, hendaknya ia berpuasa. Karena puasa ibarat perisai baginya.”[3]

Pernikahan juga membantu seseorang untuk beristiqamah. Di samping juga mematahkan besarnya syahwat pada remaja yang sedang bergejolak vitalitas dan keaktifannya. Seandainya pernikahan ini tidak terjadi, sesungguhnya Islam memberikan solusi lain kepadanya. Solusi untuk menguasai naluri seks dan mengarahkannya kepada lapangan yang lebih baik. Yaitu berpuasa. Insya Allah dengan berpuasa tingkah laku menjadi mudah diatur.

E Sesungguhnya pernikahan dini tidak lain adalah tindakan untuk menjawab dorongan fitrah manusia. Ia juga kebutuhan alami yang mendesak pada setiap insan. Pernikahan dini ini semakin mendesak kebutuhannya dan semakin dituntut ketika seseorang berada pada umur remaja.

E Sedangkan mengakhirkan pernikahan, ini adalah menyalahi syariat, serta bertentangan dengan hukum alam dan fitrah manusia. Karena mengakhirkan pernikahan akan mendatangkan banyak dampak buruk yang sangat merusak bagi remaja dan masyarakat. Di antaranya:

(1)Membuang percuma kekuatan organisme dengan menyia-nyiakan air mani dalam kebiasaan buruk. Apakah itu onani, permainan-permainan yang membahayakan, atau berzina. Karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita untuk menikah dengan wanita yang sangat mencintai dan sangat banyak anak demi memperbanyak keturunan yang muslim. Beliau bersabda:

((تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ، فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ الْأُمَمَ))

“Menikahlah dengan wanita yang sangat mencintai dan sangat banyak anak. Karena saya akan berlomba dengan banyaknya jumlah kalian di hadapan umat-umat yang lain.”[4]

(2) Membuang percuma kekuatan psikologi dan moral dengan menyia-nyiakan energi dan masa muda. Di samping juga menyia-nyiakan perasaan emosional, pemikiran, khayalan, keberanian, semangat yang besar, dan lain sebagainya. Semua sifat ini adalah sifat-sifat remaja yang paling dominan. Tentunya dengan pernikahan dini sifat-sifat istimewa ini tidak terbuang percuma dalam petualangan, pacaran, aksi balap mobil, surat-menyurat antar lawan jenis, serta penyimpangan-penyimpangan akhlaq.

Sehingga bertahun-tahun yang panjang dari umur pemuda, karena tertundanya pernikahan, menjadi terbuang secara percuma. Padahal tahun-tahun itu merupakan bagian dari umur umat yang membutuhkan kekuatan para remaja.

(3) Dengan mengakhirkan pernikahan hal itu menjadikan para pemuda sebagai sasaran fitnah yang hebat. Sehingga remaja laki-laki dan perempuan terjerumus dalam berbagai perkara yang membangkitkan nafsu birahi. Apakah itu berupa bahan bacaan, sesuatu yang didengar, yang ditonton, dan yang dijumpai di masyarakat. Semuanya dalam tingkatan yang berbeda-beda. Ditambah dengan banyaknya keragaman dalam bentuk, penampilan, dan musik-musikan.

Ditambah lagi godaan-godaan itu dalam bentuk gerakan yang hidup. Dalam arti langsung dilihat dari wanita yang berdandan dan dari pakaian mereka yang tidak menutup aurat. Dengan jalan mereka yang sangat menggoda, serta suara mereka dalam banyak medan yang beragam. Ini buat remaja putera. Sedangkan untuk remaja puteri, mereka langsung mendapati pemuda-pemuda yang langsung bisa mereka jumpai, dengan pakaiannya yang khas, dan gaya bicara mereka yang memikat.

(4) Perawan tua: Ini adalah problematika yang banyak ditemui remaja puteri zaman ini. Karena ia lebih mendahulukan studi atau pekerjaan daripada pernikahan. Akhirnya kereta pernikahan pun melewati dan kaum lelaki juga menghindarinya.[5]

Ditambah lagi dengan mahalnya maskawin, membengkaknya nafkah pesta pernikahan yang dibebankan kepada lelaki, dan tuntutan kepada lelaki dari mertua agar mempunyai rumah yang penuh dengan perabotan lengkap sebelum menikahi puterinya. Semua perkara ini menjadi dinding penghalang yang sangat merintangi laju pernikahan bagi para remaja yang menginginkannya.

Maka menjadi kewajiban para wali dan orang tua untuk bertaqwa kepada Allah Ta’ala dari masalah besar ini. Hendaknya mereka tidak mengikuti tradisi-tradisi kuno dan adat-adat yang tidak sesuai dengan aturan Islam. Jelas sekali bahwa adat dan tradisi ini sangat berseberangan dengan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang banyak memberi kemudahan dalam masalah pernikahan. Di samping juga menyalahi kebiasaan orang-orang shalih dari generasi pertama.

Sumber: Tarbiyatul Murahiq, diterjemahkan oleh Wafi Marzuqi Ammar

 


[1] HR. Al-Bukhari dan Muslim.

[2] Al-Muraahiqun, Dr. Abdul Aziz An-Nughaimasyi, hlm. 83-87

[3] HR. Al-Bukhari, no.  4677, dan Muslim, no.  2485

[4] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Hadis Ma’qal bin Yasar Radhiyallahu ‘anhu. Lihat: Sunan Abi Dawud, 2/542, juga diriwayatkan oleh An-Nasa’i.

[5] Al-Muraahiquun, An-Nughaimasyi, hlm. 97-98

Share This: