SADAQAH PENYEBAB DATANGNYA SEGALA KEBAHAGIAAN

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

“وَقَدْ دَلَّ النَّقْلُ وَاْلعَقْلُ وَاْلفِطْرَةُ وَتَجَارُبُ اْلأُمَمِ – عَلَى اخْتِلاَفِ أَجْنَاسِهَا وَمِلَلِهَا وَنِحَلِهَا – عَلَى أَنَّ التَّـقَرُّبَ إِلَى اللهِ رَبِّ اْلعَالمِـيْنَ، وَطَلَبِ مَرْضَاتِهِ، وَاْلبـِرِّ وَاْلإِحْسَانِ إِلَى خَلْقِهِ، مِنْ أَعْظَمِ اْلأَسْبَابِ اْلجَالِبَةِ لِكُلِّ خَيْرٍ، وَأَضْدَادَهَا مِنْ أَكْبَرِ اْلأَسْبَابِ اْلجَالِبَةِ لِكُلِّ شَرٍّ، فَمَا اسْتُجْلِبَتْ نِعَمُ اللهِ تَعَالَى وَاسْتُدْفِعَتْ نِقَــمُهُ بـِمِثْلِ طَاعَتِهِ وَالتَّقَـرُّبِ إِلَيْهِ، وَاْلإِحْسَانِ إِلَى خَلْقِهِ”

“Banyak bukti dan dalil, apakah itu dalil naqli (nas Al-Qur`an dan As-Sunnah), akal, fitrah manusia dan pengalaman banyak orang -dengan segala jenis ras dan agama mereka-, bahwasanya mendekatkan diri kepada Allah, mencari ridha-Nya, dan berbuat baik kepada para makhluk adalah faktor terbesar yang mendatangkan kebahagiaan dan kemudahan bagi setiap orang. Sedangkan hal-hal yang berlawanan dari itu (ma`shiyat dan perbuatan keji lainnya) adalah faktor terbesar yang mendatangkan malapetaka dan musibah. Dan tak ada perkara terbaik yang bisa mendatangkan ni`mat-ni`mat serta rahmat Allah, atau menolak datangnya bencana dan malapetaka selain berbuat ketaatan, mendekatkan diri kepada Allah dan berbuat kebajikan kepada seluruh makhluk-Nya.”
Beliau juga berkata,

“وَمَنْ رَفِقَ بـِعِبَادِ اللهِ رَفِقَ اللهُ بـِهِ، وَمَنْ رَحِمَهُمْ رَحِمَهُ، وَمَنْ أَحْسَنَ إِلَيْهِمْ أَحْسَنَ إِلَيْهِ، وَمَنْ جَادَ عَلَيْهِمْ جَادَ عَلَيْهِ، وَمَنْ نَفَعَهُمْ نَفَعَهُ، وَمَنْ سَتَرَهُمْ سَتَرَهُ، وَمَنْ مَنَعَهُمْ خَيْرَهُ مَنَعَهُ خَيْرَهُ، وَمَنْ عَامَلَ خَلْقَهُ بـِصِفَةٍ عَامَلَهُ اللهُ تَعَالَى بـِتِلْكَ الصِّفَةِ بـِعَيْنـِهَا فِي الدّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، فَاللهُ تَعَالىَ لِعَبْدِهِ حَسْبَ مَا يَكُوْنُ اْلعَبْدُ لِخَلْقِهِ”

“Siapapun berbelas kasih kepada hamba-hamba Allah, niscaya Allah Berbelas kasih pada-Nya, dan barangsiapa berbuat kebajikan kepada para makhluk, menyayangi mereka, memberikan suatu hal yang bermanfaat buat mereka, menutupi aib-aib mereka, menolak datangnya bencana dan gangguan apapun yang bakal menimpa mereka, atau berbuat apa saja yang sifatnya adalah kebaikan, niscaya Allah berbuat kebajikan pula padanya. Pokoknya Allah pasti membalas kepada sang hamba seperti ia bermuamalah dengan para hamba-Nya. Jika ia selalu berbuat baik niscaya Allah berbuat baik pula padanya. Jika tidak maka Allah-pun berbuat padanya dengan hal yang serupa.”
Kawan! Diantara bentuk akhlaq terpuji di zaman sahabat, adalah sifat itsar, yaitu mengutamakan orang lain dari diri sendiri. Kisah seperti ini banyak disebutkan dalam buku-buku “siirah” (sejarah) kepada kita. Diantaranya sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab, ia berkata,

“أُهْدِيَ إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأْسُ شَاةٍ، فَقال: إِنَّ أَخِيْ كَانَ أَحْوَجَ مِنِّيْ إِلَيْهِ، فَبَعَثَ بـِهِ إِلَيْهِ. فَلَمْ يَزَلْ وَاحِدٌ يَبْعَثُ بـِهِ إِلَى آخَرَ حَتَّى تَدَاوَلَهُ سَبْعَةُ أَبْيَاتٍ وَرَجَعَ إِلَى اْلأَوَّلِ”

“Ada seorang sahabat Rasulullah SAW yang diberi hadiah sepotong kepala kambing, setelah menerimanya ia berkata, “Sesungguhnya saudara saya lebih membutuhkannya.” Lalu ia mengantarkan kepala kambing tersebut kepada saudara yang ia anggap lebih miskin darinya. Hal ini terus bergilir, sampai kepala kambing itu berputar bergiliran pada tujuh rumah, dan kembali lagi kepada sahabat yang pertama.”
Saudaraku…..
Inilah akhlaq dan perilaku keseharian mereka, mereka lebih mengutamakan sahabat yang lain, meski diri mereka berada dalam kesusahan yang sangat.
Yahya bin Mu`adz rahimahullah berkata,

“مَا أَعْــرِفُ حَبَّةً تَزِنُ جـِبَالَ الدُّنْيَا إِلاَّ اْلحَبَّةَ مِنَ الصَّدَقَةِ”

“Saya tak menemukan sebutir bijipun yang menandingi besarnya gunung dunia selain sebutir biji yang dikeluarkan untuk sadaqah.”
Dan Abdullah bin Umar radhiyallahu `anhuma, setiap kagum dan suka kepada hartanya, ia langsung mempergunakan harta tersebut untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan menginfaqkannya. Hal ini sesuai dengan firman Allah yang berbunyi,

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ (آل عمران: 92

“Kalian sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum menginfakkan sebahagian harta yang kalian cintai. Dan apa saja yang kalian infaqkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya” (Qs. Ali `Imran: 92).
Sungguh! Keadaan ini adalah kebalikan zaman kita sekarang, dulu orang-orang saleh selalu mengeluarkan harta terbaik dan kesukaan mereka untuk disadaqahkan kepada faqir miskin.
Tapi di zaman sekarang yang dikeluarkan buat sadaqah adalah baju-baju bekas yang lusuh, sandal-sandal kusut yang hampir robek, dan berbagai perabotan lama yang hampir tak bisa dipergunakan. Barang-barang seperti itulah yang diinfaqkan kepada orang-orang miskin, yang kita sendiri tidak senang menggunakannya.

sumber:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *