tentang dalil bid’ah Hasanah

Assalamu’alaikum Ustadz,

Ana Danu, ana mau Tanya: Ada seseorang berkata: “Bid’ah ada yang mustahabbah.” Dia berdalil dengan perbuatan Umar Radhiyallahu anhu saat mengerjakan shalat tarawih. Bagaimana pendapat ustad tentang pernyataan tersebut.

Jawab:

Alaikumussalam warahmatullahi wa barakaatuh.

Segala puji hanya milik Allah, dan semoga shalawat beriring salam senantiasa terlimpahkan kepada Rasulillah shallallahu alaihi wasallam. Wa ba’du:

         Pertama: Menurut ana –Allahu a’lam- semua bid’ah adalah sesat. Meski kita harus membedakan antara pelaku yang mengerti dan tidak. Karena Nabi shallallahu alaihi wasallam sendiri yang menyatakan dalam sabdanya:

((وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ))

“Setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap yang sesat berada dalam Neraka.” (HR. An-Nasa’i, no. 1560, disahihkan syaikh Al-Albani dalam sahih Ibni Majah, no. 45)

Inti Hadis ini: Dalam agama tidak terdapat bid’ah hasanah atau mustahabbah sebagaimana dikatakan beberapa kaum muslimin. Karena keputusan Nabi terhadap bid’ah pada hadis di atas, merupakan kaidah umum yang tiada pengecualiannya. Jika seseorang memberi pengecualian pada Hadis, hendaknya mendatangkan dalil kalau ada pengecualian. Sebab tidak diketahui ada satu riwayat pun tentang hal itu yang marfu’ kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam.

       Kedua: Adapun perkataan Umar radhiyallahu anhu ketika melihat para sahabat berkumpul pada satu imam dalam shalat tarawih, yang sebelumnya mereka shalat sendiri-sendiri, lalu mengatakan:

((نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ))

“Sebaik-baik bid’ah adalah ini.”
Maka bid’ah yang dimaksud di sini adalah bid’ah dengan makna lughawi (bahasa) bukan bid’ah syar’i, karena hal-hal berikut:
(1) Umar yang memerintahkan sahabat shalat tarawih berjamaah dengan diimami Ubay bin Ka’ab tidak mungkin hendak menyalahi perintah Nabi saw. Sebab Umar seseorang yang senantiasa sungguh-sungguh mengikuti Sunnah.
(2) Shalat tarawih ini mempunyai dasar dalam syariat jadi tidak bisa disebut bid’ah. Karena disebutkan dalam Hadis sahih bahwa Nabi saw shalat malam pada bulan Ramadhan bersama kaum muslimin. Dan beliau melakukan itu selama tiga malam kemudian meninggalkannya. Beliau mengatakan:

((لَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ))

“Tiada yang menghalangi saya keluar kepada kalian (untuk shalat tarawih) kecuali karena kawatir ia akan diwajibkan atas kalian.” (HR. Al-Bukhari, no. 1129)

           (3) Kita diperintah mengikuti ijtihad Umar selama tidak menyalahi Qur’an dan Sunnah, seperti diwasiatkan Nabi shallallahu alaihi wasallam:

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْـمَهْدِيِّينَ مِنْ بَعْدِيْ، عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Tetapilah sunnahku dan sunnah para khulafa’ rasyidin yang mendapat hidayah setelahku. Gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham.” (HR. Ahmad, no. 17142 dan Abu Dawud, no. 4609, disahihkan Syaikh Al-Albani dalam Sahih Al-Jami’, no. 2549)

         Ketiga: Imam asy-Syafi’I Rahimahullah memang membagi bid’ah menjadi dua macam: Bid’ah mustahabbah dan bid’ah dhalalah. Tetapi definisi bid’ah mustahabbah menurut beliau adalah yang sesuai dengan sunnah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Sedangkan bid’ah dhalalah adalah yang menyalahi Sunnah Nabi. Dengan demikian perkataan imam Syafi’i ini tidak bertentangan dengan pernyataan jumhur ulama’ yang menyatakan segala bentuk bid’ah adalah sesat. Tanpa kecuali.
Imam As-Syafi’i Rahimahullah berkata sebagaimana dinukil Al-Hafidz Ibnu Hajar:

اَلْبِدْعَةُ بِدْعَتَانِ، مَحْمُوْدَةٌ وَمَذْمُوْمَةٌ، فَمَا وَافَقَ السُّنَّةَ فَهُوَ مَحْمُوْدٌ وَمَا خَالَفَهَا فَهُوَ مَذْمُوْمٌ. [فتح الباري: 13 / ص 253

“Bid’ah ada dua: Mahmud dan madzmum. Yang sesuai sunnah maka itu mahmud (terpuji), sedangkan yang menyalahi sunnah, maka itu madzmum (tercela).” (Fathul bari, 13/253)

Sebagian orang membenarkan perbuatan bid’ah yang dilakukannya berdalil dengan perbuatan Abu Bakar ketika membukukan Al-Qur`an. Sebenarnya ini alasan yang sama sekali tidak benar. Karena Al-Qur`an sudah ditulis pada zaman Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Yang beliau larang adalah menulis Hadis, bukan menulis Al-Quran. Tujuannya agar Hadis tidak bercampur dengan Al-Quran.

Mengapa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam belum membukukan Al-Qur`an menjadi satu semasa hidupnya? Karena ketika masih hidup tidak ada seorang pun yang bisa menjamin wahyu tidak akan turun lagi. Karena wahyu baru berhenti turun ketika beliau sudah wafat. Karena itu Abu Bakar membukukan Al-Qur`an atas intruksi Umar karena banyaknya para qurra’ yang mati syahid dalam perang Bi’ru Ma’unah. Tujuannya agar Al-Qur`an tidak hilang dan tetap terjamin keutuhannya.

        Keempat: Andai kita katakan ada bid’ah hasanah, maka setiap orang mendatangkan perkara baru dalam agama dan mengatasnamakannya sebagai bidah hasanah. Sehingga tidak ada perbedaan antara mana yang dhalalah dengan yang hasanah. Allahu a’lam.

              Kelima: Harus dibedakan antara pelaku bid’ah yang tidak mengerti dengan yang sudah mengerti. Meski bid’ah adalah dhalalah tapi jangan setiap pelaku bid’ah dikatakan sesat. karena terkadang dia mengerjakan itu karena tidak mengerti, karena ikut-ikutan, atau karena hal lainnya. Justru ajarkanlah ajaran yang sesuai tuntunan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam agar orang-orang menjadi mengerti ajaran Rasul yang sebenarnya. Adapun langsung menusuk orang dengan tuduhan anda adalah pelaku bi’dah, ini bisa menimbulkan banyak masalah yang tidak kita inginkan. semoga Allah memberi petunjuk kepada saya secara khusus dan seluruh kaum muslimin secara umum kepada tuntunan Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

 

Dijawab oleh: Wafi Marzuqi Ammar

 

 

yu'jar wala yusyhar

 

Share This: