Tidak puasa selama satu bulan Ramadhan penuh. Bagaimana mengqadha’nya

Pertanyaan (81093): Isteri saya pada bulan Ramadhan mengalami nifas. Ia tidak berpuasa satu hari pun dan akan mengqadha’nya insya Allah di kemudian hari. Pertanyaan saya: Apakah ia mengqadha’ jumlah hari yang kaum muslimin berpuasa pada bulan ini saja. Dalam arti; bulan Ramadhannya adalah dua puluh sembilan hari, tidak genap tiga puluh hari. Apakah yang diqadha’ adalah dua puluh sembilan hari seperti yang dilakukan orang-orang? Atau ia wajib berpuasa tiga puluh hari dalam kondisi apapun?

Jawab: Segala puji hanya milik Allah SWT semata…

Jika seorang muslim tidak berpuasa seluruh bulan Ramadhan karena udzur safar, sakit, atau nifas, maka dia wajib mengqadha’ sesuai hari-hari yang ditinggalkannya. Jika bulan Ramadhannya genap tiga puluh hari, ia mengqadha’ tiga puluh hari. Jika bulan Ramadhannya dua puluh sembilan hari, ia mengqadha’nya sebanyak dua puluh sembilan hari.

Tetapi sebagian ulama’ berpendapat ia tetap harus mengqadha’ tiga puluh hari. Atau berpuasa sesuai bulan hijriyah. Pengarang Al-Inshaf berkata:

“مَنْ فَاتَهُ رَمَضَانُ كاَمِلاً، سَوَاءٌ كَانَ تَامًّا أَوْ نَاقِصًا، لِعُذْرٍ كَاْلأَسِيْرِ وَنَحْوِهِ: قَضَى عَدَدَ أَيَّامِهِ مُطْلَقاً، كَأَعْدَادِ الصَّلَوَاتِ، عَلَى الصَّحِيْحِ مِنَ الْمَذْهَبِ الْحَنْبَلِيِّ”

“Barangsiapa ketinggalan berpuasa Ramadhan, baik ketinggalan secara sempurna atau kurang, karena udzur seperti ditawan dan lain sebagainya, maka harus mengqadha’ sejumlah hari-hari itu secara mutlak. Sama seperti jumlah shalat. Inilah madzhab yang benar dari madzhab Hanbali.”

Menurut Al-Qadhi: Jika dia mengqadha’ sejumlah bulan hijriyah, itu sudah sah. Baik bulan itu sempurna atau tidak. Tetapi jika tidak mengqadha’ satu bulan, ia harus berpuasa tiga puluh hari.

Berdasarkan perkataan pertama: Barangsiapa berpuasa mulai awal bulan secara sempurna, atau mulai pertengahan bulan sebanyak dua puluh sembilan hari, sementara Ramadhan sebelumnya tidak genap, maka hal itu sudah sah dan diterima darinya. Karena melihat jumlah hari-harinya.

Sedangkan berdasarkan perkataan kedua: Dia harus menambahkan satu hari lagi untuk menyempurnakan bulan hijriyah. Atau bilangan tiga puluh hari. (Lihat: Al-Inshaf, 3/333)

Pengarang kitab Minah Al-Jalil berkata: Barangsiapa berbuka pada seluruh bulan Ramadhan, dan bilangan bulannya adalah tiga puluh hari, kemudian mengqadha’nya pada bulan hijriyah yang berjumlah dua puluh sembilan hari, ia harus berpuasa satu hari lainnya. Dan jika sebaliknya maka ia tidak wajib melakukan puasa pada hari yang terakhir (ketiga puluh). Inilah pendapat yang masyhur.

Ibnu Wahb berkata: Jika berpuasa sesuai bilangan bulan hijriyah, maka puasa yang dilakukannya pada bulan itu sudah cukup. Meski bulannya berjumlah dua puluh sembilan sementara Ramadhan yang kemarin ada tiga puluh hari. (Lihat: Minah Al-Jalil, 2/152 dan Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah, 28/75)

Kesimpulannya: Isteri anda harus mengqadha’ sejumlah hari-hari dalam bulan yang ada itu. Meski hanya berjumlah dua puluh sembilan hari. Allahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *