BERSAMA RASULULLAH SAW, MARI MENGASIHI ANAK YATIM

yatim 

 

 

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْيَتَامَى قُلْ إِصْلاَحٌ لَّهُمْ خَيْرٌ وَإِنْ تُخَالِطُوهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ الْمُفْسِدَ مِنَ الْمُصْلِحِ
“Mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakanlah: ‘Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu menggauli mereka maka mereka adalah saudaramu dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan’.” (Al-Baqarah: 220)

 

Dari Abu Ad-Darda’ t dia berkata: Seseorang datang kepada Nabi r mengadukan hatinya yang keras. Maka Nabi SAW bersabda: “Maukah kuajarkan kepadamu agar hatimu menjadi lunak dan engkau mendapati kebutuhanmu? Rahmatilah anak yatim, usap rambutnya, dan beri ia makan dari makananmu, niscaya hatimu melunak dan engkau mendapati apa yang engkau butuhkan.” (Sahih At-Targhib, no. 2544)

Saudara! Allah SWT berkehendak untuk mengalihkan pandangan kaum muslimin kepada sebuah masyarakat lemah, yang tidak mampu mengerjakan perannya secara normal dalam masyarakat kecuali dengan sokongan pihak lain. Mungkin di antara masyarakat lemah ini yang paling kentara adalah anak-anak yatim. Merekalah masyarakat lemah yang membutuhkan banyak kasih sayang dan banyak bantuan, baik materi maupun kemanusiaan.

Orang pertama kali yang merasakan penderitaan serta kesedihan anak yatim adalah Rasulullah r. Karena itu kita merekam dari Hadisnya yang mulia, perkataan beliau: “Saya bersama orang yang merawat anak yatim dalam Surga seperti ini. Kemudian beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah, lalu merenggangkan di antara keduanya.” (HR. Al-Bukhari, no. 5304)

Kemudian, di antara perkara yang perlu kita perhatikan juga, sesungguhnya Allah U menyebut lafadz “yatim” dalam Al-Quran sebanyak 23 kali. Ini merupakan isyarat yang jelas buat kita -kaum muslimin- agar senantiasa mengerahkan perhatian serius terhadap kelompok lemah ini, selalu memenuhi kebutuhan mereka, dan senantiasa menyelesaikan problematika mereka baik maknawi, materi, sosial, maupun lainnya.

Ketika melihat banyak ayat Al-Quran yang membahas tentang anak yatim, kita mendapati ayat-ayat tersebut memfokuskan pada bagian-bagian tertentu. Semuanya berputar pada empat perkara. Yaitu: Menghilangkan madharat darinya. Mendatangkan maslahat untuknya baik dalam harta, jiwa, dan saat menikah. Anjuran untuk berbuat ihsan kepadanya. Dan memperhatikan sisi psikologi dalam dirinya.

Di antara ayat itu adalah firman Allah SWT: “Beribadahlah hanya kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Juga berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin.” (An-Nisa’: 36)

Pada ayat ini, berbuat baik kepada anak yatim adalah perkara wajib, sama seperti kita wajib berbuat baik kepada kedua orang tua dan karib kerabat. Malah bukan hanya itu, justru Allah menggabungkan berbuat baik kepada anak yatim dengan iman kepadaNya dan menjadikannya sebagai salah satu kebaikan yang paling besar. Maka Dia berfirman:

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya.” (Al-Baqarah: 177)

Bahkan ayat-ayat tentang hak anak yatim turun pada surat-surat permulaan yang turun di Makkah. Seperti firman Allah: “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (Al-Maa’un: 1-3)

Pemahaman tersirat dari dua ayat di atas, bahwa siapa  pun yang mengusir anak yatim dan mengharamkannya mendapatkan hak, dialah orang yang mendustakan agama. Ini adalah ungkapan tentang hubungan mendalam antara agama, memperhatikan kondisi anak yatim, dan antara iman. Maka, seseorang tidak mungkin disebut mutadayyin (bagus agamanya) jika dia menghardik anak yatim.

Juga firman Allah: “Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.” (Adh-Dhuha: 9)

Ibnu Katsir berkata tentang maknanya: “Jangan merendahkan anak yatim, jangan menghinanya, dan jangan berkata kasar padanya. Tapi berbuat baiklah kepadanya, kasihilah dia, dan jadikan dirimu sebagai seorang ayah yang pengasih terhadapnya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/523)

Sementara pada ayat lain, Allah menyanjung orang-orang shalih. Karena di antara sifat mereka adalah: “Mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.” (Al-Insaan: 8).

Al-Qurtubi berkata tentang maknanya: “Mereka terus memberi makan padahal kondisi mereka sangat kekurangan dan membutuhkan.”

Adalah Rabi’ bin Khutsaim ketika datang pengemis padanya, dia berkata kepada keluarganya: “Beri dia manisan, karena Rabi’ sangat menyukai manisan.” (Tafsir Al-Qurtubi, 19/128-129)

Sebaliknya, Allah SWT mencela dengan keras, orang-orang kafir Quraisy dan siapa pun yang serupa mereka dengan firmanNya: “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim.” (Al-Fajr: 17)

Allah U juga memerintah kita menjaga harta anak yatim dan tidak berbuat dzalim padanya sedikit pun. Dia menganggap itu sebagai salah satu dosa besar dan membalasinya dengan hukuman yang berat. “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (Neraka).” (An-Nisa’: 10)

Rasulullah SAW juga menegaskan ada  tujuh perkara yang sangat membinasakan seseorang. Di antaranya adalah memakan harta anak yatim. (HR. Al-Bukhari, no. 2615)

Bahkan sistim Islami memberikan syarat-syarat yang berat kepada para wali yang mengurus harta anak yatim, agar jiwa mereka yang suka kelezatan tidak menganggap lezat, harta anak yatim tanpa adanya pencegahan. Dia berfirman: “Barangsiapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut.” (An-Nisa’: 6)

Para ulama’ sepakat bahwa pemelihara anak yatim yang kecukupan, tidak halal baginya mengambil sedikit pun dari harta anak yatim.

Kemudian, sebagai kelanjutan dari ketatnya syariat Islam dalam menjaga harta anak yatim, Islam memerintahkan para pemelihara untuk mengembangkan harta anak yatim itu agar tidak habis dimakan atau habis karena terkena zakat. Nabi r bersabda: “Ketahuilah! Siapa pun yang merawat anak yatim dan dia memiliki harta, hendaknya menggunakannya dalam perdagangan. Jangan dibiarkan begitu saja agar tidak termakan oleh sadaqah.” (HR. Abu Dawud, no. 641)

Dan sebagai penutup, seperti dijelaskan dalam Hadis Abu Ad-Darda’ di atas,  sebagai seorang muslim hendaknya kita bahagia jika ada anak yatim di sekitar kita. Baik anak yatim kita sendiri atau milik orang lain. Karena siapa pun yang merawat mereka dengan baik, seperti ayah mereka sendiri maka dia pasti mendapat segala yang dia butuhkan. Semoga bermanfaat. Allahu a’lam.

 

Share This: