hukum shalawat dengan lantunan rebana dan musik.

Assalamu’alaikum wr. wb.

Ustad saya mau menanyakan tentang sebagian orang yang biasa melakukan shalawat atau dzikir dengan diiringi musik atau rebana. bagaimana hukumnya dan apakah itu boleh dalam islam?

kemudian seperti apakah lafadz shalawat itu karena sekarang lafadz shalawat sangat bermacam-macam?

Jazakumullah khairan atas jawabannya ustad. (dari jamaah majlis taklim AN NUUR wisma tropodo Sidoarjo Jatim)

Jawab:

Wa’alaikumussalam warahmatullah wa barakaatuh.

Segala puji hanya milik ALlah, dan shalawat beriring salam semoga senantiasa tersampaikan kepada Rasulillah Muhammad shallallahu alaihi wasallam. amma ba’du:

Pertama:

Agama Islam itu sudah sempurna. sebagaimana firman ALlah dalam surat Al-Maidah ayat 5: “Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kalian agama kalian, Ku sempurnakan untuk kalian nikmatKu dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian.”

Berdasarkan ayat di atas maka tidak sepatutnya seorang muslim melakukan perkara baru yang tidak pernah diajarkan oleh Al-Quran maupun Al-Hadis. Dan ketika seorang muslim mengucapkan syahadat  Laa ilaaha illallah, dan syahadat Muhammad Rasulullah, itu berarti ia berkomitmen menjadikan Al-Quran dan Hadis puncak segalanya. jangan sampai seorang muslim melanggar kedua perkara tersebut. Justru segala sesuatu itu dipertimbangan dengan dalil Al-Quran serta dalil Hadis. Jika seorang Muslim melakukan sesuatu ibadah tapi tidak berdasarkan pada keduanya maka persaksiannya ketika mengatakan dua kalimat syahadat adalah tidak sempurna, dan bahkan bisa dikatakan keislamannya masih kurang sempurna dan benar.

Rasulullah SAW melarang kita melakukan ibadah-ibadah yang tidak pernah beliau contohkan. Beliau mengatakan:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ

“Barangsiapa mengadakan perkara (ibadah) baru dalam agama kami yang itu bukan darinya maka ia ditolak.” (HR. Al-Bukhari, no. 2697 dan Muslim, no. 4589)

Berdasarkan Hadis di atas, para ulama’ mengatakan: Ibadah pada dasarnya haram dilakukan hingga ada perintahnya. Jika tidak ada perintah maka seseorang haram mengerjakan hal itu. karena berarti ia telah membuat syariat sendiri yang bukan dari perintah ALlah dan RasulNya.

Kedua: Hukum shalawat dan dzikir secara umum jika diiringi lantunan musik atau rebana adalah haram. Karena Allah menjelaskan bahwa pelaku telah kafir dengan hal itu. disebutkan dalam surat Al-Anfal ayat 35 sebagai berikut:

وَمَا كَانَ صَلَاتُهُمْ عِنْدَ الْبَيْتِ إِلَّا مُكَاءً

“Dan tidaklah shalat mereka di samping Baitullah (Ka’bah) melainkan siulan dan tepuk tangan. Maka rasakanlah adzab akibat kekufuran mereka.” (QS. Al-Anfaal: 35)

Ayat ini sangat jelas menegaskan bahwa orang shalat itu tidak boleh dengan bersiul dan tepuk tangan. karena itu Allah mengazab mereka karena mereka telah kufur akibat perbuatan tersebut. Jika siulan dan tepuk tangan saja dilarang dalam shalat yang tentu di dalamnya terdapat dzikir dan shalawat maka sudah barang tentu dzikir dan shalawat yang diiringi lantunan musik adalah perkara yang diharamkan.

Adapun rebana, jika ada seseorang yang mengatakan bahwa Nabi SAW membolehkan rebana, maka itu adalah dalam pernikahan dan bukan pada dzikir maupun shalawat. Allahu a’lam.

Ketiga: Beberapa ulama’ mengatakan bahwa musik dan nyanyian adalah haram. karena ALlah menyebutnya sebagai suara setan. seperti dalam firmanNya berikut:

وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُمْ بِصَوْتِكَ} [

“Dan kerahkan wahai iblis, siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan suaramu.” (QS. Al-Isra’: 64)

Mujahid berkata: Yang dimaksud dengan suara Iblis adalah nyanyian dan apa pun yang melalaikan. lihat: Tafsir Ibnu Katsir, 5/93 pada tafsir ayat di atas.

Di sisi lain tidak pernah dikenal pada zaman Rasulullah SAW yang namanya dzikir dengan memakai rebana atau musik. yang ada -jika riwayatnya sahih- rebana itu digunakan pas acara walimah dan itu bukan dzikir atau shalawat yang dilantunkan.

dalam Hadis sahih Rasulullah SAW bersabda:

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ

akan datang sebagian orang dari umatku yang menghalalkan kemaluan (zina), sutra, khamar, dan alat-alat musik.” (HR. Al-Bukhari, no. 5590)

Para ulama’ mengatakan alat-alat musik adalah haram, karena Rasulullah SAW menyebutkannya bersama perkara-perkara yang haram, seperti khamar, sutra bagi laki-laki, dan zina. apalagi itu semua akan datang di akhir zaman yang merupakan tanda-tanda kiamat. sementara disebutkan dalam Hadis lain bahwa Anas bin Malik RA berkata:

فَإِنَّهُ لاَ يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلاَّ الَّذِي

“Sungguh tidaklah datang atas kalian suatu zaman, kecuali yang setelahnya adalah jauh lebih buruk hingga kalian berjumpa dengan Rabb kalian. saya mendengar hal itu dari Nabi kalian SAW.” (HR. Al-Bukhari, no. 7068)

Ketika perkara-perkara tersebut datang pada hari-hari yang kian memburuk, dan Nabi SAW tidak pernah menjumpainya, maka menunjukkan bahwa perkara-perkara tersebut adalah haram dan buruk.

Keempat: Untuk lafadz shalawat kepada Nabi SAW, maka yang paling bagus dan paling selamat dari kesalahan adalah lafadz shalawat yang diajarkan Nabi MUhammad SAW kepada kita untuk dibaca pada saat tasyahud dalam shalat. maka sepatutnya kita menggunakan shalawat itu insya ALlah lebih barakah. karena Nabi SAW sendiri yang langsung mengajarkannya. adapun shalawat2 lainnya yang bikinan orang, meski itu ulama’ masih lebih barakah yang datang langsung dari Nabi SAW.

Kelima: Terkadang seseorang melakukan suatu perkara tidak benar karena berdalil bahwa banyak orang yang telah mengerjakannya. atau karena ada seorang ustad yang mengajarkan dan membolehkannya.

maka kita harus tahu bahwa kebanyakan yang dilakukan manusia, justru tidak benar. karena kebenaran adalah yang datang dari ALlah dan RasulNya. ALlah berfirman:

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ

“Jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS. Al-An’am: 116)

Akankah kita berdalil dengan benarnya suatu perkara ketika banyak  orang yang mengerjakannya?! tentu tidak. karena benar atau tidaknya suatu perkara, adalah ketika sesuai atau tidak sesuai dengan dalil Al Quran dan Al Hadis.

adapun jika seseorang berdalil bahwa ini adalah perbuatan seorang ustadz atau ada ulama’ yang membolehkannya, maka kita harus bertanya pada diri kita: Apakah yang kita ikuti ustadz atau kyai tersebut meski Al-Quran dan Hadis Nabi SAW menolak hal itu?!

tentu tidak. karena yang mesti kita ikuti sebagai muslim adalah Al QUran dan AL Hadis. adapun ulama’, ustad, atau Kyai, maka kita tetap husnudzan bahwa mereka mungkin tidak sampai kesana ilmunya. karena tiada seorang pun dari manusia yang maksum atau terjaga dari kesalahan kecuali Rasulullah SAW.

kita juga harus husnudzan kepada ulama’ bahwa mereka tidak akan pernah mempunyai niat untuk menyalahi AL-Quran dan Al Hadis.

Dan yang perlu kita ketahui bersama, bahwa sebab kebinasaan adalah ketika kita fanatik kepada selain Al Quran dan Hadis. seperti fanatik kepada nenek moyang, tradisi dan lain sebagainya yang Al Quran dan hadis jelas-jelas mengingkarinya.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ

apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Baqarah: 170)

Ini saja, semoga bermanfaat bagi dunia dan Akhirat kita, semoga ALlah memberi hidayah kita semua kepada JalanNya yang lurus. Aamiin.

Allahu a’lam. dan semoga shalawat beriring salam senantiasa tersampaikan kepada Sayidina Muhammad SAW.

 

Share This: