ISLAM SANGAT MEMULIAKAN ANAK YATIM (BAGIAN 01)

yatim

Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW beliau bersabda:

 

((اِجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ))، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَا هُنَّ؟ فَذَكَرَ مِنْهَا: ((وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيْمِ))

 

“Hindarilah tujuh perkara yang membinasakan.” Para sahabat bertanya: “Apa saja tujuh perkara itu wahai Rasulullah?” maka beliau menyebutkan di antaranya: “Memakan harta anak yatim.” (Sahih Al-Bukhari, no. 2766)

Pembaca majalah Bilyatimi yang dirahmati Allah.

Berbuat baik kepada anak yatim merupakan akhlaq Islami yang luhur. Islam sangat menekankan kepada kita untuk memuliakan anak yatim. Bahkan menjadikan hal itu sebagai perbuatan yang paling utama. Allah SWT berfirman:

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, Malaikat-Malaikat, kitab-kitab, Nabi-Nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 177)

Pada ayat ini, Allah SWT menegaskan bahwa di antara kebajikan adalah berbuat baik kepada anak-anak yatim. Maka sepatutnya, setiap muslim mengamalkan perintah Rabbnya pada ayat di atas, kalau ingin menjadi orang yang benar dalam keimanannya dan menjadi orang yang bertakwa.

Saudara… Ketika Islam datang, anak yatim tidak mempunyai bagian apa pun dalam kehidupannya. Karena itu Islam memerintah kita memuliakannya dan berbuat baik padanya. Mari kita kembali kepada sejarah.

Ketika kaum muslimin hijrah ke negeri Habasyah dan orang-orang Quraisy berniat memulangkan mereka, berdirilah Ja’far bin Abi Thalib RA di hadapan An-Najasyi, raja Habasyah, menjelaskan kepadanya tentang kebaikan-kebaikan agama Islam dan akhlaqnya yang luhur. Ja’far berkata kepada An-Najasyi:

“Wahai raja! Kami sebelumnya adalah orang-orang jahiliyah. Kami menyembah patung, memakan bangkai, mengerjakan perbuatan keji, memutus silaturrahim, berbuat buruk kepada tetangga, yang kuat dari kami menindas yang lemah, dan kami terus seperti itu hingga Allah mengutus kepada kami seorang Rasul. Kami mengenali nasab, kejujuran, amanah, dan kesuciannya.

Dia mengajak kami hanya beribadah kepada Allah dan mentauhidkanNya. Mengajak kami meninggalkan batu dan patung yang disembah ayah-ayah kami dari selain Allah. Beliau memerintah kami berkata jujur, menunaikan amanah, menyambung silaturrahim, berbuat baik kepada tetangga, menghindari perbuatan haram dan menumpahkan darah.

Beliau juga melarang kami berbuat keji, berkata bohong, memakan harta anak yatim, melemparkan tuduhan zina kepada wanita baik-baik, memerintah kami untuk beribadah hanya kepada Allah tanpa berbuat syirik, dan memerintah kami  untuk mengerjakan shalat, berzakat, serta berpuasa.” (HR. Ahmad, 1/201, no. 1740 dan Ibnu Khuzaimah, no. 2260 dengan sanad hasan)

Setelah melihat Islam seperti itu kebaikan-kebaikannya, seperti ini keluhuran akhlaqnya, dan seperti ini keindahan orang-orangnya, akhirnya An-Najasyi menolak delegasi Quraisy yang meminta dengan keras, agar An-Najasyi memulangkan kaum muslimin bersama mereka. Bahkan An-Najasyi menolak menerima pemberian hadiah dari mereka.

Bukti lain bahwa Islam sangat memuliakan anak yatim, adalah penegasan dalam Al-Quran tentang hakikat berbuat ihsan kepada anak yatim. Dia melarang kita mendekati hartanya, kecuali dengan cara yang paling baik. Allah SWT berfirman:

 

وَلَا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ

 

“Janganlah kalian mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang paling baik hingga ia dewasa.” (QS. Al-An’am: 152 dan QS. Al-Isra’: 34)

Pada ayat di atas, untuk mendekati saja tidak boleh. Apalagi memakannya dengan cara yang batil. Bahkan Nabi SAW mengancam dengan mengatakan bahwa termasuk perkara yang teramat membinasakan dan menjerumuskan ke dalam Neraka, juga termasuk dosa besar, adalah memakan harta anak yatim seperti disebutkan pada Hadis di atas.

Maksud ayat pada surat Al-An’am dan Al-Isra’ di atas, kita tidak boleh mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang paling baik. Misalnya: Jika pengurus anak yatim mengembangkan harta si yatim, hendaknya dia memilih usaha yang lebih banyak keuntungannya. Karena ini lebih baik.

Tapi kebaikan ini mencakup kebaikan dunia dan agama. Jika suatu usaha lebih banyak keuntungan tapi terdapat riba atau barang haram padanya, maka pengurus harus mencari usaha lain, meski lebih sedikit keuntungan, tapi lebih baik secara syar’i karena tidak ada keharamannya. (Al-Qaul Al-Mufid, 1/40)

Jika Anda sebagai pengurus maka hendaknya mengembangkan harta si yatim sesuai kriteria di atas agar hartanya tidak habis untuk dikonsumsi. Tapi jika ada seorang manusia yang jelas memakan harta anak yatim secara dzalim maka sangat keras ancaman yang diberikan Allah kepadanya. Dia berfirman:

 

إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْماً إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَاراً وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيراً

 

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (Neraka).” (QS. An-Nisa’: 10)

Bukti lain bahwa Islam sangat memuliakan anak yatim, Islam melarang kita dengan sangat keras untuk merendahkan anak yatim dan menghinanya dalam bentuk apa pun. Maka Allah SWT berfirman:

 

فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ

 

“Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.” (QS. Adh-Dhuha: 9)

Kemudian Allah SWT menyebutkan tentang orang yang mendustakan agama dan hari pembalasan. Siapa mereka? Allah menjelaskan mereka adalah:

 

فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ (2) وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ (3)

 

“Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un: 2-3)

Wahai saudaraku… sekarang carilah anak yatim di sekitar Anda. Kasihi dia. Belai wajah dan rambutnya. Berikan santunan padanya. Dan bawa dia ke rumah Anda, jadikan sebagai anak angkat. Sungguh! Anda pasti memperbanyak rizqi Anda dan memberi berkah pada Anda, istri, anak-anak, dan seluruh keluarga Anda. Nabi SAW bersabda:

 

((خَيْرُ بَيْتٍ فِي الْمُسْلِمِينَ بَيْتٌ فِيهِ يَتِيمٌ يُحْسَنُ إِلَيْهِ، وَشَرُّ بَيْتٍ فِي الْمُسْلِمِينَ بَيْتٌ فِيهِ يَتِيمٌ يُسَاءُ إِلَيْهِ)) ثُمَّ قَالَ بِأُصْبُعِهِ: ((أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا))

 

“Sebaik-baik rumah di antara kaum muslimin adalah rumah yang terdapat anak yatim di dalamnya yang diperlakukan dengan baik. Dan seburuk-buruk rumah di antara kaum muslimin adalah rumah yang terdapat anak yatim di dalamnya kemudian diperlakukan dengan buruk.” Kemudian Nabi SAW bersabda dengan memberi isyarat dengan jarinya: “Saya dengan pengurus anak yatim di Surga adalah seperti ini.” (Sunan Ibnu Majah, no. 3679)

Wallaahu a’lam bish shawaab.

Share This: