Kilas Balik dari Kisah PERANG YARMUK

perang

Kilas Balik dari Kisah PERANG YARMUK

Buletin Islam AL ILMU Edisi: 19/V/VIII/1431

Sejarah kejayaan Islam tak lepas dari amalan jihad
yang diperani oleh para pendahulu umat ini. Jihad
memiliki kedudukan mulia di dalam Islam. Tentunya,
diatas ketentuan yang telah digariskan Allah dan
Rasul-Nya . Bukan aksi teror yang muncul dari
semangat tanpa ilmu. Tulisan berikut ini adalah
memaparkan gambaran jihad fii sabilillaah di masa
Khalifah Abu Bakr Ash-Shiddiq .
Seusai memulihkan kondisi jazirah ’Arab, dengan
memerangi kaum murtad dan orang-orang yang
menolak membayar zakat, Abu Bakr  berusaha keras
memobilisasi pasukan Islam dalam upaya
menaklukkan negeri Syam yang termasuk daerah
teritorial kerajaan Romawi.
Keadaan Romawi sebelum Peperangan
Ketika pasukan Islam bergerak menuju Syam,
tentara Romawi merasa terkejut dan sangat takut.
Dengan serta-merta mereka mengirimkan surat yang
memberitahukan akan hal tersebut kepada
Heraklius, raja Romawi yang berada di Himsh
(sekarang dikenal dengan Homs –red). Dia pun
melayangkan surat balasan yang berbunyi, ”Celaka
kalian! Sesungguhnya mereka adalah pemeluk
agama baru. Tidak ada yang bisa mengalahkan
mereka. Patuhilah aku, dan berdamailah dengan
menyerahkan setengah penghasilan bumi Syam!
Bukankah kalian masih memiliki pegunungan
Romawi?! Jika kalian tidak mematuhi perintahku,
niscaya mereka akan merampas negeri Syam dan
akan memojokkan kalian hingga terjepit di
pegunungan Romawi.”
Tatkala telah mendapatkan surat balasan seperti ini,
mereka (tentara Romawi) tidak mau menerima
saran tersebut. Akhirnya, mau tidak mau Raja
Heraklius mengirim pasukan dalam jumlah yang
besar. Pasukan Romawi mulai bergerak, dan
berhenti di lembah Al-Waqusah, di samping sungai
Yarmuk yang berdataran rendah dan memiliki
banyak jurang.
Kedatangan Khalid bin Al-Walid  dari ‘Iraq
Pasukan Islam yang berada di Syam segera meminta
bantuan. Maka Abu Bakr Ash-Shiddiq
memerintahkan Khalid bin Al-Walid  agar menarik
diri dari ’Iraq untuk kemudian menuju Syam
bersama bala tentaranya. Dengan segera Khalid
menunjuk Al-Mutsanna bin Haritsah v sebagai
penggantinya di ’Iraq. Kemudian beliau  bergerak
cepat dengan membawa 9.500 personel pasukan
menuju Syam. Mereka melalui jalan-jalan yang tidak
pernah dilalui seorang pun sebelumnya, dengan
menyeberangi padang pasir, mendaki gunung, serta
melewati lembah-lembah yang sangat gersang.
Persiapan Pasukan Islam
Abu Sufyan  mengusulkan, layaknya ahli strategi
perang, agar pasukan dibagi menjadi tiga formasi.
Sepertiga bersiap-siap di depan pasukan Romawi,
sepertiga lainnya yang terdiri dari bagian perbekalan
dan para wanita agar berjalan, dan sepertiga yang
tersisa dipimpin oleh Khalid  di posisi belakang. Jika
musuh telah mencapai perkemahan wanita dan
perbekalan, Khalid  akan berpindah ke depan kaum
wanita, sehingga mereka dapat menyelamatkan diri
di belakang pasukan Khalid bin Al-Walid .
Maka mereka pun segera merealisasikan usulan itu.
Pasukan Islam mulai berkumpul dan berhadapan
dengan musuh pada awal bulan Jumadil Akhir tahun
13 H.
Strategi Pasukan Islam
Pasukan Islam kala itu jumlahnya berkisar antara 36
ribu sampai dengan 40 ribu personel tentara.
Didalamnya terdapat seribu orang shahabat Nabi  .
Seratus orang dari mereka adalah para veteran
perang Badar. Abu ’Ubaidah ibnul Jarrah (namanya
Hanzholah bin Ath-Thufail) memimpin posisi tengah
pasukan. ’Amru bin Al-’Ash dan Syarahbil bin
Hasanah  memimpin sayap kanan pasukan.
Sedangkan pemimpin sayap kiri pasukan adalah
Yazid bin Abi Sufyan (dia dikenal dengan sebutan
Yazid Al-Khoir).
Khalid  membawa kudanya ke arah Abu ’Ubaidah
dan berkata, ”Aku akan memberikan usul.” Abu
’Ubaidah menjawab, ”Katakanlah, aku akan
mendengar dan mematuhinya.” Khalid  kembali
berkata, ”Musuh pasti menyiapkan pasukan besar
untuk membobol pertahanan pasukan kita. Aku
khawatir pertahanan sayap kiri dan kanan akan
kebobolan. Menurutku, pasukan berkuda harus
dibagi menjadi dua kelompok. Satu pasukan
ditempatkan di belakang sayap kanan, dan yang lain
ditempatkan di belakang sayap kiri. Apabila musuh
berhasil menembus pertahanan sayap kiri atau
kanan, para pasukan berkuda berperan membantu
mereka. Lalu kita datang menyerbu dari belakang.”
Abu ’Ubaidah berkomentar, ”Alangkah jitu usulmu
itu!”
Khalid bin Al-Walid  pun memerintahkan agar Abu
’Ubaidah ibnul Jarrah  pindah ke posisi belakang. Hal
ini agar jika ada tentara Islam berlari mundur, ia
akan malu saat melihatnya kemudian kembali ke
kancah pertempuran. Kemudian Khalid
menginstruksikan agar para wanita bersiap-siap
dengan pedang, pisau belati, dan tongkat. Khalid
berkata, ”Siapa saja yang kalian jumpai melarikan
diri dari medan pertempuran, bunuh dia!”
Strategi Pasukan Romawi
Setelah menerima bantuan personel dari pusat,
pasukan Romawi maju dengan kesombongan
membawa 240 ribu personel. 80 ribu pasukan
pejalan kaki, 80 ribu pasukan berkuda, dan 80 ribu
pasukan yang diikat dengan rantai besi (setiap
sepuluh tentara diikat menjadi satu agar tidak lari
dari peperangan).
Mereka bergerak hingga menutupi seluruh tempat
yang ada seakan-akan mereka adalah awan hitam.
Mereka berteriak-teriak, mengangkat suara tinggi-
tinggi, sementara para pendeta, uskup, maupun
pihak gereja mengelilingi pasukan membacakan Injil
sambil memotivasi mereka agar gigih dalam
berperang.
Pasukan lini depan dipimpin oleh Jarajah (George),
sayap kiri dan kanan dipimpin oleh Mahan dan Ad-
Daraqus. Pasukan penyerang dipimpin oleh Al-
Qolqolan, menantu Heraklius. Adapun pimpinan
tertinggi pasukan ini adalah saudara kandung
Heraklius yang bernama Tadzariq.
Perundingan sebelum meletusnya Pertempuran
Abu ’Ubaidah dan Yazid bin Abi Sufyan maju ke arah
pasukan Romawi dengan membawa Dhirar bin Al-
Azur, Al-Harits bin Hisyam dan Abu Jandal bin
Suhail untuk bertemu dengan Tadzariq yang tengah
duduk di dalam tenda yang terbuat dari sutera.
Para shahabat  berkata, ”Kami tidak dihalalkan
memasuki tenda ini.” Maka dibentangkanlah karpet
dari sutera dan mereka dipersilahkan untuk duduk
di atasnya. Para shahabat berkata, ”Kami tidak
diperbolehkan duduk di atasnya.” Akhirnya Tadzariq
duduk di tempat yang mereka inginkan. Para
shahabat  mendakwahinya agar masuk Islam,
namun perundingan ini berakhir tanpa hasil.
Akhinya mereka pun kembali ke barisan pasukan.
Pemimpin sayap kiri Romawi yang bernama Mahan
ingin bertemu dengan Khalid bin Al-Walid di antara
dua pasukan yang saling berhadapan. Mahan
berkata, ”Kami mengetahui bahwa kemiskinan dan
kelaparanlah yang mengeluarkan kalian dari negeri
kalian. Maukah kalian jika aku beri sepuluh dinar
untuk setiap tentara beserta makanan dan pakaian,
lalu kalian pulang ke negeri kalian? Dan pada tahun
depan aku akan memberikan jatah yang serupa?”
Khalid bin Al-Walid  menjawab, ”Sesungguhnya,
bukanlah yang mengeluarkan kami dari negeri kami
apa yang engkau sebutkan tadi. Tetapi sebenarnya
kami adalah sekelompok manusia peminum darah.
Dan telah sampai berita kepada kami bahwa tidak
ada darah yang lebih segar daripada darah kalian,
bangsa Romawi. Untuk itulah kami datang kesini!”
Mendengar jawaban itu para sahabat Mahan
berucap, ”Demi Allah, ucapan tersebut baru pertama
kali kita dengar dari bangsa ’Arab.”
Jalannya Pertempuran
Pasukan Romawi pada perang ini keluar dalam
jumlah besar yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
Khalid  juga membawa pasukan besar yang tidak
pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah ’Arab.
Tatkala persiapan sudah matang, Khalid
memerintahkan untuk memulai dengan perang
tanding. Mulailah para jagoan Islam di tiap pasukan
maju hingga membuat suasana memanas.
Sementara Khalid berdiri menyaksikan laga
tersebut.
Ditengah suasana yang sudah memanas, pemimpin
pasukan lini depan Romawi yang bernama Jarajah
ingin bertemu dengan Khalid  di tengah dua pasukan.
Ia bertanya mengenai agama Islam, maka Khalid
memberitahukan dakwah Islam yang dibawa oleh
Nabi Muhammad. Akhirnya, Jarajah masuk Islam,
membalikkan sisi perisainya dan masuk ke dalam
barisan pasukan Islam.
Melihat pembelotan Jarajah, pasukan Romawi
menyerbu ke barisan kaum muslimin. Mahan
memerintahkan pasukan sayap kanan menyerang
menerobos pertahanan sayap kanan pasukan Islam.
Kaum muslimin tetap tegar berjuang di bawah panji-
panji mereka, hingga berhasil membendung
serangan musuh.
Setelah itu, pasukan besar Romawi datang lagi bak
gunung besar yang berhasil memporak-porandakan
pasukan sayap kanan, hingga pasukan Islam beralih
ke tengah. Tak lama kemudian, mereka saling
memanggil agar kembali ke medan laga hingga
berhasil memukul mundur kembali. Adapun para
wanita, tatkala melihat ada tentara Islam yang lari
mundur, mereka segera memukulinya dengan kayu,
atau melemparinya dengan batu sehingga tentara
tersebut kembali ke kancah peperangan.
Kemudian Khalid  beserta pasukannya yang berada
di sayap kiri menerobos ke sayap kanan yang
kebobolan diserang musuh, hingga berhasil
membunuh enam ribu tentara Romawi. Lalu Khalid
membawa seratus pasukan berkuda menghadapi
seratus ribu tentara Romawi hingga berhasil
meluluhlantakkan pasukan musuh.
Pada hari itu, begitu terlihat kegigihan, kesabaran,
dan kepahlawanan tentara-tentara Islam hingga
pasukan Romawi berputar-putar seperti penumbuk
gandum. Mereka tidak melihat, pada perang itu,
melainkan kepala-kepala yang berterbangan,
tangan-tangan maupun jari-jari yang terpotong,
serta semburan darah yang membasahi medan laga.
Ketika itulah, seluruh pasukan Islam menyerbu
dengan serentak, untuk kemudian dengan leluasa
menghabisi musuh tanpa ada perlawanan sedikit
pun. Jarajah pun akhirnya terluka parah dan
meninggal dunia. Padahal beliau belum pernah
shalat sekalipun, kecuali dua raka’at yang
dikerjakan (diajarkan) oleh Khalid ketika baru/awal
masuk Islam.
Peperangan ini berawal dari siang hingga malam,
sampai kemenangan diraih oleh Islam dan kaum
muslimin. Malam itu, pasukan Romawi berlari dalam
kegelapan. Adapun pasukan Romawi yang diikat
rantai besi, jika salah seorang dari mereka terjatuh,
maka terjatuhlah seluruhnya. Malam itu, Khalid
bermalam di kemah Tadzariq, pimpinan tertinggi
pasukan Romawi.
Pasukan berkuda berkumpul di sekitar kemah
Khalid  menunggu tentara Romawi yang lewat untuk
dibunuh hingga waktu pagi tiba. Tadzariq pun
terbunuh. Telah terbunuh pada hari itu 120.000
lebih pasukan Romawi. Adapun tentara Islam yang
gugur di medan perang sebanyak tiga ribu pasukan.
Kaum muslimin mendapat harta pampasan yang
begitu banyak pada perang ini.
Demikianlah, kejayaan yang diraih oleh umat Islam
tatkala mereka kokoh diatas kemurnian ibadah
kepada Allah dan berpegang teguh kepada sunnah
(ajaran) Rasul-Nya . Sebagaimana firman Allah
(yang artinya):
”Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang
beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal
sholih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan
mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia
telah menjadikan orang-orang sebelum mereka
berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi
mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka,
dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan)
mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi
aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan
tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.
Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu,
maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An-
Nur: 55)
Wallahu a’lam bish showab.

Share This: