MENDAPAT RIZQI GARA-GARA ANAK YATIM DAN ORANG LEMAH

yatim

Dari Sa’ad bin Malik dia berkata: Saya berkata: “Wahai Rasulullah! Ada seorang lelaki yang menjadi pelindung kaumnya, apakah bagiannya dengan orang lain sama saja?!” Beliau menjawab:

((يَا ابْنَ أُمِّ سَعْدٍ، وَهَلْ تُرْزَقُونَ وَتُنْصَرُونَ إِلا بِضُعَفَائِكُمْ))

“Ketahuilah wahai putra Ummu Sa’ad! Tidaklah kalian diberi rizqi dan dimenangkan oleh Allah kecuali karena orang-orang lemah kalian.” (Musnad Ahmad, no. 1493 dan Sahih Al-Bukhari, no. 2896)

Sementara dalam riwayat At-Tirmidzi, no. 2345 dengan sanad sahih, seorang lelaki berkata kepada Nabi SAW: “Wahai Rasulullah! Saudaraku yang menuntut ilmu ini, bisanya hanya meminta nafkah kepadaku.” Maka Nabi SAW menjawab:

((لَعَلَّكَ تُرْزَقُ بِهِ))

“Justru kemungkinan engkau diberi rizqki adalah karena dia.”

            Pembaca yang dirahmati Allah!

Setelah membaca Hadis ini, Anda tentu bisa menyimpulkan bahwa tidak sepatutnya orang yang kuat dan kaya, merendahkan orang-orang lemah dan tidak mampu. Baik dalam urusan jihad, rizqi, maupun pemberian bantuan.

Silakan Anda perhatikan!

Pada Hadis ini Nabi SAW menjelaskan bahwa yang namanya kemenangan atas musuh, atau banyaknya rizqi yang didapat seseorang, itu karena orang-orang lemah, terlebih yatim. Karena doa mereka yang senantiasa memohon kepada Allah agar diberi kemenangan dan rizqi.

Justru harta yang Anda dapat adalah hak mereka. Sekiranya bukan karena keberadaan mereka, mungkin Anda tidak akan diberi Allah harta tersebut.

Dalam Hadis ini, Nabi SAW mengingatkan kita dengan ikatan batin di antara kaum muslimin secara umum. Jangan sampai seorang muslim merasa lebih tinggi dan lebih baik dari saudaranya gara-gara rizqi dan kemenangan yang dia dapat. Karena semua itu datangnya dari Allah. Justru sebab datangnya rizqi dan kemenangan adalah karena keberadaan kaum muslimin yang lain.

Ingatlah! Harta yang ada di tangan kita adalah ujian dari Allah. Dia memberikannya kepada kita untuk menguji kita, apakah kita gunakan dalam kebaikan dengan membagikannya kepada kaum yatim dan fakir miskin, ataukah kita konsumsi sendiri.

Dalam Hadis ini, Nabi SAW juga memberi anjuran kepada kita untuk memperhatikan kondisi orang-orang fakir, terlebih anak yatim, juga senantiasa berbuat lemah lembut kepada mereka dan memenuhi kebutuhan mereka.

Hadis ini juga menunjukkan keutamaan doa di waktu darurat. Baik dari anak yatim, orang miskin, ataupun orang terdzalimi. Demikian itu karena orang lemah tidak mempunyai siapa-siapa. Seperti itu pula orang miskin, anak yatim, dan orang terdzalimi.

Ketika seseorang bertanya: “Mengapa doa orang miskin, orang lemah, dan orang terdzalimi lebih mudah dikabulkan Allah?” maka para ulama’ menjawab: “Demikian  itu karena orang miskin, anak yatim, orang lemah, dan orang terdzalimi tidak mempunyai apa-apa dan siapa-siapa yang mau peduli kepada mereka. Sehingga hal itu mendorong mereka semakin merengek kepada Allah, semakin butuh kepadaNya, dan semakin yakin, hanya Allah yang bisa membantu mereka.”

Hadis ini juga mengarahkan kita selaku kaum muslimin, untuk mengasihi orang-orang lemah, bersikap lemah lembut kepada mereka, senantiasa memenuhi kebutuhan mereka, dan terlebih khusus jika mereka para penuntut ilmu. Jika Anda melakukannya maka berkumpul pada Anda dua kebaikan: Kebaikan karena mencukupi orang miskin, dan kebaikan karena orang miskin ini seorang penuntut ilmu.

Anda mencukupi kebutuhannya dalam bentuk harta, sementara mereka mengirimkan kepada Anda pahala besar dari Allah juga senantiasa menyertakan Anda dalam doa-doa mereka. Allahu a’lam.

 

 

Share This: