MENINGGALKAN REKAM JEJAK YANG BAIK UNTUK ANAK-ANAK KITA

qiyamullail

 » وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ «

“Dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu.” (QS. Al-Kahfi: 82).

Saudaraku,
Bagaimana kabar anak-anak kita?. Seperti apakah perjalanan pendidikan mereka?. Apakah mereka akan membanggakan kita sebagai orang tua?. Sekiranya kita meninggal dunia hari ini, apa kira-kira yang diceritakan anak-anak kita sepeninggal kita?.

Abdullah bin Ahmad rahimahullah pernah menceritakan perihal ayahnya (Imam Ahmad),

“Ayahku terbiasa membaca sepertujuh al-Qur’an setiap hari. Ia mengkhatamkan al-Qur’an setiap tujuh hari. Dan iapun mengkhatamkan al-Qur’an setiap tujuh malam. Ia mengakhirkan shalat Isya’, lalu ia tidur beberapa saat. Lalu bangun dan shalat malam hingga menjelang subuh. Selepas shalat subuh, ia berdo’a cukup lama. Setiap hari ia melaksanakan shalat sunnah sebanyak 300 raka’at. Setelah usianya uzur, dan ia rasakan tubuhnya mulai melemah, maka ia kurangi dan tunaikan separuhnya. Di mana ia shalat sunnah sebanyak 150 raka’at sehari.”
(Mi’atu kisah min qashashi ash-shalihin, Muh bin Hamid Abdul Wahhab).

Saudaraku,
Itulah profil orang tua yang menjadi teladan bagi anak-anaknya. Bukan hanya teladan dalam meriwayatkan hadits dan membekali diri dengan ilmu. Tapi juga teladan bagi anak-anaknya dalam ibadah dan mengukir prestasi ubudiyah di hadapan Allah s.w.t.

Dari penuturan putera Imam Ahmad ini, dapat kita petik beberapa buah pelajaran dan manfaat darinya.

• Imam Ahmad, termasuk salah seorang ulama yang mampu mewariskan keshalihan pribadi dan ilmu pengetahuan kepada anak-anak dan generasi sesudahnya. Dan hal ini yang jarang kita temukan pada ulama di zaman ini. Sang ayah menjadi guru besar, tapi anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi besar kepala. Bisa jadi orang tua ringan tangan membantu kesulitan orang lain, tapi anak-anaknya ringan lisannya (baca; banyak bicara) memberatkan langkah orang lain.

• Tarbiyah imaniyah (pendidikan ideologis) anak yang dilakukan orang tua dengan keteladanan, memiliki dampak yang besar dan pengaruh yang terang dan membekas di hati anak-anaknya. Begitu pun sebaliknya, keteladanan yang buruk (al-uswah al-salbiyah) menjadi pewarisan nilai yang buruk terhadap anak dan generasi.

• Diminta atau tidak. Kita sukai atau tidak. Sepengetahuan kita atau tidak. Di masa hidup kita atau sepeninggal kita. Pasti anak-anak kita akan menceritakan kepada orang lain tentang siapa kita di mata mereka. Baik dari sisi positif maupun dari sisi negatifnya. Tidak terbayang bagaimana sesaknya dada kita, jika kita tahu ternyata anak-anak kita menceritakan keburukan dan sisi kekurangan kita kepada teman-teman pergaulannya.

• Imam Ahmad adalah merupakan tipe orang tua yang sangat dicintai dan dibanggakan oleh anak-anaknya. Berbeda dengan kita. Barang kali mereka lebih mengenal kita dari sudut kepribadian tercela; pelit, kasar, tidak suka memberi apresiasi positif, malas ibadah, tak mampu meredam emosi dan yang senada dengan itu.

• Kelebihan yang dimiliki oleh Imam Ahmad, mampu mengkhatamkan al-Qur’an setiap tujuh hari dan setiap tujuh malam serta mampu melakukan shalat sunnah sebanyak 150 sampai 300 raka’at dalam sehari, merupakan karamah yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya yang shalih dan dicintai-Nya. Yang tak mungkin dilakukan oleh kita yang jauh di bawahnya dari kualitas iman dan ubudiyahnya.

• Karamah, bukanlah seperti yang dipahami oleh sebagian kaum muslimin, seperti kemampuan seseorang untuk melakukan shalat Jum’at di masjidil haram. Berlari di atas air. Terbang di udara. Memiliki kemampuan untuk meramal nasib seseorang dan seterusnya. Karena hal itu semua termasuk dalam katagori sihir. Karena diperoleh dengan jalan menjauhi berbagai aturan dan syari’at agama. Berbeda dengan karamah, yang tidak bisa diraih terkecuali dengan taqarrub kepada Allah s.w.t.

• Apa yang diperlihatkan oleh Taat Pribadi Dimas kanjeng, yang menipu manusia dengan praktek penggandaan uang, adalah sihir dan bukan karamah. Bagaimana ibadahnya Dimas Kanjeng? Apakah ia mampu shalat malam sepertiga malam setiap malamnya atau mengkhatamkan al-Qur’an setiap tujuh hari?. Tentu tidak mampu. Karena yang ia bawa adalah sihir dan bukan karamah Ilahiyah.

• Berdekatan dengan kalamullah dan shalat malam serta do’a merupakan amalan istimewa di hadapan Allah. Yang dengannya Dia mencintai kita dan mengelompokkan kita menjadi ahlullah dan hamba-hamba khusus-Nya.

• Salah satu jalan yang harus dilalui para orang tua, yang ingin memiliki generasi yang kuat dan tangguh, dalam keimanan, dakwah dan rela berkorban karena-Nya adalah dengan memperbanyak ibadah kepada Allah. Menerangkan warna pengabdian kepada-Nya, yang disimbolkan dengan shalat malam dan tilawah al-Qur’an.

• Membangun generasi dan memahat anak-anak yang shalih dan muslih, bukan hanya sekadar akan mencerahkan wajah kita di dunia. Tapi di akherat kita akan tersenyum gembira dengan pahala berlimpah yang disediakan oleh-Nya. “Sesungguhnya harta dan anak-anakmu adalah ujian bagimu. Dan pada sisi Allah tersimpan pahala yang besar.” (QS. At-Taghabun: 15). Namun, di balik ganjaran dan pahala yang besar yang sedang menanti kita, ayat ini mengisyaratkan bahwa mendidik dan mewariskan keshalihan kepada anak-anak kita bukanlah perkara yang mudah. Ada mahar yang harus kita berikan. Ada peluh yang harus kita kucurkan. Dan bahkan bisa jadi ada darah yang harus kita korbankan.

Saudaraku,
Bagaimana pendapat kita, apa yang selama ini dan akan dibicarakan anak-anak kita di belakang kita? Apakah mereka menceritakan kebaikan dan keteladanan kita dalam keluarga? Atau justru sebaliknya, menceritakan keburukan dan sisi-sisi gelap kehidupan kita dalam keluarga.

Mulai hari ini, tataplah wajah anak-anak kita dengan penuh kelembutan. Kita koreksi ibadah dan amal kebajikannya. Kita pantau keshalihannya. Karena apa yang kita lihat dari mereka, adalah pantulan dari kita, para orang tua.

Karena anak adalah peneliti sejati tentang kita; orang tua. Walau pun mereka belum memulai penelitian di dunia kampus dan akademik-nya. Wallahu a’lam bishawab.

Metro, 13 Oktober 2016
Fir’adi Abu Ja’far el-Thayyar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *