pertanyaan-pertanyaan seputar khulu’ dan perceraian

 (963) Seorang lelaki berkata kepada isterinya setelah terjadi pertengkaran: “Jika kamu membebaskan saya dari nafkah anak-anak kita maka saya mentalakmu.” Wanita itu pun berkata: “Kamu selama lima belas tahun bebas dari nafkah anak-anak.” Lalu suami berkata: “Kalau begitu kamu tertalak tiga.” Bagaimana hukumnya?

Jawab: Khulu’ seperti ini tidak sah. Karena wanita tidak mempunyai kekuasaan untuk membebaskan nafkah anak-anak. Sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Muntaqa dan syarahnya. Berdasarkan hal ini maka talak itu tidak terjadi. Karena suami hanya mentalak ketika dia dibebaskan dari nafkah anak-anak. Dan itu tidak mungkin terjadi. Maka talak tidak terjadi. (Syaikh Muhammad bin Ibrahim Rahimahullah)

(964) Mohon diberi penjelasan. Saya wanita yang sudah menikah sejak delapan belas tahun lalu. Saya mempunyai seorang putera dan puteri sejak tahun 1992 hingga saat ini. Di antara kami selalu terjadi pertengkaran suami isteri. Tarafnya hingga saya dan suami tidak mau saling bicara. Saya meminta talak kepadanya lebih dari satu kali. Tetapi dia menolak. Sejak satu tahun saya sudah tidak berkumpul serumah dengannya. Untuk khulu’, juga mustahil dilakukan karena kondisi sosial. Satu-satunya yang mungkin adalah saya membebaskannya dari segala tanggungan.

Jawab: Jika anda membebaskan suami dari segala hak anda kemudian dia memberi syarat: Anda harus mengembalikan maskawin yang sudah dibayarkannya, maka inilah yang disebut khulu’.

Saya tidak paham maksud “kondisi sosial” yang menimpa anda. Apakah maksudnya anda tidak mampu mengembalikan maskawin yang sudah dibayarkan atau apa?! Jika anda memang tidak mampu maka ini adalah hutang anda. Anda bisa meminta khulu’ dengan ketentuan maskawin ini menjadi hutang yang harus anda bayarkan kepadanya. (Syaikh Muhammad bin Abdul Maqshud)

(965) Seorang isteri meminta talak dari suami. Maka suami berkata: “Iya, tapi syaratnya kamu harus membebaskan saya dari maskawin yang wajib saya bayar dan hendaknya kamu bekerja di tempat si fulan selama sepuluh hari.” Wanita itu melakukan keinginan suami dan bekerja sepuluh hari di tempat si fulan. Maka suami mentalaknya tiga kali dengan satu kata. Bagaimana hukumnya?

Jawab: Khulu’ ini sah. Talaknya yang tiga juga terjatuhkan. Dan maskawin yang menjadi kewajiban suami juga gugur. Sedangkan isteri harus bekerja sepuluh hari di tempat si fulan sesuai syarat yang disepakati dalam khulu’. (Syaikh Muhammad bin Ibrahim Rahimahullah)

(966) Suami isteri itu sepakat untuk bercerai. Dengan syarat isteri mengembalikan maskawin. Isteri menyetujui hal itu dengan syarat ia sudah menikah lagi. Maka suami mentalaknya. Tak lama kemudian keduanya menyesali hal itu. Bagaimana hukumnya?

Jawab: Jika urusannya memang seperti itu, sesungguhnya suami telah mentalak ba’in isteri dengan talak ba’in kubra. Maka sang isteri tidak halal dinikahi suaminya hingga menikah dengan lelaki lain. Jika isteri menikah dengan lelaki lain, ia wajib diberi maskawin. (Syaikh Muhammad bin Ibrahim Rahimahullah)

(967) Wanita bertanya: Mohon kami diberi penjelasan tentang hukum khulu’. Apakah dalam khulu’, wanita bisa kembali kepada suami? Karena wanita yang minta khulu’ kepada suami, dengan mengembalikan harta sejak dua tahun lalu, ingin kembali kepada suaminya. Selama masa itu sang wanita belum menikah dengan siapapun karena sibuk mendidik anak-anaknya. Mohon kami diberi penjelasan.

Jawab: Wanita yang meminta khulu’ bisa kembali kepada suaminya. Kemudian berdasarkan pendapat yang mengatakan khulu’ adalah fasakh dan bukan talak, jika suami isteri melakukan khulu’ meski berkali-kali maka tidak ada pembatasan dalam hal itu. Ini adalah madzhab Ibnu Abbas, juga riwayat dari Ali bin Abi Thalib. Dan inilah madzhab Imam Ahmad. (Syaikh Muhammad bin Abdul Maqshud)

(968) Apakah dibenarkan jika nafkah untuk wanita hamil dijadikan tebusan (ganti rugi) khulu’?

Jawab: Hal itu dibenarkan dan sah. Inilah pendapat yang masyhur dari madzhab Ahmad. Karena nafkah itu –meski diperuntukkan janin- sesungguhnya secara hukum wanita itulah yang menjadi pemiliknya. Allahu a’lam. (Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di Rahimahullah)

(969) Jika isteri minta ditalak suami tapi suami menolak kecuali isteri membebaskan tanggungan suami, maka isteri membebaskan tanggungannya. Apakah hal seperti ini sah meski bapak sang isteri tidak mengizinkan?

Jawab: Jika wanita tersebut berakal dan bisa bertindak sendiri maka tidak perlu izin dari kedua orang tua. Sehingga kesepakatan isteri bersama suami untuk membebaskan tanggungan suami adalah benar, meski kedua orang tua wanita menolak.

Adapun jika wanitanya tidak bisa bertindak sendiri, mungkin karena masih kecil atau dungu maka tidak berhak memberikan ibra’ (yakni membebaskan tanggungan suami). Kecuali dengan izin ayah atau saudaranya, jika dalam hal itu ada maslahat. Misalnya masing-masing suami isteri menjadi lebih tenteram atau semisalnya (Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di Rahimahullah)

(970) Jika wanita yang masih kecil, gila, atau dungu meminta khulu’, apakah khulu’nya sah?

Jawab: Wanita gila tidak punya hak untuk bertindak langsung dalam masalah apapun yang berhubungan dengan harta meski ada ijin dari walinya. Dan bagi sang wali, ia tidak patut memberi izin kepadanya dalam masalah-masalah seperti ini. Karena ia tidak punya akal dan tidak punya pengetahuan.

Adapun wanita yang masih kecil atau dungu maka khulu’ yang dilakukannya tanpa ijin wali adalah tidak sah. Seperti halnya masalah-masalah lainnya dalam muamalat.

Sedangkan ketika ada izin wali maka yang benar khulu’ sama seperti masalah muamalat lainnya. Sebagaimana sahnya jual beli, persewaan, atau semisalnya yang dilakukan lelaki dan perempuan yang masih kecil, atau lelaki dan perempuan idiot ketika ada izin dari wali, maka seperti itulah khulu’ yang mereka lakukan.

Tidak ada perbedaan dalam dua masalah ini. Tetapi wali tetap dilarang memberi izin dalam perkara-perkara yang tidak ada maslahat bagi keduanya atau dalam perkara yang malah menyengsarakan mereka. Allahu a’lam. (Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di Rahimahullah)

(971) Apakah ayah berhak melakukan khulu’ dengan membayar ganti rugi dari harta puteri atau putera yang masih kecil?

Jawab: Ayah berhak mengkhulu’ puteranya yang masih kecil dan berhak mentalak. Ayah juga berhak mengkhulu’ dengan membayar ganti rugi dari harta puterinya yang masih kecil. Pendapat ini dipilih Muwaffaq Ibnu Qudamah dan pensyarah kitabnya. Dengan syarat dalam hal itu ada maslahat. Kemudian pendapat ini dibenarkan dalam kitab Al-Inshaf. Inilah pendapat yang sesuai dengan dalil. Karena ayah kedudukannya sebagai pengganti atau wakil bagi anak yang belum bisa bertindak sendiri dalam segala keadaannya. Allahu a’lam. (Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di Rahimahullah)

(972) Seorang wanita membenci suaminya. Ia meminta khulu’ dari suami sambil berkata: “Jika kamu tidak mencerai saya, saya akan bunuh diri.” Maka wali memaksa suami agar bercerai dengannya. Setelah itu sang wanita menikah dengan lelaki lain. Tetapi suami pertama masih menginginkannya sambil mengatakan: “Saya bercerai dengannya karena dipaksa.” Sedangkan sang isteri tidak menginginkan kecuali suami kedua. Bagaimana hukumnya?

Jawab: Jika suami pertama dipaksa mencerai isterinya karena suatu alasan yang benar, misalnya suami tidak memenuhi hak isteri yang wajib dia lakukan, atau menyengsarakan isteri tanpa alasan yang benar dengan perkataan maupun perbuatan, maka perceraian itu benar, dan menikah dengan suami kedua juga sah. Status wanitanya sebagai isteri bagi suami kedua.

Tetapi jika suami pertama dipaksa mencerai isterinya dengan dipukul, dipenjara, atau sesuatu yang lain, sementara dia mempergauli isterinya dengan pergaulan yang baik, berarti perceraian ini tidak terjadi. Jika sang wanita membenci suami padahal suami berbuat baik kepadanya maka sang lelaki diminta menceraikannya tanpa dipaksa. Jika suami melakukannya maka selesailah masalahnya. Tetapi jika suami menolak melakukan, maka sang wanita disuruh bersabar jika tidak ada perkara yang membolehkan adanya fasakh di antara mereka. (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah)

(973) Saya sudah menikah sejak tiga belas tahun lalu. Saya mempunyai tiga orang puteri. Tetapi suami saya mempergauli saya dengan pergaulan yang buruk. Hanya karena suatu hal sepele dia langsung mencaci dan mencerca saya dengan cercaan sangat buruk. Dia lelaki yang agamanya bagus tetapi sangat fanatik. Karena buruknya tindakannya kepada saya, maka tertanamlah rasa benci kepadanya dalam hati saya. Saya tidak tahan hidup bersamanya dengan akhlaq seperti ini. Apa yang harus saya lakukan?

Jawab: Dalam masalah ini syariat Islam sudah memberikan solusi. Ketika wanita menghadapi masalah pelik seperti tersebut di atas, wanita boleh mengajukan khulu’. Dan jika wanita membenci suami karena sebab seperti di atas, ia juga berhak mengajukan khulu’. Karena suami tidak patut memukul isteri hanya karena perkara kecil. Seandainya suami memukul isteri karena suatu sebab, itupun pukulannya harus didahului oleh nasihat, peringatan, meninggalkannya dari tempat tidur, atau lain sebagainya.

Apalagi dalam riwayat Bukhari dari Hadis Aisyah Radhiyallahu anha sesungguhnya Nabi r bersabda:

((مَا كَانَ الرِّفْقُ فِى شَىْءٍ قَطُّ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ عُزِلَ عَنْ شَىْءٍ إِلاَّ شَانَهُ))

“Tidaklah lemah lembut terdapat pada sesuatu pun kecuali akan menghiasinya. Dan tidaklah lemah lembut hilang dari sesuatu pun kecuali akan memperburuknya.”

          Sedangkan dalam riwayat Muslim, Aisyah Radhiyallahu anha mengatakan bahwa Rasulullah r bersabda:

((إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ، وَيُعْطِى عَلَى الرِّفْقِ مَا لاَ يُعْطِى عَلَى الْعُنْفِ))

“Sesungguhnya Allah Maha lembut menyukai sifat lemah lembut. Ia memberikan pada sifat lemah lembut, hal-hal yang tidak diberikanNya pada sifat kasar.”

Maka suami adalah lelaki bodoh yang melanggar batasan-batasan syariat. Ia tergolong manusia dalam Hadis Nabi r yang diriwayatkan dalam Ash-Shahihain dari A’idz bin Amru dia berkata bahwa Rasulullah r bersabda:

((إِنَّ شَرَّ الرِّعَاءِ الْحُطَمَةُ فَإِيَّاكَ أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ))

“Seburuk-buruk penggembala adalah penggembala yang sangat kasar. Kalian jangan sepertinya.”

Jika suami seperti ini, tentu isteri membencinya. Seandainya suami mentalak atau isteri meminta khulu’, hal itu menjadikan putera-puteri menjadi terlantar, sementara di sisi lain mereka sangat membutuhkan arahan dan pendidikan dari ayah ibunya.

Karena itu kami katakan: Suami tidak patut memukul isteri kecuali isteri melakukan perbuatan keji. Dan nusyuz termasuk perbuatan keji sebagaimana dikatakan Imam Ahmad.

Hendaknya yang dilakukan suami terhadap isteri adalah seperti yang disebutkan Rasulullah r dalam Hadis Muawiyah bin Haidah Radhiyallahu anhu. Hadis ini diriwayatkan Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Disitu Mu’awiyah bin Haidah bertanya:

((مَا حَقُّ زَوْجِ أَحَدِنَا عَلَيْهِ؟ قَالَ: تُطْعِمُهَا إِذَا أَكَلْتَ، وَتَكْسُوهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ، وَلاَ تَضْرِبِ الْوَجْهَ، وَلاَ تُقَبِّحْ، وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِى الْبَيْتِ))

“Apakah hak isteri atas suami? Rasulullah r menjawab: Kamu memberinya makan jika kamu makan. Memberinya pakaian jika kamu berpakaian. Jangan memukul wajah. Jangan mencerca. Dan jangan meninggalkannya kecuali di rumah.”

Jadi yang wajib atas suami, hendaknya bertaqwa kepada Allah I pada isteri dan anak-anaknya. Dia adalah penggembala dalam rumah dan dimintai pertanggungjawaban dari apa yang digembalakannya. Apalagi mereka semua membutuhkannya. Suami harus berlindung dengan mengerjakan shalat ketika datang kemarahannya. Dalam hal ini dia harus senantiasa mengikuti Rasulullah r. Karena pada diri beliau terdapat suri tauladan yang baik. Kita memohon kepada Allah I agar selalu diberi hidayah dan taufiq. (Syaikh Muhammad bin Abdul Maqshud)

 

 

Share This:

  • adit

    kesepakatan suami istri utk bercerai apakah sudah masuk talaq terimakasih

    silakan melihat jawabannya pada:
    http://wafimarzuqi.wordpress.com/2014/01/11/suami-istri-sepakat-untuk-bercerai/

  • rizka

    Saya seorang istri dengan satu anak. Dalam rumah tangga pernah kami bertengkar, dalam pertengkaran pernah saya berucap “ceraikan saya” dan suami menjawab “iya tapi urus semuanya sendiri” apakah itu berarti jatuh talak meskipun suami tidak berikrar talak seperti “saya ceraikan kamu” atau semacamnya.
    ibu, itu tergantung kepada niat suami. jika suami sudah meniatkan cerai meski dengan ungkapan seperti itu, maka talak sudah terjadi. makanya Nabi SAW melarang kita melarang bergurau atau serius dalam tiga hal: Nikah, talak, dan rujuk. ini adalah Hadis hasan. jadi jika seseorang sudah mengatakan itu, tidak berguna jika setelah dia bilang: Saya tadi hanya bercanda.
    Allahu a’lam.

  • Assalamualaikum
    suami saya sudah mentalak saya sebanyak 3 kali, dan sekarang dia ingin kembali lagi kepada saya dengan janji ingin berubah total, tp sy sudah tidak mau rujuk karena saya sudah haram dengan suami, keinginan rujuk dengan suami di dukung oleh keluarga saya, karena mengingat 2 anak saya yang masih kecil,, bahkan keluarga saya bilang jika saya tidak mau rujuk dengan suami saya di usir dari rumah dan tidak akan di akui anak oleh orang tua saya lagi, bahkan saya di larang bertemu dengan anak2 saya oleh keluarga saya,bahkan saya di sebut oleh kerluarga saya adalah sampah jika cerai dengan dengan suami, saya bingung apa yang harus saya lakukan, apakah saya harus menerima rujuk suami dan sepanjang hidup berzina dengan suami, atau kah saya harus pergi dan merelakan anak, keluarga lepas dari sy,,

    jawab:

    wa’alaikumussalam warahmatullahi wa barakaatuh.
    Saya berdoa semoga Allah merekatkan setiap hubungan suami istri kaum muslimin. Untuk rujuk atau tidak, anda yang lebih tahu. tapi jauh lebih baik jika anda memohon petunjuk kepada ALlah dengan mengerjakan shalat istikharah. jadi kerjakan shalat dua rakaat dengan niat memohon petunjuk kepada ALlah, apakah rujuk yang lebih baik atau tidak? ini yang pertama.
    untuk yang kedua, dalam islam, jika istri sudah ditalak tiga kali, suami tidak bisa rujuk kepada istri kecuali istri dinikahi lelaki lain, digauli, kemudian diceraikan. andai sekedar dinikahi lelaki lain tapi belum digauli, masih boleh belum kembali. jadi untuk rujuk setelah talak tiga, tidak semudah talak pertama dan kedua. meskipun pada talak pertama dan kedua untuk rujuk disyaratkan harus masih dalam masa iddah. Jadi jika suami hendak kembali kepada anda, anda harus dinikahi lelaki lain dengan pernikahan yang syari, kemudian anda digauli, lalu diceraikan. baru suami pertama bisa kembali. jika syarat ini tidak terlaksana maka suami tidak boleh kembali menikahi anda. ini yang harus anda jelaskan kepada keluarga.
    dan andai suami melakukan akal-akalan dengan nyewa atau nyuruh lelaki lain menikahi anda, ini juga sangat dilarang dalam Islam. jadi jalannya harus jalan seperti air mengalir tanpa dibuat-buat. ALlahu a’alam.
    semoga jawaban ini cukup memuaskan anda.
    wassalamu’alaikum war. wab.

  • Assalamualaikum wr.wb.

    nama saya yudhi hermawan saya mempunyai adik perempuan yang sudah berumah tangga, dan mempunyai anak dua. kemudian adik saya kedapatan berselingkuh dengan laki2 lain oleh suaminya. laki-laki mana di dunia ini yang tidak merasa kesal dan marah mendapatkan istrinya berselingkuh dengan laki2 lain sedangkan dia bekerja banting tulang untuk mencukupi kebutuhan anak dan keluarganya. suaminya marah besar sehingga keluarlah kata cerai dari suaminya dan kemudian suaminya jatuh pingsan. pertanyaan pertama apakah jatuh talak si suami pada istrinya ketika ia mengatakan cerai dalam keadaan emosi dan bahkan setelah itu dia pingsan ? kemudian saya dari pihak keluarga menenangkan suaminya dan memberi nasihat, dan akhirnya suaminya mau menerima adik saya lagi karena merasa kasihan sama kedua anaknya. timbul masalah baru adik saya tidak mau menerima suaminya karena suaminya telah mengatakan kata cerai pada nya dengan dalih ” ustad manapun akan mengatakan jatuh talak padanya ketika suami mengatakan cerai padanya walaupun dalam keadaan emosi ” dengan dalih mengatakan suaminya telah mentalak dia dengan talak 3 , bahkan kelakuan adik saya semakin tidak bisa diterima dengan akal sehat dia menelantarkan kedua anaknya sering dia tidak pulang entah nginap dimana padahal suaminya ada di rumah kami dari pihak keluarga dan orang tua sudah sering menasehatinya namun adik saya keras kepala dan semakin menjadi , sehingga saya sangat kasihan sekali melihat suaminya. pertanyaan kedua apakah tingkah laku dan perbuatan adik saya dibenarkan oleh agama ? dan bagaimanakah cara menyadarkan adik saya terima kasih.
    wassalam mualaiku wr wb .

    alaikumussalam warahmatullahi wa barakaatuh.
    ada beberapa poin yang saya tangkap dari pertanyaan ini: pertama: istri selingkuh, kedua: suami marah dan menjatuhkan talak terus menyesal. ketiga: sang istri tidak mau kembali dengan dalih sudah ditalak. keempat: kelakuan istri yang menelantarkan anak dan sering tidak pulang k rumah.
    untuk masalah pertama: Yang dimaksud dengan selingkuh adalah zina. dan itu masuknya penis ke dalam vagina. andai sekedar menempal pada bibir vagina dan belum masuk, maka belum dikatakan zina yang harus dirajam pelakunya saat sudah mempunyai pasangan dengan pernikahan yang sah. dengan demikian, harus terjadi dialog yang dingin dan baik antar suami istri, tanpa saling menyalahkan. suami tanya baik-baik ke istri, apakah sudah sampai terjadi perzinahan. andai istri tidak mengakui adanya hal itu, maka suami harus lebih percaya istrinya daripada setan yang ada dalam dirinya. karena setan senang sekali jika melihat orang islam bercerai. jika sang istri sudah mau bertaubat dan mengakui kesalahannya, segera dimaafkan dan tutup lembaran itu selamanya jangan pernah dibuka kembali. anggap tidak pernah terjadi apa-apa. jika suatu hari dibuka kembali, masalah baru pun pasti muncul.
    kedua: untuk suami yang mentalak istri dengan sangat marah, anggap saja itu talak yang muncul dari orang yang hilang akal, sehingga tidak dihukumi terjadi. dan seyogyanya setiap muslim memaafkan kesalahan orang lain, jika terhadap muslim lain yang bukan apa-apa kita, kita diperintah memaafkan, tentu istri yang menjadi pendamping hidup lebih harus dimaafkan.
    ketiga: Untuk istri yang tidak mau kembali karena sudah ditalak 3, hendaknya ada orang ketiga yang dianggap bijak dari keluarga untuk arem-arem sang istri ini. bilang aja bahwa suaminya itu lagi hilang akal, sehingga talak tidak dihukumi terjadi. jadi anggap talak tidak terjadi.
    keempat: Adapun kelakuan istri yang menelantarkan anak, ini tentu sangat tidak benar dalam Islam. karena masing-masing orang mempunyai tanggung jawab. dan tanggung jawab istri adalah merawat anak-anaknya. ini jika berjalan normal. namun ada kalanya wanita tidak betah di rumah, karena setiap masuk rumah ia terasa panas dan pengen marah terus. bawaannya ketika melihat suami, ia langsung muak, atau suami juga demikian. nah jika seperti ini, maka biasanya ada orang ketiga yang iri atau memang ingin merusak rumah tangga kalian. karenanya coba kalian meruqyahkan diri kepada seorang shalih yang bisa meruqyah. atau belajar ruqyah mandiri dan insya ALlah ada pelatihan di surabaya, jika anda orang surabaya: http://www.quranic-healing.com/2014/11/pelatihan-ruqyah-di-surabaya-jawa-timur.html

    terakhir, kalian jangan saling menyalahkan, tapi masing-masing harus intrpeksi. mungkin karena suami sangat sibuk dengan pekerjaan sehingga tidak peduli istri, padahal istri ketika malam ingin dibelai, diajak ngobrol, diajak jalan-jalan ke taman wisata dan lain sebagainya. atau mungkin istri setiap curhat tidak pernah didengar suami, sehingga curhat ke lelaki lain dan menemukan kedamaian di sana, maka dari sini setan mulai merusak. atau mungkin karena masing-masing lalai terhadap hak ALlah, seperti shalat, sadaqah, tidak pernah berkunjung ke panti asuhan, tidak pernah nyantuni fakir miskin dan lain sebagainya. sementara ini jawaban dari saya, semoga bermanfaat dan kita bisa mengambil semua hikmah dari peristiwa yang terjadi,
    yakinlah memang peristiwa ini sangat pahit, tapi pasti sangat manis hasil yang dirasakan, hanya saja kita belum tahu skenario Allah terhadap kita. Allahu a’lam bishshawab.
    wassalamu’alaikum.

  • assalamualakum wrwb.. sy kakanya mira ferdianty..sy sbgai kel trutama kaka tertua perlu meluruskan permasalahan yg sbnr2nya…lgsg sj, kpd permslhn’y…sblmnya sy mw bertanya.. apakah kt cerai yg d kluarkan dr mulut suami yg sdg dlm keadaan emosi krn istri ketahuan selingkuh sah sbgai talak? krn kami adlh saksi hidup bgmn adik sy ini berkali kali menghianati suaminya dgn selingkuh dgn laki2 lain…puji syukur mira pny suami yg baik dan sabar yg sllu mmberikan mf,,dan meminta kembali rujuk demi ank2., stau sy suami mira sngt2 taat kpd agama jg suami yg bertanggung jwb,, adapun bahasa mia yg “suami saya sudah mentalak saya sebanyak 3 kali, dan sekarang dia ingin kembali lagi kepada saya dengan janji ingin berubah total’ adlh krn 3x pula dy menghianati suaminya…dan suaminya sudah sngt2 bersabar menghadapi klakuan adik sy yg mnurut sy sgt2 luar biasa ini…qlo yg mnurut akal sehat sy jg mengatas namakan kel ini adlh aib yg tdk perlu d publikasikan.. tp krn adik sy yg menginginkan ini mencari kebenaran dgn memutar balikan fakta maka sy perlu mengklarifikasi yg sbn2nya tntg permasalhan ini…sy jg mewakili org tua dan kel memohon agar web ini bs mmberikan solusi yg terbaik jg menyadarkan adik sy agar dia bs kembali ke jln yg benar dan menyadari apa yg menjadi kesalahannya…kami dsni bukan mau menyudutkan sdr kami sendiri,tp krn mira adlh sdr kami dan kami msh menyayangi dia sbgai sdr kami,jd kami berkewajiban untk meluruskan,,oleh krn it kami mohon..solusi yg terbaik untuk meluruskan adik kami ini..wassalamu’alaikum wrwb…

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wa barakaatuh.
    untuk masalah benar tidaknya perkara yang telah disebutkan, itu kembali kepada urusan keluarga masing-masing. hanya Allah yang tahu semua masalahnya. sementara kita disuruh hanya menghukumi yang lahir. adapun yang batin maka sepenuhnya dipasrahkan kepada Allah.
    tugas saya di sini hanya menjawab permasalahan yang sekadar sedikit ilmu yang diberikan Allah pada saya. perlu diketahui, pertama: yang dimaksud selingkuh, adalah masuknya penis ke dalam vagina. dan itulah yang disebut dengan zina. adapun jika sekedar berciuman, bersentuhan, berduaan, dan lain-lain yang tidak sampai masuknya timba ke dalam sumur, itu memang suatu perselingkuhan tapi belum sampai zina. sehingga dalam hal ini untuk hukum Islam yang seperti rajam tidak boleh dilakukan karena belum ada timba yang masuk ke dalam sumur.
    kedua: Untuk mentalak istri karena dalam kondisi marah, para ulama’ berbeda pendapat. ada yang menghukuminya terjadi dan ada yang mengatakan tidak terjadi. ya udah, kalau suami sangat marah ketika menyatakan talak, anggap saja itu tidak ada niatan. sehingga perkataannya dianggap seperti perkataan orang yang hilang akal, jadi tidak terjadi talak.
    ketiga: Untuk talak tiga, memang caranya ya harus dinikahi orang lain dulu dan disetubuhi baru bisa dinikahi lagi. ini cara yang tidak bisa diganggu gugat.
    keempat: Seharusnya masalah ini dibahas dengan baik-baik antar suami istri dengan kepala dingin, ya perlu pihak ketiga dari keluarga yang bisa mendinginkan suasana. jangan sampai dengan sekedar berjumpa keduanya langsung perang. tidak. tapi masing-masing ingin mencari kebaikan. ditanya dulu sang istri baik-baik. jika tidak mengakui proses zina dengan lelaki lain, maka sang suami harus menerima. istri adalah orang terdekat. jangan sampai hanya karena perasaan suudzan maka suami tidak mau menerima istri. karena isteri berbuat demikian mungkin karena dipelet di sihir dan lain sebagainya, sehingga tidak menyadari apa yang terjadi. ketika istri sudah mengaku tidak pernah zina, dan berikrar untuk tidak mengulang perbuatannya, udah dimaafkan saja. dan tutup lembaran itu. jangan sekali-kali dibuka lagi. lupakan. seakan tidak ada masalah. insya Allah hubungan keluarga bisa semakin harmonis. dan saran saya, biasanya masalah rumah tangga seperti ini memang ada campur tangan orang lain yang ingin menghancurkan. bisa lewat sihir, pelet dan santet, sehingga membuat salah satu pasangan gerah di dalam rumah. karena itu saya sarankan suami dan istri diruqyah. insya Allah ada pelatihan ruqyah mandiri di surabaya, kalau anda orang surabaya. atau carilah tempat ruqyah syariyah di tempat anda. semoga ALlah bisa merekatkan hubungan keluarga suami dan istri ini juga seluruh kaum muslimin, amin.
    untuk pelatihan ruqyah mandiri, silakan melihat di sini: http://www.quranic-healing.com/2014/11/pelatihan-ruqyah-di-surabaya-jawa-timur.html
    yang terakhir, mari semuanya melakukan intropeksi, biasanya masalah ini tidak akan muncul kecuali karena kelalaian kita dalam menunaikan kewajiban kepada Rabb alam semesta. mungkin shalat kita malas, kita sering bermaksiat, kita sering ke paranormal, tidak pernah istighfar, tidak pernah sadaqah, atau mungkin karena memakan barang haram, kayak riba dan lain sebagainya. Allahu a’lam. atau mungkin memang suami kurang memperhatikan istri, sehingga istri merasa butuh perlindungan kepada lelaki lain. tapi ini tidak harus, yang penting masing-masing kita harus evaluasi diri.

  • rukia

    assalamualaikum…Wrwb….

    saya ingin bertanya…
    Saya wanita yang sudah menikah selama 4 tahun Dan suda memiliki1 orang putri… saya sangat menyayangi suami dan selalu menuruti apa kata suami….Hingga suatu hari karena tidak tahan lagi dengan perlakuan suami yang suka berjudi dan mabuk mabukan Walaupun sudah saya nasehati tetap tidak mau merubah kebiasaannya itu…saya pun menggugat cerai suami saya. Selama dua kali masa persidangan suami saya tak pernah mau hadir dengan alasan tak mau bercerai…. Katanya dia tak akan pernah mau menceraikan saya sampai kapan pun juga
    …. dan sidang itu pun sudah berlalu selama± 7 bulan
    Pertanyaan saya….
    -Apakah perceraian saya itu bisa dikatakan sah walaupun suami menentang keras perceraian itu…???
    -Apakah permintaan suami untuk kembali bisa saya terima tanpa adanya syarat apapun….???
    -Apa hukumnya menurut islam…
    mohon di balas….

    Wassalamu’alaikum wr wb

    alaikumussalam warahmatullah wa barakaatuh.

    mohon maaf baru sempat balas.. semoga tidak terlalu lama menunggu jawabannya. saya akan berusaha menjawab dengan memohon petunjuk kepada Allah agar menjadikan jawaban ini adalah benar adanya. aamin.

    Pertanyaan saya….
    -Apakah perceraian saya itu bisa dikatakan sah walaupun suami menentang keras perceraian itu…???
    Insya Allah belum terjadi perceraian, karena majelis hakim tidak pernah menetapkan terjadinya perceraian. dan memang menceraikan itu adalah hak lelaki. jika dia tidak mau menerima otomatis perceraian tidka pernah terjadi. Allahu a’lam.

    -Apakah permintaan suami untuk kembali bisa saya terima tanpa adanya syarat apapun….???
    boleh diterima tapi harus diberi syarat, yaitu meninggalkan kebiasaan buruknya. jika tidak maka ibu langsung pulang saja ke rumah orang tua dan tidak pernah balik.
    dan sebetulnya dalam Islam, kalau laki-laki tidak memenuhi janji seperti yang tertulis dalam buku nikah, otomatis terjadi fasakh secara otomatis. yakni terjadi perceraian. dan kalau ibu memang merasa suami tidak memenuhi itu, ibu berhak langsung pulang ke rumah orang tua. meski si suami tidak ridha untuk menceraikan.

    ibu silakan minta bantuan kepada orang tua, atau saudara laki-laki ibu. apakah itu kakak, adik, atau paman.

    -Apa hukumnya menurut islam…

    jika ibu meminta cerai, karena suami tidak lagi sebagai orang yang baik. insya Allah boleh-boleh saja dan ibu harus mengembalikan maskawin serta seluruh pemberian suami. ini namanya khulu’, jika demikian maka tidak ada rujuk. andaikan keduanya sepakat untuk menikah lagi maka harus dimulai dengan akad nikah baru dan dengan mahar baru. ALlahu a’lam.

  • Assalamu’alaikum..

    Afwan ustadz,
    Mau tanya bolehkan seorang istri mengajukan cerai kpd suami dg alasan suami ketahuan selingkuh??sedangkn suami sudah meminta maaf dan tak mau dicerai??

    alasan suami mnolak menceraikan, krna anak dan apa yg dilakukannya semata krna khilaf,, smentara stelah meminta maaf, beliau msh selingkuh

    apa yg harus saya lakukan ustadz, mohon saran dan nasehatnya

    jazaakallahu khairan katsir

    alaikumussalam warahmatullahi wa barakaatuh

    sebelum menjawab mungkin tulisan di bawah ini agak sedikit membantu jawabannya:

    https://wordpress.com/post/wafimarzuqi.wordpress.com/2082

    sedangkan jawaban saya ada beberapa poin:
    1- jika menikah itu sah menurut islam itu bukan selingkuh. selingkuh adalah jika suami berzina dengan wanita atau pelacur tanpa ada ikatan sama sekali.
    2- di sini kita perlu melihat perkara dari dua pihak. kita harus bertanya: Mengapa suami terdorong untuk selingkuh tadi? apa karena istri tidak bisa memuaskannya atau ada perkara yang lain?
    3- Suami sudah meminta maaf dan mengakui, berarti dia sudah ada maksud baik. sekiranya selingkuh yang dimaksud adalah isteri kedua maka itu bukan selingkuh selamanya, dan bukan uzur bagi wanita untuk minta cerai seperti dijelaskan pada tulisan ini:

    https://wordpress.com/post/wafimarzuqi.wordpress.com/2082

    4-Suami adalah orang yang paling dekat dengan anda. jika Islam memerintah kita memaafkan sesama muslim padahal mereka hubungannya jauh dari kita maka sepatutnya kita memaafkan suami.
    5-Jika ada hal-hal lain yang perlu ditanyakan atau masih kurang jelas, bisa bu Nisa tanyakan. ALlahu a’lam.

  • yulia

    Assalamu’alaikum wr…wb…ustadz
    Sy yulia. Suami sy duda anak 1, mempunyai pacar sejak kami bertunangan tapi saya mengetahui setelah 2 bulan menikah lewat inbox akun Facebook suami dan saat saya hamil anak pertama. Saya keguguran diusia kandungan 4 bulan. Saat sy ke laboratorium utk cek kehamilan kedua, suami saya pergi dengan anaknya bersama pacarnya dan saya mengetahuinya dr anaknya. Suami mohon akan meninggalkan pacarnya dan minta maaf atas nama anak yg dlm kandungan. Hamil kedua anak saya lahir dengan cacat bawaan jantung bocor. Hamil anak ketiga suami saya ketahuan lg mempunyai pacar dan kami ribut, suami minta maaf lg. Hamil ketiga sy keguguran lg diusia kandungan 5 bulan juli 2013 dan bersamaan saya jg di phk. Desember 2013 suami ketahuan lg punya pacar dan pacarnya datang ke rumah untuk minta maaf kepada saya dan seminggu sejak kedatangannya saya mengalami kebotakan di bagian rambut kepala depan lebih besar dr tutup botol. April 2014 anak saya satu2nya putri yg jantung bocor dipanggil kepangkuan Allah SWT. Msh saat berkabung saya mendengar suami saya teleponan dengan pacar barunya. Bulan Juni 2014 saya mendapatkan benjolan yg tumbuh cepat di dada dan saya di vonis kanker payudara. Bulan Juli lebaran kedua suami saya pergi ke rumah pacarnya dr pagi SMP jam 11 malam membawa anaknya dan saya tau dari anaknya. Januari 2015 ketahuan oleh saya suami menemui pacarnya dan saya pergi ke rumah orang tua suami selama 7 hr dan saat itu saya sempat mendatangi rumah pacarnya dan bertemu dengan ibu pacarnya. Sy sampaikan kalo suami saya masih terikat pernikahan dengan saya. Ibunya kaget krn suami saya mengaku duda 2 anak dan meminta maaf pd saya krn anaknya berhubungan dengan suami saya. Bln maret saya menemukan pas foto pacar suami saya di dlm tas suami dan saya menanyakan pakah maksud foto itu apakah utk mengurus pernikahan. Suami saya hanya diam. Saat itu saya minta diceraikan. Bln Nopember dan Desember 2015 suami saya sering tidak pulang terutama malam Minggu. Saya berpikir kalo suami saya sdh menikah tp saya tidak punya bukti. Januari 2016 saya bertekad untuk minta cerai dr suami dan pulang ke Jogja rumah orang tua. Sebelum ke jogja saya sempatkan ke rmh pacar suami saya dan hanya bertemu dengan ibunya. Dr ibunya saya tahu bahwa suami saya sudah membawa pacarnya pergi dr rumah untuk menikah. Tp ibunya tidak merestui dan menyumpahi anak dan suami saya… dan saya jg menemukan bukti pembayaran token sebuah rumah kos dan 2 bukti transfer ke rekening pacarnya. Dr tgl 28 Januari 2016 sejak saya pulang ke rumah orang tua, saya tidak mendapatkan nafkah lahir dan batin. Yang ingin saya tanyakan :
    1. Saya ingin meminta khulu kpd suami krn saya sudah tidak kuat dan saya ingin konsentrasi utk kesembuhan saya.
    2. Saya ingin menggugat cerai suami / khulu secara agama, tidak melalui pengadilan agama krn keterbatasan dana dan waktu untuk mengurusnya bolak balik Jakarta Jogja.
    3. Bollehkah saya minta contoh surat permintaan khulu, untuk saya sampaikan kepada suami agar saya mendapat bukti tertulis bahwa saya telah meminta khulu dan suami menyetujui.
    Demikian, saya mohon pencerahannya ustadz.
    Wassalamu’alaikum wr…wb…

    jawab;

    semoga Allah memudahkan urusan bu Yulia di dunia dan akhirat.
    namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
    pertama: Banyaknya terjadi problematika dalam keluarga adalah karena kita jauh dari ALlah ta’ala. baik dalam masalah shalat yang jarang kita kerjakan dengan khusyu’ dan tepat waktu, dalam mencari nafkah yang terkadang tercampuri dengan barang haram, atau mungkin kita tidak menggunakan jilbab dan lainnya padahal itu diwajibkan Allah ta’ala atas muslimah.
    kedua: Cara yang paling baik adalah bu Yulia mendekat kepada Allah dengan bertaubat, memasrahkan hidup semuanya kepada ALlah dan pasrah seratus persen. kemudian memohon kepada ALlah agar diberi yang terbaik.
    ketiga: Semoga Allah segera memberi kesembuhan kepada ibu dan kehidupan yang nyaman.
    keempat: Untuk menggugat cerai, sebaiknya ibu ditemani wali ibu, apakah itu anak, ayah, kakak lelaki, atau paman. agar nanti ada yang membantu saat persidangan. adapun bukti untuk suami, cukup kertas yang diberikan oleh pihak pengadilan.
    kelima: saya tadi coba browsing dan menemukan situs di bawah ini. silakan dipelajari semoga bermanfaat.

    http://carapedi.com/2013/07/cara-syarat-prosedur-biaya-mengajukan-gugat-cerai/

    keenam: Ibu harus introspeksi diri. kira-kira selama ini apa kesalahan ibu kok kemudian mendapat cobaan seperti ini. dan apakah selama ini ibu sudah menjadi istri yang baik bagi suami?
    ketujuh: saya sarankan ibu pergi ke pengadilan agama, karena di sana insya Allah ibu dibantu mendapatkan solusi secara islami. Allahu a’lam.
    harap di baca juga situs berikut:
    https://konsultasisyariah.com/18830-kapan-wanita-boleh-gugat-cerai.html

  • Ass
    Saya seorang suami yang digugat cerai oleh istri
    Masih dalam proses waktu persidangan cerai
    Bolehkah seorang istri mempunyai dan bermain hati dengan laki-laki lain? Dan itu apakah bisa dikatakan orang ketiga dalam rumah tangga
    Apa kah ada hukumnya?
    Terimakasih

    wa’alaikumussalam

    itu dalam Islam disebut pengkhianatan dan istri telah melakukan dosa yang sangat besar. kalau jelas-jelas istri sudah berzina dengan lelaki lain dengan bukti empat orang saksi maka dalam Islam dia dirajam. tapi kalau jelas berzina dan suami tidak mempunyai bukti, tapi yakin kalau istri telah berzina maka dalam Islam disyariatkan Li’an. yaitu masing-masing suami dan istri saling melaknati sebanyak empat kali, kemudian yang kelima, suami mengatakan: dan laknat Allah atas saya jika saya berdusta dalam tuduhan ini. setelah lian, sang suami tidak mendapat hukuman qadzaf dan istri tidak dirajam. dan keduanya menjadi terceraikan untuk selama-lamanya.

    adapun gugatan cerai dari istri kepada suami, disebut khulu’. dengan syarat si wanita mengembaliakn mahar dan apa pun yang dahulu diberikan suami kepadanya. ALlahu a’lam.