pertanyaan-pertanyaan seputar khulu’ dan perceraian

 (963) Seorang lelaki berkata kepada isterinya setelah terjadi pertengkaran: “Jika kamu membebaskan saya dari nafkah anak-anak kita maka saya mentalakmu.” Wanita itu pun berkata: “Kamu selama lima belas tahun bebas dari nafkah anak-anak.” Lalu suami berkata: “Kalau begitu kamu tertalak tiga.” Bagaimana hukumnya?

Jawab: Khulu’ seperti ini tidak sah. Karena wanita tidak mempunyai kekuasaan untuk membebaskan nafkah anak-anak. Sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Muntaqa dan syarahnya. Berdasarkan hal ini maka talak itu tidak terjadi. Karena suami hanya mentalak ketika dia dibebaskan dari nafkah anak-anak. Dan itu tidak mungkin terjadi. Maka talak tidak terjadi. (Syaikh Muhammad bin Ibrahim Rahimahullah)

(964) Mohon diberi penjelasan. Saya wanita yang sudah menikah sejak delapan belas tahun lalu. Saya mempunyai seorang putera dan puteri sejak tahun 1992 hingga saat ini. Di antara kami selalu terjadi pertengkaran suami isteri. Tarafnya hingga saya dan suami tidak mau saling bicara. Saya meminta talak kepadanya lebih dari satu kali. Tetapi dia menolak. Sejak satu tahun saya sudah tidak berkumpul serumah dengannya. Untuk khulu’, juga mustahil dilakukan karena kondisi sosial. Satu-satunya yang mungkin adalah saya membebaskannya dari segala tanggungan.

Jawab: Jika anda membebaskan suami dari segala hak anda kemudian dia memberi syarat: Anda harus mengembalikan maskawin yang sudah dibayarkannya, maka inilah yang disebut khulu’.

Saya tidak paham maksud “kondisi sosial” yang menimpa anda. Apakah maksudnya anda tidak mampu mengembalikan maskawin yang sudah dibayarkan atau apa?! Jika anda memang tidak mampu maka ini adalah hutang anda. Anda bisa meminta khulu’ dengan ketentuan maskawin ini menjadi hutang yang harus anda bayarkan kepadanya. (Syaikh Muhammad bin Abdul Maqshud)

(965) Seorang isteri meminta talak dari suami. Maka suami berkata: “Iya, tapi syaratnya kamu harus membebaskan saya dari maskawin yang wajib saya bayar dan hendaknya kamu bekerja di tempat si fulan selama sepuluh hari.” Wanita itu melakukan keinginan suami dan bekerja sepuluh hari di tempat si fulan. Maka suami mentalaknya tiga kali dengan satu kata. Bagaimana hukumnya?

Jawab: Khulu’ ini sah. Talaknya yang tiga juga terjatuhkan. Dan maskawin yang menjadi kewajiban suami juga gugur. Sedangkan isteri harus bekerja sepuluh hari di tempat si fulan sesuai syarat yang disepakati dalam khulu’. (Syaikh Muhammad bin Ibrahim Rahimahullah)

(966) Suami isteri itu sepakat untuk bercerai. Dengan syarat isteri mengembalikan maskawin. Isteri menyetujui hal itu dengan syarat ia sudah menikah lagi. Maka suami mentalaknya. Tak lama kemudian keduanya menyesali hal itu. Bagaimana hukumnya?

Jawab: Jika urusannya memang seperti itu, sesungguhnya suami telah mentalak ba’in isteri dengan talak ba’in kubra. Maka sang isteri tidak halal dinikahi suaminya hingga menikah dengan lelaki lain. Jika isteri menikah dengan lelaki lain, ia wajib diberi maskawin. (Syaikh Muhammad bin Ibrahim Rahimahullah)

(967) Wanita bertanya: Mohon kami diberi penjelasan tentang hukum khulu’. Apakah dalam khulu’, wanita bisa kembali kepada suami? Karena wanita yang minta khulu’ kepada suami, dengan mengembalikan harta sejak dua tahun lalu, ingin kembali kepada suaminya. Selama masa itu sang wanita belum menikah dengan siapapun karena sibuk mendidik anak-anaknya. Mohon kami diberi penjelasan.

Jawab: Wanita yang meminta khulu’ bisa kembali kepada suaminya. Kemudian berdasarkan pendapat yang mengatakan khulu’ adalah fasakh dan bukan talak, jika suami isteri melakukan khulu’ meski berkali-kali maka tidak ada pembatasan dalam hal itu. Ini adalah madzhab Ibnu Abbas, juga riwayat dari Ali bin Abi Thalib. Dan inilah madzhab Imam Ahmad. (Syaikh Muhammad bin Abdul Maqshud)

(968) Apakah dibenarkan jika nafkah untuk wanita hamil dijadikan tebusan (ganti rugi) khulu’?

Jawab: Hal itu dibenarkan dan sah. Inilah pendapat yang masyhur dari madzhab Ahmad. Karena nafkah itu –meski diperuntukkan janin- sesungguhnya secara hukum wanita itulah yang menjadi pemiliknya. Allahu a’lam. (Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di Rahimahullah)

(969) Jika isteri minta ditalak suami tapi suami menolak kecuali isteri membebaskan tanggungan suami, maka isteri membebaskan tanggungannya. Apakah hal seperti ini sah meski bapak sang isteri tidak mengizinkan?

Jawab: Jika wanita tersebut berakal dan bisa bertindak sendiri maka tidak perlu izin dari kedua orang tua. Sehingga kesepakatan isteri bersama suami untuk membebaskan tanggungan suami adalah benar, meski kedua orang tua wanita menolak.

Adapun jika wanitanya tidak bisa bertindak sendiri, mungkin karena masih kecil atau dungu maka tidak berhak memberikan ibra’ (yakni membebaskan tanggungan suami). Kecuali dengan izin ayah atau saudaranya, jika dalam hal itu ada maslahat. Misalnya masing-masing suami isteri menjadi lebih tenteram atau semisalnya (Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di Rahimahullah)

(970) Jika wanita yang masih kecil, gila, atau dungu meminta khulu’, apakah khulu’nya sah?

Jawab: Wanita gila tidak punya hak untuk bertindak langsung dalam masalah apapun yang berhubungan dengan harta meski ada ijin dari walinya. Dan bagi sang wali, ia tidak patut memberi izin kepadanya dalam masalah-masalah seperti ini. Karena ia tidak punya akal dan tidak punya pengetahuan.

Adapun wanita yang masih kecil atau dungu maka khulu’ yang dilakukannya tanpa ijin wali adalah tidak sah. Seperti halnya masalah-masalah lainnya dalam muamalat.

Sedangkan ketika ada izin wali maka yang benar khulu’ sama seperti masalah muamalat lainnya. Sebagaimana sahnya jual beli, persewaan, atau semisalnya yang dilakukan lelaki dan perempuan yang masih kecil, atau lelaki dan perempuan idiot ketika ada izin dari wali, maka seperti itulah khulu’ yang mereka lakukan.

Tidak ada perbedaan dalam dua masalah ini. Tetapi wali tetap dilarang memberi izin dalam perkara-perkara yang tidak ada maslahat bagi keduanya atau dalam perkara yang malah menyengsarakan mereka. Allahu a’lam. (Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di Rahimahullah)

(971) Apakah ayah berhak melakukan khulu’ dengan membayar ganti rugi dari harta puteri atau putera yang masih kecil?

Jawab: Ayah berhak mengkhulu’ puteranya yang masih kecil dan berhak mentalak. Ayah juga berhak mengkhulu’ dengan membayar ganti rugi dari harta puterinya yang masih kecil. Pendapat ini dipilih Muwaffaq Ibnu Qudamah dan pensyarah kitabnya. Dengan syarat dalam hal itu ada maslahat. Kemudian pendapat ini dibenarkan dalam kitab Al-Inshaf. Inilah pendapat yang sesuai dengan dalil. Karena ayah kedudukannya sebagai pengganti atau wakil bagi anak yang belum bisa bertindak sendiri dalam segala keadaannya. Allahu a’lam. (Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di Rahimahullah)

(972) Seorang wanita membenci suaminya. Ia meminta khulu’ dari suami sambil berkata: “Jika kamu tidak mencerai saya, saya akan bunuh diri.” Maka wali memaksa suami agar bercerai dengannya. Setelah itu sang wanita menikah dengan lelaki lain. Tetapi suami pertama masih menginginkannya sambil mengatakan: “Saya bercerai dengannya karena dipaksa.” Sedangkan sang isteri tidak menginginkan kecuali suami kedua. Bagaimana hukumnya?

Jawab: Jika suami pertama dipaksa mencerai isterinya karena suatu alasan yang benar, misalnya suami tidak memenuhi hak isteri yang wajib dia lakukan, atau menyengsarakan isteri tanpa alasan yang benar dengan perkataan maupun perbuatan, maka perceraian itu benar, dan menikah dengan suami kedua juga sah. Status wanitanya sebagai isteri bagi suami kedua.

Tetapi jika suami pertama dipaksa mencerai isterinya dengan dipukul, dipenjara, atau sesuatu yang lain, sementara dia mempergauli isterinya dengan pergaulan yang baik, berarti perceraian ini tidak terjadi. Jika sang wanita membenci suami padahal suami berbuat baik kepadanya maka sang lelaki diminta menceraikannya tanpa dipaksa. Jika suami melakukannya maka selesailah masalahnya. Tetapi jika suami menolak melakukan, maka sang wanita disuruh bersabar jika tidak ada perkara yang membolehkan adanya fasakh di antara mereka. (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah)

(973) Saya sudah menikah sejak tiga belas tahun lalu. Saya mempunyai tiga orang puteri. Tetapi suami saya mempergauli saya dengan pergaulan yang buruk. Hanya karena suatu hal sepele dia langsung mencaci dan mencerca saya dengan cercaan sangat buruk. Dia lelaki yang agamanya bagus tetapi sangat fanatik. Karena buruknya tindakannya kepada saya, maka tertanamlah rasa benci kepadanya dalam hati saya. Saya tidak tahan hidup bersamanya dengan akhlaq seperti ini. Apa yang harus saya lakukan?

Jawab: Dalam masalah ini syariat Islam sudah memberikan solusi. Ketika wanita menghadapi masalah pelik seperti tersebut di atas, wanita boleh mengajukan khulu’. Dan jika wanita membenci suami karena sebab seperti di atas, ia juga berhak mengajukan khulu’. Karena suami tidak patut memukul isteri hanya karena perkara kecil. Seandainya suami memukul isteri karena suatu sebab, itupun pukulannya harus didahului oleh nasihat, peringatan, meninggalkannya dari tempat tidur, atau lain sebagainya.

Apalagi dalam riwayat Bukhari dari Hadis Aisyah Radhiyallahu anha sesungguhnya Nabi r bersabda:

((مَا كَانَ الرِّفْقُ فِى شَىْءٍ قَطُّ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ عُزِلَ عَنْ شَىْءٍ إِلاَّ شَانَهُ))

“Tidaklah lemah lembut terdapat pada sesuatu pun kecuali akan menghiasinya. Dan tidaklah lemah lembut hilang dari sesuatu pun kecuali akan memperburuknya.”

          Sedangkan dalam riwayat Muslim, Aisyah Radhiyallahu anha mengatakan bahwa Rasulullah r bersabda:

((إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ، وَيُعْطِى عَلَى الرِّفْقِ مَا لاَ يُعْطِى عَلَى الْعُنْفِ))

“Sesungguhnya Allah Maha lembut menyukai sifat lemah lembut. Ia memberikan pada sifat lemah lembut, hal-hal yang tidak diberikanNya pada sifat kasar.”

Maka suami adalah lelaki bodoh yang melanggar batasan-batasan syariat. Ia tergolong manusia dalam Hadis Nabi r yang diriwayatkan dalam Ash-Shahihain dari A’idz bin Amru dia berkata bahwa Rasulullah r bersabda:

((إِنَّ شَرَّ الرِّعَاءِ الْحُطَمَةُ فَإِيَّاكَ أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ))

“Seburuk-buruk penggembala adalah penggembala yang sangat kasar. Kalian jangan sepertinya.”

Jika suami seperti ini, tentu isteri membencinya. Seandainya suami mentalak atau isteri meminta khulu’, hal itu menjadikan putera-puteri menjadi terlantar, sementara di sisi lain mereka sangat membutuhkan arahan dan pendidikan dari ayah ibunya.

Karena itu kami katakan: Suami tidak patut memukul isteri kecuali isteri melakukan perbuatan keji. Dan nusyuz termasuk perbuatan keji sebagaimana dikatakan Imam Ahmad.

Hendaknya yang dilakukan suami terhadap isteri adalah seperti yang disebutkan Rasulullah r dalam Hadis Muawiyah bin Haidah Radhiyallahu anhu. Hadis ini diriwayatkan Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Disitu Mu’awiyah bin Haidah bertanya:

((مَا حَقُّ زَوْجِ أَحَدِنَا عَلَيْهِ؟ قَالَ: تُطْعِمُهَا إِذَا أَكَلْتَ، وَتَكْسُوهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ، وَلاَ تَضْرِبِ الْوَجْهَ، وَلاَ تُقَبِّحْ، وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِى الْبَيْتِ))

“Apakah hak isteri atas suami? Rasulullah r menjawab: Kamu memberinya makan jika kamu makan. Memberinya pakaian jika kamu berpakaian. Jangan memukul wajah. Jangan mencerca. Dan jangan meninggalkannya kecuali di rumah.”

Jadi yang wajib atas suami, hendaknya bertaqwa kepada Allah I pada isteri dan anak-anaknya. Dia adalah penggembala dalam rumah dan dimintai pertanggungjawaban dari apa yang digembalakannya. Apalagi mereka semua membutuhkannya. Suami harus berlindung dengan mengerjakan shalat ketika datang kemarahannya. Dalam hal ini dia harus senantiasa mengikuti Rasulullah r. Karena pada diri beliau terdapat suri tauladan yang baik. Kita memohon kepada Allah I agar selalu diberi hidayah dan taufiq. (Syaikh Muhammad bin Abdul Maqshud)

 

 

Share This: