Betapa Allah menyayangi hambaNya

مَا زَالَ يَلْهَجُ بِالرَّحِيْلِ وَذِكْرِهِ    حَتـَّى أَناَخَ بِباَبِهِ الْجَماَلُ

فَأَصَابَهُ مُتَيَقِّضاً مُتَشَمِّرًا           ذَا أُهْبَةٍ لَمْ تُلْهِهِ اْلآماَلُ

Ia senantiasa menyebut dan mengingat kematian.

Hingga kebahagiaan itu menghampiri pintu (diri) nya.

Kematian mendatangi saat ia selalu sadarkan diri dan giat beramal shalih.

Juga memiliki persiapan yang baik. Sama sekali tak pernah tertipu oleh angan-angan dunia. (Kunuuz Adz-Dzahab fi taarikh Halab, 2/268)

Saya masih teringat ketika kecil dulu, saya masuk rumah sakit selama satu minggu akibat kedinginan tiada tara yang menimpaku. Ketika keluar, saya mendengar dokter berkata kepada orang tuaku bahwa kesehatanku sudah membaik, tapi penyakit ini bisa kambuh lagi kapan saja di masa depan.

Tahun-tahun yang panjang telah berlalu… saya sudah menjadi seorang pemuda kemudian menjadi Ayah. Kadangkala saya merasa sangat kecapaian dan kelelahan, padahal yang saya kerjakan hanyalah sesuatu yang tidak seberapa.

Saya pergi ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan intensif. Jelaslah sekarang, bahwa kelemahan ini berasal dari bagian dalam jantung. Dan tentunya hal ini membutuhkan operasi jantung. Kecapaian dan kelemahan ini, akibat rasa dingin tiada tara yang dulu pernah menimpaku, hal itu menyebabkan rematik dalam jantung.

Saya berusaha membujuk dokter untuk menggagalkan operasi, mungkin ada cara lain untuk mengobatinya atau saya hanya perlu beristirahat… sehingga tak perlu menjalani operasi. Tapi ia memberitahuku… “Mau tidak mau, anda pasti minta dioperasi beberapa bulan lagi. Anda sendiri yang bakal mengetahuinya.”

Dan benarlah… setelah beberapa bulan, kecapaian dan kelemahan yang sangat, mulai merembet dalam diriku. Akhirnya saya memutuskan untuk ridha dengan qadha` Allah dan takdir-Nya, juga menyerahkan segala urusan kepada-Nya…

Setelah menjalani pemeriksaan lengkap dan tes-tes lainnya, ditentukanlah kapan saya harus ke rumah sakit untuk rawat inap. Hal ini terjadi satu hari sebelum saya menjalani operasi. Di hari itu, pada hari pertama, para kerabat dan sanak famili mulai mengunjungiku. Saat itu saya sangat santai dan hati terasa nyaman, tak memikirkan apa pun, tak ada beban apa pun. Saya duduk lebih dari satu jam bersama dokter yang bakal mengoperasiku.

Tetapi di malam hari sebelum operasi kujalani pada esok harinya… saya tidur dengan nyenyak sekali, saya tak memikirkan apa pun. Dan bersama suara adzan subuh saya pun terbangun… saya mendengar adzan. Suaranya yang membahana masuk ke dalam tubuhku… ia menggetarkan jiwaku… tiba-tiba saya merasa cemas. Rasa nyaman pada diriku menghilang. Saya tak tahu apa yang terjadi pada diriku.

“Operasi bukanlah suatu hal yang mudah… mungkin ini hari terakhirmu dalam kehidupan ini. Barangkali ini adzan terakhir yang kau dengar dalam hidupmu.”

Tiba-tiba seluruh diri saya merasa kalut dan cemas. “Dimana kamu selama ini?” Sebuah pertanyaan yang membuat mata air menetes dengan begitu derasnya. Sungguh, hari-hari yang lalu telah lewat begitu saja bak mimpi dalam tidur.

Di manakah saya dengan kampung Akhirat, sekarang kematian telah mendekat, ketika pandanganku kuangkat, tiba-tiba perawat berdiri tepat didepan kepalaku.

“Ada apa dengan anda?” Saya tidak menjawabnya. Saya tak punya jawaban, tapi ia melihat kecemasan dan kekawatiran yang menimpa diriku, mungkin sebelumnya ia sudah menduga hal itu, karena di tangannya ada sebuah suntikan yang berisi obat bius.

Saya menyerahkan tanganku padanya… saya tahu, saya pasti menyerahkan jantung ini untuk dioperasi. Tapi! Sebelum semua itu, saya telah menyerahkan segala urusanku kepada Allah… dadaku akan dibelah, jantungku akan berhenti berdetak selama operasi pembedahan berjalan. Dan jika proses operasi selesai, akan didatangkan sebuah alat listrik untuk merangsang detak jantungku agar bergerak kembali. Jika jantung tidak merespon, alat listrik itu akan ditekankan sekali lagi di atas dadaku. Jika tetap tak berhasil, saya pasti akan dipanggul di atas bahu para manusia.

Pengetahuanku dengan segala perincian inilah yang menjadikan kehidupan ini menjadi sangat murah dan tak berharga bagi diriku… Ooh! Bagaimana saya telah menghabiskan semua umurku dalam hal tak berguna.

Beberapa saat setelah jarum bius disuntikkan… saya tak sadarkan diri dan tidur ringan. Setelah itu saya tahu persis, bahwa operasi pembedahan jantung ini berlangsung selama delapan jam berturut-turut.

Saya bersyukur kepada Allah karena jantungku segera merespon alat listrik yang ditekankan pada dadaku untuk yang pertama kali.

Setelah keluar rumah sakit, hari-hariku saya penuhi dengan merenung segala yang telah berlalu. Saya selalu teringat saat-saat menegangkan yang membuat mataku mengeluarkan air matanya dengan deras ketika saya di atas ranjang kematian. Yang kupikirkan saat itu,

“Bagaimana saya akan menghadap Allah?”

“Dengan apa saya menghadap pada-Nya?!”

Setiap saya teringat hal itu… ketataanku kepada Allah semakin bertambah, dan diri ini semakin dekat saja kepada-Nya. Setiap diri ini mengajak untuk malas dan meninggalkan ketaatan, saya segera mengingat saat-saat di atas ranjang kematian itu.

Saya bersyukur kepada Allah, karena masih memberiku kesempatan kembali ke dunia ini, demi menjalani hidup baru. Ya Allah! Betapa Engkau pemurah kepada hambaMu yang banyak dosa ini. Engkau senantiasa memberi tangguh padaku, hingga aku kembali kepadaMu.

“اللهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ كُلُّهُ، وَلَكَ الْمُلْكُ كُلُّهُ، بِيَدِكَ الْخَيْرُ كُلُّهُ، إِلَيْكَ يُرْجَعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ، عَلَانِيَتُهُ وَسِرُّهُ، فَأَهْلٌ أَنْ تُحْمَدَ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، اللهُمَّ اغْفِرْ لِي جَمِيعَ مَا مَضَى مِنْ ذُنُوبِي، وَاعْصِمْنِي فِيمَا بَقِيَ مِنْ عُمْرِي، وَارْزُقْنِي عَمَلًا زَاكِيًا تَرْضَى بِهِ عَنِّي”

“Ya Allah! BagiMu segala pujian. BagiMu segala kekuasaan. Segala kebaikan ada pada tanganMu. Segala urusan dikembalikan kepadaMu, yang terang-terangan maupun yang rahasia. Sungguh hanya Engkau yang patut untuk dipuji dan Engkau Maha kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah! ampunilah segala yang telah lalu dari dosaku. Selamatkan yang masih tersisa dari umurku. Dan anugerahkan kepadaku amalan suci, yang Engkau meridhaiku dengannya.”

[contact-form subject='[Wafimarzuqi%26#039;s Blog’][contact-field label=’Nama’ type=’name’ required=’1’/][contact-field label=’Email’ type=’email’ required=’1’/][contact-field label=’Website’ type=’url’/][contact-field label=’Komentar’ type=’textarea’ required=’1’/][/contact-form]

Share This: