Hadiah yang sangat mahal

Dengan susah payah, akhirnya kuselesaikan juga pendidikanku di akademi perawat ini.  Saya bukan siswa yang tekun belajar, atau siswa yang rajin mempelajari materi yang disampaikan. Tapi…  segala puji hanya bagi Allah semata, Ia memudahkan saya lulus dari pendidikan ini.

Setelah lulus, saya ditunjuk menjadi mantri di sebuah rumah sakit dekat kota tempat tinggalku. Al-Hamdulillah, segala urusan berjalan mudah dan lancar. Apalagi, saya hidup bersama Ayah dan Ibuku.

Sekarang, saya berniat mengumpulkan maskawin buat calon isteriku, Ibuku senantiasa menyuruhku untuk itu, hampir setiap hari ia berkata  padaku agar cepat menikah.

Hari-hari pekerjaanku berjalan dengan rapi, tekun dan baik. Apalagi pekerjaanku ini berada di sebuah rumah sakit militer.

Saya pemuda yang sifatnya suka bergerak, karena itu saya sukses dalam pekerjaan ini dengan kesuksesan yang nyata, Al-Hamdulillaaah. Jauh berbeda dengan masa pendidikanku dulu, yang hanya teori dan penuh hal-hal membosankan.

Rumah sakit tempatku bekerja, mempekerjakan banyak pegawai dari berbagai warga negara, jadi hubunganku dengan para pegawai itu sangat erat, karena hubungan kami adalah hubungan kerja. Pegawai-pegawai itu sangat senang berteman denganku, sebab saya adalah anak negeri. Jadi mereka banyak mengambil manfaat dariku, dengan menjadikanku penunjuk jalan di tempat rekreasi, tempat bersejarah, atau pasar-pasar tempat jual beli.

Bahkan seringkali  saya membawa mereka ke mazra’ah (ladang) milikku untuk refresing di akhir pekan. Sehingga hubunganku dengan mereka menjadi sangat erat.  Dan seperti biasa, ketika kontrak kerja dengan para pegawai selesai, kami pun mengadakan semacam acara perpisahan.

Pada suatu hari, salah seorang dokter dari London memutuskan hendak pulang ke kampung halaman karena masa kontraknya dengan rumah sakit telah berakhir. Kami sebagai rekan-rekan kerjanya, bermusyawarah dimanakah tempat yang cocok buat acara perpisahan itu. Akhirnya tempat yang ditentukan adalah ladang milikku. Kemudian, acara itu kubuat rapi sedemikian rupa. Tetapi ada satu hal yang mengganjal di hatiku; hadiah apakah gerangan yang bakal kuberikan padanya sebagai kenang-kenangan nanti? Apalagi saya adalah rekan kerjanya yang selalu menyertainya dalam setiap situasi bersama para pasien.

Saya lama berpikir, dan akhirnya saya mendapatkan hadiah berharga yang cocok untuknya saat itu. Dokter ini suka sekali mengumpulkan barang-barang bersejarah. Tentunya saya tak perlu kebingungan untuk mendapatkan barang kuno dan bersejarah itu.

Ayahku mempunyai barang-barang bersejarah seperti ini sangat banyak. Saya cukup meminta padanya, dan dengan mudah bisa kuambil sebuah benda kuno bersejarah buatan kampung kami beberapa tahun silam. Waktu itu anak pamanku sedang bersama kami, saat saya bercakap-cakap dengan Ayah tentang masalah itu.

Ia menambahkan, “Kenapa kamu tidak mengambil hadiah berupa buku Islam misalnya?” Tapi, saya lebih tertarik untuk memberinya hadiah berupa benda kuno bersejarah ini. Saya tak terlalu menggubris ucapan anak pamanku. Kuanggap perkataannya hanya sekedar angin yang berlalu…

Tetapi Allah memudahkan urusanku tanpa harus memeras tenagaku. Keesokan harinya saya pergi ke toko buku untuk membeli majalah dan koran. Tiba-tiba saya mendapatkan sebuah buku tentang Islam dalam bahasa inggris.

Ucapan anak pamanku kembali terngiang di telingaku, idenya untuk memberi hadiah berupa buku Islam, merayuku untuk membeli buku itu. Apalagi harganya murah sekali, tak sampai limaRiyal.[1] Buku kecil itupun kuambil, dan saat upacara pelepasan rekan kerja kami ini… saya meletakkan buku kecil itu di tengah benda kuno bersejarah, seakan-akan saya menyembunyikan buku kecil itu. Saya menyerahkan hadiah itu padanya. Subhaanallah! Perayaan kecil itu menjadi upacara pelepasan yang sangat mengharukan. Dokter ini sangat dicintai banyak orang. Sehingga dengan kepergiannya, para hadirin tak kuasa menahan tetesan air mata mereka.

Akhirnya… rekan kami pun berangkat. Hari demi hari, bulan demi bulan, semuanya berjalan dengan begitu cepat. Saya menikah dan dikaruniai seorang anak.

Pada suatu hari, saya mendapat sebuahsuratdariLondon, saya membacanya dengan konsentrasi penuh, karenasuratitu berbahasa Inggris. Awal-awal saya hanya memahami sedikit dari kandungan isinya. Sebagian lainnya tak kupahami. Akhirnya saya tahu,suratini berasal dari teman lamaku yang pernah kerja bareng bersamaku. Tapi saya kembali memutar memoriku… namanya sangat asing… ini adalah nama yang pertama kali kudengar. Bahkan saya tak mengenalnya sama sekali. “Dhaifullah” inilah namanya.

Kututupsuratitu, saya berusaha kembali untuk mengingat seorang teman yang bernama Dhaifullah. Tapi saya tak berhasil mengingat seorang pun dengan nama seperti ini. Saya membukasuratitu lagi dan kubaca kembali. Dengan seksama huruf-hurufnya mulai bisa kupahami dengan baik, inilah sebagian dari isi surat itu…

Akhil Karim, Dhaifullah…

Assalamu`alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Allah telah memudahkanku untuk masuk Islam. Dia Memberiku nikmat hidayah ini atas perantaramu… sungguh! Saya tak akan melupakan ikatan pertemanan ini… saya akan senantiasa mendoakanmu… Ingatkah kamu akan buku kecil yang kau hadiahkan padaku saat saya hendak berangkat pulang…? Pada suatu hari, buku itu kubaca, sehingga keinginanku untuk mengerti akan Islam semakin besar. Dan karena taufiq Allah atasku, saya mendapatkan alamat penerbit buku pada sampul buku tersebut. Lalu saya menyurati penerbit itu untuk mengirimiku buku lebih banyak… mereka pun mengirim padaku buku-buku yang kuinginkan… dan Al-Hamdulillah, cahaya Islam segera menerawang ke dalam hatiku. Saya segera pergi ke Islamic Center terdekat dan mengumumkan keislamanku disana.

Saya juga merubah namaku dari Jhon menjadi Dhaifullah, persis seperti namamu. Karena kamu adalah orang yang menyebabkanku masuk Islam, setelah Allah Yang Maha Suci tentunya.

Pada surat ini, kusertakan photocopy sertifikat keislamanku. Dan saya akan berusaha melaksanakan ibadah haji di Makkah al-Mukarramah insya Allah.

Saudaramu dalam Islam… Dhaifullah.

Wassalamu`alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kututup surat itu, tapi segera kubuka dan kubaca lagi perlahan-lahan.

Demi Allah! Suratitu membuatku bergetar, karena pada setiap hurufnya saya merasakan adanya kejujuran yang begitu tulus di situ. Saya langsung menangis keras, mana mungkin Allah memberikan hidayah Islam kepada seseorang lewat diriku, padahal saya orang yang tidak begitu baik dalam menjalankan Islam ini. Sungguh, hanya buku kecil yang harganya tidak sampai limaRiyal, bagaimana
Allah I membuat seseorang mendapat hidayah dengan buku murah seperti itu.

Saya menjadi sedih campur gembira.

Saya bahagia karena Allah telah memberinya hidayah Islam tanpa adanya usaha keras dariku. Dan saya bersedih sekali, karena saya bertanya kepada diriku, di manakah saya pada masa-masa yang telah lewat saat bergaul dengan rekan-rekan kerjaku yang non Muslim. Sama sekali saya tak pernah mengajak mereka untuk masuk Islam, hampir tak pernah kukenalkan kepada mereka sedikit pun tentang agama ini.

Demi Allah! Tak ada sepatah kata pun masalah keislaman yang bakal bersaksi untukku di Hari Kiamat. Padahal saya sering berbincang bersama mereka… bergurau… tetapi sama sekali tak ada sedikit pun kata yang berbicara dengan mereka mengenai Islam… sama sekali.

Allah telah memberi hidayah kepada Dhaifallah untuk masuk Islam, juga memberiku hidayah untuk muhasabah, agar saya intropeksi terhadap segala kekurangan dan kemalasanku selama ini dalam berbuat ketaatan pada-Nya. Sekarang, saya tak pernah meremehkan kebaikan apa pun meski sekecil apa pun ia, meski hanya dengan buku seharga satu Riyal.

Saya berpikir sejenak… seandainya setiap Muslim memberi hadiah kepada setiap orang yang di sekelilingnya satu buku saja, apa yang bakal terjadi…? Mungkin mereka bisa merubah dunia.

Tetapi saya terkejut ketika membaca kabar yang terjadi pada orang-orang di sekitarku.

Sebagian penelitihan di Afrika mengemukakan bahwa…

Telah terkumpul uang sebanyak 139 juta Dolar Amerika demi kepentingan gereja. Kemudian suksesnya pembekalan missionaris sebanyak 3968100 orang di tahun yang sama. Berhasil disebarkannya 112564400 kitab Injil dengan Cuma-Cuma. Dan dibukanya stasiun radio dan TV Kristen sebanyak 1620 stasiun di dunia.

Informasi ini diambil dari sebuah majalah khusus Kristen di Amerika pada tahun 1987 edisi 1 bulan 11.

Saya bertanya-tanya dalam diriku… dimanakah kita selama ini?

Betapa banyak sopir-sopir non Muslim yang selalu hidup di sekitar kita… betapa banyak para pembantu di rumah-rumah kita yang non Muslim? Betapa banyak… dan betapa banyak… sungguh sebuah kepedihan yang didahului dengan linangan air mata. Sebuah kesadaran yang terlambat… Yang tinggal hanya sebuah pertanyaan… Mana amal kita…? Mana usaha kita…?


[1] Mata uang Saudi, 1 Real-nya kurang lebih Rp. 2500,-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *