ISLAM PENAMPILAN

parkier

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 208)

Di suatu pagi yang mulai memanas, ketika seorang ustad hendak memberikan taklim kepada jamaah ibu-ibu daerah Tropodo Sidoarjo, waktu taklim dimulai jam 9.30 pagi WIB. Al-Hamdulillah saat itu sang ustad datang lebih awal.

Ketika hendak menuju rumah yang ditempati taklim, dan karena  lokasinya adalah perumahan, tentu banyak sekali orang memarkir mobil di depan rumahnya dengan memakai separuh jalan milik umum.

Dalam kondisi seperti itu, dan sang ustad mengendarai mobil, ustad tersebut melihat seorang bapak-bapak berumur sekitar lima puluhan dengan memakai peci haji, yaitu peci berwarna putih, berada di sisi kanan yang sebelah kirinya ada mobil sedang diparkir.

Kalau sang ustad mengendarai motor mungkin masih bisa lewat. Tapi karena mengendarai mobil maka dia harus menunggu bapak haji menyelesaikan pekerjaannya. Ada sekitar 20 menit ustad itu menunggunya. Sang ustad sudah membunyikan klakson, dengan maksud agar pak haji pindah tempat ke depan mobil sehingga kendaraan bisa lewat. Tapi dia marah dan malah menyuruh sang ustad berhenti menunggu dirinya.

Subhaanallah…. Pembaca ini bukan jalan milik pak haji itu. Bahkan orang yang memarkir mobil di halaman rumahnya sehingga jalan tertutup gara-gara mobilnya yang diparkir, jalan ini juga bukan miliknya.

Pak Haji itu terus mengangkat LPG tiga kilogramnya yang ada di atas motor, satu persatu hingga setelah dua puluh menit menunggu sang ustad bisa lewat. Al-Hamdulillah, saat itu sang ustad datang awal. Sehingga tidak terlambat. Kalau sekiranya ustad itu datang telat kemudian menunggu pak haji tadi, tentu ibu-ibu jamaah lebih lama menunggu kedatangannya.

Pembaca, kira-kira apa kaitan antara kisah pak Haji dengan judul “ISLAM PENAMPILAN” di atas?!

Banyak saat ini orang-orang yang mengenakan kostum Islami tapi perbuatannya jauh dari Islam itu sendiri. Seperti orang yang berpeci putih itu. Sekiranya dia mengamalkan Islam dengan benar, tentu dia tidak mementingkan urusan pribadinya. Mestinya dia minggir ke tempat lain bukan malah menutup dan menghalangi jalan orang-orang yang hendak lewat. Toh itu jalan adalah milik perumahan dan bukan milik dia pribadi.

Inilah yang disebut dengan “ISLAM PENAMPILAN”. Penampilannya Islami tapi akhlaqnya seperti akhlaq Fir’aun. Ini jalan umum akhil karim. Bukan jalan yang dibangunnya atau dibangun oleh moyangnya. Bagaimana Anda menghalangi jalan manusia dengan seenaknya mementingkan urusan pribadi anda.

Justru syariat Islam menyatakan bahwa: Cabang iman yang paling tinggi adalah mengucapkan Laa ilaaha illallah, sementara yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.

Pada pernyataan di atas Nabi SAW memerintah kita untuk menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan itu merupakan iman yang paling rendah. Jika ada seseorang mengaku Muslim, dan berpakaian dengan kostum Islami tapi malah menghalangi orang lewat pada jalan tersebut, berarti bisa dikatakan ia tidak memiliki iman. Karena cabang iman yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Seperti ketika ada lobang maka dia menutupinya. Ada duri atau paku maka dia menyingkirkannya. Bukan malah menutupi jalan dan melarang orang lewat seperti pak haji ini.

Di sisi lain, orang yang memarkir kendaraan di jalan depan rumahnya, dan tiap hari mobil berada di sana, ini juga memakan tanah milik orang lain meski ia tidak menyadari. Bukankah Nabi SAW menyatakan bahwa siapa pun yang merampas satu jengkal saja dari tanah orang lain maka Allah akan mengalungkan tanah tersebut dengan dikalikan tujuh kali pada lehernya di Hari Kiamat?!

Nabi SAW bersabda:

مَنِ اقْتَطَعَ شِبْرًا مِنَ الأَرْضِ ظُلْمًا طَوَّقَهُ اللَّهُ إِيَّاهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ سَبْعِ أَرَضِينَ

Barangsiapa merampas sejengkal tanah dengan zalim,, niscaya Allah mengalungkan tanah itu padanya pada Hari Kiamat dengan tujuh kali bumi. (HR. Muslim, no. 4217)

Mestinya kalau hendak membeli kendaraan adalah menyiapkan garasi dalam rumahnya. Bukan malah menjadikan jalan umum sebagai lahan parkir.

Pada zaman ini banyak sekali pemilik rumah dan pabrik yang sengaja memarkir kendaraannya di jalan hingga menutup jalan. Padahal mereka orang kaya yang sangat mampu untuk membuat garasi baik dalam rumahnya maupun halaman pabriknya. Tapi karena pelit dan pengennya mempunyai lahan seluas mungkin tapi dengan harga murah atau malah gratis, inilah yang mendorong mereka memakan jalan umum dan tanpa disadari ia telah mendzalimi banyak orang  yang lewat.

Saudara, ini adalah bagian dari merampas tanah. Jika satu jengkal saja dikalikan dengan tujuh dan itu menjadi sangat berat atas leher manusia maka bagaimana jika tanah yang dirampasnya sebesar lebar dan panjang mobil atau truk. Na’udzu billah.

Tapi bukan berarti setiap orang yang berpeci putih, akhlaqnya buruk. Tidak!! Sebab banyak orang berpeci putih tapi akhlaqnya baik. Jangan menyalahkan orang berjilbab atau orang beragama Islam. Karena kesalahan bukan pada jilbab atau orang beragama islam. Tapi kesalahan terdapat pada orang itu sendiri.

Sehingga sangat tidak benar jika anda mengatakan: Orang islam itu pasti begini. Atau orang berjilbab pasti begitu. Karena kesalahan terjadi pada orangnya bukan pada jilbab yang dikenakan atau Islam yang menjadi agamanya.

Contoh lain dari Islam penampilan, adalah wanita yang memakai jilbab lebar dan pakaian longgar atau bahkan bercadar, karena –maaf- untuk menutupi buah dadanya yang mulai kendor atau perutnya yang gendut. Bukan semata-mata mengikuti syariat Allah yang memerintahkan wanita untuk menutupi tubuhnya dengan pakaian longgar dan tebal. Bukti hal itu adalah ketika di halaman rumahnya ia hanya memakai baju rumahan atau dasteran saja. Demikian halnya ketika bersama tukang sayur, ia sama sekali tidak menutupi kepalanya. Tapi ketika keluar baru berjilbab panjang dan berpanggaian longgar. Wallahul musta’an.

Ada juga seorang pemangku pesantren, atau seorang dai yang suka berkhutbah di sana dan di sini. Tapi memasang patok tanah pada tanah milik orang lain, atau malah merampas tanah dan mensertifikatkan tanah milik orang lain.

Ini islam apanya?! Bukan seperti itu akhlaq islami. Akhlaq Islam sangat menghargai harta, kehormatan dan darah kaum muslimin. Kalau ada orang mengaku muslim, meski banyak ceramah atau bahkan menjadi pemangku pesantren, tapi dengan begitu enaknya memutus silaturrahim dengan kerabatnya, atau mengambil tanah milik orang lain dengan alasan dimasukkan dalam tanah milik yayasan, itu tetap akhlaq bejat dan akhlaq orang kafir. Sama sekali bukan akhlaq islami.

Juga termasuk kyai tapi mengambil istri milik orang lain. Nau’dzu billah.

Inilah yang kami maksudkan dengan Islam penampilan. Marilah kita masuk Islam secara kaaffah. Jangan mengambil Islam hanya pada ritual dzikir dan penampilan islami tapi akhlaqnya sangat bejat. Akhlaq orang munafik. Atau bahkan akhlaq orang kafir.

Mari kita masuk Islam secara kaaffah. Jangan sampai karena ketidaktahuan ini maka kita terjerumus dalam kesesatan. Allaahu a’lam.

Share This: