Jangan siakan waktumu……..!!

Sejak kemarin sore, kesehatan anakku sangat tak karuan. Saat pulang kerja petang hari ini, saya memutuskan untuk segera pergi ke rumah sakit. Meski badanku sangat penat dan capek, tapi melakukan hal ini buat si kecil merupakan sebuah kenyamaan bagiku.

Saya menggendongnya dan langsung pergi. Ooh! Antrian sangat panjang… mungkin saya dan si kecil akan telat lebih dari satu jam. Saya mengambil nomor antri untuk masuk ke dokter, lalu duduk menunggu di ruang tunggu.

Uuhh… wajah manusia yang sangat banyak dan berbeda-beda. Ada orang-orang dewasa dan anak-anak kecil. Semuanya diam seribu bahasa. Di atas meja ada beberapa buku keislaman, tapi sebagian pasien sudah lebih dulu membacanya.

Mataku menatap kepada para hadirin… Ada yang memejamkan mata, tak tahu apa yang sedang dipikirkannya… ada yang mengikuti pandangan matanya kesana-kemari setiap ada orang berlalu lalang… sedangkan yang lain, anda bisa merasakan pada wajah mereka rasa kepenatan dan kebosanan akibat antrian yang sangat panjang dan lama.

Tiba-tiba memutus keheningan ini… suara asisten dokter yang memanggil, “Nomor lima puluh tiga.” Ooh, terlihat begitu gembira wajah orang yang dipanggil itu… ia segera melangkah cepat masuk ke dalam ruang pemeriksaan… kemudian keheningan kembali menyelimuti semuanya… semua orang kembali terdiam.

Ada satu hal yang menarik perhatianku, seorang pemuda yang sangat nyata dalam keremajaannya… ia tak peduli dengan apa pun yang terjadi di sekitarnya… ia membawa sebuah mushaf saku kecil… ia terus membacanya tanpa menolehkan bulu matanya sedikit pun… saya kembali melihatnya, tapi saya tak terlalu memikirkan keberadaannya… namun, ketika dudukku dalam antrian sudah sangat lama, lebih dari satu jam lamanya, tiba-tiba pandanganku kepada pemuda tersebut berubah menjadi sebuah pemikiran yang dalam, yaitu tentang gaya hidup sang pemuda dan bagaimana cara dia untuk menjaga waktu.

Satu jam persis dari umurku, apa yang bisa kuambil manfaat darinya ketika saya kosong tak melakukan apa pun, tak menyibukkan diri dengan apa pun, hanya menunggu antrian yang membosankan.

Sang muadzin mengumandangkan adzan Maghrib, kami semua pergi untuk shalat.

Di dalam masjid rumah sakit, saya berusaha duduk di samping pemuda yang membawa mushaf itu. Setelah shalat selesai, saya berjalan bersamanya, saya langsung memberitahunya tentang kekagumanku padanya bagaimana ia memanfaatkan waktu.

Saat itu pembicaraannya banyak berkisar pada waktu-waktu yang kebanyakan kita tak bisa memanfaatkannya sama sekali. Padahal waktu kita hanyalah beberapa saat dari siang dan malam yang segera habis. Itulah umur kita yang segera sirna dari kita, tapi kita tak mengindahkan atau menyesalkannya sedikit pun.

Ia berkata… ia membawa mushaf saku itu sejak setahun yang lalu. Yaitu ketika seorang temannya menasehati dia untuk selalu menjaga waktu. Ia memberitahuku… bahwa ia bisa membaca pada waktu-waktu yang tidak dimanfaatkan kebanyakan manusia, berlipat-lipat dari apa yang dibacanya saat di masjid atau di rumah. Bahkan pembacaannya terhadap Al-Qur`an ini menambah pahalanya di sisi Allah dan menghilangkan kepenatan dan kebosanan saat mengantri.

Teman bicaraku ini menambahkan… ia di ruang tunggu ini sejak satu setengah jam yang lalu. Ia bertanya kepadaku… kapan anda mendapatkan waktu satu setengah jam untuk membaca Al-Qur`an?

Saya kembali merenung, betapa banyak waktuku yang hilang sia-sia… betapa banyak detik-detik dalam hidupku yang berlalu tanpa kuperhitungkan… atau bahkan sudah beberapa bulan berlalu, tapi tak kubaca Al-Qur`an padanya…

Saya kembali merenung… saya pasti ditanya mengenai waktu itu, sementara waktu itu tidak bisa kukuasai… kalau begitu, apa yang kutunggu…?

Tiba-tiba memotong lamunanku… panggilan asisten dokter, saya segera masuk ke ruang dokter… sekarang! Ya sekarang! Aku harus mewujudkan suatu hal…

Setelah keluar dari rumah sakit… saya segera pergi ke toko buku… saya membeli sebuah mushaf kecil… saya memutuskan untuk senantiasa memanfaatkan waktu… saya masih merenung sementara mushaf itu kumasukkan ke dalam saku bajuku…

Sekarang, berapa orang yang bakal melakukan hal ini…?

Dan betapa banyak pahala yang didapat sang pemuda, yang telah menunjukkan hal terpuji itu…?

diterjemahkan oleh:

Wafi Marzuqi dari “Az-Zaman Al-Qadim” karya Dr. Abdul Malik Al-Qaasim

Share This: