LANGKAH PERTAMA

Umar bin Al-Khattab , siapa yang tak mengenal Umar radhiyallahu anhu,

حَسْبِيْ وَحَسْبُ الْقَوَافِيْ حِيْنَ أَرْوِيْهاَ            أَنِّيْ إِلَى سَاحَةِ الْفَارُوْقِ أُهْدِيْهَا

“Sekadar inilah kemampuanku, yaitu cukup membacakan bait-bait syair…

Yang dengan syair-syair tadi, semoga saya bisa menceritakan segala kepahlawanan Al-Faruq.”

ياَ رَبِّ هَبْ لِيْ بَيَاناً أَسْتَعِيْنُ بِهِ          عَلَى حُقُوْقِ أُمُوْرٍ قَامَ رَاعِيْهاَ

“Wahai Rabbku! Karuniakan al-bayan[1] padaku…

Yang dengannya saya bisa menceritakan segala kemuliaan yang telah dilakukan orang agung ini.”

Umar bin Al-Khattab mengerjakan haji untuk yang terakhir kalinya, kemudian berhenti dekat jumrah, ia mengangkat kedua tangannya dan berdoa,

“اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ شَهَادَةً فِيْ سَبِيْلِكَ وَمَوْتاً فِيْ بَلَدِ رَسُوْلِكَ”

“Ya Allah! Saya memohon mati syahid di jalan-Mu, dan mati di negeri rasul-Mu.”

Allah SWT mengabulkan doanya, tak lama setelah haji, sudah sampai di kota Nabi, Madinah Al-Manawwarah. Ketika mengimami shalat subuh, Ia ditusuk Abu Lu`lu` al-majusi, maka jatuhlah Umar di atas tanah.

Dalam keadaan seperti itu, ia tak mengingat isterinya, anak, harta, keluarga, kabilah, apalagi kekuasaannya. Ia langsung teringat kepada Allah SWT dan rasul-Nya. Lalu mengucapkan,

“لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ، وَحَسْبِيَ اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ”

“Tiada Tuhan selain hanya Allah, Muhammad utusan Allah, dan cukuplah Allah sebagai pelindungku, Dialah sebaik-baik yang diserahi urusan.”

Lalu ia bertanya kepada para sahabat, “Siapa yang menusukku?” Mereka menjawab, “Yang menusukmu adalah Abu Lu`lu` Al-Majusi.” Umar RA berkata lagi, “Al-Hamdulillah! Segala puji bagi Allah, yang menjadikan kematianku di tangan seorang lelaki yang tak pernah bersujud kepada-Nya sekalipun.”

Setelah itu para sahabat memapahnya ke dalam rumah. Mereka meletakkan bantal dibawah kepalanya. Umar berkata kepada mereka, “Letakkan kepalaku di atas tanah! Mudah-mudahan dengan itu Allah akan Merahmatiku.”

Kemudian ia tak henti-henti mengatakan,

“ياَ لَيْتَنِيْ مِتُّ كَفَافًا لاَ لِيَ وَلاَ عَلَيَّ، ياَ لَيْتَنِيْ مَا تَوَلَّيْتُ الْخِلاَفَةَ”

“Ya Allah! Kenapa saya tak meninggal dunia sebagai orang yang hidup ala kadarnya saja. Sehingga saya tak ditanya ini dan itu. Ya Allah! Betapa bahagianya seandainya saya tak pernah memegang kekhalifahan.”

Saudara…

Coba anda renungkan, yang mengatakan hal itu adalah Umar. Padahal, ia orang yang di hari jumat berdiri di atas mimbar, memakai baju tambalan, dengan perut keroncongan dan bergemuruh keras karena lapar, di tahun yang para manusia juga sangat kelaparan. Saat itu mereka tertimpa paceklik panjang. Lalu ia berkata kepada perutnya,

“قَرْقِرِيْ، أَوْ لاَ تُقَرْقِرِيْ، وَاللهِ لاَ تَشْبَعِيْ حَتَّى يَشْبَعَ أَطْفَالُ الْمُسْلِمِيْنَ”

“Terserah kamu, bergemuruh atau tidak. Demi Allah! Kamu tak akan kenyang sampai anak kaum muslimin kenyang terlebih dahulu.”

Saudara…

Kematian pasti datang, tak ada keraguan padanya. Dan setiap manusia, pasti meneguk gelas pahit itu. Karena itu, wajib bagi -setiap orang berakal- untuk bersiap-siap berjumpa dengannya.

Sufyan Ats-Tsauri berkata,

“حَقٌّ عَلَى الْمُسْلِمِ إِذاَ بَلَغَ سِتِّيْنَ سَنَةً أَنْ يَشْتَرِيَ كَفَناً”

“Adalah suatu keharusan bagi setiap muslim yang berumur enam puluh tahun, untuk membeli kain kafan.”

Seorang lelaki tua berkata, saat anak-anaknya marah mendengar nafas berat dan rintihannya sepanjang malam,

قَالُوْا أَنِيْنُكَ طُوْلَ اللَّيْلِ يُزْعِجُناَ            فَمَا الَّذِيْ تَشْتَكِيْ قُلْتُ الثَّماَنِيْنَا

“Mereka berkata, rintihanmu sepanjang malam sangat mengganggu kami…

Apa gerangan yang kau derita, saya menjawab, umur delapan puluh tahunku.”

Sulaiman bin Mehran, sang muhaddits besar. Ketika sakaratul maut menjemput, puterinya menangis. Lalu ia berkata kepada sang puteri,

“ياَ ابْنَتِيْ لاَ تَبْكِيْ، وَاللهِ مَا فَاتَتْنِيْ تَكْبِيْرَةُ اْلإِحْرَامِ مَعَ الْجَماَعَةِ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً”

“Wahai puteriku! Jangan menangis. Demi Allah, selama empat puluh tahun, saya tak pernah terlambat dari takbiratul ihram dalam shalat berjamaah.”

Saudara…

Seperti inilah seharusnya iman itu. Yaitu seseorang dari kita selalu berada di shaff pertama dalam shalat berjamaah, dan tak pernah meninggalkan mushaf, al-qur`an.

Kemudian di sela-sela kalimat ini, saya mengajak kepada setiap bapak yang lanjut usia, untuk senantiasa mengingat mati, dan menyadari bahwa kini ia telah dekat dengan masa penghabisan yang tak mungkin baginya berlari dari masa tersebut.

Saya juga mengajaknya untuk menghindari su`ul khatimah, yaitu akhir hayat yang buruk. Serta mengajaknya untuk selalu berbuat amal salih, hingga ia berjumpa Allah dalam keadaan diridhai oleh-Nya.


[1]Al-Bayan: Ketetapan, penjelasan, dan keterangan.

petikan dari terjemahan “al-khuthwah al-ula” yang pernah saya terjemahkan dan belum dicetak. karya Dr. ‘Aidh Al-Qarni.

0 comments on “LANGKAH PERTAMA
  1. smash says:

    Sekedar info,hari ini ada sodara kita yg genap berusia 81 tahun,jika ingin memberikan spirit dan ucapan bisa DISAMPAIKAN DISINI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *