SEBAGAIMANA ANDA BERBUAT, SEPERTI ITULAH ANDA DIBALAS

Menjadi hal yang sangat pasti, bahwa malam-malam pertama pernikahan adalah mimpi indah para gadis remaja.

Dan menjadi hal yang sangat pasti pula bahwa pernikahan, adalah puncak tujuan yang sangat didambakan para pemuda.

Bahkan sebagian pemuda dan pemudi, berusaha mewujudkannya dengan cara apa pun. Karena mereka mempraktekkan kaidah[1], ”Tujuan membenarkan berbagai cara[2]”. Meski cara itu jelas-jelas menyalahi kaidah-kaidah agama Islam.

Terkadang mereka mendapatkan kesenangan haram itu lewat percakapan telpon dan pertemuan-pertemuan mesra. Atau terkadang lewat internet.[3]

Bahkan sampai ada sebagian remaja puteri yang meyakini bahwa remaja yang tidak mau berpacaran, tidak mau berbuat dosa, dan tidak melihat kaum lelaki sepanjang hidupnya selain saudara muhrimnya, adalah seorang remaja yang mustahil untuk menikah pada zaman ini. Padahal terlambatnya umur untuk menikah, terkadang menjadi suatu nikmat atasnya. Karena barangkali Allah I akan menganugerahkan kepadanya seorang lelaki salih, yang dia bakal hidup bahagia bersamanya sepanjang hidupnya.

Pembaca yang dimuliakan Allah!

Pahlawan cerita kita kali ini adalah seorang gadis muslimah, yang sangat menjaga kesucian dirinya dan sangat menghindari perbuatan dosa. Ia menutupi wajahnya dengan cadar[4], multazim dengan agamanya, dan menghias dirinya dengan akhlaq yang sungguh mulia.

Karena itu Allah I, menganugerahkan padanya seorang Muslim lewat rancangan dan kehendak-Nya semata, tanpa harus membuat sang gadis menyingkap wajah, memperlihatkan kedua tangan, atau menampakkan sebagian anggota tubuhnya, seperti yang dilakukan sebagian gadis zaman ini, yang menampakkan sebagian tubuhnya dengan alasan perkembangan zaman. Atau berbicara dengan suara keras, tersenyum, dan tertawa di hadapan kaum lelaki tanpa sedikit pun rasa malu.

Maka tibalah saat malam pertama bagi sang gadis. Resepsi pernikahannya sempurna sesuai dengan syariat Islam. Sederhana-sederhana saja. Kedua pengantin baru itu masuk ke dalam rumahnya. Sang isteri mempersembahkan makan malam kepada sang suami. Keduanya berkumpul dalam satu meja makan. Tiba-tiba keduanya mendengar seseorang mengetuk pintu. Sang suami kaget dan berkata dengan marah, ”Siapa yang datang pada saat-saat seperti ini?”

Sang isteri bangkit untuk membukakan pintu. Ia berdiri di belakang pintu sambil bertanya, ”Siapakah yang datang?” Maka suara dari balik pintu menjawab, ”Seorang pengemis yang menginginkan sedikit makanan.”

Sang isteri kembali kepada suaminya. Sang suami segera bertanya, ”Siapa yang ada di pintu?” Ia menjawab, ”Seorang pengemis yang meminta sedikit makanan.”

Sang suami menjadi marah sekali dan berkata, ”Inikah orang yang merusak ketenangan kita pada malam pertama ini?” Sang suami keluar menemui pengemis itu. Ia memukulnya dengan keras sekali, dan mengusirnya dengan seburuk mungkin.

Pengemis itu pergi dengan kondisi lapar yang masih melilit, ditambah dengan luka yang memenuhi rohani, jasad, dan kehormatannya.

Sang suami kembali menuju pengantin wanitanya dengan perasaan sangat jengkel kepada pengemis yang telah merusak kemesraan duduknya bersama sang isteri.

Tiba-tiba ia tertimpa sesuatu yang sangat mirip kesurupan. Sehingga bumi yang luas terasa sangat sempit baginya. Ia keluar dari rumah itu sambil berteriak-teriak. Ia meninggalkan isterinya dalam kondisi ketakutan, akibat pemandangan suami yang meninggalkannya begitu saja pada malam pertamanya. Namun apa dikata, itu adalah kehendak Allah I.

Sang isteri tetap bersabar. Ia mengharap mendapat pahala melimpah dari Allah I. Ia terus dalam kondisi seperti itu selama lima belas tahun.

Lima belas tahun setelah peristiwa menakutkan itu terjadi, datanglah seorang lelaki muslim yang melamar wanita itu. Sang wanita menyetujui, dan selesailah resepsi pernikahan mereka.

Pada malam yang pertama ini, kedua pengantin baru itu berkumpul di meja makan untuk makan malam. Tiba-tiba keduanya mendengar seseorang mengetuk pintu. Sang suami berkata kepada isterinya, ”Pergilah! Tolong buka pintunya.”

Sang isteri bangkit dan berdiri di belakang pintu. Ia bertanya, ”Siapa yang ada di pintu?” Orang di balik pintu menjawab, “Seorang pengemis yang meminta sedikit makanan.”

Sang isteri kembali kepada suaminya. Sang suami bertanya, ”Siapa yang datang?” Sang isteri menjawab, ”Seorang pengemis yang meminta sedikit makanan.”

Maka sang suami mengangkat meja makan itu dengan kedua tangannya. Ia berkata kepada sang isteri, ”Ambil seluruh makanan ini buatnya. Biarkan ia memakan sekenyangnya. Sisanya nanti buat kita.”

Sang isteri beranjak menyuguhkan makanan kepada pengemis itu. Lalu ia kembali kepada suaminya dengan menangis tersedu-sedu. Suaminya bertanya, ”Ada apa denganmu? Kenapa menangis? Apa yang terjadi? Apa dia mencacimu?”

Sang isteri menjawab dengan air mata yang menetes dari kedua matanya, ”Tidak!”

Suaminya bertanya lagi, ”Apa ia menghinamu?” Isterinya menjawab, ”Tidak!”

Suaminya bertanya lagi, ”Kamu disakitinya?” Sang isteri menjawab, ”Tidak!”

”Terus, kenapa kamu menangis?” Tanya sang suami keheranan.

Sang isteri menjawab, ”Pengemis yang duduk di pintu rumahmu, serta memakan makananmu, ia adalah mantan suamiku lima belas tahun yang lalu. Ketika malam pertamanya bersamaku, datang seorang pengemis mengetuk pintu rumah kami. Suamiku keluar dan memukul habis-habisan pengemis itu, lalu mengusirnya. Kemudian dia masuk ke dalam rumah dalam kondisi jengkel dan hati yang sempit. Saya kira dia jin, atau seseorang yang ketempelan jin dan syetan. Setelah itu ia keluar tanpa arah, tak tahu kemana perginya. Saya tidak melihatnya setelah itu kecuali hari ini, sambil meminta-minta kepada manusia…”

Mendengar cerita itu, sang suami langsung menangis dengan sangat keras. Sang isteri menjadi keheranan dan balik bertanya, ”Apa yang membuatmu menangis?”

Sang suami menjawab, ”Tahukah kamu siapakah pengemis yang dipukul oleh mantan suamimu itu?!”

Sang isteri bertanya, ”Siapa dia?”

Suaminya menjawab, ”Pengemis itu adalah saya.”

Saudaraku!

Maha Suci Allah, Dzat Maha Perkasa dan Maha Pembalas. Dialah yang membalaskan dendam hamba-Nya yang sangat miskin, yang datang sambil menundukkan kepala, mengemis kepada manusia, dan rasa sakit menyelimutinya karena kelaparan.

Tapi suami yang lama, malah menambahkan rasa sakit kepadanya. Akhirnya dia pergi, sementara hatinya serasa diremas-remas akibat hinaan yang melukai kehormatan dan badannya. Hanya saja Allah I tidak pernah meridhai kedzaliman apa pun. Sehingga Ia menurunkan hukuman-Nya kepada seseorang yang menghina dan mendzalimi manusia.

Pembaca yang mulia!

Allah telah Mengganjar seorang hamba yang bersabar atas kesabarannya. Maka dunia pun berbalik kepada mereka berdua.

Allah I justru memberikan rizqi-Nya kepada hamba yang miskin, serta Membuatnya kaya dan tidak lagi meminta-minta kepada manusia.

Dan justru Mengirimkan petaka-Nya kepada lelaki yang dzalim, sampai kehilangan akal, kehilangan harta, dan menjadi pengemis yang meminta-minta kepada manusia.

Sungguh, Maha suci Allah dan Maha Mulia. Dia telah Memberikan rizqi kepada hamba perempuan beriman yang bersabar atas ujiannya selama lima belas tahun. Kemudian memberikan kepadanya suami baru yang jauh lebih baik dari suaminya yang pertama.

Sumber: “Teknik-Teknik Malam Pertama”, hlm. 69-74

Penulis: Abdul Muththalib Hamd Utsman

Penerbit: Pustaka eLBA

Cetakan pertama: Dzulhijjah 1428 H/Desember 2007 M

ISBN: 978-979-26-6773-8


[1] Kaidah yang sebetulnya tidak benar.

[2] Maknanya: yang penting tujuan tercapai, cara apa pun yang dilakukan meski haram adalah boleh-boleh saja.

[3] Sampai sebatas inilah hubungan yang terjadi di Saudi Arabia. Karena penulis berasal dari Saudi, maka pembahasan buku ini dikhususkan untuk penduduk sana. Dan kami Al-Hamdulillah, karena pernah tinggal lama disana, tahu bahwa hubungan mereka sebatas pertemuan, percakapan telpon, dan lewat internet. Adapun sampai melakukan hubungan suami isteri, sepengetahuan kami, itu jarang terjadi. Mungkin saja terjadi, namun itu hanya beberapa dan tidak seterang-terangan seperti yang terjadi di Indonesia. Karena disana terdapat Hai`ah Al-Amri bi Al-Ma`ruuf wa An-Nahyi An Al-Munkar. Mungkin di Indonesia setingkat satpol PP. Tapi Ha`iah ini fokus menghilangkan maksiat, bukan menutupi gerobak-gerobak pedagang kaki lima. Sehingga kemungkinan terjadi perzinahan sangat sedikit terjadi (pent.).

[4] Para ulama` Saudi berfatwa bahwa menutup wajah dengan cadar bagi wanita adalah suatu kewajiban. Hal itu untuk menghindarkan terjadinya fitnah. Hanya saja Syaikh bin Baz mengecualikannya buat selain penduduk Saudi. Jadi, para gadis yang jalang di negeri itu, mulai berani membuka wajah dan memperlihatkan kecantikannya di tempat-tempat tertentu (pent.).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *