Beronani, syahwatnya terpenuhi, kemudian menahan agar mani tidak keluar

Pertanyaan (40664):

Ketika masih remaja dulu saya biasa beronani pada siang hari Ramadhan. Tetapi saya tidak membiarkan air mani meluncur keluar dari kemaluan karena saya menahan dengan menekan kemaluan saya. Dengan itu saya sudah mendapatkan kepuasan. Bagaimana hukum puasa saya?

Jawab: Segala puji hanya milik Allah swt semata…

Ketahuilah! Melakukan kebiasaan onani adalah perbuatan yang haram menurut Syariat. Di sisi lain kebiasaan ini termasuk perkara yang menjijikkan secara fitrah maupun akal. Seorang muslim tidak patut menjatuhkan dirinya dalam perbuatan tersebut.

Adapun hukum masalah yang dipertanyakan dalam pertanyaan di atas, jika anda melakukan onani dan tidak keluar mani karena suatu sebab maka menurut pendapat yang sahih dari para ulama’, puasa tersebut tidak batal. Karena yang dijadikan pedoman adalah keluarnya mani. Jika mani keluar maka puasa batal dan pelaku wajib mengqadha’. Jika tidak keluar mani, puasa tidak batal. Tetapi dalam kondisi ini anda wajib bertaubat kepada Allah swt dan beristighfar karena menyia-nyiakan puasa dalam perkara-perkara yang buruk seperti itu.
Kadang-kadang mani tetap keluar setelah beberapa saat meski anda telah menahannya. Dalam kondisi ini puasa menjadi batal dan anda wajib mengqadha’.

Syaikh Utsaimin berkata: Apakah mungkin mani berpindah tempat tanpa keluar dari kemaluan? Benar! Mungkin. Demikian itu jika syahwatnya sudah mereda setelah berpindah tempat, karena suatu sebab maka mani tidak keluar.

Para ulama’ memberikan contoh: Misalnya seseorang memegang kemaluannya dengan kuat sehingga mani tidak keluar. Tapi meski para ahli fiqih mencontohkannya, sesungguhnya hal ini sangat berbahaya. Para ahli fiqih memberikan contoh seperti ini hanya sebagai contoh, bukan agar dipraktekkan. Jadi mereka tidak melihat apakah tindakan tersebut berbahaya atau tidak. Karena secara umum mani pasti keluar setelah genggaman kuat pada kemaluan dilepaskan.

Sebagian ulama’ berkata: Ketika mani berpindah tempat tapi tidak keluar, pelaku tidak perlu mandi jinabat. Pendapat ini dipilih Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah. Dan inilah pendapat yang benar. Dalilnya sebagai berikut:
Pertama: Hadis Ummu Salamah Radhiyallahu anha. Dalam Hadis ini disebutkan:

((نَعَمْ، إِذَا رَأَتِ الْمَاءَ)) [رواه البخاري: 278 ومسلم: 313]

“Benar! Jika sang wanita melihat air (mani).” (HR. Al-Bukhari, no. 278 dan Muslim, no. 313)

Dalam Hadis ini Nabi saw tidak mengatakan: “Atau sang wanita merasa air mani telah berpindah.” Seandainya dengan berpindahnya air mani mandi jinabat menjadi wajib, pasti hal itu sudah dijelaskan Nabi saw.

Kedua: Hadis Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah  bersabda:

((إِنَّمَا الْمَاءُ مِنَ الْمَاءِ)) [رواه مسلم: 343]

“Sesungguhnya mandi jinabat menjadi wajib, hanya ketika ada air (mani).” (HR. Muslim, no. 343)

Dalam pembahasan kita, air mani tidak keluar. Sementara Hadis di atas menunjukkan; jika tidak ada air mani maka tidak ada air (mandi jinabat).

Ketiga: Sesungguhnya yang asal, seseorang tetap dalam kondisi suci dan tidak ada sesuatupun yang mewajibkannya mandi jinabat. Tentunya kita tidak bisa beralih dari sesuatu yang asal kecuali dengan dalil.

(Lihat: Asy-Syarh Al-Mumti’, 1/280, Al-Furu’, 1/197, Al-Mabsuth, 1/67, Al-Mughni, 1/128, Al-Majmu’, 2/159, dan Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, 4/99).

Allahu a’lam.

Share This: