Hikmah disyariatkannya puasa

Pertanyaan (26862): Apa hikmah dibalik syariat puasa?

Jawab: segala puji hanya milik Allah SWT…
Pertama kali: Kita harus mengetahui bahwa di antara nama-nama Allah SWT yang mulia adalah Al-Hakiim. Al-Hakiim diambil dari al-hukmu dan al-hikmah. Berarti hanya Allah-lah satu-satuNya yang memiliki hukum (keputusan). Dan seluruh hukumNya sangat penuh hikmah (kebijaksanaan), kesempurnaan, dan keunggulan.
Kedua: Allah SWT tidak mensyariatkan suatu hukum kecuali hukum itu mempunyai hikmah (manfaat) yang sangat besar. Terkadang kita mengetahuinya dan terkadang akal kita tidak sampai untuk berpikir kesana. Terkadang kita mengetahui sebagiannya, tetapi kebanyakannya sangat tersembunyi bagi kita.
Ketiga: Allah SWT telah menyebutkan hikmah di balik syariat puasa dan pewajibannya. Yaitu dalam firmanNya yang berbunyi:

{يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ} [البقرة: 183]

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Kesimpulannya, puasa adalah sarana untuk mewujudkan ketaqwaan. Taqwa adalah mengerjakan perintah Allah SWT dan meninggalkan laranganNya. Puasa merupakan sebab terbesar yang menjadikan hamba bisa menjalankan perintah-perintah agama.

Para ulama` -semoga Allah SWT merahmati mereka- menyebutkan beberapa hikmah dari syariat puasa. Semuanya masuk dalam sifat-sifat taqwa. Tetapi tidak menjadi masalah jika kita sebutkan disini, agar orang yang berpuasa mengerti dan berusaha mewujudkannya.

Di antara hikmah puasa:
(1) Puasa merupakan sarana untuk mensyukuri nikmat Allah SWT. Karena puasa adalah menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami isteri. Perkara-perkara ini merupakan nikmat yang paling besar dan paling puncak dalam kehidupan manusia. Ketika seseorang menahan diri darinya selama satu bulan, tentu dia menjadi paham betapa penting kedudukan nikmat-nikmat tersebut. Nikmat-nikmat tersebut selama ini tidak diketahui dan jarang disyukuri. Ketika nikmat tersebut hilang, maka diketahuilah betapa besar kedudukannya. Dengan demikian seseorang terdorong untuk mensyukuri.
(2) Puasa merupakan sarana untuk meninggalkan perkara haram. Ketika diri manusia tunduk untuk meninggalkan perbuatan halal karena mencari keridhaan Allah SWT dan takut dari kepedihan siksaanNya, tentunya ia jauh lebih tunduk untuk menahan diri dari perbuatan haram. Sehingga mau tidak mau puasa menjadi sebab untuk menghindari perkara-perkara yang diharamkan Allah SWT.
(3) Dengan berpuasa seseorang mampu mengalahkan nafsu syahwat. Karena ketika dirinya kenyang, ia pasti menginginkan lezatnya syahwat. Sedangkan ketika lapar, ia menahan diri bahkan tidak ada keinginan untuk melampiaskan syahwat. Karena itu Nabi SAW bersabda:

((يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ)) [رواه البخاري: 4779، ومسلم: 1400]

“Wahai para pemuda! Barangsiapa di antara kalian mampu terhadap al-ba`ah hendaknya ia menikah. Karena menikah lebih menundukkan pandangan dan menjaga (sucinya) kemaluan. Barangsiapa tidak mampu hendaknya ia berpuasa. Karena puasa menjadi perisai baginya.” (HR. Al-Bukhari, no. 4779 dan Muslim, no. 1400)
(4) Puasa mengharuskan seseorang merahmati dan menyayangi fakir miskin. Karena ketika orang berpuasa merasakan perihnya rasa lapar pada beberapa waktu, tentu ia berfikir bagaimana jika rasa lapar ini terus melilit pada setiap waktu. Karena itu ia segera berbuat baik kepada orang miskin, karena kasihan dan sayang kepadanya. Jadi puasa merupakan sebab datangnya rasa belas kasih terhadap orang-orang miskin.
(5) Dengan berpuasa berarti seseorang melemahkan dan mengalahkan Setan. Sehingga bisikannya terhadap manusia turut melemah sehingga maksiat pun berkurang. Demikian itu karena Setan berjalan pada peredaran darah Ibnu Adam. Sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW di bawah ini:

((اَلشَّيْطَانُ يَجْرِيْ مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْـرَى الدَّمِ)) [رواه البخاري: 1934، ومسلم: 2174]

“Setan berjalan pada Ibnu Adam sesuai peredaran darahnya.” (HR. AL-Bukhari, no. 1934 dan Muslim, no. 2174)
Dengan berpuasa peredaran manusia menyempit, maka Setan melemah dan tidak bisa leluasa menghembuskan bisikannya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata:

وَلاَ رَيْبَ أَنَّ الدَّمَ يَتَوَلَّدُ مِنَ الطَّعَامِ وَالشَّراَبِ، وَإِذاَ أَكَلَ أَوْ شَرِبَ اِتَّسَعَتْ مَجَارِي الشَّيَاطِيْنِ –الَّذِيْ هُوَ الدَّمُ-، وَإِذَا صَامَ ضَاقَتْ مَجَارِي الشَّياَطِيْنِ، وَفَتَنْبَعِثُ الْقُلُوْبُ إِلَى فِعْلِ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكِ الْمُنْكَرَاتِ” [مجموع الفتاوي: 25/246]

“Hal itu tidak diragukan. Karena darah berasal dari makanan dan minuman. Sehingga jika seseorang makan atau minum, maka meluaslah peredaran Setan dalam tubuhnya. Peredaran Setan itu adalah darah. Jika berpuasa maka menyempitlah peredaran Setan. Sehingga hati terdorong untuk mengerjakan kebaikan dan meninggalken kemungkaran.” (Majmu` Al-Fatawa: 25/246)

(6) Orang yang berpuasa melatih diri dengan (muraqabatullah). Yakni merasa dirinya selalu diawasi Allah SWT. Sehingga dirinya meninggalkan apa yang disenangi hawa nafsu ketika mampu untuk itu. Karena merasa Allah SWT senantiasa mengawasinya.

(7) Dengan berpuasa seseorang menjadi zuhud (tidak menginginkan) terhadap dunia dan syahwat-syahwatnya. Di sisi lain ia sangat mengharap apa yang ada di sisi Allah SWT.

(8) Puasa membiasakan setiap mukmin untuk memperbanyak ketaatan. Demikian itu karena orang berpuasa secara umum banyak perbuatan taatnya, sehingga dirinya menjadi terbiasa dengan perbuatan-perbuatan tersebut.

Inilah beberapa hikmah mengapa puasa disyariatkan. Kita memohon kepada Allah SWT mudah-mudahan Dia memberi taufiq kepada kita untuk mewujudkan hikmah-hikmah tersebut dan membantu kita memperbagus ibadah kepadaNya. Allahu a`lam.

Share This: