Orang-orang yang wajib berpuasa Ramadhan

Pertanyaan (26814): Siapakah yang wajib berpuasa Ramadhan?

Jawab: Segala puji hanya milik Allah SWT semata…
Puasa Ramadhan wajib atas setiap orang jika terpenuhi padanya lima syarat berikut:

Pertama: Hendaknya dia seorang Muslim. Kedua: Hendaknya ia seorang mukallaf (akil baligh dan berakal). Ketiga: Ia mampu berpuasa. Keempat: Dia seorang yang muqim (menetap bukan musafir). Kelima: Tidak ada perkara-perkara yang menghalangi.

Ini adalah lima syarat, jika terpenuhi pada seseorang maka ia wajib berpuasa.

Syarat pertama: Hendaknya ia seorang muslim. Sehingga orang kafir keluar dari syarat ini. Orang kafir tidak diwajibkan berpuasa dan seandainya berpuasa, puasa itu tidak sah (tidak diterima) darinya. Ketika masuk Islam ia tidak diperintah mengqadha`nya. Dalil perkara ini adalah firman Allah SWT yang berbunyi:

وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ

“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya.” (QS. At-Taubah: 54)

Jika nafkah-nafkah –padahal manfaatnya sangat banyak- tidak diterima dari mereka karena kekafirannya, berarti ibadah-ibadah yang sifatnya khusus, lebih tidak diterima dari mereka.

Sedangkan dalil bahwa mereka tidak wajib mengqadha` puasa ketika masuk Islam adalah firman Allah SWT:

قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ

“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: ‘Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka dari dosa-dosa mereka yang sudah lalu’.” (QS. Al-Anfaal: 38)

Kemudian ada Hadis yang datang melalui jalur mutawatir dari Rasulullah SAW bahwasanya beliau tidak pernah memerintah siapapun yang masuk Islam untuk mengqadha` perkara-perkara wajib yang telah ditinggalkannya.

Syarat kedua: Hendaknya ia seseorang yang mukallaf. Mukallaf adalah orang yang sudah baligh dan berakal. Karena tidak ada taklif (tanggungan) atas anak kecil. Juga tidak ada taklif atas orang gila.

Baligh mempunyai tiga tanda yang kaum lelaki dan perempuan sama-sama mengalaminya. Yaitu: Bermimpi basah, tumbuhnya rambut kasar pada sekitar kemaluan, dan sudah berumur lima belas tahun. Untuk wanita ia mempunyai tanda lain, yaitu haidh.

Sedangkan orang berakal lawannya adalah orang gila. Yaitu yang tidak mempunyai akal atau idiot. Maka siapapun yang tidak mempunyai akal, meski seperti apapun sifatnya, berarti ia bukan mukallaf. Sehingga ia tidak wajib mengerjakan perkara-perkara wajib dalam agama seperti shalat, puasa, dan memberi makan. Jadi secara mutlak tidak ada sesuatupun yang diwajibkan atasnya.

Syarat ketiga: Kemampuan. Maksudnya orang mukallaf ini kuat mengerjakan puasa. Adapun seseorang yang tidak mampu, maka ia tidak wajib berpuasa. Berdasarkan firman Allah SWT:

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Tetapi ketidakmampuan disini terbagi menjadi dua bagian: Tidak mampu yang sifatnya tiba-tiba dan tidak mampu yang sifatnya terus-menerus.

Ketidakmampuan yang sifatnya tiba-tiba, adalah yang dicontohkan pada ayat di atas. Seperti orang sakit yang penyakitnya masih bisa disembuhkan. Orang-orang seperti ini boleh berbuka tetapi harus mengqadha` puasa pada hari-hari lain.

Sedangkan ketidakmampuan yang sifatnya terus-menerus, seperti orang sakit yang penyakitnya tidak bisa disembuhkan dan orang lanjut usia yang tidak mampu berpuasa. Mereka-mereka inilah yang disebutkan pada ayat:

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa), membayar fidyah. (Yaitu) memberi makan seorang miskin.” (QS. Al-Baqarah: 184)

Abdullah bin Abbas Radhiyallahu anhu menafsirkan ayat ini dengan perkataannya:

اَلشَّيْخُ وَالشَّيْخَةُ إِذَا كاَناَ لاَ يُطِيْقَانِ الصَّوْمَ فَيُطْعِمَانِ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِيْناً. أخرجه البيهقي في السنن الكبرى: 7866

“Orang tua laki-laki dan perempuan jika tidak mampu berpuasa, maka keduanya memberi makan satu orang miskin pada setiap harinya.” (HR. Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra, no. 7866)

Syarat keempat: Hendaknya ia seorang yang muqim (menetap). Jika dirinya musafir (sedang dalam bepergian) maka tidak wajib berpuasa. Berdasarkan firman Allah SWT:

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ. البقرة: 185

“Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Para ulama` berijma` (sepakat) bahwa seorang musafir boleh berbuka. Di antara ulama` yang menukil adanya ijma` tersebut adalah Ibnu Qudamah Rahimahullah. (Al-Mughni: 3/33)

Yang afdhal bagi musafir adalah mengerjakan yang paling mudah baginya. Jika dalam puasa ada kesengsaraan bagi dirinya maka puasa menjadi haram. Berdasarkan firman Allah SWT:

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا. النساء: 29

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa`: 29)

Ayat ini menunjukkan bahwa perkara apapun yang menyengsarakan manusia maka kita dilarang mengerjakannya.

Jika anda bertanya: Berapa kadar kesengsaraan yang mengharamkan puasa? Jawabnya: Kesengsaraan itu lewat perasaan. Terkadang bisa diketahui lewat berita. Jika lewat perasaan, maka sang penderita merasa bahwa puasa menyengsarakannya, mendatangkan rasa lapar yang keterlaluan, melambatkan kesembuhannya, dan hal-hal lain semacamnya.

Sedangkan lewat berita, jika dokter yang mahir dan terpercaya memberitahukan kepadanya bahwa puasa bermadharat baginya.

Syarat kelima: Tidak adanya perkara-perkara yang menghalangi. Masalah ini khusus bagi kaum wanita. Karena wanita yang haidh dan nifas tidak wajib berpuasa. Berdasarkan sabda Nabi SAW yang menegaskan hal itu:

أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ. أخرجه البخاري: 298

“Bukankah jika wanita lagi haidh ia tidak shalat dan tidak pula berpuasa?!” (HR. Al-Bukhari, no. 298)

Jadi puasa tidak wajib bagi wanita haidh dan nifas. Bahkan secara ijma` puasa tidak sah jika dilakukan wanita yang haidh dan nifas. Tetapi ia wajib mengqadha`nya secara ijma`. (Lihat: Asy-Syarh Al-Mumti`: 6/330)

Share This: