Wanita itu menikah pada bulan Ramadhan tetapi suami tidak kuat menahan hasratnya

Pertanyaan (49615):

Pekan pertama dari bulan Ramadhan adalah pekan pernikahan saya. Suami saya tidak mampu menahan keinginannnya. Saya juga tidak ingin membatalkan puasa. Suami saya berkata: Tidak masalah jika saya berbuka satu hari kemudian mengqadha’nya setelah Ramadhan usai. Apakah perkataannya dibenarkan?

Jawab:

Segala puji hanya milik Allah  semata…

Pertama: Berbuka puasa pada bulan Ramadhan tanpa udzur termasuk dosa yang paling besar. Orang yang melakukannya menjadi fasik. Ia wajib bertaubat kepada Allah  dari kemaksiatan besar ini. Tentang dalil sahih yang menegaskan ancaman keras karena meninggalkan puasa, adalah Hadis riwayat Abu Umamah Al-Bahili Radhiyallahu anhu dia berkata: Saya mendengar Rasulullah  bersabda:

((بَيْنَا أَناَ نَائِمٌ إِذْ أَتَانِيْ رَجُلاَنِ… ثُمَّ اِنْطَلَقَ بِيْ فَإِذَا أَنَا بِقَوْمٍ مُعَلَّقِيْنَ بِعَرَاقِيْبِهِمْ –اَلْعُرْقُوْبُ: اَلْعَصَبُ الَّذِيْ فَوْقَ مُؤَخِّرَةِ قَدَمِ اْلإِنْسَانِ-، مُشَقَّقَةً أَشْدَاقُهُمْ –اَلشَّدْقُ جَانِبُ الْفَمِ- تَسِيْلُ أَشْدَاقُهُمْ دَماً، فَقُلْتُ: مَنْ هَؤُلاَءِ؟ قَالاَ: هَؤُلاَءِ الَّذِيْنَ يُفْطِرُوْنَ قَبْلَ تَحِلَّةِ صَوْمِهِمْ)) [رواه ابن خزيمة: 1986، وابن حبان: 7491، وصححه الألباني في صحيح موارد الظمآن: 1509]

“Ketika sedang tidur tiba-tiba saya didatangi dua orang lelaki… kemudian keduanya membawa saya pergi (ke suatu tempat). Tiba-tiba (di tempat itu) saya melihat beberapa orang yang digantungkan pada sesuatu dengan urat-urat lututnya sambil dirobek-robek rahangnya. Rahang-rahang mereka mengalirkan darah. Saya bertanya: ‘Siapakah mereka?’. Kedua orang itu menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang yang berbuka sebelum selesainya puasa mereka’.” (HR. Ibnu Khuzaimah, no. 1986, Ibnu Hibban, no. 7491, dan disahihkan Al-Albani dalam sahih mawarid adz-dzam`an, no. 1509)
Berdasarkan Hadis ini maka yang wajib bagi suami, hendaknya bertaqwa kepada Allah  dan tidak meremehkan urusan puasa. Karena masalah ini sangat berbahaya. Dan anda sebagai isteri, tidak boleh mentaatinya dalam perkara ini. Karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah .
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah pernah ditanya tentang lelaki yang memaksa isteri berhubungan suami isteri pada siang hari Ramadhan?

Beliau menjawab:

Dalam kondisi seperti ini sang isteri haram mentaati suami, atau mempersilakan suami untuk melakukan hal itu terhadapnya. Karena sang isteri sedang berpuasa fardhu. Ia wajib menghalangi keinginan suami sebisa mungkin. Di sisi lain sang suami haram menyetubuhi isteri dalam kondisi ini. Jika sang isteri tidak bisa melepaskan diri dari suami, maka sang isteri tidak wajib melakukan apapun. Ia tidak wajib mengqadha’ dan tidak pula membayar kaffarat, karena dia dipaksa. (Lihat: Fatawa Ash-Shiyam, hlm. 339)
Berbuka pada bulan Ramadhan dan mengqadha’ puasa, hanya disyariatkan bagi orang yang mempunyai udzur. Seperti tertimpa penyakit, bepergian, dan yang serupa dengannya. Adapun jika seorang muslim berbuka tanpa udzur, berarti telah mencampakkan dirinya dalam murka dan siksaan Allah . Kita memohon kepada Allah  agar memberikan keselamatan dan perlindungan kepada kita.
Kedua: Perkataan suami bahwa anda bisa mengqadha’ hari tersebut setelah bulan Ramadhan, ini saja tidak cukup. Karena seseorang yang menyetubuhi isterinya pada siang hari Ramadhan wajib membayar kaffarat yang berat. Yaitu memerdekakan budak, atau berpuasa dua bulan berturut-turut, atau memberi makan enam puluh orang miskin.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah berkata: Lelaki yang menyetubuhi isterinya pada siang hari Ramadhan padahal kondisinya adalah muqim –tidak musafir-, ia wajib membayar kaffarat yang berat. Yaitu memerdekakan budak. Jika tidak mendapatinya, ia berpuasa dua bulan berturut-turut. Jika tidak mampu maka memberi makan enam puluh orang miskin. Wanita sama seperti lelaki jika ridha melakukan persetubuhan itu. Tetapi jika dipaksa maka tidak wajib melakukan apapun.

Orang puasa yang bersetubuh di negerinya, jika termasuk orang-orang yang wajib berpuasa, maka mendapat lima perkara: Dosa, puasanya batal, wajib melakukan imsak, wajib mengqadha’, dan wajib membayar kaffarat.
Tidak ada perbedaan apakah ia mengeluarkan air mani atau tidak, selama proses jimak telah terjadi. Berbeda dengan air mani yang dikeluarkan tanpa proses jimak. Maka dalam hal ini tidak ada kaffarat. Tapi ada dosa dan kewajiban melakukan imsak serta mengqadha’. (Lihat: Fatawa Ash-Shiyam, hlm. 337)

Allahu a’lam.

Share This: