Hadis tentang amalan terbaik pada Hari raya idul adha

kurban

عَنْ عَائِشَةَ ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ ، إِنَّهُ لَيَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلاَفِهَا ، وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنَ الأَرْضِ ، فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا.

 

Dari Aisyah radhiyallahu anha, sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Tidaklah seorang ibnu Adam melakukan amalan pada hari Nahar yang paling dicintai Allah ta’ala daripada menumpahkan darah (hewan kurban). Sungguh hewan kurban itu akan datang pada hari Kiamat dengan tanduk, bulu, dan kukunya. Dan sesungguhnya darah itu sudah tertulis di sisi Allah pada suatu tempat sebelum terjatuh di muka bumi. Karena itu ikhlaskanlah ketika kalian berkurban.” (HR. At-Tirmidzi, no. 1493)

Syarah Hadis:

 

Pertama: At-Tirmidzi mengatakan Hadis ini adalah hasan gharib. Dan imam Al-Hakim dalam Al-Mustadrak mengatakan: Sahihul Isnad. Tapi hal itu tidak sepenuhnya benar. Karena dalam sanadnya terdapat Sulaiman bin Yazid Abul Mutsanna Al-Ka’bi Al-Khuza’i.

Sebagian ulama’ meninggalkannya. Ar-Raazi berkata: “Ia adalah munkarul Hadis.” Dan ibnu Hibban mengatakan: “Kita tidak boleh berhujjah dengan Sulaiman ini.” (lihat: Al-Badrul Munir, 9/273-274) Hadis ini juga didhaifkan Syaikh Al-Albani.

Kedua: Hadis ini menunjukkan bahwa amalan yang paling utama pada hari Nahar, yaitu hari raya idul adha adalah menumpahkan darah hewan ternak. Ini bagi orang yang mampu. Adapun bagi yang tidak mampu maka boleh mengerjakan amal shalih lainnya seperti shalat, dzikir, shadaqah, tilawah dan lain sebagainya yang masuk dalam kategori amal shalih.

Ketiga: Melaksanakan kurban pada idul adha bukan sekedar sadaqah daging. Karena ini adalah ibadah maka harus sesuai dengan ketentuannya. Bahwa binatang yang dikurbankan harus memenuhi syarat tahun dan lain sebagainya. Jangan seekor kambing yang masih cempe kemudian dikurbankan. Ini tentu tidak sah jika digunakan untuk ibadah idul qurban. Tapi kalau sekedar sadaqah maka tidak masalah. Tapi untuk qurban maka tidak boleh, karena kurban mempunyai syarat dan ketentuan tersendiri.

Keempat:  Hadis ini menjelaskan bahwa binatang kurban akan datang pada Hari Kiamat dengan darah, tanduk, bulu, dan kukunya. Ini menunjukkan bahwa tiada sesuatu pun yang tersiakan dari amalan seorang mukmin. Juga menunjukkan bahwa amal shalih yang abstrak pada hari ini, nanti di Hari Kiamat akan memiliki wujud.

Kelima: Perintah untuk berkurban pada hari kurban bagi yang mampu, dan diperintahkan agar benar-benar ikhlas saat mengerjakannya. Yaitu untuk mencari wajah Allah semata dan bukan mencari kepentingan duniawi apa pun. Jika seseorang berkurban karena terpaksa, malu, gengsi atau lainnya maka otomatis amalannya tidak akan diterima oleh Allah ta’ala.

Keenam: Hadis ini meskipun dhaif secara makna, tapi menurut kami –Allahu a’lam- adalah benar secara makna. Karena maknanya tidak menyalahi dalil-dalil yang sahih baik dari Al-Quran maupun Hadis. Mungkin dari sisi makna yang benar inilah, imam At-Tirmidzi mengatakannya sebagai hadis hasan gharib. Allahu a’lam.

 

Share This: