keutamaan shalat berjamaah

shalat jamaah

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللَّهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلاَءِ الصَّلَوَاتِ

حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ فَإِنَّ اللَّهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّهُنَّ

مِنْ سُنَنِ الْهُدَى وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِى بُيُوتِكُمْ كَمَا يُصَلِّى هَذَا الْمُتَخَلِّفُ فِى بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ

سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ وَمَا مِنْ رَجُلٍ يَتَطَهَّرُ فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ

يَعْمِدُ إِلَى مَسْجِدٍ مِنْ هَذِهِ الْمَسَاجِدِ إِلاَّ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِكُلِّ خَطْوَةٍ يَخْطُوهَا حَسَنَةً وَيَرْفَعُهُ

بِهَا دَرَجَةً وَيَحُطُّ عَنْهُ بِهَا سَيِّئَةً وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلاَّ مُنَافِقٌ مَعْلُومُ

النِّفَاقِ وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِى الصَّفِّ.[مسلم: 1520]

 

Dari Abdullah bin Mas’ud dia berkata:

“Barangsiapa senang berjumpa Allah besok dalam  kondisi muslim, hendaknya menjaga shalat lima waktu tepat setelah adzan berkumandang. Karena Allah menyariatkan sunanul huda untuk Nabi kalian. Ketahuilah shalat lima waktu tepat waktu merupakan bagian sunanul huda, sekiranya kalian shalat di rumah kalian seperti orang yang shalat di rumahnya ini, tentu kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian. Jika kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian pasti kalian tersesat. Sungguh, tiada seseorang bersuci (di rumahnya) dengan sempurna, kemudian pergi menuju salah satu masjid ini, kecuali Allah mencatat baginya pada setiap langkah yang dia jalankan, satu kebaikan. Dengan langkah itu Allah mengangkat derajatnya dan menghapus satu keburukannya. Sungguh saya melihat kami, tiada seorang pun yang meninggalkan shalat kecuali orang munafik yang jelas kemunafikannya. Sungguh ada seseorang dari (sahabat Nabi) didatangkan dengan dibopong oleh dua orang agar diberdirikan dalam shaf shalat.” (HR. Muslim, no. 1520)

Pelajaran dari Hadis:

  • Orang yang senang berjumpa Allah dalam kondisi Muslim, hendaknya mengerjakan shalat lima waktu tepat saat adzan berkumandang. Dan mengerjakannya di Masjid.
  • Sunanul Huda adalah syariat Allah atas Nabi SAW. Yaitu mengerjakan shalat lima waktu dengan berjamaah di Masjid tepat setelah adzan berkumandang.
  • Shalat lima waktu di rumah dan tidak mengerjakannya di masjid tanpa udzur berarti meninggalkan sunnah Nabi SAW.
  • Siapa pun yang meninggalkan sunnah Nabi SAW maka akan tersesat.
  • Keutamaan pergi ke Masjid untuk shalat berjamaah dengan berjalan. Karena langkah yang satu meninggikan derajat sementara langkah yang lain menghapuskan dosa.
  • Keutamaan orang yang bersuci di rumah dengan sempurna kemudian berjalan menuju masjid. Ini berbeda dengan orang yang bersuci di Masjid. Pahala di antara keduanya sangat jauh berbeda meski masing-masing adalah baik.
  • Di antara ciri orang munafik adalah meninggalkan shalat. Atau mengerjakannya dengan malas dan tidak mengingat Allah kecuali sedikit.
  • Kesungguhan para sahabat dalam meraih pahala dari Allah ta’ala. Karena meskipun sakit tetap dibopong di antara dua orang agar bisa shalat di shaf shalat untuk mengerjakannya secara berjamaah.
  • Keutamaan shalat berjamaah, dan sesungguhnya seorang muslim yang imannya hakiki tidak akan pernah menyiakannya. Allahu a’lam.

 

 

 

 

 

 

 

 

Share This: