Berhubungan suami istri, Jihadkah?

jimak

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum. Ustad, ada yang mengatakan bahwa berhubungan suami istri itu bagian dari jihad apa benar pernyataan demikian?

 

Jawab:

Segala puji hanya milik Allah semata. Dan semoga shalawat beriring salam senantiasa tersampaikan kepada Rasulillah shallallahu alaihi wasallam, para sahabat, dan siapa pun yang mengikuti mereka dengan baik hingga Yaumiddin. Wa ba’du:

 

Pertama: Pernyataan demikian adalah benar. Karena jihad tidak berarti memerangi musuh di medan perang saja. Karena Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الْأَرْبَعِ ثُمَّ جَهَدَهَا فَقَدْ وَجَبَ الْغَسْلُ، وَإِنْ لَمْ يُنْزِلْ

“Jika seorang lelaki duduk di antara empat anggota wanita, kemudian dia mengerahkan tenaganya maka dia wajib mandi (jinabat) meski tidak mengeluarkan air mani.” (Sahih Al-Bukhari, no. 291 dan Sahih Muslim, no. 809)

Yang dimaksud dengan empat anggota wanita adalah kedua tangan dan kedua kaki. Seperti disebutkan Ibnu Qarqul dalam: Mathaali’ Al-Anwaar, 6/60, jadi ini adalah kiasan dari hubungan jimak di antara suami dan istri.

 

Kedua: Jihad menurut bahasa berasal dari kata al-jahdu yang berarti Al-Masyaqqah (kesulitan) dan Ath-Thaaqah (tenaga atau kemampuan). (lihat: Mausua’ah al fiqhiyah al kuwaitiyah, 16/124).

Maka kembali kepada Hadis di atas, mengerahkan tenaga ketika berhubungan suami istri bisa dikatakan sebagai jihad dari sisi bahasa. Karena jihad menurut bahasa adalah mengeluarkan tenaga.

 

Ketiga: Hadis di atas menjelaskan bahwa jika seseorang sudah memasukkan kemaluan pada kemaluan istrinya, meski tidak keluar air mani maka tetap wajib mandi jinabat. Sekaligus Hadis ini menghapus Hadis sahih yang berbunyi:

إِنَّمَا الْمَاءُ مِنَ الْمَاءِ

“Sesungguhnya air (mandi jinabat) berasal dari keluarnya air (mani).” (Sahih Muslim, no. 801)

Hadis: Sesungguhnya air berasal dari air, adalah pada permulaan Islam. Yakni jika seseorang memasukkan kemaluannya pada kemaluan istrinya, meski tidak keluar mani maka tidak wajib mandi jinabat. Tapi kemudian dihapus dengan Hadis pada poin pertama di atas. Sehingga Hadis ini sudah tidak berlaku, kecuali pada orang yang bermimpi jimak tapi tidak mendapati apa pun pada celana dalamnya.

 

Keempat: Hubungan suami istri bisa menjadi jihad, sadaqah, dan amal shalih yang sangat berpahala sekaligus. Yaitu jika dibarengi niat, agar tidak berzina, tidak melihat wanita lain yang bukan mahram, juga niat agar Allah melahirkan dari maninya anak-anak keturunan yang shalih dan shalihah, yang semuanya kelak menjadi ulama’ rabbani yang berjihad dan berdakwah di jalanNya.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

«وَفِى بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأْتِى أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ قَالَ « أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِى حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِى الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ »

“Dan pada kemaluan kalian (saat berjimak dengan istri) terdapat sadaqah.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah! Mana mungkin seseorang dari kita mendatangi syahwatnya kemudian dia bisa mendapat pahala?” Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab: “Lihatlah! Sekiranya dia meletakkan kemaluannya pada yang haram bukankah dia mendapat dosa?! Maka seperti itulah jika dia meletakkan kemaluannya pada yang halal maka baginya ada pahala.” (Sahih Muslim, no. 2376)

 

Di antara doa para ulama’ dalam hal jimak, adalah doa yang diucapkan  oleh Laits bin Sa’ad rahimahullah saat hendak berjimak. Dia berkata:

اَللِّهُمَّ شُدَّ لِيْ أَصْلَهُ، وَارْفَعْ لِيْ صَدْرَهُ، وَسَهِّلْ عَلَيَّ مَدْخَلَهُ وَمَخْرَجَهُ، وَارْزُقْنِيْ لَذَّتَهُ، وَهَبْ لِيْ ذُرِّيَّةً صَالِحَةً تُقَاتِلُ فِيْ سَبِيْلِكَ

“Ya Allah! Kokohkan untukku tubuhnya (istri), angkat untukku buah dadanya. Mohon permudah untukku keluar masuknya (kemaluan), anugerahkan padaku kenikmatannya, dan berikan untukku keturunan shalih yang berjihad pada jalanMu.” (Ibnu Al-Qayyim, Raudhatul Muhibbin, hlm. 213-214)

 

 

 

Share This: