HUKUM MENJADI POLISI, TENTARA, DAN SATPOL PP

zalim

Segala puji bagi Allah, Rabb alam semesta dan shalawat beriring salam semoga senantiasa tersampaikan kepada Rasulullah SAW, keluarga  dan para sahabat. Amma ba’du:

Syurthie (الشرطي) dalam bahasa Arab adalah para penjaga dan sultan orang-orang pilihannya. Mereka lebih dekat kepada para penguasa ketimbang para tentara. Disebut Syurthie karena memiliki tanda khusus, yang mereka dikenali dengannya. Seperti dijelaskan dalam At-Taisir dan Faidhul Qadir karya Al-Munawi.

Namun yang dimaksud syurthie atau polisi dalam bahasa kita pada Hadis, khusus pengawal-pengawal penguasa dzalim dan sultan sewenang-wenang, yang tidak menegakkan keadilan dan tidak menghindari kebatilan. Mereka itulah orang-0rang yang patut mendapat murka Allah ta’ala karena  sangat memudahkan proses para penguasa dzalim dalam melakukan kedzalimannya.

Intinya  mereka adalah alat penguaza zalim untuk mendzalimi manusia, serta menghalalkan harta dan kehormatan manusia.

Disebutkan dalam Hadis:

سَيَكُونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ شَرَطَةٌ، يَغْدُونَ فِي غَضِبِ اللَّهِ، وَيَرُوحُونَ فِي سَخَطِ اللَّهِ، فَإِيَّاكَ أَنْ تَكُونَ مِنْ بِطَانَتِهِمْ

“Akan datang pada akhir zaman, para polisi yang berangkat pagi-pagi dalam kondisi dimurkai Allah, dan berangkat sore hari juga dalam kondisi dimurkaii Allah. sekali-kali kamu jangan menjadi di antara mereka.” (HR. Ath-Thabarni dalam Al-Kabir, no. 7499 dan disahihkan Al-Albani dalam Sahih Al-Jami’, no. 8153)

 

Sedangkan dalam sahih Muslim, no. 7374 dari Abu Hurairah RA bahwa Nabi SAW bersabda:

يُوشِكُ إِنْ طَالَتْ بِكَ مُدَّةٌ أَنْ تَرَى قَوْمًا فِى أَيْدِيهِمْ مِثْلُ أَذْنَابِ الْبَقَرِ يَغْدُونَ فِى غَضَبِ اللَّهِ وَيَرُوحُونَ فِى سَخَطِ اللَّهِ

“Hampir –hampir jika engkau berumur panjang, engkau akan melihat kaum yang memegang cambuk seperti ekor sapi pada tangan mereka. mereka berangkat di pagi hari dengan dimurkai Allah dan berangkat di sore hari juga dengan dimurkai Allah.”

 Tapi menjadi polisi dan tentara tidak sepenuhnya haram. Kecuali kalau dia menjadi pembantu penguasa dalam kedzaliman. Pengkhususan ini disebutkan dalam sabda Nabi SAW  yang berbunyi:

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَكُوْنُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ سُفَهَاءُ، يُقَدِّمُوْنَ شِرَارَ النَّاسِ وَيُظْهِرُوْنَ بِخِيَارِهِمْ وَيُؤَخِّرُوْنَ الصَّلاَةَ عَنْ مَوَاقِيْتِهَا، فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَلَا يَكُوْنَنَّ عَرِيْفًا وَلَا شُرْطِيًّا وَلَا جَابِيًا وَلَا خَازِنًا

“Akan datang atas manusia suatu masa, yang menjadi pemimpin atas kalian adalah para pemimpin yang bodoh. Mereka mendahulukan memakai orang-orang yang buruk, tapi menampakkan mereka sebagai orang-orang yang terbaik. Mereka mengakhirkan shalat dari waktunya. Barangsiapa dari kalian mendapati hal itu maka jangan menjabat sebagai pengurus suatu kaum, polisi, penarik pajak, maupun penjaga gudangnya.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Ya’la, no. 1115 dan ibnu Hibban dalam sahihnya. Al-Haitsami berkata: Para perawinya adalah perawi kitab sahih, kecuali Abdurrahman bin mas’ud. Tapi dia seorang yang tsiqah. Hadis ini juga dihasankan Al-Albani.

Maka tentara dan polisi yang membantu para penguasa dzalim seperti di atas, yang membantu mereka dalam kedzalimannya adalah yang khusus dicela dalam hadis. Adapun polisi dan tentara yang menegakkan kebenaran, tidak mendzalimi manusia, dan tidak membantu kedzaliman para penguasa zalim maka tidak termasuk yang dicela dalam Hadis, tapi malah dipuji dan dikasih pahala oleh Allah. Allahu a’lam.

 

Share This: