Kunjungan Malakul Maut kepada Nabi SAW sebelum beliau wafat

PENJELASAN TENTANG HADIS: MINTA IZINNYA MALAKUL MAUT KEPADA NABI SAW UNTUK MENCABUT ROH BELIAU.

kering

Pertanyaan: Bagaimana derajat hadis berikut:

01
Artinya:
Malak Jibril masuk kepada Nabi SAW dan berkata: Malakul maut ada di depan pintu. Dia minta izin masuk kepadamu. Dia belum pernah meminta izin kepada siapa pun sebelum kamu. Maka Nabi menjawab: Beri izin dia untuk masuk wahai Jibril. Lalu Malakul maut masuk sambil berkata: Assalaamu ‘alaika wahai Rasulullah. Allah mengutus saya untuk memberi pilihan kepada Anda. Anda memilih tinggal di dunia atau berjumpa dengan Allah. Maka Nabi SAW menjawab: Justru saya memilih berjumpa dengan Allah yang Maha tinggi. Saya memilih berjumpa Allah yang Maha tinggi.
Kemudian Malakul maut berdiri di samping kepala Nabi SAW sebagaimana akan berdiri di samping kepala setiap orang dari kita, lalu Malakul Maut berkata: Wahai Roh yang suci, roh Muhammad bin Abdillah, keluarlah menuju ridha dari Allah dan kebahagiaan. Juga Rabb yang ridha dan tidak pernah murka kepadamu.

Jawab:
Segala puji hanya milik Allah dan shalawat beriring salam semoga senantiasa tersampaikan kepada Rasulillah wa ba’du:
Pada kisah wafatnya Nabi shallallahu alaihi wasallam terdapat banyak peristiwa. Para perawi banyak meriwayatkan peristiwa-peristiwa tersebut. Tapi mereka mencampur adukkan antara kisah yang sahih dengan yang dusta. Banyak sekali dari perawi yang teledor dalam menyebutkan kisah-kisah yang tidak ada asal usulnya. Bahkan banyak dari mereka mendatangkan Hadis yang tidak diriwayatkan kecuali dari jalur perawi munkar dan matruk (ditinggalkan). Padahal yang mesti kita amalkan dalam hal ini, adalah memilih secara khusus Hadis-Hadis yang sahih, insya Allah Hadis-Hadis yang sahih itu sudah cukup dalam menjelaskan kisah wafatnya Nabi shallallahu alaih wasallam beserta ibrah, hikmah, dan pelajarannya.

Al-Hafid Ibnu Katsir berkata dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah, 5/256: “Al-Waqidi dan lainnya menyebutkan banyak berita yang terdapat kemungkaran dan gharabah tentang kisah wafatnya Nabi shallallahu alaihi wasallam ini. Banyak dari kisah tersebut kami tinggalkan, karena sanadnya dhaif dan matannya munkar. Terutama kisah-kisah yang didatangkan para pendongeng akhir-akhir ini juga lainnya. Kebanyakan kisah itu, palsu tanpa diragukan lagi. Padahal pada Hadis yang sahih dan hasan, yang terdapat dalam kitab-kitab masyhur, sangat cukup untuk dijadikan dalil sehingga tidak perlu menggunakan kisah palsu dan lemah sanadnya. Allahu a’lam.”
Setelah kami melakukan pencarian pada riwayat-riwayat tentang kisah wafatnya Nabi shallallahu alaihi wasallam, kami tidak menemukan Hadis yang anda tanyakan dengan lafadz seperti di atas. Memang ada Hadis-Hadis yang menjelaskan minta izinnya malakul maut kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan lafadz yang serupa di atas. Tapi semua hadisnya adalah dhaif, dan para ulama’ menghukuminya sebagai hadis maudhu’. Di antara Hadis itu adalah:

Pertama: Hadis yang diriwayatkan Ali bin Al-Husain dari ayahnya dalam kisah yang panjang. Dalam kisah itu disebutkan minta izinnya malakul maut kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, juga dialognya dengan beliau. Kisah ini diriwayatkan Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 3/129, juga dalam kitab Ad-Du’a’, 1/367, Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid, 9/35 berkata: “Dalam sanadnya terdapat Abdullah bin Maimun Al-Qaddaah, dia seorang dzaahibul Hadiits.” Yakni Hadisnya dianggap hilang dan tidak ada.

Al-Hafidz Al-Iraaqi dalam takhriij Al-Ihyaa’, 4/560, juga Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam “Ajwibatu ba’dhi talaamidzatih”, 1/87, juga menghumi palsu Hadis tersebut. Demikian halnya dengan Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah, 5/290, dia menyatakan Hadis tersebut adalah palsu. Sementara Al-Albani dalam As-Silsilah Adh-Dhaifah, no. 5384 mengatakan: Ini Hadis maudhu’ (palsu).

Kedua: Ada Hadis lain yang diriwayatkan ibnu Abbas radhiyallahu anhuma. Dalam Hadis tersebut ada penjelasan tentang minta izinnya malakul maut kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, pada saat sakit yang beliau meninggal padanya. Hadisnya diriwayatkan Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 12/141, Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid, 9/36 berkata: “Pada sanadnya terdapat Al-Mukhtar bin Nafi’ dan dia seorang perawi yang dhaif.”

Al-Iraaqi dalam takhrij Al-Ihya’, 4/560 berkata: “Pada sanadnya terdapat Al-Mukhtar bin Nafi’, dia seorang munkarul Hadis.” Yakni hadisnya munkar dan tidak ada asalnya.

Adapun tentang Nabi shallallahu alaihi wasallam diberi pilihan antara wafat atau menetap di dunia, juga sabda beliau yang mengatakan: “Justru saya memilih Allah yang Maha tinggi” maka Hadisnya sahih, terdapat dalam Ash-Shahihain dari riwayat Aisyah radhiyallahu anha.

Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya tentang kisah wafatnya Nabi shallallahu alaihi wasallam ini, pertanyaannya: Kitab-kitab tarikh (sejarah) menjelaskan bahwa Malakul Maut datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam meminta izin kepada beliau dalam wujud seorang lelaki A’rabi (baduwi). Apakah cerita ini benar adanya?

Beliau pun menjawab: Ini tidak benar. Malakul maut tidak pernah datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam untuk meminta izin. Justru sebelum meninggal dunia ini Nabi shallallahu alaihi wasallam memberikan khutbah, dalam khutbah itu beliau bersabda:

02
“Sesungguhnya ada seorang hamba yang diberi pilihan oleh Allah, antara memilih perhiasan dunia sekehendaknya atau memilih apa yang di sisi Allah, maka hamba itu memilih apa yang di sisi Allah.” (Sahih Al-Bukhari, no. 3904)
Inilah yang beliau ucapkan pada akhir hayatnya. Maka Abu Bakr menangis. Para sahabat heran kepada Abu Bakr, mengapa ia menangis mendengar kalimat tersebut dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Demikian itu karena Abu Bakr tahu bahwa yang diberi pilihan adalah Nabi sendiri. Abu Bakr adalah orang yang paling mengerti tentang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, sementara yang lain tidak tahu. Makanya Abu Bakr menangis karena akan berpisah dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Inilah riwayat yang jelas sahih, adapun riwayat yang menyatakan malakul maut datang untuk meminta izin dan memberi pilihan kepada beliau maka ini sama sekali tidak sahih.
Sampai di sini perkatan syaikh ibnu Utsaimin. Silakan dilihat: Liqa’ Al-Baab Al-Maftuuh, 2/340.
Bagi anda yang ingin mengetahui lebih rinci dengan penjelasan Hadis sahih tentang kisah wafatnya Nabi shallallahu alaihi wasallam, silakan merujuk kitab “Al-Bidayah wa An-Nihayah” karya Al-Hafidz Ibnu Katsir, 5/248, bab: Sekarat dan wafatnya Nabi shallallahu alaihi wasallam (bab: Ihtidhaaruhu wa wafaatuhu alaihish shalaatu wassalaam.
Juga kitab “Sahih As-Siirah An-Nabawiyah” karya Ibrahim Al-Aliyy, bab enam: Maradhur Rasuul shallallahu alaihi wasallam wa wafaatuhu (sakit dan wafatnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam). Allahu a’lam.

untuk sumber asli, silakan klik di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *