Mau Nonton HP Papa…

samsung

01
“Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan.” (QS. Al-Hasyr: 2)

Ketika mengerjakan shalat dzuhur di Masjid Baitul Haq Ketintang Permai Surabaya, saya melihat seorang ayah yang ikut shalat berjamaah dengan membawa anak lelakinya sekitar berumur 4 tahunan. Ketika sang ayah lagi shalat sunnah, yang namanya anak, terus meminta kepada ayah dengan mengatakan: “Mau nonton hape papa…”, “Mau nonton hape papa…” dan terus mengulang-ulang perkataan tersebut. Hanya saja sang papa yang lagi shalat, tentu tidak menuruti permintaan sang anak tercinta.
Saya di sini tidak hendak memperbincangkan perilaku anak kecil yang meminta hape untuk ditontonnya dari sang ayah. Karena saya kira semua anak seumuran itu memang seperti itu perilakunya. Dan anak saya juga demikian. Tapi yang perlu diperhatikan di sini, adalah apa yang tersimpan di dalam hape. Terkadang seorang ayah yang tidak takut kepada Allah, juga tidak memperhatikan masa depan anak-anaknya, menyimpan seenaknya setiap gambar yang dikiranya menyenangkan, juga video yang dikiranya bagus, meski itu adalah gambar porno, video porno, atau gambar wanita yang mengumbar aurat.
Kadang kita begitu teledor dengan tidak melihat masa depan kita. Andaikan kita meninggal secara tiba-tiba kemudian kita masih menyimpan gambar-gambar dan video-video seperti itu, kira-kira apa yang bakal kita katakan di hadapan Allah saat Dia meminta pertanggungjawaban kita.
Saya kira bukan hanya yang tersimpan di dalam hape. Karena terkadang kita juga memiliki majalah, buku, CD dan DVD, atau film-film tidak baik di rumah. Tentu ini semua sangat berbahaya bagi kita. Karena kita tidak tahu kapan kita meninggal dunia.
Banyak sekali, saudara, orang yang meninggal dunia sementara dia mewariskan banyak barang-barang penuh keburukan ini, yang kemudian dimanfaatkan orang lain dalam keburukan, sehingga ia tentu juga mendapat bagian dosa yang dikerjakan orang lain. Dan itu bagian yang sempurna dari dosa, bukan hanya sebagiannya.
Saya mengatakan seperti ini, karena masalah ini tidak seremeh yang kita kira. Di suatu sekolahan di propinsi Jawa Timur, saya tidak hendak membongkar keburukan orang lain, karena pihak sekolah berusaha menutupi jangan sampai aib ini terbongkar, makanya saya tidak perlu menyebutkan di mana tempat dan lokasi serta nama sekolahan tersebut. Karena yang penting adalah pelajaran yang mesti kita petik bersama.
Di sekolah SD itu terdapat anak kecil yang setiap hari menangis terus. Ketika ditanya ibu dan bapaknya ia terus menangis dan tidak menjawab sepatah kata pun. Tapi ketika Ustadzah ngajinya yang mendapati kejadian pada sang gadis kecil, ia berusaha mengetahui apa yang terjadi dalam dirinya. Bu guru itu mulai mendekati dengan membujuk, yang akhirnya gadis kecil mengaku bahwa dirinya telah diperkosa oleh teman lelakinya dalam kelas di belakang pintu ketika waktu istirahat. Sesuai pengakuannya, ia diminta secara paksa untuk melepas pakaian, kemudian satu teman lelaki menggagahinya sementara teman lelaki yang lain memeganginya biar tidak berontak, sementara satu siswa wanita jaga-jaga bila ada bu guru datang. Teman wanita yang jaga-jaga inilah yang awal mula biang kerok. Padahal mereka itu adalah anak-anak polos yang masih kelas 2 SD.
Pembaca yang mulia, kira-kira apa yang menjadikan anak kecil kelas 2 SD memiliki perilaku yang begitu bejat. Itu tidak lain karena salah satu dari mereka yang membawa hape cerdas milik mbaknya, yang menyimpan video tidak baik, mengajak teman-temannya menonton video tersebut di belakang kelas. Sehingga mereka yang lugu itu, ingin meniru dan mempraktekkan tayangan yang mereka lihat bersama. Alhasil bocah kecil yang terus menangis itulah yang akhirnya menjadi korban. Semoga hal ini tidak pernah terjadi di tempat lain.
Saudara pembaca yang dimuliakan Allah…

kira-kira siapakah yang berdosa dalam kasus ini. Tentu yang pertama kali berdosa adalah kedua orang tua. Inilah faktanya. Kita jangan mencari kambing hitam. Karena memang kitalah yang teledor, terkadang membiarkan anak kecil bermain hape atau malah kita menyodorinya hape agar tidak mengganggu kita. Sementara kita tidak merasa bahwa di dalamnya terdapat tontonan-tontonan yang tidak layak dilihat anak kecil, atau mungkin di situ terdapat game anak, tapi karena hape tersebut langsung terhubung dengan internet sehingga ketika asyik main game, tiba-tiba ada tawaran untuk menginstal game lain, yang rupanya itu adalah game dewasa. Namanya anak kecil, karena tidak tahu tentu langsung tekan dan instal saja game tersebut.
Dan ada jenis lain dari orang tua, terkadang ia membelikan android untuk anaknya karena gaya dan mengikuti trend, sementara ia tidak mengerti sama sekali bagaimana cara menggunakan android, ipad, tablet, laptop, atau internet.
Saudara yang mulia… ini semua tindakan yang tidak patut dilakukan. Ingatlah Allah ta’ala berpesan kepada kita:

02
“Wahai orang-orang yang beriman! Hindarkan diri kalian dan keluarga kalian dari api Neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)

Tentunya menghindarkan anak keluarga dari Neraka, adalah dengan menasihati mereka agar senantiasa melakukan yang baik, serta meninggalkan segala yang diharamkan Allah. Jika istri tidak berjilbab atau tidak menutup aurat dengan sempurna, maka dinasihati untuk berjilbab dan berpakaian yang syar’i. Anak yang berumur tujuh tahun diajari shalat. Diajari membaca Al-Quran, diajari adab-adab islami. Dijauhkan dari teman-teman yang tidak baik, dan lain sebagainya.

Dan termasuk menghindarkan mereka dari Neraka, adalah dengan tidak menuruti mereka membelikan tablet ketika memintanya, jika memang tablet menjadi sumber keburukan bagi sang anak. Apalagi kita malah menyimpan hal-hal tidak baik yang malah berpotensi merusak masa depan anak.

Pembaca budiman…

Jangan dikira perkara sepele ini dosanya hanya berhenti pada kita. Tidak! Sama sekali tidak! Karena di sana ada dosa jariyah. Yaitu dosa yang senantiasa mengalir hitungannya kepada kita ketika orang lain melakukan keburukan yang kita ajarkan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

03“Barangsiapa mencontohkan dalam Islam suatu contoh yang buruk, maka dia mendapat dosa keburukan itu, juga dosa siapa pun yang mengerjakannya setelah dia mati tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun.” (Sahih Muslim, no. 2398)

Saudara… Hadis ini sangat jelas menunjukkan kepada kita bahwa yang jariyah itu bukan hanya amal shalih. Tapi amal buruk juga ada jariyahnya. Yaitu jika kita mengerjakan dosa kemudian mengajarkannya kepada orang lain, maka dosa yang dikerjakan orang lain itu juga kita dapati dengan sempurna pada diri kita. Apalagi kalau orang yang kita ajari itu mengajarkannya kepada orang lain.
Bayangkan jika anda mengajarkan keburukan kepada sepuluh orang saja. Kemudian masing-masing orang itu mengerjakan keburukan tersebut, tentu anda mendapati sepuluh dosa itu berada di atas pundak anda tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun.

Makanya, jika anda hendak melakukan dosa, lakukan saja sendirian tanpa mengajak atau mengajarkannya kepada orang lain. Dari sini, kita tahu betapa berbahaya, betapa sulit pertanggung jawaban di hadapan Allah, dan betapa besar dosa kita saat menghadap kepada Allah sementara kita sudah meng-uploud- suatu adegan tidak baik di Youtube, atau memasang gambar mengumbar aurat di facebook, atau mengajarkan suatu aqidah menyimpang di website yang kemudian dibaca ribuan orang sampai Hari Kiamat.
Wahai saudara… meski kita sudah meninggal dunia sesungguhya dosa tersebut terus datang kepada pundak kita. Padahal seharusnya dengan kematian itu kita sudah tenang dan tinggal menikmati kehidupan yang baik.
Marilah kita memikirkan untuk masa depan kita yang masih sangat panjang. Janganlah menyimpan di Hand phone dan Android kita selain yang baik-baik saja. Semisal kata-kata hikmah, Hadis Nabi, gambar orang yang lagi berbuat kebaikan, atau video ceramah dan nasihat, sehingga ketika anak kita menontonnya kita tidak khawatir hal-hal yang tidak baik, dan malah kita akan senang karena berarti anak-anak kita di samping menonton juga telah mempelajari agamanya.
Ingatlah saudara… seorang Muslim cerdas adalah yang senantiasa memikirkan perkara setelah kematian. Rasulullah SAW bersabda:
04

“Orang cerdas adalah yang mengevaluasi dirinya dan (sibuk) beramal untuk kehidupan setelah mati. Sementara orang bodoh adalah yang selalu mengikuti hawa nafsu dan berangan-angan kepada Allah.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 2459 dengan sanad Hasan)

Pesan moral:
Orang cerdas adalah yang mengambil pelajaran dari orang lain, sementara orang tidak cerdas, adalah yang dijadikan pelajaran bagi orang lain.

Semoga bermanfaat. Aamiin.

Share This: